Semua T’lah Berbeda

Rasanya saat-saat yang dulu tidak akan muncul lagi. Ada yang berbeda saya rasakan. Padahal sudah tidak ada masalah dianatara kami. Kami sudah mulai mengobrol, sudah mulai bertemu dan bercerita tetapi tetap saja rasanya sudah berbeda.

Rasa segan dan khawatir tetap ada di dalam diriku. Keenganan untuk bercerita secara lepas seperti dahulu itu sudah hilang. Keantusiaan mendengar ceritanya pun telah pupus. Semua terasa biasa-biasa aja. Sama saja seperti saya dengan orang lain.

Bukan berarti saya membenci dia. Tidak! Hanya sulit untuk mengembalikan keadaan seperti sediakala saat saya pernah begitu merasa kecewa. Entah apa itu bentuk rasa tersinggung, sakit hati atau hanya kekecewaan. Tidak bisa lagi saya jabarkan

Saya hanya merasa semua akan berbeda.

Saya dan dia telah berjalan dengan hidup yang berbeda. Cerita keseharian kami pun sudah memiliki warna yang berbeda. Dia dengan kehidupan dengan dunia barunya, saya dengan dunia kerja saya.

Kadang saya suka GR menganggap ajakan dia adalah cara untuk mencairkan suasana diantara saya dan dia. Bukannya dia berhasil, saya malah merasa terasing di lingkungan baru dia. Merasa tidak cocok. Seringkali saya mencoba untuk mendekat tetapi ternyata sudah sulit bagi saya. Seperti terhalang suatu pagar diantara kami.

Mungkin pagar ini yang kami jadikan agar hati kami tetap terjaga. Agar kami tidak lagi merasa kecewa satu dengan yang lain.

Saya cukup senang melihat dia sekarang bahagia. Melihat ia sekarang memiliki tempat berbagi lain. Tak apa saya tidak turut dalam kebahagiaan itu. Karena kami memiliki kebahagia sendiri. Perasaanku mengatakan ia tidak mengerti dengan kebahagiaan yang saya jalani. Entahlah….

Jalan yang berbeda bukan berarti tidak lagi kusebut dia sahabat.

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

19 thoughts on “Semua T’lah Berbeda”

  1. buat salam perkenalan, saya persembahkan lagu dygta
    “aku tak bisa memiliki, menjaga cintamu..
    walau sesungguhnya hatiku mencintaimu, memilikimu..”
    salam rimba raya lestari

  2. Buat gue.. pertemanan itu ada masanya…
    Ada masa kadaluarsanya.

    Cuma berapa lama, ya tergantung kualitas pertemanan itu. Ada yg yg kadaluarsanya sampe mati ada yg terbilang hari.

    Da, pulang nyoook kita ke Samosir😉
    biar potong kerbau dulunya kita hehehe

  3. Sahabat kan “d’person 4 all seasons”. Bukan cuma qta yg hrs dngrin “dia” aja…… Kyknya dia prlu psikolog, bukan shbt, bu…… wekwekwek…..

    1. “Dia” itu sapa pak??kok pake psikolog segala??
      ini cuman tentang perubahan pada diri setiap org….
      Bisa jadi semua jd berbeda krn skg si sahabat udah menikah…punya kerja baru…nemu teman baru….punya pacar….yang udah tidak bisa saling beriringan satu dengan lain..
      tapi bukan berarti tidak jadi sahabat lagi..
      hanya smua udah berbeda….

  4. Wah… susah ya.. kita emang selalu merasa nyaman kalo ada disamping orang yg masih seirama, satu rasa suka, satu hobi, satu nasib, dll..
    Kalo udah beda, terkadang kata gak bisa keluar, kadang takut nyinggung perasaan, kadang takut salah sangka, kadang takut dituduh yang nggak-nggak dll
    (Tapi kayaknya gak berlaku buat mba eka nih.. laki bini beda hobi ROFL)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s