JEDA

Aku berlari bebas mengejar kupu-kupu
Berputar-putar tak jelas
Aku biarkan kaki ini mengejar matahari
Ke pantai
Ke gurun atau
Ke gunung

Tak peduli aku berlari sampai mana dan sampai kapan
Tak ada yang mengikatku
Tak ada yang menungguku

Hanya aku, alam dan Tuhan
Dalam sebuah jeda waktu

Jeda dalam pengertian bahasa Indonesia adalah waktu istirahat, waktu berhenti sebentar, hentian sentar dalam ujaran. Aku mengambil sebuah jeda dalam hidup ini. Sejenak saja. Mengistirahatkan pikiran, mengistirahatkan tubuh, mengistirahatkan hati.

Jeda bagiku adalah hadiah. Hadiah dari sebuah keberanian melepaskan sebuah kepastian. Jeda itu sendiri memiliki arti sendiri bagi setiap individu. Menurutku setiap orang membutuhkan jeda dari segala aktivitasnya. Anak sekolah butuh jeda yaitu waktu istirahat pada jam 9 pagi dan jam 12 siang bilamana mereka bersekolah hingga pukul 2 siang. Para karyawan juga mendapatkan jeda dari pekerjaannya yaitu jam 12 siang, 1 jam dari 8 jam kerja yang mengikat mereka demi pundi-pundi uang setiap bulan. Ibu rumah tangga pun membutuhkan jeda dari kesibukannya mengurus rumah, anak dan keuangan rumah tangga. Jeda yang biasa disebut dengan “me time”. Terkadang sebuah hubungan asmara pun membutuhkan jeda. Saling memberi jarak dan ruang terhadap pasangan masing-masing.

Jedaku sendiri adalah jeda dari urusan pekerjaan, melupakan sejenak rutinitas bangun pagi terpogoh-pogoh, berburu dengan kemacetan atau sesaknya commuterline. Jeda dari tanggung jawab kantor, kertas kerja yang berteriak-teriak untuk diselesaikan. Jeda dari pikiran tentang rekan kerja saat sedang cuti dari kantor, yang berujung tangan meraih handphone lalu mengetik sebuah bbm “Kantor aman kan? kalau ada apa-apa let me know ya.”

Jeda dari urusan memikirkan jodoh, mencari “mister x”, membentuk berbagai kriteria pria yang patut ditunggu lamarannya. Jeda dari masa lalu yang kadang masih suka menyerat dirinya masuk ke masa kini. Jeda dari pikiran yang berkecamuk tentang belum menikah sedangkan teman-teman seusiaku hampir semua sudah memiliki keluarga bahkan beberapa anaknya telah masuk SD.

Jeda dari perasaan-perasaan yang seharusnya tidak perlu hadir, seperti hari ini makan siang dengan siapa. Pulang kantor ajak siapa untuk nongkrong sekedar ngopi-ngopi atau nonton. Dimana sering berujung kecewa karena teman yang diajak harus segera pulang karena ditunggu suami.

Aku mengambil sebuah jeda untuk berhenti sebentar dari segala aktivitas rutin. Jeda yang terjadi tanpa direncanakan. Jeda yang diambil dengan sedikit keberanian. Jeda yang tidak aku ketahui sampai kapan, akan berlangsung berapa lama.

Dalam waktu jeda ini kupasrahkan langkah ini kepada Yang Maha Kuasa, hendak Ia bawa aku kemana. Apa yang akan terjadi pada masa jeda aku pasrah saja. Aku hanya ingin terbang bebas tanpa arah, ingin berlari-lari seperti gasing yang memabukan, ingin berhenti duduk dimanapun, kapanpun aku ingin duduk.

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s