Beautiful Lie

Di sebuah rumah kecil nan asri yang semakin lengkap dengan gelak tawa 2 orang anak yang lucu. Malam telah hampir berlalu, lelap menjadi sebuah pilihan. Tiba-tiba derik pintu berbunyi, mengagetkan yang hendak terlelap.

“Aku pulang sayang!”
“Hah siap2 lihat emak-emak dasteran.”

“Aku di kamar sayang, cape??”
“Pulang malam terus pasti dia asyik2 nongkrong.”

“Eh, mama sayang udah mau tidur yah? Lagi perawatan itu muka penuh ama timun?”
“Buset dah suami pulang pemandangannya muka penuh timun!”

“Iya pah, biar tetap cantik donc!”
“Kamu kira wajah mulus ga perlu perawatan?”
„ Papa cape yah? Udah makan belum?“
“Sok pasti udah kenyang, kenyang ama body seksi di café.”

“Udah ngantuk mam, males makan, laper lagi sih tadi meetingnya ga kelar-kelar.”
Kenyang banget kan tadi makan steak ditraktir Jono bonus ama pemandangan cewek-cewek seksi.”

“Ok.”
“Kamu pikir aku percaya kamu benar-benar meeting paling nongkrong di café.”

“Tidur dulu yah mah, cape”
“Cape nih abis short term puas banget.”

“Tidur deh sayang.”
“Tidur deh, biar aja gua kering-kering gak tau apa lagi butuh…sial!!!!”

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

9 thoughts on “Beautiful Lie”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s