Settle Down


Being single is fabalous. That’s for me.

Ceritaku masih, musik yang mengalun pada setiap pagi masih tetap sama. Bukan lagu “Bapak mana” yang dinyanyikan oleh

Trio Ubur-ubur tapi lagu “menikah kapan?” yang dinyanyikanoleh orang sekitar.

Tebak umurku berapa? Banyak yang tidak percaya saya sudah berusia 35tahun dan belum memiliki anak. Gimana mau punya anak bapaknya aja masih belum ketemu. Mungkin masih di Jonggol atau di Bekasi, saking jauhnya gak ketemu-ketemu.

Apakah saya gelisah di usia yang matang ini meski belum bisa dikatakan tua belum jua menikah. Mengapa harus gelisah? Nikmati aja. Persetan dengan cerita teman-teman yang bahkan sudah memiliki 3 anak yang sudah mulai ABG. Aku sebut mereka itu pernikahan dini. Begitulah pembelaan diri saya. Toh pernikahan tidak menjamin seorang wanita lantas menjadi bahagia. Menurutku pribadi kebahagiaan itu diciptakan oleh diri sendiri.

Sejak itu aku mulai menciptakan kebahagiaanku sendiri. Mulai dari melakukan perjalanan-perjalanan kecil murah meriah. Bergaul dengan teman-teman yang lebih muda. Mencari pekerjaan yang bisa buat saya enjoy sampai akhirnya aku menjadi finanial independently. 

Aku memulai dengan melakukan travelling sendiri. Menjelajah tempat yang baru pertama kali dikunjungi. Aku pergi dengan grup backpacker yang notabenenya tidak ada yang dikenal. Dan sudah tentu pergi travel dengan sahabat sekaligus partner in crime. Meskipun belum seluruh pulau di Indonesia yang didatangi. Meski belum seluruh dunia disambangi. Tapi cukuplah untuk seorang pegawai bank yang memiliki cuti yang terbatas. Setidaknya bisa sampai ke Sydney.

Perjalanan selalu memberikan kenangan tersendiri. Oh apakah kenangan tentang cinta lokasi? Terlalu picik kalau hidup hanya sebatas percintaan asmara. Banyak hal-hal yang Tuhan ciptakan dengan begitu indah selain asmara. Setiap momen perjalananku dalam menjelajahi kota-kota asing selalu memberikan letup-letupan keasyikan sendiri. Bertemu dengan stranger, ngobrol berjam-jam bahkan melakukan perjalanan bersama atau sekedar mendapatkan teman bersantap siang di tempat yang asing.

Ini salah hal yang indah bagiku

My leisure thing
My leisure thing

Duduk di pantai sambil memandang laut hingga kejauhan merupakan salah satu kemewahan bagiku. Bersantai tanpa harus memikirkan pekerjaan.

Ini hanya bagian kecil yang bisa dilakukan saat menjadi single. Pasti timbul pertanyaan lalu kalau di hari- hari biasa apa yang kamu lakukan? Kesepiankah kamu? Bosankah kamu?

Aku tipikal orang yang selalu mencari cara untuk menyenangkan hati. Kalau bosen, biasanya pergi ke mall untuk nonton sendiri atau window shopping atau mungkin mencoba makanan baru sendiri. Awkward? Tentu awalnya, tetapi lama-lama menikmati. Sambil berharap dapat kenalan.

Loh, katanya menikmati being single, kok berharap dapat kenalan. Sejauh kaki melangkah berdua itu lebih menyenangkan sudah tentu. Memiliki pasangan dalam berbagi rasa itu jauh lebih indah. Apakah kita akan bahagia dengan memiliki pasangan? Tentu saja tapi kebahagiaan bukan diukur dengan memiliki pasangan. Memiliki pasanagan adalah bonus hidup. Hadiah keindahan dari Tuhan pun dengan perasaan cinta adalah hadiah. Kenapa juga hadiah? Karena kita tidsk bisa memilih kepada siapa kita akan jatuh cinta, sama seperti hadiah kita tidak bisa memilih untuk mendapatkan sesuatu hadiah yang kita inginkan. Semua adalah kejutan.

Lalu kapan akhirnya aku memutuskan untuk menerima hadiah dari Tuhan? Saat semua terasa telah cukup. Cukup sudah melakukan travelling sendiri, cukup menikmati penghasilan sendiri tanpa harus berbagi dengan orang yang bukan keluarga, cukup bergaul tanpa batas waktu semaunya dan kapan saja aku mau, cukup menikmati kesendirian, dimana tidak perlu memikirkan dandanan saat weekend, bebas tidur seharian, mau mandi atau tidak yang nyium baunya diri sendiri ini.

Saat rasa puas sudah hadir saat itu aku memutuskan untuk menagih hadiah cinta dan pernikahan pada Tuhan. Aku tidak akan meminta pada siapapun. Cukup sama Tuhan. Sudah pasti Dia akan memberikan hadiah yang terbaik.

Hadiah itu sudah hadir. Semua terjadi begitu saja. Semua berjalan begitu saja. Sayangnya aku terlalu sendiri terkadang lupa bagaimana berbagi, bagaimana mengerti, bagaimana memahami isi kepala orang lain yang baru dikenal. Sepertinya semua itu tidak semudah yang aku bayangkan. Bukan karena orang tersebut memiliki tabiat buruk. Bukan juga karena ia begitu menyebalkan hanya karena terbiasa menyelesaikan sendiri menjadi tidak sabar menunggu dia menyelesaikan suatu hal untukku. Ini yang aku sebut aku tidak bisa berbagi. Saat seperti itu ingin rasanya aku lari menjauh, kembali membiarkan aku menjadi single lagi.

Fase hidup itu terus bergulir dan tidak mungkin seseorang itu berada di fase hidup yang itu-itu saja.

Demi cinta yang Tuhan berikan, aku kumpulkan kekuatan untuk bertahan, aku ikat kakiku untuk tidak berlari meski sudah sangat ingin aku berlari.

Aku tatap wajah mentari pagi yang seakan-akan mengatakan “segitu saja kamu menyerah? Bukankah kamu kemarin yang berdoa untuk mendapatkan orang tersebut? Bukankah kamu yang bilang kalau kamu sudah siap?”

Lunglai aku menatap mentari dengan tatap aku mampu mengangguk mengatakan “iya”.

Disinilah aku berdiri

Mengikatkan kaki

Menguatkan hati

Untuk bertahan pada cinta yang Tuhan berikan

Yes, I’m settle down of my life to you.

You that God send to me. And let God settle up it for us.

image

Advertisements

Cinta itu Selalu Ada


Masih terbayang kisah yang dituliskan oleh Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi yang ia baca semalam. Ingatan Alexandria mendadak tertancap di sebuah pulau di Sumatera, pulau Belitung. Masa kecil yang ia habiskan disana, bersekolah di sekolah PN Timah. Alexandria termasuk golongan anak yang beruntung karena dia anak staff. Terukir senyum dihatinya mengingat cerita Andrea yang termasuk golongan anak kampung memandang ia sebagai salah satu anak staff PN yang disebut anak gedong. Begitu syahdu gambaran tentang anak PN yang selalu hidup dalam protokoler dan kemewahan. Apakah demikian?

Pagi itu saat kesadarannya sedang ia kumpulankan matanya menemukan sebuah wajah yang hanya beberapa senti dari wajahnya. Mata yang polos tengah memandangnya, membuat ia segera terjaga untuk memandang wajah tersebut, wajah Bilbila, yang biasa dipanggil Bila. Bila adalah permata hatinya. Kesadaran yang selalu membangunkan dia di pagi hari yang kurang memberi semangat. Saat itu Bila membangunkannya dengan sebuah sapaan ringan menyejukkan.

“Ma, bangun aku sudah mau berangkat sekolah.”
“Sudah siap Bil? Coba mama lihat dulu tasnya buku-buku kamu sudah masuk semua?” dengan mata yang masih terasa berat dia tetap semangat untuk memeriksa tas Bila agar tidak ada yang tertinggal. Bilbila adalah anak satu-satunya Alexandria.
“Bekalnya sudah dibawa?”
“Sudah ma, berangkat dulu yah.” Kata Bila seraya mencium tangan Alexandria.
Ada getaran yang hangat yang mengalir di hati, yang memberi semangat untuk bersiap diri berangkat kerja. Mengumpulkan rezeki supaya dapat memenuhi seluruh kebutuhan anaknya yang terkasih.

Sebagai seorang karyawati yang seringkali memaksanya keluar kota, Alexandria tidak dapat selalu mendamping setiap langkah buah hatinya, mengajari setiap kesulitan soal-soal yang diberikan gurunya. Bibila adalah anak yang cerdas, mandiri dan peka terhadap keadaan. Besar pengertiannya melihat ibunya terlalu sibuk dengan pekerjaaan untuk sekedar membantu perekonomian keluarga. Bila, tidak pernah keluar dari ranking 5 besar. Sebagai seorang ibu, Alexandria sangat bangga dengan prestasi Bila. Tanpa disuruh pun Bila sudah belajar dengan sendirinya.

Perlahan Alexandria mengangkat tubuhnya dari ranjang untuk bersiap-siap kerja. Ada momen yang selalu tidak ingin ia lewatkan yaitu mengantarkan Bila berangkat ke sekolah meskipun hanya sampai pagar, karena setiap hari Bila menggunakan antar-jemput. Memandang wajah polos yang mengukir sebuah senyum di bibir itu membuat hati sang ibu semangat dan melupakan kerewetan keadaan kantor yang seringkali menahan langkah kakinya untuk beriap bekerja.

Alexandria bukanlah orang tua tunggal, tetapi telah disepakati dari awal ia bersama sang suami saling bahu membahu mencukupi kebutuhan keluarga. Suami yang ia nikah bukan karena cinta. Kalau bukan karena cinta, ia menikah karena apa? Menikah karena pikiran logis bukan karena cinta yang mengebu-gebu. Alexandria sudah tidak yakin masihkah ada ruang hatinya yang tersisa untuk kata cinta. Setelah 15 tahun menikah cinta itu tidak pernah ada. Cinta selayaknya bunga yang merindukan kumbang. Cinta yang bergelora. Dari dulu tidak pernah ada. Yang tersisa di relung hatinya hanya mencintai secara logika.
Menapaki langkah-langkah kakinya dalam kenyataan.

Cinta Alexandria telah ia berikan kepada orang yang jauh lebih berhak. Cinta pertama dan terakhir baginya, dan itu bukan suami saat ini. Pilihan Alexandria jatuh untuk menikah karena ia tahu pria ini yang akan menerima dia apa adanya, yang akan menyayanginya meskipun ia tahu di dalam ruang hati Alexandria tidak ada lagi tempat untuk kata cinta itu sendiri.

Dalam lompatan waktu menuju masa lalu, Alexandria tidak pernah menyangka akan memiliki sebuah keluarga. Meskipun hanya sebuah keluarga kecil dengan hanya memiliki satu anak. Akan tetapi Tuhan telah mentakdirkan dirinya di luar akal yang mampu ia terjemahkan.

Setelah kepergian Roland, cinta pertama sekaligus terakhir, Alexandria tidak yakin ia dapat mencintai orang lain. Telah dia berikan keseluruhan cinta dan kasihnya untuk Roland. Semua terasa beku dan dingin bersama kepergian sang kekasih hati. Matanya hanya mampu menghamparkan logika dan realita kehidupan. Layaknya mayat yang memiliki raga, Alexandria mengisi kesehariannya, hidupnya tanpa jiwa, tanpa rasa. Seakan terhempas dalam hamparan lumpur saat menggenggam tangan Roland untuk terakhir kalinya. Perlahan terasa hangat tubuh Roland menguap ke angkasa. Hanya doa yang dapat terucapkan saat itu dan bersama itu pun Tuhan meniupkan keikhlasan dalam hati. Roland telah membawa cintanya pergi tapi ia harus tetap melanjutkan hidup di muka bumi ini. Pikiran itu yang terlintas dengan jelas bersamaan dengan kepergian rasa hangat tubuh Roland.

Alexandria merasa tidak mampu lagi untuk bernafas dalam menyambung hidup yang Tuhan belum akhiri untuknya. Semua hidup itu telah ia curahkan tanpa sisa. Bahkan rahasia terbesar hidupnya telah ia kupas dan bongkar dihadapan Roland. Roland yang telah membangun dirinya, jiwanya, batinnya serta kepercayaan dirinya. Membangkitkan ia dari sebuah kisah masa kecil yang terjadi di Pulau Belitung. Indahkah masa kecilnya sebagai anak gedong, bersekolah di sebuah sekolah percontohan dengan guru-guru yang terbaik serta mendapatkan makanan-makanan terbaik yang didatangkan dari Jakarta?

Benar adanya Alexandria tinggal di sebuah rumah di atas bukit yang bak sebuah istana. Rumah yang begitu luas dengan menara diatasnya, setiap ruang memiliki fungsi sendiri, bahkan kamar untuk pembantu rumah tangga terpisah dari rumah induk. Rumahnya pun memiliki sebuah guest house untuk tempat sanak saudara apabila mereka berkunjung. Begitu luasnya rumah itu hingga ibunya tidak selalu dapat mengawasi setiap gerak gerik langkahnya. Membuat Alexandria harus memiliki masa kecilnya yang suram untuk selalu ia tutupi dihadapan para keluarga. Oleh seorang sepupu yang sangat disayang oleh ayah. Seorang anak lelaki yang dirawat oleh ayah agar ia memiliki keturunan lelaki yang berdasarkan adat sangat diagungkan. Alexandria mengalami pelecehan sexual saat berusia 6 tahun. Ketika itu dia tidak mengerti apa yang sepupunya lakukan terhadapnya, ia pikir ini hanya sebuah permainan belaka. Saat mulai akan beranjak akhil baliq ia paham bahwa keperawanannya telah terenggut. Mereka pikir Alexandria begitu bangga dapat berjalan dalam iring-iringan pawai anak sekolah PN yang disaksikan oleh seluruh masyarakat yang ada di Pulau Belitung. Sepertinya tidak, kepalanya tertunduk tajam ke lapisan bumi, bagai rumput putri malu yang ketika disentuh akan menutupi diri. Dia tidak sebangga yang anak-anak kampung itu pikirkan.

Apa arti seorang perempuan yang hilang keperawannya, terniang gema suara ibu Alexandria dalam kepalanya.

”Apa arti aku?Karena aku sudah tidak perawan sejak aku sendiri belum mengenal kata perawan. Belum mengenal selaput darah. Apalah artinya aku?”

Roland yang serta merta membangun kepercayaan diri itu kembali, mengangkat dia menjadi manusia yang dapat mencintai orang lain, belajar untuk menjadi seorang perempuan yang hangat. Bukan perempuan yang kelaki-lakian, yang selalu memasang wajah waspada menghadapi apapun. Bagai seorang pemahat, Roland memahat Alexandria menjadi dirinya yang sekarang.

Salah satu keajaiban hidup itu adalah kehadiran Bilbila. Untuk menghadirkan Bila di muka bumi ini bukanlah tugas yang gampang. Sebelum Bila hadir, keguguran demi keguguran harus ia alami. Hingga tidak ada lagi harapnya untuk memiliki keturunan. Sekali lagi Tuhan berkata lain. Bila hadir dalam hidupnya. Bila hadir setelah Tuhan mengemblengnya dengan berbagai cobaan untuk mengajarkan kembali arti cinta dalam hidup. Mengajarkannya jauh dari sebuah keputusasaan. Membuatnya semakin kuat untuk merawat sang buah hati.

Tak terasa 10 tahun telah terlewati dengan kehadiran Bila disisinya. Menemani hari-harinya mulai dari dia belum dapat membuka matanya hanya mampu menangis, mulai belajar bicara mengeluakan kebawelanya hingga sekarang saat ia sudah semakin dewasa, dan tumbuh menjadi anak yang penuh pengertian. Hari demi hari cinta itu terus bertambah meyakinkan dirinya bahwa dalam hidupnya ada dua cinta yang ia simpan baik-baik. Cinta yang merupakan hadiah Tuhan. Karena tidak semua orang memiliki seseorang yang akan membawa cinta dia terhadap diri kita hingga mati, tanpa diduakan, tanpa perlu berjuang untuk mempertahankannya, tanpa ada perdebatan yang panjang dalam cinta itu sendiri.

Ayah Bila, bukanlah suami pertamanya. Roland orang yang sangat dia cintai yang pertama kali menikahinya. Membawanya ke pelaminan, sebagai orang pertama yang mengantarkannya kedalam kehidupan yang nyata. Hanya dalam kurun waktu satu bulan keindahan itu dapat diukir. Saat ia masih terbuai oleh keindahan cinta yang seutuhnya semua terenggut oleh takdir Tuhan yang memanggil Roland ke peraduanNya. Cintanya telah dibawa hingga akhir hayat tanpa dibagi, tanpa diduakan, tanpa disangkal.

Bila adalah malaikat cintanya setelah ia kehilangan Roland, yang akan memberi senyum di hari tua. Cinta kedua yang juga tak akan terbagi, terkhianati dan terenyahkan.

Kriinnggg….
“ Ma, nanti pulang kantor jam berapa? “
“ Sebentar lagi kok Bila. “ seraya Alexandria mengarahkan pandangan matanya ke jam yang terpajang di mejanya yang waktu menunjukkan pukul 17.30, waktunya untuk pulang kantor.
“ Bila sudah makan? Di rumah makan apa? “
“ Belum, mau nunggu mama aja. Aku ada PR nih, nanti bantuin yah. “
“ Iya, ntar lagi mama pulang kok. “

Telepon pun ditutup, menyegerakan Alexandria untuk merapikan semua dokumen lalu mengangkat tas untuk beranjak pulang. Dirumah ada sang buah hati yang memerlukan bantuan. Ternyata cinta itu selalu akan ada tidak akan hilang hanya tergantikan.

“Dulu Roland yang telah membawa cintaku hingga terkubur bumi, akan aku pastikan yang harus membawa cinta Bila dalam kuburan lapisan tanah adalah aku, jangan sampai aku pun kehilangan cinta itu lagi. Karena ku tak tahu ku akan mampu.”

*Teruntuk seseorang yang banyak mengajarkan tentang kehidupan ini. Ketabahan dan kekuatan diri.*

Rindu


Aku kembali merindu
Salahnya aku selalu menunggu waktu yang tepat untuk bertemu
Menunggu waktu yang tepat
Tapi tak ku temukan waktu itu

Hingga ku sesak
Hingga ku gelisah
Hingga ku merana

Padahal tak ada waktu yang tepat
Karena semua waktu itu tepat

Tepat untuk bertemu
Tepat untuk melepas rindu
Tepat untuk memadu kasih

Karena semua waktu adalah milikNya
Karena waktu Dialah penentunya

Biarlah aku belum sempat membersihkan diri
Biarlah aku belum sempat menghapus dosa
Karena salah dan dosa selalu mengiringiku

Tapi Dia sebenarnya tidak peduli

Dia hanya menunggu untuk aku datang
Mengadu
Mengucapkan syukur
Dalam setiap munajatku

Malam ini aku beranikan diri untuk bertemu
Terima kasih atas KasihMu

ANDAI


 

Aku mulai berandai-andai pada hidupku. Hidupku yang aku rasa tidak kalah beruntung dibandingkan dengan orang lain. Tapi terlalu sibuk orang memperhatikan hidupku ini. Mereka suka sekali mengomentari cara aku menjalani hidup. Tidak mereka ketahui bagaimana aku menjalankan semua. Menapak mimpi-mimpi untuk digapai.

 

Aaaahhhhhhh

 

Andai, andai kami bertemu 5 tahun yang lalu, bukan hari ini bukan juga esok. Andai, kami dapat merangkum cinta ini dalam sebuah lembaga. Lembaga yang semua orang agungkan sebagai suatu puncak kehidupan. Sebagai suatu titik keberhasilan dalam hidup. Lembaga cinta yang disandang sebagai suatu prestasi. Bagi mereka yang tidak memiliki lembaga itu, digolongkan sebagai orang yang gagal dalam hidup. Argh, aku tidak mengerti dengan rangkaian teori orang-orang disekitarku. Lebih baik aku berkhayal, melamunkan andai-andai yang menghangatkan jiwa.

 

Andai kami saat ini telah terpaut satu dengan yang lain. Aku tidak perlu lagi cinta siapapun. Lima tahun perjalanan hidupku itu penuh dengan liku. Penuh dengan kesalahan memilih. Ya, aku bukan seorang manusia yang sempurna, selalu kesalahan demi kesalahan terbit dari perbuatanku.

 

Andai kami bertemu saat aku baru saja memekarkan kuncup bungaku. Saat ku telah mengerti cinta akan tetapi belum berulah untuk cinta. Saat aku masih sangat polos memandang kata cinta, dengan murni merasakan getaran-getaran gejolak cinta. Pasti semua cerita akan lain.

 

Andai kami dipertemukan kembali 5 tahun yang lalu, bukan sekarang, bukan esok. Aku tidak perlu bertemu bajingan itu yang telah meluluhlantahkan kepercayaan diriku. Tidak perlu bertaruh mempertahankan kehormatanku. Tidak perlu aku sibuk mencari tulusnya cinta. Tidak akan merasakan patah hati.

 

Aku teringat pada bajingan itu, bajingan yang sangat aku benci, ingin kuhapus dari memori otakku. Entah apa yang telah diperbuat kepadaku, aku sudah melupakannya. Melupakan dalam arti sebenarnya tidak ada lagi secuil ingatan lagi tentang masa-masa kebersamaan. Kenangan indah pun lenyap begitu saja. Bajingan itu yang merenggut masa depanku, kehormatanku, ia paksa aku atas nama cinta. Hingga aku benci pada diriku. Benci pada nafsu yang ada. Benci pada cinta yang ia miliki. Tidak nikmat teriakku dalam batin setiap kali ia paksakan kenafsuannya pada tubuhku. Berulang kali aku meronta, tersudut di pojok kamar. Ya, aku ingat aku menangis kala itu, kupeluk lututku untuk mengumpulkan tenaga lari darinya. Dia sungguh membenci tangisanku, katanya palsu. Hanya tangisan ini yang mampu meloloskan aku dari cengkraman nafsunya. Kali ini kubiarkan ia terlelap, perlahan-lahan aku mengendap keluar lari menjauh dari tempatnya. Kejadian ini berulang kali terjadi, berulang kali ku maafkan hingga jiwaku habis, hingga otakku tumpul.

 

Andai, andai kami bertemu 5 tahun yang lalu, aku tidak perlu mengalami trauma. Aku tidak perlu kehilangan kepercayaan diri. Tidak perlu membuang mimpi-mimpiku yang tidak sejalan dengan bajingan itu. Benci aku…sungguh membenci bajingan itu.

 

Andai kami bertemu 5 tahun yang lalu, hanya kisah bahagia yang terrangkum dalam hidupku. Saat ini aku pasti telah menyandang gelar Nyonya. Aku tidak perlu takut rahimku akan kering karena usia, aku pasti telah memiliki buah hati. Sudah sibuk berceloteh dengan gadis kecilku atau pangeran kecilku.

 

Arrrggghhhh

 

Andai kami bertemu 5 tahun yang lalu, tak perlu aku bersusah hati seperti sekarang. Aku pasti sudah melangkah dengan anggun dalam lembaga wujud keberhasilan hidup itu. Tak ada pertanyaan orang-orang yang ingin tahu. Tak ada cemooh seakan aku gagal dalam sebuah ujian.

 

Andai kami bertemu 5 tahun yang lalu, berdiri diatas pelaminan bukanlah sebuah angan bagiku. Karena itu nyata, terlihat dari foto-foto yang terpasang di setiap sudut rumah kecilku.

 

Oh ya, andai kami bertemu 5 tahun yang lalu, pasti rumah kecil itu sudah menjadi tempatku berpulang, bukan kamar kecil nan sumpek dengan berbagi kamar mandi. Rumah kecil yang aku buat secantik mungkin, sehangat mungkin agar ia tidak berpaling meninggalkanku mencari cinta lain.

 

Andai

Beribu andai

 

Aaaarrrggghhh

 

“Hai sudah lama menunggu?“ dia yang ada didalam andaiku, sudah datang menepuk bahuku.

“Hai, belum terlalu lama.” Sahutku

“Gimana? Ada bisnis apa nih, tiba-tiba ngajak bertemu.”

Bisnis hati yang merindukanmu, karena pertemuan tidak sengaja kita kemarin.” Sahutku dalam hati, tentu hanya dalam hati.

“Oh, gua mo ngajakin lo jadi panitia reunian SMA kita. Teman-teman yang lain juga akan datang nanti, tapi masih dijalan semua.”

“Ooohhh, boleh juga yah kita buat reuni akbar.”

“Hehehe, bagaimana kabar anak dan isteri?”

“Wah mereka baik-baik aja, anak gua tahun ini masuk sekolah masih TK sih.”

 

Puiiihhhhh,

 

Andai, andai bukan hari ini kami baru dipertemukan lagi pasti cerita itu akan lain. Tidak akan ada sapaan lo, gua melainkan beib.

Terperkosa


Dia tidur dengan nafasnya yang tersengal-sengal. Dadanya terasa sakit seakan terhujam oleh tusukan yang tajam. Telah dua jam ia berusaha memejamkan matanya, tidur hingga ia dapat melupakan rasa sakit itu. Telah banyak usaha yang ia lakukan untuk agar matanya terpejam. Badannya telah merasakan keletihan, pikirannya telah muak untuk terus diajak berpikir, tapi mengapa matanya tak kunjung terpejam.

Entah sudah berapa kali ia membolak-balikkan badannya. Dari telentang, tengkurap, duduk, berdiri, jalan-jalan memutari kamar tetap tak membuatnya terpejam. Ia tahu seharusnya ia pergi ke kamar mandi mengambil air wudhu lalu menuaikan sholat Isya. Hal itu tak ia kerjakan, ia sudah merasa jijik pada dirinya sendiri, ia merasa begitu kotor. Ia saja merasa kotor untuk menghadapkan wajah kepada Tuhan, apalagi Tuhan, pasti merasa muak untuk mendengarkan keluh kesahnya. Benak trus mengalirkan buah pikiran antara kebencian, kekecewaan, kesedihan, ketakutan dan keputusasan.

Setelah lelah ia mencoba memejamkan matanya, ia bangkit dari ranjang, duduk di sudut ranjang, meraih sebatang rokok. Sehisap demi sehisap ia mulai merasakan sedikit ketenangan. Apa yang terkandung dalam rokok itu sehingga perokok merasakan ketenangan. Itu bukan heroin yang mampu memberi stimulasi lain pada pikiran. Itu hanya nikotin, tembakau perusak paru-paru.

Setelah ia merasakan ketenangan, ia putuskan untuk membersihkan diri. Ia ambil air wudhu, lalu bersujud kepada Yang Maha Kuasa. Terserah Tuhan hendak mendengarkan keluh kesahnya, mengabulkan permohonan dia tidak lagilah penting. Baginya ketenangan hatinya jauh lebih penting. Ia butuh tidur karena esok harus beraktifitas seperti biasa, kerja.

“ Ya Allah, aku ini hanya seorang pendosa. Entah keberanian apa yang membuatku mampu menghadapkan wajah kotor ini dihadapanMu. Aku tidak tahu hendak mengadu ke siapa. Orang itu telah meluluh lantahkan pertahankan. Mencabik-cabik kehormatanku atas sebuah kata sayang, atas sebuah kata cinta.
Ya Allah, bila memang cinta itu seperti ini aku memilih untuk tidak punya cinta. Untuk apa cinta bila cinta itu menghancurkan aku. Membuat tubuh ini merasa jijik sendiri. Untuk apa??? Mengapa cinta yang demikian yang engkau turunkan kepadaku.
Ya Allah, aku sudah tidak memiliki arti lagi, orang itu telah merusakku. Merusak vaginaku atas nama cinta. Merobek-robek tubuhku dengan ciuman mesranya. Membiadabkan kulitku dengan remasan yang orang itu sebut kemesraan.
Ya Allah, bolehkah aku sebut ia memperkosaku.
Memperkosa pikiranku agar mau melakukan perbuatan itu karena takut kehilangan dia, dia yang kusebut cinta.
Ya Allah, telah hancur hatiku menjadi berkeping-keping. Tak sanggup lagi kuruntutkan kepingan itu.
Ya Allah, bantu aku, kuatkan aku, lindungi aku.
Semoga Engkau masih mau mendengarkan suara pendosa ini.”

Matanya terus berlinangan air mata. Ia mulai bertashbih hingga terlelap dalam balutan mukena. Dalam tidurnya ia masih berharap semua ini berakhir. Ia berharap besok ia memiliki kekuatan untuk menolak. Karena bukan cinta seperti ini yang ia inginkan. Bukan kemesraan seperti ini yang ada dibenaknya.