Kopi Hati (Part II)


Image

Ini sudah lembaran yang kelima yang aku buang begitu saja ke lantai. Susah sekali rasanya untuk menuliskan apa yang ada pada benakku. Menuliskan kata-kata berpisahaan pada saat amarah menguasai benakku. Baru saja satu kalimat aku tuliskan sudah habis kata-kata. Ini bukan satu kalimat lebih tepat satu kata.

TAI!!

Semua perlakuan dia akhir-akhir seperti tai bagiku. Tidak ada kata lain yang pantas untuk aku lontarkan kepadanya. Dia yang meninggalkanku begitu saja tanpa sebuah kabar. Dia yang hanya membaca smsku lalu mendelete tanpa membalas. Dia yang menghiraukan panggilan teleponku, hingga sepuluh kalipun tak ada satu kalipun ia akan mengangkat telepon tersebut.

Laki-laki apa yang bisa seperti itu? Oh, manusia apa yang tahan mendiamkan orang yang dia sebut sebagai kekasih. Luar biasa sekali daya tahan dia untuk mengacuhkan orang lain. Manusia seperti itu memang tidak layak untuk dicintai.

Dia, terlalu cepat dia melupakan apa yang terjadi diantara kita. Terlalu cepat dia melupakan bahwa AKU yang berada di sampingnya saat ia belum menjadi apa-apa. Sekarang setelah ia sukses, setelah ia memiliki uang yang cukup, seperti kentut dia buat diriku. Dibuang begitu saja tanpa beban bahkan dengan leganya, dengan wajah tersenyum. Keparat benar orang itu.

Aku kembali mengambil selembar kertas. Mungkin sebaiknya aku menyeduh secangkir kopi terlebih dahulu. Mungkin dengan caffein amarahku akan mencair, meleburkan diri dengan kesabaran dan kebaikan hatiku. Aku melangkah kearah dapur, menyalakan kompor sambil mengambil sebuah cangkir kecil. Langkahku bukan kembali ke ruang tengah dimana kertas-kertas berserakan itu terdapat, langkah melangkah ke balkon. Kubuka pintu bagian belakang, kuhirup udara malam yang cukup dingin sehabis hujan seketika. Kupandangi lampu-lampu yang menghiasi kota Jakarta bagian Timur, cahaya lampu pada rumah-rumah yang terlihat mungil dari balkonku.

“iiiiiinnnnnnnggggggggg” suara air sudah matang.

Aku kembali mengambil lembaran kosong. Aku mulai menuliskan kata-kata.

 

Hi Alex,

Semoga kamu sehat-sehat saja saat menerima surat ini. Entah apa yang datang pada benakmu, tiba-tiba saja kamu meninggalkanku. Melupakan harapan-harapan yang telah kita bangun. Harapan yang telah kamu pupuskan sepihak. Tanpa alasan, tanpa penjelasan kamu pergi begitu saja. Teleponku tidak pernah kamu angkat, smsku tidak pernah dibalas.

Kamu mungkin sudah lupa bagaimana aku mengajarkanmu untuk menjadi laki-laki yang bertanggung jawab.

Kata apa yang pantas aku lontarkan kepadamu?

Mungkin bagimu hubungan kita tidak berarti apapun. Tapi bagiku hubungan ini, layak untuk diperjuangkan. Dan aku rela untuk berjuang. Terkadang hubungan itu tidak diawali dengan keindahan, mungkin saja diawali dengan bertengkaran. Yah, terakhir kita bertemu, kita saling berdebat. Tidak ada yang salah dengan itu semua. Tidak ada yang salah dengan ketidaksukaanku. Aku bukan tidak suka pada dirimu, tapi yang aku tidak suka adalah tabiatmu. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku tidak suka dikelabui, dibohongi apalagi bohong yang tidak penting seperti yang kamu lakukan. Mengaku di luar kota padahal temanku menemukanmu pada sebuah cafe di dekat kantormu. Padahal kamu tidak bersama siapa-siapa. Untuk apa berbohong?

Sampai sudah lewat 3 bulan, aku tetap tidak menemukan alasan yang terbaik atas sikapmu.

Kamu takut padaku? Apa yang kamu takuti?

Aaarrrrggghhhh

Semua sudah tidak penting lagi. Karena detik ini sudah tidak ada KITA. Tidak ada lagi kepentinganku untuk mempertanyakan sikapmu. Karena kamu secara tidak langsung telah memutuskan hubungan ini.

 

Inikah yang menurutmu terbaik?

Bila memang iya, aku terima.

 

Semoga kamu bahagia.

 

With Love,

Alika.

 

Kuhelakan nafas panjang, seakan sedari tadi aku menahan nafas panjang selama menuliskan surat ini. Kulipat surat tersebut dan memasukkan kedalam amplop. Akan aku kirimkan besok semoga dia segera membacanya sesampai surat ini di rumahnya.

Lelah merajang diriku secara tiba-tiba. Kuhirup kopi yang sudah mulai mendingin, kuambil sebatang rokok dan menyalakan. Ada kelegaan, aku telah berhasil menuliskan perasaanku. Meski masih ada nada kemarahan pada tulisan itu tetapi sudah lebih melunak dibandingkan satu kata TAI.

Aku akan belajar mengikhlaskan harapan yang pernah ada. Bukan dengan membuangnya, karena aku sudah coba untuk membuangnya jauh-jauh selama 3 bulan ini. Pun tak cukup reda marahku. Tak cukup berhenti hatiku menangis. Tak cukup rela harapanku hilang begitu saja. Aku hanya butuh mengikhlaskannya.

Kuraih blackberry, iseng aku melihat status-status teman-temanku, mataku berhenti pada sebuah nama Babeh dengan statusnya “Bersyukur dan Sabar”. Aku harus bisa bersyukur dan bersabar untuk beliau. Tiba-tiba setetes air jatuh dari mataku.

Ayah, maafkan anakmu yang belum juga memberikan menantu laki-laki untukmu. Bersabar Ayah, aku selalu berdoa Allah akan memberikan kesempatan Ayah untuk menikahiku kelak. Kelak yang aku belum tahu kapan.”

 

Kurapikan seluruh kertas yang berserakan, mengambil cangkir kopi yang tinggal satu kali seduh dan membawanya ke dapur. Langkahku memasuki kamar. Lelah. Aku butuh istirahat.

(to be continue)

 

Kopi Hati (Part I)


Liburan kali ini aku memilih pantai lagi. Panggilan untuk  berlibur ke pantai terus menerus datang, bisa saya katakan ini sudah seperti sakaw.  Aku, perempuan yang tergila-gila dengan pantai. Tapi aku bukan perempuang yang termasuk senang berjemur, sunbathing layaknya bule, bukan juga penyelam yang ulung, yang sanggup berlama-lama dibawah laut. Hal yang paling aku sukai dari pantai adalah  memandang laut tanpa batas, ini seperti melepaskan batasan-batasan pikiran dan membuka cakrawala pikiran sendiri. It’s like a therapy in opening my mind.

Dengan lembut ombak-ombak itu membasahi kaki. Pasir yang lembut, air yang dingin mengiring langkah saya menyusuri pantai. Tanpa ragu aku katakan bahwa negeri ini begitu indah. Mungkin ini baru satu tempat di negeri ini yang dapat saya kunjungi, tapi satu tempat saja sudah mampu membuat terpesona. Membuat  lupa akan penatnya kota Jakarta, tekanan-tekanan pekerjaan, rutinitas yang setiap pagi membuat  bad mood. Air laut ini sengaja menggoda , menggoda untuk berada di dalamnya, sekilas aku melihat dasar laut dari bibir pantai, terlihat koral-koral. Mata saya terfokus pada apa yang berada di dasar laut, tanpa sadar aku terus melangkah hingga air laut berada sepinggang. Wow, ikan-ikan kecil itu sangat jelas terlihat. Ini negeri apa? Aku masih sangat jauh dari tengah laut tapi ikan-ikan itu terlihat sangat jelas. Aku berlari kembali ke pantai, mengambil google dan kacamata,  mau menyelam (snorkling) dan menikmati ikan-ikan yang berenang disekitar tubuh.

Perkenalkan aku Alika, Alika Larasati.

Patah hati telah membawaku ke pulau ini. Berbekal kenekatan, peta, hasil browsing, dan pengalaman teman, aku memberanikan diri untuk melakukan solo travel. Gili trawangan merupakan pilihan yang tepat. Aku tidak mau kalah dengan para peserta Amazing Race Asia, mereka saja sudah merasakan keindahan pulau ini dibandingkan aku. Pilihan transportasi di pulau ini hanya sadako, sepeda atau kaki sendiri untuk mengitari pulau. Pilihanku jatuh pada sepeda. Ini adalah patah hati yang indah. Tanpa datangnya patah hati, kakiku tidak mungkin sampai ke pulau ini. Aku bukan sedang melupakan seseorang yang telah menyakiti, orang yang meninggalkanku. Tapi aku sedang menyenangkan hati sendiri, menghibur diri. Berharap keadaan akan menghiburku? Berharap teman-teman mampu menghibur hati yang terpatahkan? Aku bukan orang yang tergantung pada orang lain, jadi aku yang menghibur diriku sendiri. Ini jauh lebih menyenangkan dibandingkan mendengar kata-kata semangat dari teman bahkan dari seorang motivator. Bukan aku mau mengkecilkan arti sebuah teman melainkan semua semangat, semua hiburan tidaklah akan berarti bila aku masih terus bersedih. Suara-suara indah tentang semangat itu sirna begitu saja tertelan oleh kesedihanku. Untuk bahagia aku lah yang paling tahu bagaimana membahagiakan diri  sendiri.

Menikmati keindahan pulau, pasir yang halus, laut yang jernih ditemani segelas cappucino dan buku adalah kebahagiaan hidup bagiku. Sederhana? Bolehlah orang lain mengatakan sungguh sederhana  kebahagiaan bagiku. Yah, untuk apa meletakkan standar yang sulit dan rumit untuk bahagia kalau kebahagiaan itu bisa dicapai dengan cara yang sederhana.

Perlukah aku menceritakan cerita patah hatiku?

Patah hati bagi siapa saja sama. Disakiti, ditinggalkan, dikecewakan. Kecewa karena hilang harapan untuk terus bersama. Jadi apa perlu diceritakan kalau rasanya sudah pasti sama saja?

Oke, aku tahu tidaklah seru tanpa sebuah cerita yang miris dalam perjalanan hidup seseorang. Semakin miris semakin orang senang mendengarkannya, lalu orang akan membandingkan dengan hidupnya dan mulai bersyukur bahwa kejadiaan tersebut tidak ia alami. Aku akan ceritakan, dengan harapan orang yang mendengar akan bersyukur dengan apa yang dimiliki saat ini. Atau mungkin merasa ada teman yang senasib.

Ia bernama Alex. Laki-laki yang seharusnya menikahiku tahun depan. Sebuah rencana telah kami sepakati. Pesta pernikahan tanpa kemewahan sudah direncanakan. Ayah saya begitu bahagia mendengarnya. Akhirnya putrinya akan menikah. Suatu hal yang ia tunggu-tunggu sejak lama. Ia senantiasa berdoa agar aku segera menikah. Ops jangan tanya usiaku, yang pasti sudah tidak muda lagi meski belum tua. Kami sudah mulai mencari gedung, mencari katering, tempat sewa baju penganten.  Sudah kubayangkan menjadi seorang pengantin.

Tiga bulan yang lalu, tiba-tiba tercium hawa-hawa kebohongan. Tapi aku diam saja, berusaha untuk mengabaikan perasaaan itu. Perasaan yang merupakan insting atau peringatan. Alex mulai berusaha menghindari pertemuan. Selalu ada alasan saat mulai diajak berbicara tentang pernikahan. Sampai akhirnya aku tahu kalau orang tua nya tidak pernah menyetujui dia untuk menikahiku. Apa alasannya, sampai akhirnya kami berpisah aku tidak pernah tahu. Orang tuanya tidak mau datang kerumah  untuk melamar. Alex, laki-laki yang mengatakan cinta padaku, sediktpun tidak berusaha memperjuangkanku. Membujuk kedua orang tuanya, lebih sering mempertemukanku dengan mereka. Justru yang Alex lakukan hanyalah menghindar, berbohong lalu meninggalkanku. Meninggalkanku, saat aku sedang marah, sedang kecewa akan kenyataan bahwa aku tidak disukai tanpa suatu alasan. Hanya tidak disukai untuk jadi menantu.

Saat itu, aku benar-benar merasa tidak berharga,  merasa malu. Malu pada keluargaku.

Disini, di pulau ini aku ingin mengembalikan kebahagiaanku yang hilang.

IMG_0044

(to be continue)

Cinta Dalam Diam


Dengan mata yang penuh nerawang ia memandang langit-langit kamarnya. Ia sedang memimpikan bidadari hatinya. Bibirnya tersinggung sebuah senyum. Pelan-pelan ia mulai menarik bibir tipisnya, semakin lebar, semakin merekah lalu tiba-tiba sebuah tawa menyerbak seisi ruangan. Apa yang sedang ia tertawa?

 

Ia putarkan kepalanya kearahku, sepertinya ia mulai menyadari kehadiranku disini. Atau ia tidak suka aku memperhatikan ia saat ia sedang memimpikan bidadari hatinya. Dengan kening yang berkerut, ia tajamkan pandangan kearahku, itu menandakan bahwa ia sangat tidak suka untuk disimak sedemikian rupa. Aku mencoba mengalihkan pandanganku, berpura-pura tidak sedang memperhatikan segala gerak-geriknya, lalu pelan-pelan aku menutup mata.

 

Aku tahu siapa yang sedang ia mimpikan, yang dapat membuatnya tertawa dengan begitu renyah, yaitu seorang wanita yang selalu datang setiap hari kamis untuk menyapanya. Genggaman tangannya selalu menghangatkan sanubari. Tangan wanita itu begitu lembut menyapu setiap lekuk wajahnya. Tangan itu membuat aku merasa begitu iri. Aku pun ingin menyentuh lekuk wajahnya.

 

Pria itu sungguh tampan, hidung yang mancung, bibir yang tipis, arrgghh ingin aku merasakan sentuhan bibir itu, meresapi rasa yang ada dibalik bibir itu. Tubuhnya yang cukup bidang dan proposional sebagai pria yang terbilang tidak pernah berolah raga. Tidak pernah sekalipun aku melihatnya berolah raga, meskipun sekedar sit up, seperti biasanya para pria lakukan untuk menjaga kebugaran. Memang perutnya terlihat agak sedikit membumbung ke depan, akan tetapi hal itu tidak menghilangkan kemenarikkan dirinya.

 

Hari ini adalah hari kamis, jam dinding pada kamar menunjukkan tepat pukul 5 sore hari. Samar-samar aku mendengar sebuah langkah stiletto berdentang perlahan tapi pasti. Semakin mendekat dan jelas suara langkah itu. Wanita telah datang untuk menyapa dan berbincang-bincang. Kali ini wanita itu mengenakan sebuah setelanan yang sangat elegan dimataku. Blazer hitam dengan rok sedikit diatas lutut. Dari bagian atas pakaian yang dikenakan tersisip sebuah kemeja berwarna merah menyala. Sungguh anggun, terlebih dengan boots stilettonya.

 

Aku ingin sekali mengetahui apa yang akan mereka perbincangkan. Seperti biasanya setelah wanita itu pulang, pria itu akan selalu mengukirkan sebuah senyum manis di wajah tampannya. Aku mulai pertajam pendengaranku agar dapat mendengar apa yang sedang mereka percakapan.

 

“Malam Mas.” Saat kuintip, pria itu membalas dengan senyum. Aku tahu itu adalah senyum kebahagiaan.

“Mas, kamu tidak boleh malas makan, ntar sakit. “

“Aku mau cerita sesuatu sama kamu mas. Sudah lama yah kita tidak cerita-cerita seperti dulu. Aku kangen banget. Kangen dengan tawa renyahmu, dengan coletahanmu, dengan ambekanmu, semuanya mas, semua yang ada pada kamu selalu membuat aku kangen.”

 

Aku terus berusaha untuk mendengarkan mereka. Tiba-tiba sayup-sayup aku mendengar wanita itu menceritakan seseorang kepada pria itu. Aduh suaranya kecil sekali. Samar-samar aku mendengarkan sebuah isakan. Aku terus mencoba mempertajam pendengaran, hah pria itu meneteskan airmata. Aku membuka mataku untuk melihat apa yang sedang terjadi. Kali ini aku tidak peduli apabila pria itu akan memandang tidak senang padaku. Aku harus tahu apa yang membuat pria itu meneteskan airmatanya. Wanita itu sedang menceritakan apa pada pria itu. Cerita sedihkah? Hingga memilukan hati dan mengalirkan air dari matanya.

 

“Aku akan menikah Mas, maafkan aku. Aku sudah tidak mampu menunggu kamu lagi.”

“Padahal hatiku selalu menuntut diriku untuk menunggu kamu, menunggu kamu kembali ke rumah hatiku.”

“Tapi aku hanya seorang manusia biasa yang akan kalah dengan deraan lingkungan sekitarku.”

“Mereka, keluargaku, tidak pernah percaya kamu akan kembali. Memulihkan keceriaan hidupku. Mereka pikir tidak ada gunanya lagi aku menunggu kamu. Mereka sibuk membicarakan usiaku yang terus bertambah, sedangkan tidak ada kepastian kamu akan kembali, Mas.”

“Bahkan ibumu tidak dapat menjamin kamu akan kembali padaku. Menyakitkan mendengar itu.”

“Kalau kamu tanya perasaanku, aku sangat sedih. Aku sudah berhari-hari menangis. Bahkan mereka melarang aku untuk bertemu denganmu. Untuk sekedar membelai rambutmu yang masih lembut seperti dulu, atau untuk sekedar mengecup keningmu agar kamu merasakan sebuah ketenangan di sanubarimu.”

“Mas, aku sayang kamu. Tapi aku kalah oleh lingkungan sekitarmu.

 

Jahat! Ingin aku memaki wanita itu. Tangis pria itu semakin pecah, hingga memecahkan kesunyian seluruh ruangan. Semakin mengencang, hingga ia mulai berteriak. Berteriak seperti biasa saat hatinya sedang kacau. Saat ia kecewa atas orang-orang yang hadir dalam hidupnya.

 

“Hey, wanita! Apabila engkau tahu, engkau akan pergi meninggalkan dia, mengapa engkau selalu datang mengunjunginya. Engkau hanya memberi sebuah harapan semu. Dimana perasaanmu?” Teriakku dengan penuh kemarahan.

“Untuk apa engkau datang, toh, cukup aku disini yang menemaninya dalam sepi.”

“Tahu kah engkau hatinya hanya akan semakin terluka, lebih dalam dan dalam lagi hingga membuatnya berdarah.”

 

Sungguh marah hatiku. Tapi jelas tidak mungkin wanita itu dapat mendengar teriakkanku. Jangankan teriakanku, pria itu pun tidak mampu menjawab apapun dari setiap perkataannya. Tapi aku tahu dia mengerti setiap ucapan wanita itu, sorot matanya menjawab itu. Sorot mata yang selalu memberi arti bahwa ia paham akan semua perkataan. Oleh karena itupun ia dapat menangis hingga berteriak. Sebuah reaksi dari seorang pria yang memiliki ketidakstabilan jiwa. Seorang pria yang tidak bisa mencerna isi hati dan kepala untuk dituangkan dalam untaian kata. Pria yang hanya hidup dalam dunianya sendiri. Dunia dimana hanya ada dia dan Tuhan sebagai sahabatnya serta malaikata para penghiburnya.

 

Aku memang hanya sebuah dinding yang menemani pria itu dalam ruang yang sempit berukuran 3×3 m yang tertutup rapat, hanya sebuah ventilasi kecil di dekat langit-langit kamar yang dapat memberikan seberkas cahaya pagi. Memandang setiap pola tingkah seorang pria yang tangannya terbungkus kain sehingga ia tidak bisa mengerakkannya secara bebas. Orang-orang takut apabila tangannya dibiarkan bebas ia akan menyakiti dirinya. Aku pernah melihat ia menyiletkan pergelangan tangannya saat minggu pertama ia hadir di ruangan ini. Sejak saat itu tangannya selalu terbungkus rapat oleh kain. Karena pria itu hanya seorang pasien rumah sakit jiwa yang masih mampu merindukan cintanya tanpa mampu mengatakan I LOVE YOU.

Kepada Yth. Sang Mantan


Hai mantan, kamu hari ini tiba-tiba muncul dalam ruang sosial media. Kemunculan kamu sebenarnya biasa karena kita merupakan dua orang yang berteman. Tapu kali ini kamu muncul sebagai mantan dan menyeretku pada masa lalu.

Kamu bercerita mengenai rasa bersalah kamu, tentang kesialan kamu yang belum juga mendapatkan jodoh. Sama saya juga belum mendapatkan jodoh. Tapi saya tidak mau menyeret kamu ke sebuah masa lalu dimana pada ruang itu kita saling bercerita, saling tertawa, saling berbagi. Meski keberadaan “Kita” pada ruang itu cukup singkat, akan tetapi ada unsur daya tarik menarik hingga saat ini. Hingga pada fase kita adalah teman.

Hai mantan, bukan kesalahan kamu kalau saat ini saya belum menikah. Bukan juga tanggung jawab kamu untuk menjadikan hidup saya lebih baik.

Hai mantan, kalau kamu melihat saya hari ini begitu kusut, begitu berantakan hidupnya. Sekali lagi bukan salah kamu. Kamu dengan kesalahan pada masa lalu adalah pelajaran bagi saya dan juga bagi diri kamu sendiri. Menebus hal itu pada masa sekarang tak akan mengubah yang sudah terjadi. Kenangan yang tak menyenang itu akan terus melekat pada sisi diri kita masing-masing.

Hai mantanku yang baik, tak perlu saya berada dalam komunitasmu untuk kita tetap akan berteman. Tanpa keberadan saya di sekitarmu saya tetap temanmu. Hari ini dan yang akan datang.

Hai mantan, meski begitu telat kamu meminta maaf atas kejadian masa lalu. Meski begitu telat kamu menjelaskan mengapa kamu meninggalkanku ketika itu. Tapi terima kasih telah menjelaskan semua itu pada saya hari ini.

Hai mantan, kesialanmu bukan karena saya atau mantan-mantanmu yang lain. Itu bukan kesialan tapi ujian untuk mendapatkan jodohmu yang sudah lama menunggu. Menunggu kamu untuk berada pada titik yang saya dengan dirinya.

Bersabar yah. Yakinlah kita akan bertemu lagi untuk saling bertukar surat undangan.

Be tough.
Be strong.
And always cheer the world with your kindness.

With love
Me


Badanku terasa kaku demikian juga dengan hati dan pikiranku. Kunamakan kekakuan ini dengan jenuh. Aku mulai jenuh dengan kehidupanku. Aku semakin tidak nyaman dengan keadaanku.

Teringat dengan kata-kata para pemuka agama bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali sendiri karena ketika mati manusia akan sendiri. Tidak ada kawan, tidak ada keluarga, apalagi kekasih. Mereka semua akan tetap hidup dan bernafas.

Bagiku tak perlu menunggu kematian, Tuhan sudah mulai mengajarkanku bahwa hidup itu sendiri. Meski Dia menyabdakan bahwa Dia telah menciptakan pasangan bagi umatnya, toh saat ini Dia telah mengingatkan sekaligus mengajarkan tentang kesendirian.

Seakan Tuhan sedang berbicara padaaku,
“Kau lihat, saat kau sakit, saat kau terjatuh tak ada tangan lain yang membantu. Jangan dulu kita bicara tentang bantuan, genggaman tangan yang kau sebut sahabatpun tidak ada.”
Rasanya ingin aku melempar Tuhan dengan benda apapun didekatku. Ingin kumaki. Ingin kehardik. Tapi apa daya semua itu benar.

Saat ku terpuruk, memikul rasa sakit di tubuh, rasa perih di hati, dan rasa mual di pikiran aku sendiri. Aku melangkah gontai menjauh dari segala keramaian untuk menyembuhkan diri. Hatiku berkata “kemana teman-temanmu yang datang saat mereka butuh pertolongan. Mereka yang mendatangi kamu saat mereka susah. Saat mereka membutuhkan teman. Kemana mereka sekarang saat kamu membutuhkan teman.”

Tak dapat kupungkiri, semua teman itu tidak ada.

Kali ini aku merasa lelucon Tuhan sungguh menyebalkan. Tuhan tidak tahu bahwa aku bosan dengan segala pelajaran hidup yang diberikan. Bisa jadi saat ini Tuhan sedang asyik tertawa dengan para rasulNya. Menertawakan nasibkua. Menertawakan kesendirianku.

“Tuhan, kenapa Engkau tidak sekalian saja matikan aku, tidak capekah Engkau mengajariku? Menjadikan hidupku lelocon?”

Aaarrrggghh, Tuhan itu tidak pernah lelah, tidak pernah cape. Tapi aku kan manusia pun bila akj tak disangaka robot.

BISU


Kota sedang diguyur hujan tanpa henti. Udara dingin memasuki ruangan. Aku duduk di sofa menonton televisi yang tak kutonton. Aku sibuk dengan gadgetku. Aku asyik line dengan teman-temanku. Sekedar kutanyakan kabarnya, apakah mereka sudah pulang dari kantor atau akan hang out sebelum pulang ke rumah. 

Mendadak aku rindu dengan rutinitas bodoh itu. Bangun pagi-pagi padahal mata masih ingin terpejam. Mandi, sarapan sambil terus mata melirik ke jam dinding. Setengah berlari mengejar tukang ojek yang sedang mangkal di pos ojek. Dan tak terlewati menembus padatnya lalu lintas di Jakarta. Mau dibilang macet, toh setiap hari, setiap saat jalanan di Jakarta seperti ini, dari segala arah penjuru pun sama. 

Dulu aku sangat merasa jenuh dan suntuk akan segala aktifitas. Aku selalu sibuk merencanakan cuti untuk jalan-jalan menjauh dari Jakarta. Tapi sekarang aku rindu dengan itu semua. Dengan kemacetan serta kebisingan Jakarta, belum lagi polusi yang memasang aku harus menggunakan masker seperti orang penyakitan.

 

Aku masih sibuk dengan gadgetku. Tetap duduk di sofa dengan televisi menyala tanpa pandanganku ke arahnya. Sofa ini yang menjadi sahabat baruku. Setiap hari di sofa ini aku menghabiskan waktu. Entah membaca, main games atau chatting dengan teman-temanku. Inilah aktifitas baruku.

 

Dia.

Dia yang memunggungiku. Dia asyik dengan komputernya. Terkadang dia browsing tapi lebih sering dia main games. Aku sendiri tidak mengerti games apa itu, yang aku tahu saat dia main games tidak boleh diganggu. Sesekali ia membalikkan badan sekedar melihat apa yang sedang aku kerjakan. Apabila mata kami bertemu, ia hanya tersenyum lalu kembali membalikkan badan dan bermain games. 

Sedikit kata yang keluar. Sedikit tawa yang hadir.

Dia.

Dia yang bisa membuat aku meninggalkan rutinitas bodoh tapi menyenangkan itu. Dia yang membuat aku bertekuk lutut dan menurut. Dia yang aku serahkan jiwa ragaku untuk dibimbing. Dia yang menjadi kepala keluargaku sekarang.

 

“Yank, udah jam 1, kita makan yuk. Aku dah masak beef teriyaki.”

Sapaan pertamaku sejak tadi pagi.

Welcome Back!


Disini

Di lembaran ini saya ingin kembali menulis.

Bercerita

Mengisahkan cerita-cerita sederhana.

 

Sebenarnya saya ingin menampilkan wajah baru pada blog ini. Menulis dengan warna yang baru. Mungkin gaya bahasa saya masih sama. Cerita-ceritanya masih sama. Tapi sentuhan warna akan berbeda.

Setelah sekian lama lembaran blog ini tidak tersentuh oleh tulisan, pasti warna tulisan berikut akan berbeda. Warna apakah? Hitam? Biru? Merah? atau Jingga? saya pun belum tahu. Karena lembaran selanjutnya menjadi wadah saya untuk mencari warna baru.

 

Saya menyapa dengan “Welcome Back” bukan untuk yang membaca tetapi itu saya katakan kepada diri saya sendiri.

 

Saya ingin katakan bahwa saya ingin menulis kembali.

 

Tetap dengan analogi secangkir kopi.

Analogi saya terhadap hidup ini. Manis, nikmat, menyenangkan, menenangkan sekaligus pahit.Image