Celoteh Hati


Judulnya mengambil dari judul blog salah satu teman aku Titik. *pinjem yah tik.*

Hari ini saya ingin berceloteh tentang sebuah rasa yang sedang bergemuruh di hati dan pikiran. Apa itu karena saya ini orang yang doyan berpikir? Padahal sesuatu, sesuatu itu dan sesuatu ini tidak perlu terlalu saya pikirkan. Aaahhh, tapi pikiran itu sudah terjadi dan biar hati dan pikiran saya seimbang harus saya lontarkan keluar gemuruh hati itu.

Saya sering berpikir bagaimana jodoh itu datang? Mungkin sebagian orang sibuk berpikir bagaimana pekerjaan itu datang, bagaimana rezeki itu datang. Patut saya syukuri, Tuhan Maha Baik pada saya untuk urusan pekerjaan. Begitu mudah saya dapat berpindah bekerjaan, wiiettss, bisa dong saya dikatagorikan perempuan yang tidak setia, karena begitu cepat berpaling hati dari sebuah pekerjaan.

Ups, kembali lagi ke gemuruh hati saya. Harus saya katakan secara jujur, ada sebuah kegelisahan dalam diri saya karena saya belum mengenapkan langkah-langkah saya untuk menuju ke fase kehidupan yang selanjutnya. Sebagai orang yang hobinya mikir, saya berpikir apa yang menjadi kendala sampai saat ini saya belum juga melangkah ke fase berikut. Diluar konteks jodoh ditangan Tuhan saya harus cari tahu kendalanya.

Saya akhirnya sadar saya tidak percaya akan suatu cinta, bukan cinta itu sendiri yang tidak saya percaya, saya percaya kok. Cinta itu ada tapi yang saya tidak percaya ada orang yang akan memilih saya dan menerima diri saya apa adanya.

Dalam perjalanan hidup saya semua laki-laki yang pernah hadir hanya mengumbar kata mencintai saya, tapi belum satu jua pun ada yang memilih saya meminang saya. Pun setelah mereka menorehkan takdir dalam sebuah buku yang tercatat mereka masih senantiasa mengumbar kata rindu kepada saya. Salah kah saya tetap memilih ingin menjadi yang nomor satu bukan dua? Salah kah saya bila tetap berharap menjadi yang satu-satunya. Saya tidak meragukan mereka merindukan saya, saya tidak meragukan mereka masih menyimpan secuil ruang hati untuk saya. Tapi apa semua itu menjadi sebuah arti bagi saya? Ternyata artinya nya hanya melambungkan hatinya saya tanpa tahu akan menjatuhkan kemana lambungan hati itu.

Kenapa mereka bilang mencintai saya tapi tidak memilih saya?

Sudah barang tentu ada sesuatu yang salah dalam diri saya.

Itulah yang saya tilik. Itulah yang saya cari.

Belakangan ini saya menemukan pencerahan itu. Mungkin semua karena saya tidak pernah membiarkan mereka memilih saya. Saya selalu membiarkan mereka pergi tanpa sebuah kesempatan untuk memperjuangkan saya. Padahal saya sangat ingin untuk diperjuangkan, dipertaruhkan. Tapi saya hanya diam tak menjawab sampai akhirnya mereka memilih orang lain. Yang itu bukan saya.

Hari ini saya belajar kembali tentang cinta, sebuah kata yang saya pikir saya telah pahami, sebuah kata yang saya pikir saya sudah sangat mengerti akan tetapi ternyata tidak. Saya hanya mengerti kata itu untuk orang lain, tetapi untuk diri saya sendiri saya tidak tahu harus diapakan kata cinta itu.

Besok lusa, saya akan melakukan sebuah langkah dengan menerima ajakan seseorang untuk bertemu. Mungkin bagi kamu itu suatu yang biasa, tapi bagi saya tidak. Karena ini pertemuan merupakan pertemuan pendekatan. Detik ini saya pun belum menyukainya, tapi saya coba membiarkan diri saya untuk diperjuangkan berharap suatu hari nanti saya jatuh cinta pada perjuangannya. Semoga dia laki-laki yang mau memperjuangkan saya.

Khayal


imagesKamu…..

Aku selalu memimpikan untuk hidup bersamamu. Mimpi yang tidak terlalu muluk. Saat ku jelang waktu tidurku ku sempatkan untuk mengkhayal saat hidup bersamamu. Bagiku ini adalah khayal sederhana yang dapat dijadikan nyata. Tak kuperdulikan orang meremehkan alam pikiranku.

Kamu…

Mimpiku yang selalu jadi indah. Nyata yang selalu kutunggu. Entah kapan akan terwujud. Saat aku dapat terus dan terus menghabiskan waktuku bersamamu.

Kamu….

Maukah kamu tahu apa yang ku khayalkan??

Akan ku uraikan disini. Dalam rasa yang nyata. Senyata dirimu kelak.

Kubayangkan saat aku dan kamu menjadi sah. Bersentuhan dengan halal. Dalam sebuah mesjid atau rumah tempat bapakku menghabiskan waktu. Sederhana hanya kamu, aku, keluarga dan kerabat dekat. Tentu saja ada penghulu yang mengesahkan itu semua. Dengan lancar kau ucapkan nama lengkapku serta mahar, begitu lugas membuktikan kamu benar-benar menginginkan aku menjadi bagian dari hidupmu.

Selanjutnya kita akan jalan-jalan menyusuri pantai dengan telanjang kaki. Menyelam memandang ke dalaman laut. Pada sebuah pulau yang kamu tahu itu impianku. Lombok. Pada pantai sengigi atau giri terawang menjadi saksi sentuhan halalmu.

Selalu kubayangkan sentuhan kamu yang begitu lembut. Dengan sabar kamu membelai aku yang sedikit kaku, mungkin bukan kaku tapi dingin, karena rentang waktu yang begitu lama aku sendiri. Kamu mengusap kepala dengan penuh sayang, membelainya hingga ujung rambut sampai aku terbuai oleh kelembutan itu. Tak ada paksaan darimu untuk memadu kasih. Kamu akan dengan sabar menunggu aku hingga nyaman, hingga terbiasa dengan tanganmu menyentuh lekuk tubuhku. Dengan penuh cinta kau kecup dahiku, mataku, pipiku, hidungku hingga ke bibirku. Tanpa hasrat yang bergelora kamu melumat bibirku. Sekali kecup kamu pandang wajahku. Seakan aku ini boneka baru, kamu tatap aku terus hingga memerah wajahku.

Sentuhanmu yang lembut.

Dalam setiap keadaan dimanapun, aku tahu tanganmu akan selalu menggengam tanganku. Menuntun perjalanan kita.

Aku tahu

Kamu akan selalu sabar menungguku. Menungguku selesai bekerja. Menungguku bersiap diri bila akan pergi. Menungguku untuk membuatkan hidangan sederhana untukmu.

Kamu tahu

Aku bukan seorang perempuan yang pandai memasak. Bukan pula seorang perempuan yang pintar berdandan. Juga bukan perempuan yang rajin. Aku ini pemalas, mengerjakan sesuatu hanya bila aku ingin, bila aku mau. Kamu sabar menunggu kapan rasa inginku datang.

Dalam rumah yang akan kita huni akan selalu ada canda dan tawa. Rumah mungil dengan halaman yang kecil. Biarlah halaman itu kecil yang penting bisa menjadi tempat untuk bermain anak kita kelak. Anak, yang bila Tuhan izinkan untuk kita rawat. Rumah mungil yang hanya terdiri dari 2 kamar, ruang tamu yang disatukan dengan ruang keluarga, dapur kecil yang berhimpitan dengan ruang makan. Tempat kita untuk merajut hidup. Hanya kita. Tempat dimana kita belajar untuk menapaki jejak-jejak kehidupan hingga akhir hayat. Yah aku berharap dan selalu berdoa akan terus bersamamu hingga akhir hayat.

Sudah tentu tak selalu indah yang terjadi dalam hidup kita nantinya. Pasti akan selalu ada pertentangan.

Tapi kamu akan selalu sabar dalam diam menunggu emosiku teredam. Aku akan selalu mengusap punggungmu bila emosimu memuncak. Kita akan pergi ke dunia kita masing-masing bila pertengkaran yang terjadi cukup sengit. Tapi bukan berlari dari nyata yang ada, melainkan mengistirahatkan pikiran sejenak untuk pada akhirnya kembali saling tertawa.

Aku selalu membayangkan kita akan sering pergi bersama menghabiskan waktu berdua. Entah itu mencoba makanan baru, nonton ke bioskop, karoke berdua, berlomba-lomba mendapatkan nilai saat bernyanyi atau sekedar jalan-jalan memandang alam.

Aku…

Aku akan selalu memberi ruang dan waktu untuk dirimu. Untuk kamu melakukan hobimu. Untuk kamu membagi waktu dengan teman-temanmu.

Kamu…

Kamu akan selalu memberi ruang istimewa dalam rumah kita, untuk aku dapat diam, berkhayal dan menyendiri. Tenggelam bersama buku-bukuku. Tenggelam bersama film-film komedi romantisku.

Kita …

Akan selalu berbagi cerita.

Tak bisa aku lepaskan khayalan itu dari benakku. Khayalan yang indah bagiku. Tapi aku tahu semua itu hanya khayal yang tak akan terwujud. Semua hanyalah kesemuan. Cinta itu selalu ada di hatiku. Yang tak kumiliki hanyalah dirimu.

Itu semua akan selalu menjadi khayal.

Karena kamu memang tidak pernah ada.

Karena kamu hanya sebuah khayal yang ku selalu doakan agar Tuhan mengirimkan wujud nyatamu.