My Father

Saya mau mulai menulis tentang Ayah saya dan perjalanan hidupnya hingga di usia 74thn.

Bismillahirohmanirahim
Ayah saya seorang dosen di salah satu universitas negeri. Menengok usia dia saat ini dapat dikatakan ayah merasakan hidup dari Presiden RI ke 1 hingga sekarang. Ayah lahir di tanah Tapnuli Selatan, Sumetera Utara tepatnya kota Panyabungan. Hidup dan dibesarkan oleh neneknya yang tidak bisa menulis dan membaca. Bahkan untuk dapat mengaji, Ayah yang mengajarkan beliau. 

Rumah Ayah hanya selangkah kaki dari rumah kakekku. Kakek bersama isteri dan anak-anaknya. Kakek seorang yang mapan, sebagai seorang pedagang emas, pada saat itu. Nenekku telah meninggal saat Ayah masih bayi. Karena itulah yang merawat Ayah dan 1 orang abangnya serta 1 orang adik perempuannya adalah neneknya. Sebagai petani, nenek hidupnya penuh keterbatasan, seringkali untuk makan Ayah harus ke kebun liar memetik daun singkong untuk dimasak. Pesan nenek pada Ayah, Ayah harus bisa sekolah yang tinggi. Selepas sekolah dasar, Ayah didaftarkan masuk pesanter, kala itu pesanter tidak seperti sekarangan yang menggabungkan ilmu agama dengann kurikumlum umum, melainkan hanya belajar ilmu agama. Kakekku menginginkan Ayah menjadi guru mengaji dan orang yang memimpin doa. Saat itu, menjadi pemimpin doa merupakan orang yang sangat terhormat. Akan tetapi neneknya memaksakan diri untuk memasukkan Ayah pada sekolah umum. Sampai akhirnya, Ayah berhasil menyelesaikan SMA. Kala akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, tanpa banyak pikir Ayah mendaftar pada “ikatan dinas” untuk dapat kuliah di perguruan tinggi negeri di kota Bogor. Ayah merantaulah ke tanah jawa hingga hari tua nya ia habiskan di tanah jawa ini. Banyak teman-teman Ayah yang enggan untuk mendaftar pada ikatan dinas karena harus menjadi pegawai negeri kelak. Ayah, dengan keterbatasan biaya tidak mau berpikir jauh, baginya yang terpenting bisa sekolah hingga perguruan tinggi, sebagaimana pesan nenek untuk sekolah setinggi-tingginya.

Ayah, yang selalu mengajarkah saya tentang filosofi hidup. Mengajarkan saya bahwa keberhasilan, cita-cita itu kaki dan tangan kita sendiri yang menjemput. Hidup dalam keterbatasan dengan memandang ayahnya serta adik-adik tirinya makan daging tidak mengecilkan hatinya. Tidak menjadikannya marah dan berontak hingga membuat onar. Adik-adiknya menyebutkan “abang lomo”, abang yang lembut dan baik hati. Ayah telah berjuang mengubah nasib hidup, mengangkat derajat hidupnya. Sampai akhirnya Ayah menjadi panutan bagi keluarganya bahkan bagi orang-orang di kampungnya. Satu hal yang saya tanggap dari semua cerita masa kecil Ayah. Ayah tidak pernah mengasihi hidupnya yang penuh keterbatasan, tetapi ia lebih menonjolkan rasa keberhasilannya melewati, melawan keterbatasan yang ada untuk menjadi sesuatu yang lebih baik bagi hidupnya.

(To be continue)

#kisahAyah

#filosofi_hidup

Advertisements

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s