Akhirnya Saya Tidak Golput

Di detik-detik terakhir masa kampanye mungkin sudah basi kalau saya. Atau mungkin saya terlalu pengecut untuk menyuarakan suara saya. Atau mungkin saya terlalu apatis menilai Pemilu yang selama ini sepertinya basa basi. Atau mungkin salah sudah kecewa ketika saya bersemangat ke TPS dan memilih Presiden dan ternyata presidennya melempem. Kali ini saya tidak peduli lagi dengan alasan-alasan saya tidak mau bersuara karena hati saya setiap malam selalu berteriak untuk saya menuliskan ini.

Sejak capres-cawapres sudah ditentukan saya langsung males. Nomor urut 1 Prabowo-Hatta dan nomor urut 2 Jokowi-JK. Saya coba flash back. Dari 5 tahun yang lalu saya yakin Prabowo akan jadi capres atau minimal cawapres. Dan sejak 5 tahun lalu saya belajar untuk melogika dan mencari sisi baik Prabowo bila dia menjadi Presiden. Yah..dibandingkan orang-orang yang getol iklan sebelum pemilu antara lain ARB, Surya Paloh, Wiranto-HT yah Prabowo paling mending. Saya terus berusaha untuk menerima bila Prabowo jadi presiden. Pasti pertanyaannya kenapa harus berusaha menerima kalau memang dia yang lebih baik diantara yang lain. Tetap masih teringat berita, kisah-kisah ayah saya yang menjadi aktivis sampai dengan masa reformasi, dimana Prabowo adalah penculik para aktivis tahun 98. Dimana abang saya saat ini ikut turun ke jalan, ikut demo di gedung MPR. Tidak dapat saya bayangkan bila yang diculik itu abang saya.

Saat masa kampanye mulai masuk begitu banyak tautan berita yang menepis bahwa Prabowo melakukan pelanggaran HAM. Saya terima tepisan itu, hingga sampai pada acara debat pertama JK perrtanyaan “mengenai penangan pelanggaran HAM di masa lalu” dengan deg-degan saya tunggu jawaban Prabowo, jawaban yang menurut saya bisa membuat saya menerima beliau menjadi Presiden Indonesia. Dor..kok jawabannya “Tanya atasan saya” dimana ksatrianya kalau hanya melempar kesalahan kepada oraang lain. Akan jauh lebih elegan dan menurut saya pantas menjadi pemimpin bila ia menjawab “Akan saya usut tuntas”. Atau kalau memang beliau terlibat menjawab dengan “Itu kesalahan masa lalu saya dan akan saya tebus dengan menjadi Presiden yang akan membela rakyat dan melindungi rakyat.

Jadi sejak debat 1, saya #tegastidakpilihno1. Saat itu pilihan saya antara no.2 atau golput dan saya cenderung golput. Sosial media makin hari makin ngeselin dengan memenuhi timeline dengan copras capres. Tapi entah kenapa selalu ada dorongan diri untuk membaca itu semua. Tidak perlu saya urasikan apa saja yang saya baca dan hasil penalaran saya. Karena seperti yang saya bilang saya sudah #tegastidakpilihno1 jadi saya tidak akan membandingkan seperti kebanyakan tulisan orang lain.

Saya mencari tahu seperti apa Jokowi. Dari semua hal yang saya baca saya menemukan sesuatu yang tidak pernah terjadi di Indonesia yaitu Energi Positif yang besar. Jokowi telah berhasil merebut hati rakyat bukan dengan uang, bukan dengan fasilitas yang edan. Hanya sebuah energi positif. Setelah begitu banyak energi negatif di negeri, seperti ada sebuah harapan saat begitu banyak rakyat yang tertular energi positif. Virus energi bukan sesuatu yang bisa direkayasa karena itu gelombang jujur seseorang dan terjadi tanpa orang yang menyebarkan menyadari telah menyebar energi tersebut.

Saya terharu ketika orang secara stimulaatif #akhirnyamemilihjokowi. Saya terharu ketika melihat tulisan-tulisan orang mengenai alasan Jokowi.

Jokowi tidak sempurna, Jokowi tidak mungkin tidak mempunyai ambisi. Tapi kalau ambisi beliau ambisi baik dengan memulai menyalurkan energi positif kenapa tidak saya memilih beliau. Saya ingin negeri ini damai.

Saya suddah jenuh dengan isu agama. saya sudah jenuh dengan mayoritas minoritas. Kenapa selalu energi negatif yang disebar. Saya ingin anak-anak saya kelak bisa memahami arti toleransi tanpa harus diajari oleh saya, karena lingkungan dia telah mengajari hal itu semua.

Dan akhirnya salam 2 jari.
dengan semangat saya akan coblos pada tanggal 9 Juli 2014

Damai negeri
Positif energi negeriku.

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s