Settle Down

Being single is fabalous. That’s for me.

Ceritaku masih, musik yang mengalun pada setiap pagi masih tetap sama. Bukan lagu “Bapak mana” yang dinyanyikan oleh

Trio Ubur-ubur tapi lagu “menikah kapan?” yang dinyanyikanoleh orang sekitar.

Tebak umurku berapa? Banyak yang tidak percaya saya sudah berusia 35tahun dan belum memiliki anak. Gimana mau punya anak bapaknya aja masih belum ketemu. Mungkin masih di Jonggol atau di Bekasi, saking jauhnya gak ketemu-ketemu.

Apakah saya gelisah di usia yang matang ini meski belum bisa dikatakan tua belum jua menikah. Mengapa harus gelisah? Nikmati aja. Persetan dengan cerita teman-teman yang bahkan sudah memiliki 3 anak yang sudah mulai ABG. Aku sebut mereka itu pernikahan dini. Begitulah pembelaan diri saya. Toh pernikahan tidak menjamin seorang wanita lantas menjadi bahagia. Menurutku pribadi kebahagiaan itu diciptakan oleh diri sendiri.

Sejak itu aku mulai menciptakan kebahagiaanku sendiri. Mulai dari melakukan perjalanan-perjalanan kecil murah meriah. Bergaul dengan teman-teman yang lebih muda. Mencari pekerjaan yang bisa buat saya enjoy sampai akhirnya aku menjadi finanial independently. 

Aku memulai dengan melakukan travelling sendiri. Menjelajah tempat yang baru pertama kali dikunjungi. Aku pergi dengan grup backpacker yang notabenenya tidak ada yang dikenal. Dan sudah tentu pergi travel dengan sahabat sekaligus partner in crime. Meskipun belum seluruh pulau di Indonesia yang didatangi. Meski belum seluruh dunia disambangi. Tapi cukuplah untuk seorang pegawai bank yang memiliki cuti yang terbatas. Setidaknya bisa sampai ke Sydney.

Perjalanan selalu memberikan kenangan tersendiri. Oh apakah kenangan tentang cinta lokasi? Terlalu picik kalau hidup hanya sebatas percintaan asmara. Banyak hal-hal yang Tuhan ciptakan dengan begitu indah selain asmara. Setiap momen perjalananku dalam menjelajahi kota-kota asing selalu memberikan letup-letupan keasyikan sendiri. Bertemu dengan stranger, ngobrol berjam-jam bahkan melakukan perjalanan bersama atau sekedar mendapatkan teman bersantap siang di tempat yang asing.

Ini salah hal yang indah bagiku

My leisure thing
My leisure thing

Duduk di pantai sambil memandang laut hingga kejauhan merupakan salah satu kemewahan bagiku. Bersantai tanpa harus memikirkan pekerjaan.

Ini hanya bagian kecil yang bisa dilakukan saat menjadi single. Pasti timbul pertanyaan lalu kalau di hari- hari biasa apa yang kamu lakukan? Kesepiankah kamu? Bosankah kamu?

Aku tipikal orang yang selalu mencari cara untuk menyenangkan hati. Kalau bosen, biasanya pergi ke mall untuk nonton sendiri atau window shopping atau mungkin mencoba makanan baru sendiri. Awkward? Tentu awalnya, tetapi lama-lama menikmati. Sambil berharap dapat kenalan.

Loh, katanya menikmati being single, kok berharap dapat kenalan. Sejauh kaki melangkah berdua itu lebih menyenangkan sudah tentu. Memiliki pasangan dalam berbagi rasa itu jauh lebih indah. Apakah kita akan bahagia dengan memiliki pasangan? Tentu saja tapi kebahagiaan bukan diukur dengan memiliki pasangan. Memiliki pasanagan adalah bonus hidup. Hadiah keindahan dari Tuhan pun dengan perasaan cinta adalah hadiah. Kenapa juga hadiah? Karena kita tidsk bisa memilih kepada siapa kita akan jatuh cinta, sama seperti hadiah kita tidak bisa memilih untuk mendapatkan sesuatu hadiah yang kita inginkan. Semua adalah kejutan.

Lalu kapan akhirnya aku memutuskan untuk menerima hadiah dari Tuhan? Saat semua terasa telah cukup. Cukup sudah melakukan travelling sendiri, cukup menikmati penghasilan sendiri tanpa harus berbagi dengan orang yang bukan keluarga, cukup bergaul tanpa batas waktu semaunya dan kapan saja aku mau, cukup menikmati kesendirian, dimana tidak perlu memikirkan dandanan saat weekend, bebas tidur seharian, mau mandi atau tidak yang nyium baunya diri sendiri ini.

Saat rasa puas sudah hadir saat itu aku memutuskan untuk menagih hadiah cinta dan pernikahan pada Tuhan. Aku tidak akan meminta pada siapapun. Cukup sama Tuhan. Sudah pasti Dia akan memberikan hadiah yang terbaik.

Hadiah itu sudah hadir. Semua terjadi begitu saja. Semua berjalan begitu saja. Sayangnya aku terlalu sendiri terkadang lupa bagaimana berbagi, bagaimana mengerti, bagaimana memahami isi kepala orang lain yang baru dikenal. Sepertinya semua itu tidak semudah yang aku bayangkan. Bukan karena orang tersebut memiliki tabiat buruk. Bukan juga karena ia begitu menyebalkan hanya karena terbiasa menyelesaikan sendiri menjadi tidak sabar menunggu dia menyelesaikan suatu hal untukku. Ini yang aku sebut aku tidak bisa berbagi. Saat seperti itu ingin rasanya aku lari menjauh, kembali membiarkan aku menjadi single lagi.

Fase hidup itu terus bergulir dan tidak mungkin seseorang itu berada di fase hidup yang itu-itu saja.

Demi cinta yang Tuhan berikan, aku kumpulkan kekuatan untuk bertahan, aku ikat kakiku untuk tidak berlari meski sudah sangat ingin aku berlari.

Aku tatap wajah mentari pagi yang seakan-akan mengatakan “segitu saja kamu menyerah? Bukankah kamu kemarin yang berdoa untuk mendapatkan orang tersebut? Bukankah kamu yang bilang kalau kamu sudah siap?”

Lunglai aku menatap mentari dengan tatap aku mampu mengangguk mengatakan “iya”.

Disinilah aku berdiri

Mengikatkan kaki

Menguatkan hati

Untuk bertahan pada cinta yang Tuhan berikan

Yes, I’m settle down of my life to you.

You that God send to me. And let God settle up it for us.

image

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

4 thoughts on “Settle Down”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s