Kopi Hati (Part II)

Image

Ini sudah lembaran yang kelima yang aku buang begitu saja ke lantai. Susah sekali rasanya untuk menuliskan apa yang ada pada benakku. Menuliskan kata-kata berpisahaan pada saat amarah menguasai benakku. Baru saja satu kalimat aku tuliskan sudah habis kata-kata. Ini bukan satu kalimat lebih tepat satu kata.

TAI!!

Semua perlakuan dia akhir-akhir seperti tai bagiku. Tidak ada kata lain yang pantas untuk aku lontarkan kepadanya. Dia yang meninggalkanku begitu saja tanpa sebuah kabar. Dia yang hanya membaca smsku lalu mendelete tanpa membalas. Dia yang menghiraukan panggilan teleponku, hingga sepuluh kalipun tak ada satu kalipun ia akan mengangkat telepon tersebut.

Laki-laki apa yang bisa seperti itu? Oh, manusia apa yang tahan mendiamkan orang yang dia sebut sebagai kekasih. Luar biasa sekali daya tahan dia untuk mengacuhkan orang lain. Manusia seperti itu memang tidak layak untuk dicintai.

Dia, terlalu cepat dia melupakan apa yang terjadi diantara kita. Terlalu cepat dia melupakan bahwa AKU yang berada di sampingnya saat ia belum menjadi apa-apa. Sekarang setelah ia sukses, setelah ia memiliki uang yang cukup, seperti kentut dia buat diriku. Dibuang begitu saja tanpa beban bahkan dengan leganya, dengan wajah tersenyum. Keparat benar orang itu.

Aku kembali mengambil selembar kertas. Mungkin sebaiknya aku menyeduh secangkir kopi terlebih dahulu. Mungkin dengan caffein amarahku akan mencair, meleburkan diri dengan kesabaran dan kebaikan hatiku. Aku melangkah kearah dapur, menyalakan kompor sambil mengambil sebuah cangkir kecil. Langkahku bukan kembali ke ruang tengah dimana kertas-kertas berserakan itu terdapat, langkah melangkah ke balkon. Kubuka pintu bagian belakang, kuhirup udara malam yang cukup dingin sehabis hujan seketika. Kupandangi lampu-lampu yang menghiasi kota Jakarta bagian Timur, cahaya lampu pada rumah-rumah yang terlihat mungil dari balkonku.

“iiiiiinnnnnnnggggggggg” suara air sudah matang.

Aku kembali mengambil lembaran kosong. Aku mulai menuliskan kata-kata.

 

Hi Alex,

Semoga kamu sehat-sehat saja saat menerima surat ini. Entah apa yang datang pada benakmu, tiba-tiba saja kamu meninggalkanku. Melupakan harapan-harapan yang telah kita bangun. Harapan yang telah kamu pupuskan sepihak. Tanpa alasan, tanpa penjelasan kamu pergi begitu saja. Teleponku tidak pernah kamu angkat, smsku tidak pernah dibalas.

Kamu mungkin sudah lupa bagaimana aku mengajarkanmu untuk menjadi laki-laki yang bertanggung jawab.

Kata apa yang pantas aku lontarkan kepadamu?

Mungkin bagimu hubungan kita tidak berarti apapun. Tapi bagiku hubungan ini, layak untuk diperjuangkan. Dan aku rela untuk berjuang. Terkadang hubungan itu tidak diawali dengan keindahan, mungkin saja diawali dengan bertengkaran. Yah, terakhir kita bertemu, kita saling berdebat. Tidak ada yang salah dengan itu semua. Tidak ada yang salah dengan ketidaksukaanku. Aku bukan tidak suka pada dirimu, tapi yang aku tidak suka adalah tabiatmu. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku tidak suka dikelabui, dibohongi apalagi bohong yang tidak penting seperti yang kamu lakukan. Mengaku di luar kota padahal temanku menemukanmu pada sebuah cafe di dekat kantormu. Padahal kamu tidak bersama siapa-siapa. Untuk apa berbohong?

Sampai sudah lewat 3 bulan, aku tetap tidak menemukan alasan yang terbaik atas sikapmu.

Kamu takut padaku? Apa yang kamu takuti?

Aaarrrrggghhhh

Semua sudah tidak penting lagi. Karena detik ini sudah tidak ada KITA. Tidak ada lagi kepentinganku untuk mempertanyakan sikapmu. Karena kamu secara tidak langsung telah memutuskan hubungan ini.

 

Inikah yang menurutmu terbaik?

Bila memang iya, aku terima.

 

Semoga kamu bahagia.

 

With Love,

Alika.

 

Kuhelakan nafas panjang, seakan sedari tadi aku menahan nafas panjang selama menuliskan surat ini. Kulipat surat tersebut dan memasukkan kedalam amplop. Akan aku kirimkan besok semoga dia segera membacanya sesampai surat ini di rumahnya.

Lelah merajang diriku secara tiba-tiba. Kuhirup kopi yang sudah mulai mendingin, kuambil sebatang rokok dan menyalakan. Ada kelegaan, aku telah berhasil menuliskan perasaanku. Meski masih ada nada kemarahan pada tulisan itu tetapi sudah lebih melunak dibandingkan satu kata TAI.

Aku akan belajar mengikhlaskan harapan yang pernah ada. Bukan dengan membuangnya, karena aku sudah coba untuk membuangnya jauh-jauh selama 3 bulan ini. Pun tak cukup reda marahku. Tak cukup berhenti hatiku menangis. Tak cukup rela harapanku hilang begitu saja. Aku hanya butuh mengikhlaskannya.

Kuraih blackberry, iseng aku melihat status-status teman-temanku, mataku berhenti pada sebuah nama Babeh dengan statusnya “Bersyukur dan Sabar”. Aku harus bisa bersyukur dan bersabar untuk beliau. Tiba-tiba setetes air jatuh dari mataku.

Ayah, maafkan anakmu yang belum juga memberikan menantu laki-laki untukmu. Bersabar Ayah, aku selalu berdoa Allah akan memberikan kesempatan Ayah untuk menikahiku kelak. Kelak yang aku belum tahu kapan.”

 

Kurapikan seluruh kertas yang berserakan, mengambil cangkir kopi yang tinggal satu kali seduh dan membawanya ke dapur. Langkahku memasuki kamar. Lelah. Aku butuh istirahat.

(to be continue)

 

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s