JEDA


Aku berlari bebas mengejar kupu-kupu
Berputar-putar tak jelas
Aku biarkan kaki ini mengejar matahari
Ke pantai
Ke gurun atau
Ke gunung

Tak peduli aku berlari sampai mana dan sampai kapan
Tak ada yang mengikatku
Tak ada yang menungguku

Hanya aku, alam dan Tuhan
Dalam sebuah jeda waktu

Jeda dalam pengertian bahasa Indonesia adalah waktu istirahat, waktu berhenti sebentar, hentian sentar dalam ujaran. Aku mengambil sebuah jeda dalam hidup ini. Sejenak saja. Mengistirahatkan pikiran, mengistirahatkan tubuh, mengistirahatkan hati.

Jeda bagiku adalah hadiah. Hadiah dari sebuah keberanian melepaskan sebuah kepastian. Jeda itu sendiri memiliki arti sendiri bagi setiap individu. Menurutku setiap orang membutuhkan jeda dari segala aktivitasnya. Anak sekolah butuh jeda yaitu waktu istirahat pada jam 9 pagi dan jam 12 siang bilamana mereka bersekolah hingga pukul 2 siang. Para karyawan juga mendapatkan jeda dari pekerjaannya yaitu jam 12 siang, 1 jam dari 8 jam kerja yang mengikat mereka demi pundi-pundi uang setiap bulan. Ibu rumah tangga pun membutuhkan jeda dari kesibukannya mengurus rumah, anak dan keuangan rumah tangga. Jeda yang biasa disebut dengan “me time”. Terkadang sebuah hubungan asmara pun membutuhkan jeda. Saling memberi jarak dan ruang terhadap pasangan masing-masing.

Jedaku sendiri adalah jeda dari urusan pekerjaan, melupakan sejenak rutinitas bangun pagi terpogoh-pogoh, berburu dengan kemacetan atau sesaknya commuterline. Jeda dari tanggung jawab kantor, kertas kerja yang berteriak-teriak untuk diselesaikan. Jeda dari pikiran tentang rekan kerja saat sedang cuti dari kantor, yang berujung tangan meraih handphone lalu mengetik sebuah bbm “Kantor aman kan? kalau ada apa-apa let me know ya.”

Jeda dari urusan memikirkan jodoh, mencari “mister x”, membentuk berbagai kriteria pria yang patut ditunggu lamarannya. Jeda dari masa lalu yang kadang masih suka menyerat dirinya masuk ke masa kini. Jeda dari pikiran yang berkecamuk tentang belum menikah sedangkan teman-teman seusiaku hampir semua sudah memiliki keluarga bahkan beberapa anaknya telah masuk SD.

Jeda dari perasaan-perasaan yang seharusnya tidak perlu hadir, seperti hari ini makan siang dengan siapa. Pulang kantor ajak siapa untuk nongkrong sekedar ngopi-ngopi atau nonton. Dimana sering berujung kecewa karena teman yang diajak harus segera pulang karena ditunggu suami.

Aku mengambil sebuah jeda untuk berhenti sebentar dari segala aktivitas rutin. Jeda yang terjadi tanpa direncanakan. Jeda yang diambil dengan sedikit keberanian. Jeda yang tidak aku ketahui sampai kapan, akan berlangsung berapa lama.

Dalam waktu jeda ini kupasrahkan langkah ini kepada Yang Maha Kuasa, hendak Ia bawa aku kemana. Apa yang akan terjadi pada masa jeda aku pasrah saja. Aku hanya ingin terbang bebas tanpa arah, ingin berlari-lari seperti gasing yang memabukan, ingin berhenti duduk dimanapun, kapanpun aku ingin duduk.

Mimpi


Hanya mimpi yang membuatku bertahan.
Bertahan untuk tak menitikan airmata
Bertahan untuk tak bunuh diri

Hanya mimpi yang membuatku tetap tersenyum
Menegukkan rasa pahit hingga terasa manis

****

Kuteguk cangkir kopi dihadapanku. Aku sudah lupa ini hari apa. Telah lama kutepis makna sebuah hari. Bagiku, bagi duniaku tak ada ubahnya senin, selasa atau sabtu. Setelah hampir 1 jam aku berkutat dengan keasyikanku sendiri, kuangkat sedikit kepalaku untuk melihat apa yang terjadi disekitarku. Ternyata coffee shop ini telah ramai. Seingatku, tadi hanya dua meja yang terisi dan menjadi tiga dengan aku yang duduk di salah sudut coffee shop ini. Meja-meja telah penuh dengan pasang muda mudi. Mata-mata penuh cinta bertaburan mengalahkan taburan bintang di langit. Aku iri? Ada sebersit rasa itu, karena aku duduk sendiri, di sudut yang tersembunyi hanya bersama secangkir kopi dan sepotong donat.

Aku pandangi gadget-gadget yang mungkin dapat membuat orang yang melihat menjadi iri. Karena semua model gadget berada di tanganku. Tertawa aku bila tanpa sengaja aku bertatapan dengan mata yang memandang iri. Dalam hati aku berkata, “untuk apa kalian iri, aku hanya bersama benda mati sedangkan kalian sedang bersama mahluk hidup dan yang lebih beruntung kalian sedang bersama yang terkasih.” Benda mati tak akan dapat disetarakan dengan mahluk hidup manapun. Apalagi disetarakan dengan orang yang dicintai. Tak ada kebanggaan bagiku dengan segala benda mati ini, ini semua hanyalah penggusir sepiku.

****

Aku dan kamu.

Begini rasanya berpisah darimu. Jiwaku seakan membeku. Tak akan aku sebut mati. Karena selalu ada cinta dan kasih pada sudut terpojok hatiku. Dia hanya membeku, terpagarkan, tersembunyi atau mungkin berkarat. Setiap hari yang aku bunuh adalah waktu. Waktu-waktu dimana aku menunggu kamu pada sebuah halte lalu beranjak menyusuri trotoar sekedar mencari jajanan kaki lima untuk mengisi perut.

Tanpa sadar aku dan kamu telah mengisi banyak sudut waktu bersama hingga lupa menghitung waktu yang hilang untuk orang lain. Fokusmu adalah waktuku. Fokusku adalah waktumu.

Seringkali aku mempertanyakan telah kubuang kah waktu-waktuku untuk kuhabiskan bersamamu? Hanya sebuah entah yang mampu aku jawab. Entah mengapa aku begitu rela memberi waktuku. Entah mengapa aku begitu menikmati ketika kita saling menyatukan waktu.

Dari awal, saat cinta itu bersemi dihatiku yang kutahu hanya waktu yang aku miliki darimu. Waktu yang mungkin hanya sehari, sebulan atau setahun. Waktu yang pada kenyataannya telah menjadi tiga tahun lebih mungkin. Aku tak pernah dapat memiliki kamu, memiliki masa depanmu, memiliki hidupmu. Sehingga tanpa kita sadari, kita hanya berpegang pada waktu untuk menyatukan bulir-bulir kasih yang mengalir tanpa mampu kita cegah. Berharap waktu yang akan memutuskan jalinan kasih itu. Berharap bila waktu itu tiba tak akan ada pedih menghampiri. Aku dan kamu.

Pada suatu sudut hidup kita berdua, tanpa kita sadari ada tali tipis yang menghubungkan sudut-sudut yang berjarak. Tali tipis inilah yang mempertemukan kita kembali. Menghadiri sebuah senyum dan tawa pada hari kita. Menitikkan air mata pada ketidakkuasaan aku dan kamu melawan kenyataan. Sering kumempertanyakan mengapa harus terhubung dengan kamu.

Mengapa ada sebuah tali tipis yang menghubungkan sudut-sudut bumi yang memperjarak aku dan kamu tanpa sebuah kabar, tanpa sebuah kata mengenal. Atau mengapa tali itu baru saja memperpendekkan jarak antara sudut hidupmu dan sudut hidupku. Mengapa tidak dulu, saat aku masih sangat ranum, saat kamu masih sungguh gagah.

Mengapa wajah kita baru bertemu saat kenyataan lain telah berada disisimu. Seribu…seribu tanya bahkan lebih dalam otakku yang mampu menggilakanku, mencabut akal warasku. Aku dan kamu. Tak ada jejak yang dapat kita pandangi, setelah waktu berhasil pelan-pelan memotong tali-tali itu, memperjarakkan aku dan kamu kembali, mengembalikan aku dan kamu pada sudut-sudut bumi yang tersembunyi satu dengan yang lain. Sudut yang melemahkan kemampuan penglihatan.

Jahatkah waktu?
Mungkin bagiku jahat. Bagiku waktu terlalu mengejek hidupku. Mencemoohkan perasaanku. Tapi mungkin bagi Sang Pemilik Alam, waktu adalah keadilan hidup.

Kejujuran dan jawaban bagi semua pertanyaan hidup. Aku menyerah. Hanya ada kata maaf dariku, karena aku tak akan mampu melawan waktu. Itu sama saja aku melawan badai nestapa hanya dengan bermodal perisai.

****
Aku dan Aku pada sudut hidup.

Wahai hatiku yang sepi. Apa kabar kamu? Semoga kamu masih sanggup untuk bertahan. Bertahan menikmati rasa sepi. Bertahan untuk mendingin tanpa suatu sentuhan kehangatan. Aku tidak bisa menjanjikan kapan penghangat itu hadir kembali. Bisa jadi esok ada sebuah tangan yang menyentuh kamu lagi, tapi mungkin 1 atau bahkan 3 tahun yang akan datang.

Wahai hatiku yang sepi. Maafkan aku. Maafkan aku yang seringkali salah mencintai orang. Salah memilih tangan yang menghangatkanmu. Salah memilih cinta untuk hadir menceriakanmu.

Hanya maaf yang dapat aku utarakan padamu. Karena aku tidak tahu lagi apa yang mampu aku lakukan untuk membuatmu tidak sepi lagi. Membuatmu hangat penuh cinta dan kasih.

Wahai hatiku yang sepi. Aku hanya dapat memberikanmu mimpi. Mimpi yang dapat membuat kita berdua masih memiliki senyum. Mimpi yang mampu membuat kita menikmati rasa pedih, perih dan sepi. Mimpi yang memberikan kita pengharapan baru setiap hari, meski di malam hari kita menemukan mimpi itu tak akan menjadi kenyataan pada hari ini, tapi dengan mimpi kita akan berharap untuk esok hari.

Wahai hatiku yang sepi. Mari kita saling menggenggamkan tangan agar bertahan. Mungkin waktu menunggu kita akan lebih lama dari sebelumnya. Mungkin kita tidak akan lagi bertemu dengan orang seperti dia yang benar-benar menghancurkan dingin dan sepinya kita berdua. Orang yang menyiramkan cinta dan kasih secara penuh meski dibatasi oleh waktu.

Wahai hatiku yang sepi. Aku mengajakmu untuk berdoa agar Sang Pemilik Alam mempercepat waktunya untuk kita bertemu dengan tangan yang menghangatkan itu.

****

Dari earplugku, terdengar lagunya Adele, Someone Like You. Kukemaskan semua gadgetku. Pulang adalah pilihan yang terbaik sebelum airmata ini menetes.

Never mind I find someone like you I wish nothing but the best for you “Don’t forget me,” I begged
“I’ll remember,” you said
“Sometimes it last in love but sometimes it hurts instead”

Secarik Kertas


Hai kamu, boleh saja sudah lama kita saling menyapa, saling berpapasan, saling berbicara, tapi pembicaraan kita kali ini rasanya sungguh berbeda

Sederhana saja yang ada dibenakku, yaitu aku mulai memperhatikanmu. Kapan itu dimulai? Aku tidak tahu. Sedetik yang lalu? Aku rasa itu sangat berlebihan. Dapat aku pastikan aku memperhatikanmu bukan nanti atau esok tapi mungkin kemarin lalu dan sudah pasti hari ini. Aku sendiri bingung dengan keinginan untuk memperhatikanmu, ingin menemuimu. Sehari saja tidak berbincang denganmu meski sejenak rasanya hariku menjadi tidak lengkap.
Bolehkah aku menyatakan aku suka padamu?

Ginsha menemukan secarik kertas di mejanya, dengan wajah kebingungan ia membaca baris-barisnya tulisan yang membuatnya tersipu malu. Wajah lugu tersipu malu terpancar hingga membuat orang yang melihatnya langsung memandang heran.

“Napa muka lo tiba-tiba merah gitu Sha?” tanya Nisa sembari lewar di depan kubikel Ginsha.
“Kagak ade ape-ape, biasa aja.” tegas Ginsha yang langsung berusaha menutupi raut wajah tersipunya.

Setelah ia merasa tidak ada lagi orang yang memperhatikan, ia kembali membaca secarik kertas. Ia sedang membayangkan siapa gerangan yang meletakkan kertas ini di mejanya. Berkali-kali ia membaca, tulisan pada kertas itu jelas bukan puisi, bukan pula sengaja, bukan pula sekedar tulisan iseng tak bermakna. Atau mungkin kertas ini bukan ditujukan untuknya. Mungkinkah sebuah ketidaksengajaan kertas ini tergeletak begitu saja di atas meja. Akhirnya setelah isi kertas itu bermain-main di benaknya ia memutuskan bahwa kertas ini bukan untuknya.

Ia kembalikan konsentrasinya pada tumpukkan kertas dihadapannya. Ia berusaha keras mengabaikan pikirannya dari secarik kertas tersebut. Pikirannya pun melayang,
“Andai kertas itu ditujukan kepadaku, pastinya orang tersebut romantis.”
“Tidak tahukah ia bahwa belum ada orang yang menyatakan perasaannya sesederhana dan segamblang ini”
“Andai pertanyaan itu untukku, aku bersedia untuk disukai.”

****

Tinto tak bisa berkonsentrasi kerja, pikirannya ,melayang ke kubikel yang berada di ujung kantor ini. Rasanya sungguh jauh kubikel itu. Dia sibuk menduga-duga apakah gadis berkerundung yang imut itu sudah membacanya? Dari tadi ia salah menjawab pertanyaan atasannya, semua jawabannya tidak nyambung, masih syukur kerjaannya tidak berantak.

Gadis berkerudung yang belakangan ini menjadi pusat perhatian pikirannya. Awalnya tidak pernah ia terpikir tentang gadis itu, baginya gadis itu hanyalah sebatas rekan kerja. Tapi yang ia heran kenapa orang-orang sekantor menjodoh-jodohkan dia dengan gadis itu. Mungkinkah gadis itu menyukainya.

Beberapa kali ia mencoba untuk menghampiri, sekedar mencari tahu apakah gadis itu memiliki ketertarikkan padanya, akan tetapi ia tidak menemukan tanda-tanda tersebut. Mungkin ia saja yang merasa terlampau GeRe. Rasa penasarannya yang mendorongnya hingga ia sampai saat ini kerap menghampiri. Sekedar pura-pura menanyakan pekerjaan, sekedar pura-pura lewat lalu menyapa, bilamana ia beruntung ia bisa mengobrol sedikit lebih lama 5 atau 10 menit cukup lama untuk dilakukan disela-sela pekerjaan.

Tetapi buah penasaran itu berkembang lebih dari yang ia harapkan, ada rasa yang kuat untuk menghampirinya. Ada semangat baru untuk menjelang pekerjaan yang membosankan. Ada yang kurang bila gadis itu tidak masuk kerja.

Akhirnya semalam Tinto memutuskan untuk menuliskan sedikit perasaannya pada gadis itu, hanya untuk mengetahui reaksinya. Sudah terlewat kuno di zaman yang serba teknologi ini menyatakan perasaan melalui surat, bila secarik kertas itu dapat dikatakan surat. Tetapi ia bingung hendak memulai dari mana, gadis itu terlalu cuek dan sibuk dengan dirinya sendiri.

Tinton beranjak dari kursinya, ia menghampir gadis itu, Ginsha. Ia harus mencari tahu reaksi Ginsha setelah membaca secarik kertas yang tadi pagi ia tinggalkan diatas meja. Beruntung tadi saat hendak meletakkan tidak ada siapa-siapa di sekitar kubikel Ginsha, jadi ia bebas meletakkan kertas tersebut.

“Hey Mba, serius amat kerjanya?” tanya Tinto mengejutkan Ginsha.
“Ah kagak, bukannya gua biasa kerja serius.”
“Bener-bener pegawai yang baik.”
“Hihihihi.” tawa renyah Ginsha membuncah dibenak Tinto.

Matanya mengawasi meja kerja Ginsha, mencari-cari secarik kertas yang ia letakkan. Ia tidak menemukan, mungkinkah Ginsha sudah membacanya. Tinto bingung bagaimana menanyakan kertas tersebut.

“Mba, lo liat ada kertas ga disini tadi?” Tinto memberanikan diri bertanya.
“Kertas apaan To?”
“Kertas kecil gitu deh, tapi ga sengaja ketinggalan waktu gua minjem pulpen dari meja lo.”
“Emang isinya apa?” Ginsha mulai deg-degan, apakah secarik kertas itu yang dicari Tinto. Apakah Tinto pemilik kertas tersebut.
“Puisi-puisi norak gitu deh.”
“Jeileb” mendadak hati Ginsha cenat cenut. Tiba-tiba lagu Sma*sh bernyanyi-nyanyi di otaknya.

Ginsha sibuk berpikir apakah perlu ia berikan kertas itu dan mengatakan bahwa ia membaca. Kalau kertas itu bukan untuknya sungguh malu ia tadi sudah merasa berbunga-bunga saat membacanya. Kalau kertas itu dituju untuknya sungguh Tinto bukan orang yang ia harapkan untuk menuliskan kata-kata sederhana itu.

“Yee si Mba malah bengong, lihat ga?” kata Tinto membuyarkan lamunannya.

Akhirnya ia memutuskan untuk mengembalikan kertas itu.

“Ga nyangka yah lo puitis juga?”
“Masa sih segitu puitis? Lo dah baca dong?”
“Maaf yah gua baca tadi habisnya gua ga tahu itu kertas punya siapa.” kata Ginsha sembari mengambil kertas tersebut dari tasnya.

“Ginsha meletakkan kertas itu kedalam tas, berarti dia suka dengan tulisan pada secarik kertas tersebut.”

“Nih, kertas lo.”
“Makasih yah, mau gua kasih ke orangnya. Tapi bagus ga tulisannya.”
“Bagus kok.”

Dengan mantap dan penuh keyakinan serta keberanian yang berlipat ganda, Tinto menyodorkan kertas itu kembali ke Ginsha.

“Ini buat lo aja Sha.” Ia lupakan embel-embel “Mba” yang biasa ia gunakan untuk menyapa Ginsha yang memang lebih tua sedikit darinya.
“Loh kok dikasih lagi ke gua?” Ginsha jadi bingung. Padahal ia telah berusaha keras menutupi kekecewaannya karena kertas tersebut diambil oleh pemiliknya dan bukan dituju untuknya.
“Emang buat lo kok, gua cuman mau memastikan aja lo dah nerima dan baca.”

Ginsha diam seribu bahasa, entah apa yang akan ia utarakan. Tiba-tiba wajahnya memanas dan ada getaran aneh yang menghampiri hatinya.

“Udah jangan bengong aja, gua tunggu balasannya.” Kata Tinto sembari berlalu meninggalkan Ginsha yang hanya terbengong-bengong.

*********************************************************************************

#Tulisan ini saya bersembahkan untuk teman saya yang baru memadu cinta. Semoga kamu bisa merasakan indahnya cinta, manisnya rindu, cerianya tawa bersamanya, sampai akhirnya kalian bisa bertahan dalam senang, kesel, cinta, sayang, dongkol, sebel hingga pelaminan bahkan hingga tua. Seperti yang saya bilang ke teman saya, saya tidak akan memberikan selamat seperti orang lain, tapi saya berikan tulisan ini. Karena kamu teman, mengelitik pikiran liarku untuk bercerita#

Hhhhmmmmm


Malam itu bintang begitu terang menerangi gelapnya malam. Beranda ini tempatnya untuk bercengkraman, berbagi cerita dengan sang kekasih hati. Tapi kali ini ia duduk sendiri memandang langit yang cerah. Taburan bintang tidak pun mampu menghapus kemuraman hatinya.

Tak sadar air matanya menetes. Menguraikan gejolak kesedihan hatinya. Rasanya baru kemarin ia duduk bersama sang kekasih. Mereka tertawa, mereka menyusun keping-keping masa depan yang akan diraih. Tapi malam ini ia terduduk sendiri berusaha untuk menyusun kembali kepingan masa depannya.

Malam itu adalah malam tragedi baginya. Malam menjelang hari pengantinnya. Keesokkan hari ia dan sang kekasih akan menjadi sepasang suami isteri yang berencana untuk memiliki dua orang anak yang lucu. Dengan biadab sang kekasih meninggalkan alter pernikahan. Malam yang penuh kegelisahan benar-benar mengelisahkan karena sang kekasih telah meninggalkannya. Raganya telah pergi pun demikian dengan rohnya. Hingga yang tertinggal hanyalah kenangan. Tak akan lagi ia bertemu, tak akan lagi ia bercengkraman. Semua sirna, semua hilang oleh sebuah takdir.

Everyone Love You


Dia selalu merasa sepi. Dalam kesendiriannya ia selalu belajar untuk menikmati. Hari ini ia memutuskan untuk pergi menyendiri. Kepenatan terus mengerogoti pikirannya. Sudah menjadi sebuah entah apa yang ia pikirkan, yang pasti sesak terasa.

Gemuruh suara kali ini mengisi gendang telinga, begitu gemuruh dengan banyak celoteh dari teman-temannya. Tapi ia begitu asyik menyudutkan diri diantara gemuruh keramaian.

“Sepi itu hadir sekalipun aku berada di keramaian, seakan sahabatku hanya sebuah sepi.”

Seketika itu, salah satu temannya menyentakkan lamunannya.

“Bebi bengong aja, kita turun yuk, ini kan lagu kamu banget.” Sebuah tangan tersodorkan memaksa ia beranjak dari lamunannya bergabung diantara rangkulan sahabatnya.

<em>*Belajar menulis cerita dalam 100 kata, ga tau berhasil atau tidak*

LAKI-LAKI


Aku duduk di taman ini, berhadapan langsung dan bercakap-cakap denganmu. Ada yang aku ingin ceritakan tentang wajah para lelaki, sahabatku.

Pasti kamu akan berkata padaku bahwa telah banyak kamu dengar cerita tentang lelaki dari bibir banyak wanita. Tapi janganlah kamu bosan, ini akan menjadi sebuah cerita yang lain. Jangan kotori pikiranmu bahwa aku akan bercerita tentang akal bulus tipuan lelaki atau tentang sebuah pengkhinatan ataupun tentang kebajingan lelaki. Sungguh ini sebuah cerita lain.

Pada suatu hari, aku bertemu dengan sahabatku, dia bilang ingin bercerita banyak, sharing. Wah sungguh kusambut dengan gembira ajakan pertemuannya. Aku pun sudah kangen dengannya. Selalu ada pencerahan baru kala kami bertemu, dari cerita-cerita yang terurai selama pertemuan. Dari sinilah aku akan bercerita padamu. Persiapkan telingamu lekat-lekat agar kamu benar-benar memahaminya, agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Dia hanya seorang lelaki biasa, berpostur tubuh tinggi dengan badan yang cukup atletis. Kulitnya sedikit berwarna coklat. Bernama Angga
“Gua sudah punya pacar sekarang ka.”katanya pada Alika.
“Siapa pacar lo? Siapa wanita yang mendapat musibah mo sama lo?”
“Rese lo yah!!” tawa mereka berdua menggema menambah kericuh café itu.
“Mo lihat fotonya?” katanya seraya membuka dompet dan menunjukkan foto tersebut ke Alika.
“Wah gua disusul dong ama lo!” dengan wajah cemberut Alika berkomentar.

Wanita dalam foto tersebut hanyalah wanita berwajah biasa. Dengan sebuah mata sendu menyelubungi bola mata. Sendu itu terpancar jelas pada foto itu.

“Dia janda.” Sebuah kalimat yang cukup mengejutkan Alika. Temannya seorang perjaka, meskipun bukan perjaka ting-ting. Di era millennium ini sungguh sulit mencari perjaka ting-ting. Seorang laki-laki yang baru akil baliq dan tidak beberapa waktu langsung menikah mungkin hanya laki-laki itu yang bisa disebut perjaka ting ting.
Wajah Alika masih dengan tatapan terpana, Seperti hendak mengatakan are you sure?

“Kaget yah lo?”
“Sedikit Ngga.” Alika tidak hendak berbohong dengan tanggapanya atas pernyataan Angga.
“Boleh tahu kenapa dia bercerai?”
“Panjang ceritanya. Singkatnya dia mungkin tidak pernah beruntung mendapatkan seorang lelaki. Selalu laki-laki yang suka menyakitinya. Perceraian yang terakhir karena berantem terus dan suaminya kasar sama dia.”
“Perceraian terakhir? Ber..berr…arti ada perceraian sebelumnya?”
“Ini yang kedua. Makin kaget kan lo?”
“Yap! Punya anak?”
“Ada 3. Semua tinggal sama orang tuanya di Palembang. Dia orang Palembang. Pindah ke Jakarta untuk kerja sekalian menjauh dari mantan suaminya.”
“Hm-mh.”
“Gua pun awal dengar cerita dia kaget. Gua berpikir keras untuk tetap bertahan. Pengennya sih kabur aja. Gua mikir kan gua masih bisa dapat yang lebih baik dari dia. Dia terlalu banyak membawa masalah masa lalu dia. Itu yang sempet membuat gua untuk berpikir mundur.”
“Terus sekarang lo mo mundur atau terus maju.”
“Gua saying banget ama dia. Entah apa yang gua rasa, yang pasti gua ga bisa ninggalin dia, apalagi dalam keadaan ini. Gua laki-laki yang pasti jauh lebih kuat dari dia, apalagi saat ini dia sedang dalam keadaan labil.”
“Lo kan laki-laki tangguh Ngga. Pasti lo bisa bertahan disamping dia.” Alika bingung hendak menanggapin cerita Angga.
“Mungkin emang garis hidup gua untuk bertemu dengan perempuan-perempuan yang bermasalah, untuk ada disamping mereka menguatkan, membantu mereka berdiri kembali. Masih ingat kan ama mantan gua?”
“Yang mana? Yang waktu lo kerja di Serang tea? Yang mantannya psikopat ga pengen lepas dari cewek itu?”
“Yap. Dia juga kan pas ketemu gua lagi galau-galaunya, labil, rapuh. Sampai akhirnya dia kuat dan ninggalin gua.”
“Inget gua.”
“Tapi ka, kali ini gua ga akan mundur gua akan ajak anak-anak dia ke Jakarta, gua dah terlanjur jatuh cinta dengan anak-anaknya.”
“Wow jadi lo akan segera nikah?”
“Nah itu yang masih ada masalah, putusan cerainya belum ada, masih dalam proses pengadilan. Gua lagi bantu dia untuk mempertahankan anak-anaknya dalam asuhan dia.”
“Kerja keras yah bro. Gua cuman bisa bantu doa aja. Sama yah paling kasih telinga gua untuk dengerin cerita lo kalau lo lagi merasa lelah.”
“Makasih sist.”

Pertemuan itu enam bulan yang lalu. Telah enam bulan pula mereka tidak saling bertemu, Seperti kehilangan jejak suara-suara kehadiran satu dengan yang lain. Tapi sekedar selintingan kabar tetap sampai ke telinga Alika. Kabar bahwa Angga telah menikah. Ada rasa tidak percaya, ada rasa kecewa karena kabar itu datang dari orang lain.

Telepon Alika berbunyi. Sebuah sms masuk dari Angga.
“Sist, apa kabar? Long time not see. Btw gua lagi mo buka usaha rental computer di dekat rumah gua, lo mo invest ga?”
Angga

“Waduhhhh invest??lagi tidak ada dana nganggur bro. Btw emang tinggal dimana? Bisnis ama cewek lo? Emang lo dah ngga kerja? Mo bisnis segala?”
Alika

“Di daerah Lebak Bulus, gua ngontrak disana. Anak-anak dah ikut gua, dah sekolah disini, Iya bisnis bareng Ka.”
Angga

“Lo tinggal bareng? Jangan-jangan lo dah nikah tapi ga ngundang-undang gua!”
Alika

“Udah tapi belum resmi, baru nikah siri. Panjang deh Ka ceritanya. Maaf belum sempat cerita, tapi gua selalu inget ama lo untuk cerita, waktunya aja belum ada.”
Angga

“Pokoknya begitu lo punya waktu kita harus ketemu dan lo harus cerita,”
Alika.

Lama Alika termenung menatap handphonenya. Sungguh luar biasa sahabatnya, berani mengambil resiko hidup. Alika coba membayangkan jalan pikirannya. Menyatukan puzzle-puzzle cerita Angga. Angga pernah bercerita padanya bahwa keluarga pacarnya tidak mempercayainya lagi untuk menikah karena selalu gagal. Bahkan putusan ceraipun belum diperoleh. Tapi Angga berani mengambil resiko untuk menikahinya, mendampinginya dan berusaha untuk memberi kehidupan yang layak bagi anak-anak yang bukan dari benihnya sendiri.

Dalam diam Alika berdoa agar Allah membukakan pintu rezeki, senantiasa memberi kekuatan serta kesabaran untuk sahabatnya, Angga.

Bagaimana? Lainkan ceritaku? Pengalamanku sendiri tidak pernah menemukan laki-laki yang begitu berani mengambil resiko untuk membantu memecahkan permasalahanku, menerima segala masa laluku. Padahal seberapa janggal masa laluku, masa laluku hanya seperti masa lalu kebanyakkan orang, terlalu umum. Belum pernah aku bertemu laki-laki yang mau menggenggam tanganku dan mengajakku untuk membangun hidup bersama. Dengan gagah berani melamar dan menerima segala resiko hujatan.

Semoga kamu tersenyum mendengar cerita tentang laki-laki, sahabatku. Tersenyum karena masih ada laki-laki yang bertanggung jawab dan berani mengambil sebuah resiko hidup yang abstrak ini.

Jakarta, 21 April 2010
Teruntuk sahabat tercintaku, cerita ini terinspirasi karena kehebatanmu. Doaku selalu.