Kopi Hati (Part I)

Liburan kali ini aku memilih pantai lagi. Panggilan untuk  berlibur ke pantai terus menerus datang, bisa saya katakan ini sudah seperti sakaw.  Aku, perempuan yang tergila-gila dengan pantai. Tapi aku bukan perempuang yang termasuk senang berjemur, sunbathing layaknya bule, bukan juga penyelam yang ulung, yang sanggup berlama-lama dibawah laut. Hal yang paling aku sukai dari pantai adalah  memandang laut tanpa batas, ini seperti melepaskan batasan-batasan pikiran dan membuka cakrawala pikiran sendiri. It’s like a therapy in opening my mind.

Dengan lembut ombak-ombak itu membasahi kaki. Pasir yang lembut, air yang dingin mengiring langkah saya menyusuri pantai. Tanpa ragu aku katakan bahwa negeri ini begitu indah. Mungkin ini baru satu tempat di negeri ini yang dapat saya kunjungi, tapi satu tempat saja sudah mampu membuat terpesona. Membuat  lupa akan penatnya kota Jakarta, tekanan-tekanan pekerjaan, rutinitas yang setiap pagi membuat  bad mood. Air laut ini sengaja menggoda , menggoda untuk berada di dalamnya, sekilas aku melihat dasar laut dari bibir pantai, terlihat koral-koral. Mata saya terfokus pada apa yang berada di dasar laut, tanpa sadar aku terus melangkah hingga air laut berada sepinggang. Wow, ikan-ikan kecil itu sangat jelas terlihat. Ini negeri apa? Aku masih sangat jauh dari tengah laut tapi ikan-ikan itu terlihat sangat jelas. Aku berlari kembali ke pantai, mengambil google dan kacamata,  mau menyelam (snorkling) dan menikmati ikan-ikan yang berenang disekitar tubuh.

Perkenalkan aku Alika, Alika Larasati.

Patah hati telah membawaku ke pulau ini. Berbekal kenekatan, peta, hasil browsing, dan pengalaman teman, aku memberanikan diri untuk melakukan solo travel. Gili trawangan merupakan pilihan yang tepat. Aku tidak mau kalah dengan para peserta Amazing Race Asia, mereka saja sudah merasakan keindahan pulau ini dibandingkan aku. Pilihan transportasi di pulau ini hanya sadako, sepeda atau kaki sendiri untuk mengitari pulau. Pilihanku jatuh pada sepeda. Ini adalah patah hati yang indah. Tanpa datangnya patah hati, kakiku tidak mungkin sampai ke pulau ini. Aku bukan sedang melupakan seseorang yang telah menyakiti, orang yang meninggalkanku. Tapi aku sedang menyenangkan hati sendiri, menghibur diri. Berharap keadaan akan menghiburku? Berharap teman-teman mampu menghibur hati yang terpatahkan? Aku bukan orang yang tergantung pada orang lain, jadi aku yang menghibur diriku sendiri. Ini jauh lebih menyenangkan dibandingkan mendengar kata-kata semangat dari teman bahkan dari seorang motivator. Bukan aku mau mengkecilkan arti sebuah teman melainkan semua semangat, semua hiburan tidaklah akan berarti bila aku masih terus bersedih. Suara-suara indah tentang semangat itu sirna begitu saja tertelan oleh kesedihanku. Untuk bahagia aku lah yang paling tahu bagaimana membahagiakan diri  sendiri.

Menikmati keindahan pulau, pasir yang halus, laut yang jernih ditemani segelas cappucino dan buku adalah kebahagiaan hidup bagiku. Sederhana? Bolehlah orang lain mengatakan sungguh sederhana  kebahagiaan bagiku. Yah, untuk apa meletakkan standar yang sulit dan rumit untuk bahagia kalau kebahagiaan itu bisa dicapai dengan cara yang sederhana.

Perlukah aku menceritakan cerita patah hatiku?

Patah hati bagi siapa saja sama. Disakiti, ditinggalkan, dikecewakan. Kecewa karena hilang harapan untuk terus bersama. Jadi apa perlu diceritakan kalau rasanya sudah pasti sama saja?

Oke, aku tahu tidaklah seru tanpa sebuah cerita yang miris dalam perjalanan hidup seseorang. Semakin miris semakin orang senang mendengarkannya, lalu orang akan membandingkan dengan hidupnya dan mulai bersyukur bahwa kejadiaan tersebut tidak ia alami. Aku akan ceritakan, dengan harapan orang yang mendengar akan bersyukur dengan apa yang dimiliki saat ini. Atau mungkin merasa ada teman yang senasib.

Ia bernama Alex. Laki-laki yang seharusnya menikahiku tahun depan. Sebuah rencana telah kami sepakati. Pesta pernikahan tanpa kemewahan sudah direncanakan. Ayah saya begitu bahagia mendengarnya. Akhirnya putrinya akan menikah. Suatu hal yang ia tunggu-tunggu sejak lama. Ia senantiasa berdoa agar aku segera menikah. Ops jangan tanya usiaku, yang pasti sudah tidak muda lagi meski belum tua. Kami sudah mulai mencari gedung, mencari katering, tempat sewa baju penganten.  Sudah kubayangkan menjadi seorang pengantin.

Tiga bulan yang lalu, tiba-tiba tercium hawa-hawa kebohongan. Tapi aku diam saja, berusaha untuk mengabaikan perasaaan itu. Perasaan yang merupakan insting atau peringatan. Alex mulai berusaha menghindari pertemuan. Selalu ada alasan saat mulai diajak berbicara tentang pernikahan. Sampai akhirnya aku tahu kalau orang tua nya tidak pernah menyetujui dia untuk menikahiku. Apa alasannya, sampai akhirnya kami berpisah aku tidak pernah tahu. Orang tuanya tidak mau datang kerumah  untuk melamar. Alex, laki-laki yang mengatakan cinta padaku, sediktpun tidak berusaha memperjuangkanku. Membujuk kedua orang tuanya, lebih sering mempertemukanku dengan mereka. Justru yang Alex lakukan hanyalah menghindar, berbohong lalu meninggalkanku. Meninggalkanku, saat aku sedang marah, sedang kecewa akan kenyataan bahwa aku tidak disukai tanpa suatu alasan. Hanya tidak disukai untuk jadi menantu.

Saat itu, aku benar-benar merasa tidak berharga,  merasa malu. Malu pada keluargaku.

Disini, di pulau ini aku ingin mengembalikan kebahagiaanku yang hilang.

IMG_0044

(to be continue)

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s