My Coffee

Hhhhmmmm Nikmat

Aku mengambil cangkir yang berisi kopi yang telah diramu sedemikian rupa. Aroma yang cukup menyengat menusuk hidungku mengingatkan aku pada hidup yang selama ini telah aku lewatkan. Ada rasa pahit di dalamnya. Ada rasa manis yang memberi kenikmatan. Ada basah yang mengaliri tenggorakkanku. Kopi yang aku minum kala aku membutuhkan untuk mengistirahatkan pikiranku sejenak. Menghentikan letupan-letupan larva otakku yang sulit untuk aku hentikan. Otakku yang jarang sekali beristirahat, yang hanya berhenti saat aku tidur. Atau sebenarnya saat aku tidur pun otakku terus bekerja hingga ketika bangun bukan segar yang kudapat melainkan lelah.

Kopi, yang tak banyak pengetahuan kumiliki akannya. Tapi aroma dan rasanya dapat aku nikmati. Berbagai ramuan kopi telah kucoba. Begitu banyak rasa tapi satu yang pasti rasa pahit didalamnya. Pahit yang menikmatkan. Pahit yang membuat ketagihan. Pahit yang selalu dapat memberi rasa rindu. Aku bukan orang yang addict to coffee. Aku hanya sering merindukan kopi.

Hidupku selayak secangkir kopi.

Saat kunyatakan tawa adalah gulaku, pahit adalah kopiku, tangis adalah airnya, yang kuaduk, kucampur menjadi satu selayaknya secangkir kopi. Itulah hidup bagiku.

Selalu ada pahit dalam setiap langkah yang aku ambil tapi selalu ada nikmat berupa sebuah keindahan yang merindukan. Meski kunyatakan pahit tetap kopi itu kuhabiskan, kutuntaskan hingga tetes terakhir.

Dulu, aku membenci kopi, aku selalu memesan coklat yang sudah terang manisnya. Sama dengan hidupku, aku membenci kepahitan demi kepahitan yang menjalar dalam pusaran hidupku. Hingga aku mengutuk Sang Pencipta yang melimpahkan kepahitan demi kepahitan dalam manis hidupku. Tapi sekarang, aku sudah tidak membenci pahit, seiring dengan aku belajar untuk meminum kopi. Aku belajar meramu kepahitan dalam hidup dengan sebuah manis.

Kopiku, makin beragam rasanya demikian dengan hidupku makin beragam rasanya. Tak ada yang selalu manis itu pasti. Tak ada juga kopi tanpa air. Maka hiduppun tak ada arti tanpa tangis. Entah menangis dengan air mata yang berlinang atau hanya tetesan-tetesan yang tertera atau hanya dalam hati dimana mata tak mengeluarkan setetespun airmata.
S

aat aku berlajar menyajikan kopi dalam untaian kata, aku meramunya dengan begitu banyak air hingga begitu encer. Aku lebihkan takaran gulaku agar terasa manis, meski semu. Aku mengurangi jumlah sendok kopiku agar tak ketara pahitnya. Tapi semua rasa menjadi palsu tidak pas. Lalu aku terus belajar menyajikan kopi sejalan dengan aku belajar untuk memahami hidup yang tertakdirkan bagiku. Aku belajar untuk mengurangi jumlah air. Aku tuangkan secukupnya gula agar manisnya menjadi pas. Aku biarkan pahit dalam cangkir kopi terasa karena memang harus demikian agar kopi ini dapat menjadi lebih nikmat.

Hingga akhirnya aku dapat menyajikan kopi dengan takaran yang pas dalam berbagai rasa dan ramuan. Aku mulai dan semakin menikmati aroma kopiku. Menyejukkan.

Hidup itu selalu akan menyejukkan dan menikmatkan terlebih bila kita mengetahui ramuan yang pas.

12 thoughts on “My Coffee”

  1. Pahit kehidupan yang menjadikan kita lebih tegar !
    Btw layout.nya berubah ya ?
    Lebih suka yang dulu, lebih misterius.
    Walopun yang sekarang oke juga karena terkesan kontemporer

    lagi nyoba-nyobain theme yang ada … dicoba satu2…
    jeng ini rajin mampir….makasih yah

  2. Great…. Tamsil kehidupan yang diwujudkan dalam sebuah zat adiktif bernama ‘kopi’. Keep writin’, Isma…. Selalu aja ada ‘Ruh’ yang kuat dalam tulisan mu! But, play anybody else’s role sumtime on ur works…..

    “thx nie…..btw play anybody else role itu gmn?? maklum lah gua mah masih oon…nulis krn nulis doang”

  3. Hmm…sebuah paparan yg menarik ttg filosofi kopi, minuman yg juga selalu aku nikmati (tdk hanya aku rindukan), bhkn aku tdk peduli ketika temanku blng ada penelitian yg mengatakan kebanyakan minum kopi bisa memperkecil payudara (weleh…akurat gak ya hsl penelitiannya?).

    Pokokke…Hidup Kopi…Kopi Bikin Hidup Lebih Hidup….!
    (he he…salah iklan ya?)

  4. http://noboru26.wordpress.com/2009/10/03/hidup-di-secangkir-kopi-susu/

    Secangkir kopi rasanya tak cukup kalahkan kantuk yang terkutuk.
    Esok batas akhir serah terima laporan, so harus tetap bertahan.
    Tapi kalau raga sudah lelah, tak ada yang bisa menolak…just take a nap a while so the sleepy will go away.

    haha…ngomong apa ya gw….
    btw, baru tahu kalo mba punya blog juga di WP…dan kayaknya malah lebih update daripada multiplynya .hehehehehe….

  5. Halo salam kenal ..
    bagus deh blognya ..
    btw suka nulis artikel tentang Bandung ga ?
    klo suka, share artikel or tulis di Citizen Journalism web kita yah ..
    Oiya, jangan lupa follow (@BandungReview) dan like facebook fans page bandungreview.com juga yah!
    Thx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s