Aku dan Kalian


Aku yang hadir terakhir diantara kalian. Kalian yang telah lebih dulu merasakan kepusingan dan kejelimetan hari-hari. Aku sadar aku orang baru diantara kalian. Tapi aku bukan hadir untuk menambah kepusingan kalian.

Sungguh aku berusaha untuk memahami kalian. Memahami sifat kalian. Mungkin sulit untuk kalian terima karena aku jauh dari harapan kalian. Harapan bahwa dengan kehadiranku, beban kalian akan berkurang. Ternyata salah, begitukah dimata kalian?

Apa yang dapat kalian harapkan dengan waktu yang singkat. Aku dapat mengingat semua permasalahan yang ada jauh sebelum aku datang? Mengambil segala beban yang telah kalian pikul selama ini? Aku bukan seorang malaikat tentunya. Bukan juga seorang cenayang yang seketika dapat memahami semua hal.

Aku juga perlu belajar, perlu banyak diberitahu.

Kalian tidak suka?

Mungkin saja. Aku juga pernah merasakan itu. Saat aku ada pada posisi kalian. Menerima orang baru, yang harus aku sebut atasan.

Mungkin kalian belum banyak melewati banyak hal dalam hidup. Mungkin kacamata kalian berbeda denganku.

Tapi mohon maaf, bukan aku tidak ingin segera mengambil beban kalian tapi aku sendiri sedang berperang dengan diriku untuk menerima kenyataan bahwa semua ini tidak seindah yang aku bayangkan.

Dan maaf dariku, karena aku benar-benar tidak akan mengambil beban itu. Karena bagiku sudah cukup. Aku akan kembali ke duniaku. Dunia yang tidak lebih baik dari dunia kalian. Tapi pada dunia itu aku lebih menikmati hari.

Kalian tidak terbebani kok dengan semua ini. Hanya kalian ingin semua lebih ringan saja.

 

 

Senandung Untuk Mama


Senandung Cerita Untuk Mama

 

Apa kabar engkau? Sudah lama kita tidak saling berdebat. Sudah lama engkau tidak marah padamu. Mungkin lebih tepatnya engkau ngambek padaku. Masih teringat di benakku, engkau menemani hari-hari saat aku terbaring sakit. Masa-masa itu telah lama berlalu. Masa yang tak mungkin kita ulangi lagi. Semua tidak mungkin lagi terjadi. Hingga tak teasa telah banyak waktu yang berlalu, enam tahun. Aku masih tetap sama dengan sedikit perbedaan dari sebelum engkau pergi. Ingin rasanya aku menanyakan kabarmu secara langsung, mendengar kembali suaramu memanggilku. Tapi apa daya tidak mungkin lagi kulakukan.

 

Enam tahun, begitu banyak cerita yang terjadi, tentangku, tentang keluarga kita. Dapatkah engkau dari kejauhan disana menyaksikan? Atau engkau telah asyik dengan kehidupan barumu, yang konon lebih indah.

 

Bolehkah aku bercerita?

Akan kuceritakan pada alam semesta ini.

Pada bintang-bintang di langit.

Pada bulan yang sedang bersinar dengan benderang.

Sebelum aku memulai cerita, kupanjatkan semoga alam semesta ini menyampaikan ceritaku ini kepada engkau.

Engkau yang berada jauh disana.

 

Besok akan menjadi hari yang istimewa untukku. Hari dimana yang konon merupakan awal dari sebuah kehidupan. Hidup yang dapat menjadi surga dunia atau neraka dunia. Sungguh masih ada rasa takut aku untuk melangkah. Tapi akupun tidak berkehendak untuk mundur. Andai engkau ada disampingku mungkin akan ada ketenangan dalam gemuruh hati ini. Engkau pasti akan memastikan bahwa semua akan berjalan dengan lancar. Engkau pasti akan menyiapkan segala sesuatunya untukku agar aku mengawali lembar kehidupan ini dengan baik.

 

Andai engkau sempat berkenal dengannya, dengan laki-laki yang akan mengajakku untuk memulai lembar kehidupan ini, engkau pasti akan menyukainya. Menyukainya dengan segudang pertanyaan sebelumnya. Pertanyaan klasik tentang bibit, bebet, bobot. Pertanyaan yang akan membuat kita berdebat yang mungkin akan berakhir dengan saling berdiam lalu saling berlalu.

 

Engkau pasti ingin tahu dimana aku bertemu dengan laki-laki itu.

 

Aku baru bertemu dengannya, setelah empat tahun kepergianmu. Terlalu lama. Terlalu lama aku sendiri. Terlalu lama aku asyik dengan duniaku kesendirianku. Engkau masih ingat dulu engkau selalu tidak memperbolehkanku untuk pergi jalan-jalan apalagi melakukan perjalanan sendiri. Begitu engkau pergi, aku mulai melakukan travelling. Dimulai dari ingin melupakan kesedihan hingga menjadi suatu keharusan. Aku memulai perjalanan dengan pergi ke Bali. Untuk pertama kalinya aku menginjakkan kali ke pulau Bali. Merasakan kebebasan yang selama ini takut aku lakukan karena aku takut engkau khawatir. Demi menjaga perasaan engkau, aku selalu urung untuk melakukan perjalanan.

 

Engkau tahu, aku bisa sampai ke Korea. Suatu negeri yang tak pernah terbayangkan aku akan sampai ke negara tersebut. Merasakan salju jatuh di tanganku. Sekelibat aku ingat engkau, ingin mengajak engkau ke negara tersebut suatu hari nanti. Atau mungkin ke negara yang dekat saja, Singapura atau Malaysia, sebagaimana aku mengajak kekasih hatimu ke negara tersebut. Dia tersenyum selama perjalanan itu. Mungkin dia sama seperti aku, membayangkan engkau hadir bersama kami melakukan perjalanan itu.

 

Aku terlalu sibuk dengan travelling. Tapi tidak hanya itu kesibukanku. Aku sibuk mengejar karir. Karir yang entah apa itu menurut pandangmu pastinya. Berpindah-pindah perusahaan bagai kutu loncat. Pindah-pindah kerja yang selalu membuat engkau senewen padaku. Pasti kita sudah sibuk berdebat. Berdebat mengenai definisi karir. Dimana bagiku, berkarir bukan harus terus menerus berada pada satu kantor tapi cukup dengan berkonsentrasi pada satu bidang. Menjadi banker, padahal dulu aku sangat menentang engkau dengan tidak mau bekerja di Bank. Ironisnya sekarang aku mencintai dunia perbankan dan ingin terus berkarir pada dunia itu.

 

Engkau tahu, lima tahun itu bukan waktu yang singkat. Tentu bagiku, waktu itu sungguh lama karena begitu banyak yang aku lewati. Termasuk tentang kisah cintaku. Sampai akhirnya aku bertemu dengan laki-laki itu. Lelaki yang satu suku denganku, ah, engkau pasti sangat senang. Impian dan doamu dulu kala terkabulkan.

 

Dia.

Dia seorang lelaki yang tidak muda lagi. Dia pun bukan lelaki yang masih bujang tapi tenang dia seorang yang lajang. Dia pun bukanlah laki-laki yang memiliki strata sosial tinggi, hanya seorang laki-laki biasa. Karena yang aku lihat hanyalah ketulusan hatinya.

Dia, yang sekelibat begitu saja hadir mengisi hari-hariku. Mengubah kesunyian menjadi keriaan yang menarik. Tidaklah dia seorang yang sempurna.Debat adalah hal yang mewarnai hubungan kami. Tidak jarang kami bertengkar. Tapi aku telah belajar dari kehidupanmu.Aku belajar untuk bertahan, belajar untuk memahami, belajar untuk mengerti, belajar untuk mengungkapkan isi hatiku. Engkau yang telah mengenalku sejak dulu, pasti tahu bahwa aku bukannya orang yang sabar. Sama seperti dirimu. Tapi aku belajar untuk sabar, belajar untuk menunggu.

 

Kami memiliki dunia yang berbeda, melewati kehidupan yang berbeda pada masa lampau. Satu persamaan diantara kami, kami sama-sama pribadi yang keras dalam memegang prinsip. Aku tahu, butuh suatu perjuangan untuk melaraskan sifat kami.

Dia. Lelaki yang sabar menghadapiku, senantiasa membimbing dan mengemong aku dalam menjalani hari-hariku.

 

Engkau tahu, selama ini sulit aku menemukan lelaki yang dengan sabar menerima aku. Dengan sabar memberikan pengertian kepadaku atas segala tindakan yang dilakukan. Apa aku sebegitu sulit untuk diterima apa adanya? Aku selalu berpikir, aku yang salah hingga aku mengubah sifat-sifatku. Tentunya dengan susah payah, karena aku hanya bisa merendamnya, membuatnya jadi lebih tertampilkan dengan cantik. Tapi dibalik itu semua sifat-sifat itu masih tetap ada dan sudah tentu belum ada yang dapat menerimaku apa adanya.

 

Bersamanya aku merasa tenang, merasa aman. Dapatkah aku sebut itu cinta?

 

Engkau masih ingat, saat kita berdebat, ah, lebih tepatnya selalu berdebat tentang mengapa engkau memilih dia sebagai kekasih hatimu. Dia yang menjadi ayahku. Engkau selalu tidak mau menjawab, karena engkau selalu sibuk menceritakan kekesalan hatimu padanya. Padahal kami, anak-anakmu sangat tahu, engkau tidak bisa jauh darinya. Kami sangat tahu engkau sangat bergantung padanya. Tetapi selalu engkau gengsi untuk mengatakan hal tersebut. Tapi dari semua itu aku belajar darimu, mama, belajar untuk memilih laki-laki yang tepat. Laki-laki, yang kepadanya aku bisa bergantung padanya. Bukan sekedar materi aku bisa bergantung tetapi segala hal dalam hidup ini.

 

Mama,

Tahukah engkau, setiap malam aku berdoa kepada Tuhan agar Dia mengirim laki-laki yang mampu mengerti aku, yang menyayangiku dengan tulus, yang akan menyayangi keluargaku.

 

Mama,

Apakah Tuhan menyampaikan pesanku kepadamu? Agar engkau membantuku dari tempatmu berada agar aku segera menemukan lelaki tersebut. Berkali-kali aku menitipkan pesan tersebut melalui doa-doaku. Agar ada seseorang yang tulus menjagaku hingga akhir hayatku. Seperti ayah menjaga mama hingga akhir hayat mama.

 

Aku merasa semua doa itu sampai, semua pesanku sampai padamu.

Aku tahu bahwa engkau turut memilihkan lelaki itu untukku. Menggerakkan hatinya untuk menemukanku. Menggerakan hatiku untuk menemukannya.

 

Mama,

Besok aku akan menikah dengan laki-laki tersebut. Laki-laki yang dalam keyakinanku engkau pilihkan untukku. Siapkah aku? Menjadi seorang isteri yang layak, selayak engkau. Mampukah aku menjadi seorang ibu? Selayak engkau menjadi ibu bagi kami. Ibu yang tidak pernah luput memperhatikan kami. Ibu yang bekerja membantu penghasilan keluarga agar kami dapat bersekolah dengan layak, agar kami dapat berpakaian dengan layak, agar kami dapat merasakan juga apa yang teman-teman kami lainnya rasakan, tetapi di satu sisi engkau tetap memasak untuk kami.

Mampukah aku?

 

Mama,

Andai engkau masih berada disini. Menggengam tanganku sebelum sesaat ijab kabul nanti. Mendampingiku di pelaminan. Menemaniku pada malam ini sambil mendengarkan petuah-petuahmu tentang rumah tangga. Membantu aku untuk berhias esok hari.

 

Malam ini, aku yakin engkau akan hadir esok hari. Tidak seorangpun akan melihatmu, bahkan aku tidak mungkin melihatmu. Tapi aku akan merasakan kehadiranmu disisiku. Mengatakan bahwa semua akan baik-baik aja. Bahwa semuanya akan terlewati. Bahwa apapun yang terjadi suka duka merupakan warna dari sebuah rumah tangga.

 

Mama,

Maafkan aku yang baru mengabulkan permintaan terakhirmu sesaat sebelum ajal menjemput.

Maafkan aku yang membuat engkau menunggu begitu lama.

 

 

#DearMama

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DearMama yang diselenggarakan Nulisbuku.com dan Storial.co

Settle Down


Being single is fabalous. That’s for me.

Ceritaku masih, musik yang mengalun pada setiap pagi masih tetap sama. Bukan lagu “Bapak mana” yang dinyanyikan oleh

Trio Ubur-ubur tapi lagu “menikah kapan?” yang dinyanyikanoleh orang sekitar.

Tebak umurku berapa? Banyak yang tidak percaya saya sudah berusia 35tahun dan belum memiliki anak. Gimana mau punya anak bapaknya aja masih belum ketemu. Mungkin masih di Jonggol atau di Bekasi, saking jauhnya gak ketemu-ketemu.

Apakah saya gelisah di usia yang matang ini meski belum bisa dikatakan tua belum jua menikah. Mengapa harus gelisah? Nikmati aja. Persetan dengan cerita teman-teman yang bahkan sudah memiliki 3 anak yang sudah mulai ABG. Aku sebut mereka itu pernikahan dini. Begitulah pembelaan diri saya. Toh pernikahan tidak menjamin seorang wanita lantas menjadi bahagia. Menurutku pribadi kebahagiaan itu diciptakan oleh diri sendiri.

Sejak itu aku mulai menciptakan kebahagiaanku sendiri. Mulai dari melakukan perjalanan-perjalanan kecil murah meriah. Bergaul dengan teman-teman yang lebih muda. Mencari pekerjaan yang bisa buat saya enjoy sampai akhirnya aku menjadi finanial independently. 

Aku memulai dengan melakukan travelling sendiri. Menjelajah tempat yang baru pertama kali dikunjungi. Aku pergi dengan grup backpacker yang notabenenya tidak ada yang dikenal. Dan sudah tentu pergi travel dengan sahabat sekaligus partner in crime. Meskipun belum seluruh pulau di Indonesia yang didatangi. Meski belum seluruh dunia disambangi. Tapi cukuplah untuk seorang pegawai bank yang memiliki cuti yang terbatas. Setidaknya bisa sampai ke Sydney.

Perjalanan selalu memberikan kenangan tersendiri. Oh apakah kenangan tentang cinta lokasi? Terlalu picik kalau hidup hanya sebatas percintaan asmara. Banyak hal-hal yang Tuhan ciptakan dengan begitu indah selain asmara. Setiap momen perjalananku dalam menjelajahi kota-kota asing selalu memberikan letup-letupan keasyikan sendiri. Bertemu dengan stranger, ngobrol berjam-jam bahkan melakukan perjalanan bersama atau sekedar mendapatkan teman bersantap siang di tempat yang asing.

Ini salah hal yang indah bagiku

My leisure thing
My leisure thing

Duduk di pantai sambil memandang laut hingga kejauhan merupakan salah satu kemewahan bagiku. Bersantai tanpa harus memikirkan pekerjaan.

Ini hanya bagian kecil yang bisa dilakukan saat menjadi single. Pasti timbul pertanyaan lalu kalau di hari- hari biasa apa yang kamu lakukan? Kesepiankah kamu? Bosankah kamu?

Aku tipikal orang yang selalu mencari cara untuk menyenangkan hati. Kalau bosen, biasanya pergi ke mall untuk nonton sendiri atau window shopping atau mungkin mencoba makanan baru sendiri. Awkward? Tentu awalnya, tetapi lama-lama menikmati. Sambil berharap dapat kenalan.

Loh, katanya menikmati being single, kok berharap dapat kenalan. Sejauh kaki melangkah berdua itu lebih menyenangkan sudah tentu. Memiliki pasangan dalam berbagi rasa itu jauh lebih indah. Apakah kita akan bahagia dengan memiliki pasangan? Tentu saja tapi kebahagiaan bukan diukur dengan memiliki pasangan. Memiliki pasanagan adalah bonus hidup. Hadiah keindahan dari Tuhan pun dengan perasaan cinta adalah hadiah. Kenapa juga hadiah? Karena kita tidsk bisa memilih kepada siapa kita akan jatuh cinta, sama seperti hadiah kita tidak bisa memilih untuk mendapatkan sesuatu hadiah yang kita inginkan. Semua adalah kejutan.

Lalu kapan akhirnya aku memutuskan untuk menerima hadiah dari Tuhan? Saat semua terasa telah cukup. Cukup sudah melakukan travelling sendiri, cukup menikmati penghasilan sendiri tanpa harus berbagi dengan orang yang bukan keluarga, cukup bergaul tanpa batas waktu semaunya dan kapan saja aku mau, cukup menikmati kesendirian, dimana tidak perlu memikirkan dandanan saat weekend, bebas tidur seharian, mau mandi atau tidak yang nyium baunya diri sendiri ini.

Saat rasa puas sudah hadir saat itu aku memutuskan untuk menagih hadiah cinta dan pernikahan pada Tuhan. Aku tidak akan meminta pada siapapun. Cukup sama Tuhan. Sudah pasti Dia akan memberikan hadiah yang terbaik.

Hadiah itu sudah hadir. Semua terjadi begitu saja. Semua berjalan begitu saja. Sayangnya aku terlalu sendiri terkadang lupa bagaimana berbagi, bagaimana mengerti, bagaimana memahami isi kepala orang lain yang baru dikenal. Sepertinya semua itu tidak semudah yang aku bayangkan. Bukan karena orang tersebut memiliki tabiat buruk. Bukan juga karena ia begitu menyebalkan hanya karena terbiasa menyelesaikan sendiri menjadi tidak sabar menunggu dia menyelesaikan suatu hal untukku. Ini yang aku sebut aku tidak bisa berbagi. Saat seperti itu ingin rasanya aku lari menjauh, kembali membiarkan aku menjadi single lagi.

Fase hidup itu terus bergulir dan tidak mungkin seseorang itu berada di fase hidup yang itu-itu saja.

Demi cinta yang Tuhan berikan, aku kumpulkan kekuatan untuk bertahan, aku ikat kakiku untuk tidak berlari meski sudah sangat ingin aku berlari.

Aku tatap wajah mentari pagi yang seakan-akan mengatakan “segitu saja kamu menyerah? Bukankah kamu kemarin yang berdoa untuk mendapatkan orang tersebut? Bukankah kamu yang bilang kalau kamu sudah siap?”

Lunglai aku menatap mentari dengan tatap aku mampu mengangguk mengatakan “iya”.

Disinilah aku berdiri

Mengikatkan kaki

Menguatkan hati

Untuk bertahan pada cinta yang Tuhan berikan

Yes, I’m settle down of my life to you.

You that God send to me. And let God settle up it for us.

image

Akhirnya Saya Tidak Golput


Di detik-detik terakhir masa kampanye mungkin sudah basi kalau saya. Atau mungkin saya terlalu pengecut untuk menyuarakan suara saya. Atau mungkin saya terlalu apatis menilai Pemilu yang selama ini sepertinya basa basi. Atau mungkin salah sudah kecewa ketika saya bersemangat ke TPS dan memilih Presiden dan ternyata presidennya melempem. Kali ini saya tidak peduli lagi dengan alasan-alasan saya tidak mau bersuara karena hati saya setiap malam selalu berteriak untuk saya menuliskan ini.

Sejak capres-cawapres sudah ditentukan saya langsung males. Nomor urut 1 Prabowo-Hatta dan nomor urut 2 Jokowi-JK. Saya coba flash back. Dari 5 tahun yang lalu saya yakin Prabowo akan jadi capres atau minimal cawapres. Dan sejak 5 tahun lalu saya belajar untuk melogika dan mencari sisi baik Prabowo bila dia menjadi Presiden. Yah..dibandingkan orang-orang yang getol iklan sebelum pemilu antara lain ARB, Surya Paloh, Wiranto-HT yah Prabowo paling mending. Saya terus berusaha untuk menerima bila Prabowo jadi presiden. Pasti pertanyaannya kenapa harus berusaha menerima kalau memang dia yang lebih baik diantara yang lain. Tetap masih teringat berita, kisah-kisah ayah saya yang menjadi aktivis sampai dengan masa reformasi, dimana Prabowo adalah penculik para aktivis tahun 98. Dimana abang saya saat ini ikut turun ke jalan, ikut demo di gedung MPR. Tidak dapat saya bayangkan bila yang diculik itu abang saya.

Saat masa kampanye mulai masuk begitu banyak tautan berita yang menepis bahwa Prabowo melakukan pelanggaran HAM. Saya terima tepisan itu, hingga sampai pada acara debat pertama JK perrtanyaan “mengenai penangan pelanggaran HAM di masa lalu” dengan deg-degan saya tunggu jawaban Prabowo, jawaban yang menurut saya bisa membuat saya menerima beliau menjadi Presiden Indonesia. Dor..kok jawabannya “Tanya atasan saya” dimana ksatrianya kalau hanya melempar kesalahan kepada oraang lain. Akan jauh lebih elegan dan menurut saya pantas menjadi pemimpin bila ia menjawab “Akan saya usut tuntas”. Atau kalau memang beliau terlibat menjawab dengan “Itu kesalahan masa lalu saya dan akan saya tebus dengan menjadi Presiden yang akan membela rakyat dan melindungi rakyat.

Jadi sejak debat 1, saya #tegastidakpilihno1. Saat itu pilihan saya antara no.2 atau golput dan saya cenderung golput. Sosial media makin hari makin ngeselin dengan memenuhi timeline dengan copras capres. Tapi entah kenapa selalu ada dorongan diri untuk membaca itu semua. Tidak perlu saya urasikan apa saja yang saya baca dan hasil penalaran saya. Karena seperti yang saya bilang saya sudah #tegastidakpilihno1 jadi saya tidak akan membandingkan seperti kebanyakan tulisan orang lain.

Saya mencari tahu seperti apa Jokowi. Dari semua hal yang saya baca saya menemukan sesuatu yang tidak pernah terjadi di Indonesia yaitu Energi Positif yang besar. Jokowi telah berhasil merebut hati rakyat bukan dengan uang, bukan dengan fasilitas yang edan. Hanya sebuah energi positif. Setelah begitu banyak energi negatif di negeri, seperti ada sebuah harapan saat begitu banyak rakyat yang tertular energi positif. Virus energi bukan sesuatu yang bisa direkayasa karena itu gelombang jujur seseorang dan terjadi tanpa orang yang menyebarkan menyadari telah menyebar energi tersebut.

Saya terharu ketika orang secara stimulaatif #akhirnyamemilihjokowi. Saya terharu ketika melihat tulisan-tulisan orang mengenai alasan Jokowi.

Jokowi tidak sempurna, Jokowi tidak mungkin tidak mempunyai ambisi. Tapi kalau ambisi beliau ambisi baik dengan memulai menyalurkan energi positif kenapa tidak saya memilih beliau. Saya ingin negeri ini damai.

Saya suddah jenuh dengan isu agama. saya sudah jenuh dengan mayoritas minoritas. Kenapa selalu energi negatif yang disebar. Saya ingin anak-anak saya kelak bisa memahami arti toleransi tanpa harus diajari oleh saya, karena lingkungan dia telah mengajari hal itu semua.

Dan akhirnya salam 2 jari.
dengan semangat saya akan coblos pada tanggal 9 Juli 2014

Damai negeri
Positif energi negeriku.

Rasa Rindu


Saat kumerindu aku diam
Pun saat bertemu kutahan kata rindu
Hanya kusampaikan lewat senyum

Saat kumerindu aku berdoa
Mendoakan kesehatan dan kebaikan untukmu
Berharap doa tersampaikan melalui mimpi

Saat kumerindu aku ajak diri untuk tertidur
Memejamkan mata
Berharap memimpikanmu

Tak lagi akan aku umbar rasa
Karena itu akan menjadi biasa

Tak lagi akan aku berbagi kata
Karena itu akan mengaburkan rasa

Diam menikmati rasa
Yang muncul meski hanya sedetik
Yang memedam hingga menahun
Kusimpan semua menjadi rahasia

Karena aku hanya ingin engkau mencariku karena rindumu bukan rinduku.

JEDA


Aku berlari bebas mengejar kupu-kupu
Berputar-putar tak jelas
Aku biarkan kaki ini mengejar matahari
Ke pantai
Ke gurun atau
Ke gunung

Tak peduli aku berlari sampai mana dan sampai kapan
Tak ada yang mengikatku
Tak ada yang menungguku

Hanya aku, alam dan Tuhan
Dalam sebuah jeda waktu

Jeda dalam pengertian bahasa Indonesia adalah waktu istirahat, waktu berhenti sebentar, hentian sentar dalam ujaran. Aku mengambil sebuah jeda dalam hidup ini. Sejenak saja. Mengistirahatkan pikiran, mengistirahatkan tubuh, mengistirahatkan hati.

Jeda bagiku adalah hadiah. Hadiah dari sebuah keberanian melepaskan sebuah kepastian. Jeda itu sendiri memiliki arti sendiri bagi setiap individu. Menurutku setiap orang membutuhkan jeda dari segala aktivitasnya. Anak sekolah butuh jeda yaitu waktu istirahat pada jam 9 pagi dan jam 12 siang bilamana mereka bersekolah hingga pukul 2 siang. Para karyawan juga mendapatkan jeda dari pekerjaannya yaitu jam 12 siang, 1 jam dari 8 jam kerja yang mengikat mereka demi pundi-pundi uang setiap bulan. Ibu rumah tangga pun membutuhkan jeda dari kesibukannya mengurus rumah, anak dan keuangan rumah tangga. Jeda yang biasa disebut dengan “me time”. Terkadang sebuah hubungan asmara pun membutuhkan jeda. Saling memberi jarak dan ruang terhadap pasangan masing-masing.

Jedaku sendiri adalah jeda dari urusan pekerjaan, melupakan sejenak rutinitas bangun pagi terpogoh-pogoh, berburu dengan kemacetan atau sesaknya commuterline. Jeda dari tanggung jawab kantor, kertas kerja yang berteriak-teriak untuk diselesaikan. Jeda dari pikiran tentang rekan kerja saat sedang cuti dari kantor, yang berujung tangan meraih handphone lalu mengetik sebuah bbm “Kantor aman kan? kalau ada apa-apa let me know ya.”

Jeda dari urusan memikirkan jodoh, mencari “mister x”, membentuk berbagai kriteria pria yang patut ditunggu lamarannya. Jeda dari masa lalu yang kadang masih suka menyerat dirinya masuk ke masa kini. Jeda dari pikiran yang berkecamuk tentang belum menikah sedangkan teman-teman seusiaku hampir semua sudah memiliki keluarga bahkan beberapa anaknya telah masuk SD.

Jeda dari perasaan-perasaan yang seharusnya tidak perlu hadir, seperti hari ini makan siang dengan siapa. Pulang kantor ajak siapa untuk nongkrong sekedar ngopi-ngopi atau nonton. Dimana sering berujung kecewa karena teman yang diajak harus segera pulang karena ditunggu suami.

Aku mengambil sebuah jeda untuk berhenti sebentar dari segala aktivitas rutin. Jeda yang terjadi tanpa direncanakan. Jeda yang diambil dengan sedikit keberanian. Jeda yang tidak aku ketahui sampai kapan, akan berlangsung berapa lama.

Dalam waktu jeda ini kupasrahkan langkah ini kepada Yang Maha Kuasa, hendak Ia bawa aku kemana. Apa yang akan terjadi pada masa jeda aku pasrah saja. Aku hanya ingin terbang bebas tanpa arah, ingin berlari-lari seperti gasing yang memabukan, ingin berhenti duduk dimanapun, kapanpun aku ingin duduk.

Kopi Hati (Part II)


Image

Ini sudah lembaran yang kelima yang aku buang begitu saja ke lantai. Susah sekali rasanya untuk menuliskan apa yang ada pada benakku. Menuliskan kata-kata berpisahaan pada saat amarah menguasai benakku. Baru saja satu kalimat aku tuliskan sudah habis kata-kata. Ini bukan satu kalimat lebih tepat satu kata.

TAI!!

Semua perlakuan dia akhir-akhir seperti tai bagiku. Tidak ada kata lain yang pantas untuk aku lontarkan kepadanya. Dia yang meninggalkanku begitu saja tanpa sebuah kabar. Dia yang hanya membaca smsku lalu mendelete tanpa membalas. Dia yang menghiraukan panggilan teleponku, hingga sepuluh kalipun tak ada satu kalipun ia akan mengangkat telepon tersebut.

Laki-laki apa yang bisa seperti itu? Oh, manusia apa yang tahan mendiamkan orang yang dia sebut sebagai kekasih. Luar biasa sekali daya tahan dia untuk mengacuhkan orang lain. Manusia seperti itu memang tidak layak untuk dicintai.

Dia, terlalu cepat dia melupakan apa yang terjadi diantara kita. Terlalu cepat dia melupakan bahwa AKU yang berada di sampingnya saat ia belum menjadi apa-apa. Sekarang setelah ia sukses, setelah ia memiliki uang yang cukup, seperti kentut dia buat diriku. Dibuang begitu saja tanpa beban bahkan dengan leganya, dengan wajah tersenyum. Keparat benar orang itu.

Aku kembali mengambil selembar kertas. Mungkin sebaiknya aku menyeduh secangkir kopi terlebih dahulu. Mungkin dengan caffein amarahku akan mencair, meleburkan diri dengan kesabaran dan kebaikan hatiku. Aku melangkah kearah dapur, menyalakan kompor sambil mengambil sebuah cangkir kecil. Langkahku bukan kembali ke ruang tengah dimana kertas-kertas berserakan itu terdapat, langkah melangkah ke balkon. Kubuka pintu bagian belakang, kuhirup udara malam yang cukup dingin sehabis hujan seketika. Kupandangi lampu-lampu yang menghiasi kota Jakarta bagian Timur, cahaya lampu pada rumah-rumah yang terlihat mungil dari balkonku.

“iiiiiinnnnnnnggggggggg” suara air sudah matang.

Aku kembali mengambil lembaran kosong. Aku mulai menuliskan kata-kata.

 

Hi Alex,

Semoga kamu sehat-sehat saja saat menerima surat ini. Entah apa yang datang pada benakmu, tiba-tiba saja kamu meninggalkanku. Melupakan harapan-harapan yang telah kita bangun. Harapan yang telah kamu pupuskan sepihak. Tanpa alasan, tanpa penjelasan kamu pergi begitu saja. Teleponku tidak pernah kamu angkat, smsku tidak pernah dibalas.

Kamu mungkin sudah lupa bagaimana aku mengajarkanmu untuk menjadi laki-laki yang bertanggung jawab.

Kata apa yang pantas aku lontarkan kepadamu?

Mungkin bagimu hubungan kita tidak berarti apapun. Tapi bagiku hubungan ini, layak untuk diperjuangkan. Dan aku rela untuk berjuang. Terkadang hubungan itu tidak diawali dengan keindahan, mungkin saja diawali dengan bertengkaran. Yah, terakhir kita bertemu, kita saling berdebat. Tidak ada yang salah dengan itu semua. Tidak ada yang salah dengan ketidaksukaanku. Aku bukan tidak suka pada dirimu, tapi yang aku tidak suka adalah tabiatmu. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku tidak suka dikelabui, dibohongi apalagi bohong yang tidak penting seperti yang kamu lakukan. Mengaku di luar kota padahal temanku menemukanmu pada sebuah cafe di dekat kantormu. Padahal kamu tidak bersama siapa-siapa. Untuk apa berbohong?

Sampai sudah lewat 3 bulan, aku tetap tidak menemukan alasan yang terbaik atas sikapmu.

Kamu takut padaku? Apa yang kamu takuti?

Aaarrrrggghhhh

Semua sudah tidak penting lagi. Karena detik ini sudah tidak ada KITA. Tidak ada lagi kepentinganku untuk mempertanyakan sikapmu. Karena kamu secara tidak langsung telah memutuskan hubungan ini.

 

Inikah yang menurutmu terbaik?

Bila memang iya, aku terima.

 

Semoga kamu bahagia.

 

With Love,

Alika.

 

Kuhelakan nafas panjang, seakan sedari tadi aku menahan nafas panjang selama menuliskan surat ini. Kulipat surat tersebut dan memasukkan kedalam amplop. Akan aku kirimkan besok semoga dia segera membacanya sesampai surat ini di rumahnya.

Lelah merajang diriku secara tiba-tiba. Kuhirup kopi yang sudah mulai mendingin, kuambil sebatang rokok dan menyalakan. Ada kelegaan, aku telah berhasil menuliskan perasaanku. Meski masih ada nada kemarahan pada tulisan itu tetapi sudah lebih melunak dibandingkan satu kata TAI.

Aku akan belajar mengikhlaskan harapan yang pernah ada. Bukan dengan membuangnya, karena aku sudah coba untuk membuangnya jauh-jauh selama 3 bulan ini. Pun tak cukup reda marahku. Tak cukup berhenti hatiku menangis. Tak cukup rela harapanku hilang begitu saja. Aku hanya butuh mengikhlaskannya.

Kuraih blackberry, iseng aku melihat status-status teman-temanku, mataku berhenti pada sebuah nama Babeh dengan statusnya “Bersyukur dan Sabar”. Aku harus bisa bersyukur dan bersabar untuk beliau. Tiba-tiba setetes air jatuh dari mataku.

Ayah, maafkan anakmu yang belum juga memberikan menantu laki-laki untukmu. Bersabar Ayah, aku selalu berdoa Allah akan memberikan kesempatan Ayah untuk menikahiku kelak. Kelak yang aku belum tahu kapan.”

 

Kurapikan seluruh kertas yang berserakan, mengambil cangkir kopi yang tinggal satu kali seduh dan membawanya ke dapur. Langkahku memasuki kamar. Lelah. Aku butuh istirahat.

(to be continue)