Cinta itu Selalu Ada

Masih terbayang kisah yang dituliskan oleh Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi yang ia baca semalam. Ingatan Alexandria mendadak tertancap di sebuah pulau di Sumatera, pulau Belitung. Masa kecil yang ia habiskan disana, bersekolah di sekolah PN Timah. Alexandria termasuk golongan anak yang beruntung karena dia anak staff. Terukir senyum dihatinya mengingat cerita Andrea yang termasuk golongan anak kampung memandang ia sebagai salah satu anak staff PN yang disebut anak gedong. Begitu syahdu gambaran tentang anak PN yang selalu hidup dalam protokoler dan kemewahan. Apakah demikian?

Pagi itu saat kesadarannya sedang ia kumpulankan matanya menemukan sebuah wajah yang hanya beberapa senti dari wajahnya. Mata yang polos tengah memandangnya, membuat ia segera terjaga untuk memandang wajah tersebut, wajah Bilbila, yang biasa dipanggil Bila. Bila adalah permata hatinya. Kesadaran yang selalu membangunkan dia di pagi hari yang kurang memberi semangat. Saat itu Bila membangunkannya dengan sebuah sapaan ringan menyejukkan.

“Ma, bangun aku sudah mau berangkat sekolah.”
“Sudah siap Bil? Coba mama lihat dulu tasnya buku-buku kamu sudah masuk semua?” dengan mata yang masih terasa berat dia tetap semangat untuk memeriksa tas Bila agar tidak ada yang tertinggal. Bilbila adalah anak satu-satunya Alexandria.
“Bekalnya sudah dibawa?”
“Sudah ma, berangkat dulu yah.” Kata Bila seraya mencium tangan Alexandria.
Ada getaran yang hangat yang mengalir di hati, yang memberi semangat untuk bersiap diri berangkat kerja. Mengumpulkan rezeki supaya dapat memenuhi seluruh kebutuhan anaknya yang terkasih.

Sebagai seorang karyawati yang seringkali memaksanya keluar kota, Alexandria tidak dapat selalu mendamping setiap langkah buah hatinya, mengajari setiap kesulitan soal-soal yang diberikan gurunya. Bibila adalah anak yang cerdas, mandiri dan peka terhadap keadaan. Besar pengertiannya melihat ibunya terlalu sibuk dengan pekerjaaan untuk sekedar membantu perekonomian keluarga. Bila, tidak pernah keluar dari ranking 5 besar. Sebagai seorang ibu, Alexandria sangat bangga dengan prestasi Bila. Tanpa disuruh pun Bila sudah belajar dengan sendirinya.

Perlahan Alexandria mengangkat tubuhnya dari ranjang untuk bersiap-siap kerja. Ada momen yang selalu tidak ingin ia lewatkan yaitu mengantarkan Bila berangkat ke sekolah meskipun hanya sampai pagar, karena setiap hari Bila menggunakan antar-jemput. Memandang wajah polos yang mengukir sebuah senyum di bibir itu membuat hati sang ibu semangat dan melupakan kerewetan keadaan kantor yang seringkali menahan langkah kakinya untuk beriap bekerja.

Alexandria bukanlah orang tua tunggal, tetapi telah disepakati dari awal ia bersama sang suami saling bahu membahu mencukupi kebutuhan keluarga. Suami yang ia nikah bukan karena cinta. Kalau bukan karena cinta, ia menikah karena apa? Menikah karena pikiran logis bukan karena cinta yang mengebu-gebu. Alexandria sudah tidak yakin masihkah ada ruang hatinya yang tersisa untuk kata cinta. Setelah 15 tahun menikah cinta itu tidak pernah ada. Cinta selayaknya bunga yang merindukan kumbang. Cinta yang bergelora. Dari dulu tidak pernah ada. Yang tersisa di relung hatinya hanya mencintai secara logika.
Menapaki langkah-langkah kakinya dalam kenyataan.

Cinta Alexandria telah ia berikan kepada orang yang jauh lebih berhak. Cinta pertama dan terakhir baginya, dan itu bukan suami saat ini. Pilihan Alexandria jatuh untuk menikah karena ia tahu pria ini yang akan menerima dia apa adanya, yang akan menyayanginya meskipun ia tahu di dalam ruang hati Alexandria tidak ada lagi tempat untuk kata cinta itu sendiri.

Dalam lompatan waktu menuju masa lalu, Alexandria tidak pernah menyangka akan memiliki sebuah keluarga. Meskipun hanya sebuah keluarga kecil dengan hanya memiliki satu anak. Akan tetapi Tuhan telah mentakdirkan dirinya di luar akal yang mampu ia terjemahkan.

Setelah kepergian Roland, cinta pertama sekaligus terakhir, Alexandria tidak yakin ia dapat mencintai orang lain. Telah dia berikan keseluruhan cinta dan kasihnya untuk Roland. Semua terasa beku dan dingin bersama kepergian sang kekasih hati. Matanya hanya mampu menghamparkan logika dan realita kehidupan. Layaknya mayat yang memiliki raga, Alexandria mengisi kesehariannya, hidupnya tanpa jiwa, tanpa rasa. Seakan terhempas dalam hamparan lumpur saat menggenggam tangan Roland untuk terakhir kalinya. Perlahan terasa hangat tubuh Roland menguap ke angkasa. Hanya doa yang dapat terucapkan saat itu dan bersama itu pun Tuhan meniupkan keikhlasan dalam hati. Roland telah membawa cintanya pergi tapi ia harus tetap melanjutkan hidup di muka bumi ini. Pikiran itu yang terlintas dengan jelas bersamaan dengan kepergian rasa hangat tubuh Roland.

Alexandria merasa tidak mampu lagi untuk bernafas dalam menyambung hidup yang Tuhan belum akhiri untuknya. Semua hidup itu telah ia curahkan tanpa sisa. Bahkan rahasia terbesar hidupnya telah ia kupas dan bongkar dihadapan Roland. Roland yang telah membangun dirinya, jiwanya, batinnya serta kepercayaan dirinya. Membangkitkan ia dari sebuah kisah masa kecil yang terjadi di Pulau Belitung. Indahkah masa kecilnya sebagai anak gedong, bersekolah di sebuah sekolah percontohan dengan guru-guru yang terbaik serta mendapatkan makanan-makanan terbaik yang didatangkan dari Jakarta?

Benar adanya Alexandria tinggal di sebuah rumah di atas bukit yang bak sebuah istana. Rumah yang begitu luas dengan menara diatasnya, setiap ruang memiliki fungsi sendiri, bahkan kamar untuk pembantu rumah tangga terpisah dari rumah induk. Rumahnya pun memiliki sebuah guest house untuk tempat sanak saudara apabila mereka berkunjung. Begitu luasnya rumah itu hingga ibunya tidak selalu dapat mengawasi setiap gerak gerik langkahnya. Membuat Alexandria harus memiliki masa kecilnya yang suram untuk selalu ia tutupi dihadapan para keluarga. Oleh seorang sepupu yang sangat disayang oleh ayah. Seorang anak lelaki yang dirawat oleh ayah agar ia memiliki keturunan lelaki yang berdasarkan adat sangat diagungkan. Alexandria mengalami pelecehan sexual saat berusia 6 tahun. Ketika itu dia tidak mengerti apa yang sepupunya lakukan terhadapnya, ia pikir ini hanya sebuah permainan belaka. Saat mulai akan beranjak akhil baliq ia paham bahwa keperawanannya telah terenggut. Mereka pikir Alexandria begitu bangga dapat berjalan dalam iring-iringan pawai anak sekolah PN yang disaksikan oleh seluruh masyarakat yang ada di Pulau Belitung. Sepertinya tidak, kepalanya tertunduk tajam ke lapisan bumi, bagai rumput putri malu yang ketika disentuh akan menutupi diri. Dia tidak sebangga yang anak-anak kampung itu pikirkan.

Apa arti seorang perempuan yang hilang keperawannya, terniang gema suara ibu Alexandria dalam kepalanya.

”Apa arti aku?Karena aku sudah tidak perawan sejak aku sendiri belum mengenal kata perawan. Belum mengenal selaput darah. Apalah artinya aku?”

Roland yang serta merta membangun kepercayaan diri itu kembali, mengangkat dia menjadi manusia yang dapat mencintai orang lain, belajar untuk menjadi seorang perempuan yang hangat. Bukan perempuan yang kelaki-lakian, yang selalu memasang wajah waspada menghadapi apapun. Bagai seorang pemahat, Roland memahat Alexandria menjadi dirinya yang sekarang.

Salah satu keajaiban hidup itu adalah kehadiran Bilbila. Untuk menghadirkan Bila di muka bumi ini bukanlah tugas yang gampang. Sebelum Bila hadir, keguguran demi keguguran harus ia alami. Hingga tidak ada lagi harapnya untuk memiliki keturunan. Sekali lagi Tuhan berkata lain. Bila hadir dalam hidupnya. Bila hadir setelah Tuhan mengemblengnya dengan berbagai cobaan untuk mengajarkan kembali arti cinta dalam hidup. Mengajarkannya jauh dari sebuah keputusasaan. Membuatnya semakin kuat untuk merawat sang buah hati.

Tak terasa 10 tahun telah terlewati dengan kehadiran Bila disisinya. Menemani hari-harinya mulai dari dia belum dapat membuka matanya hanya mampu menangis, mulai belajar bicara mengeluakan kebawelanya hingga sekarang saat ia sudah semakin dewasa, dan tumbuh menjadi anak yang penuh pengertian. Hari demi hari cinta itu terus bertambah meyakinkan dirinya bahwa dalam hidupnya ada dua cinta yang ia simpan baik-baik. Cinta yang merupakan hadiah Tuhan. Karena tidak semua orang memiliki seseorang yang akan membawa cinta dia terhadap diri kita hingga mati, tanpa diduakan, tanpa perlu berjuang untuk mempertahankannya, tanpa ada perdebatan yang panjang dalam cinta itu sendiri.

Ayah Bila, bukanlah suami pertamanya. Roland orang yang sangat dia cintai yang pertama kali menikahinya. Membawanya ke pelaminan, sebagai orang pertama yang mengantarkannya kedalam kehidupan yang nyata. Hanya dalam kurun waktu satu bulan keindahan itu dapat diukir. Saat ia masih terbuai oleh keindahan cinta yang seutuhnya semua terenggut oleh takdir Tuhan yang memanggil Roland ke peraduanNya. Cintanya telah dibawa hingga akhir hayat tanpa dibagi, tanpa diduakan, tanpa disangkal.

Bila adalah malaikat cintanya setelah ia kehilangan Roland, yang akan memberi senyum di hari tua. Cinta kedua yang juga tak akan terbagi, terkhianati dan terenyahkan.

Kriinnggg….
“ Ma, nanti pulang kantor jam berapa? “
“ Sebentar lagi kok Bila. “ seraya Alexandria mengarahkan pandangan matanya ke jam yang terpajang di mejanya yang waktu menunjukkan pukul 17.30, waktunya untuk pulang kantor.
“ Bila sudah makan? Di rumah makan apa? “
“ Belum, mau nunggu mama aja. Aku ada PR nih, nanti bantuin yah. “
“ Iya, ntar lagi mama pulang kok. “

Telepon pun ditutup, menyegerakan Alexandria untuk merapikan semua dokumen lalu mengangkat tas untuk beranjak pulang. Dirumah ada sang buah hati yang memerlukan bantuan. Ternyata cinta itu selalu akan ada tidak akan hilang hanya tergantikan.

“Dulu Roland yang telah membawa cintaku hingga terkubur bumi, akan aku pastikan yang harus membawa cinta Bila dalam kuburan lapisan tanah adalah aku, jangan sampai aku pun kehilangan cinta itu lagi. Karena ku tak tahu ku akan mampu.”

*Teruntuk seseorang yang banyak mengajarkan tentang kehidupan ini. Ketabahan dan kekuatan diri.*

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s