PALU dan TANGAN MUNGIL


Aku diam kamu diam. Sudah tidak ada kata diantara kita. Aku hampir lupa sudah berapa purnama diam menjadi rutinitas kita.
Aku pulang pukul 7 malam.
Kamu pulang pukul 8 malam.
Kita terlelap pukul 10 malam.

Tak ada cerita diantara kami, bahkan tak ada bahasa yang dapat memecahkan kesunyian. Aku frustrasi, kucubit anak kami karena geram padamu, kupelototi karena kesal padamu. Kurasa hanya palu hakim yang akan memecahkan sunyi bahasa diantara kami.

Senin pagi kali ini berbeda. Kami pergi seperti biasa, tanpa kata. Kami berjalan dengan tangan kecil yang menggenggam, tiba-tiba tangan kecil itu berubah ukuran. Aku menengok dan tanganmu tengah menggenggam tanganku, dan pemilik tangan kecil itu tersenyum penuh bahagia. Kami lupa ada tangan kecil yang membutuhkan kata.

“Maaf nak!” gumam kami secara bersamaan. Palupun diketuk tiga kali memecahkan sunyi selama ini.

Tasnya Hartanya


21:00

Seksama ia mengamati rumus matematika yang diberikan tadi pagi. Semenit kemudian ia tutup bukunya, beranjak ke luar rumah, ke bilik kecil mengambil air wudhu. Lima menit kemudian ia telah tunaikan sholat isya.

21:06

“Buka!” suara pintu digedor dengan kencang.
Ia gemetar. Ia sendirian. Ibunya sedang bekerja. Ia beranikan diri membuka pintu. Seketika laki-laki itu menerobos masuk.

“Mana Emak lo?!”
“Kerja Bang.”
“Eh anak lacur! Bilang emak lo, besok uang kontrakan kagak ada, lo berdua minggat dari sini! Dasar lacur sialan, bisanya ngutang!”

Pilu. Tak ada airmata yang mengalir. Ia meringkuk di tempat tidur dengan tas sekolah dalam dekapan.
“Ibu bilang tas ini hartaku. Masa depanku.” Gumannya sambil memejamkan mata.

02:00 Dini Hari

Sebuah tangan mengusap kepalanya. Ia membuka mata, melihat ibu sedang membuka pakaian seronoknya. Gincu yang mencolok. Bedak yang tebal. Ia sangat membenci itu.

“Bu, tadi Bang Jupri nagih lagi.”
“Dia bilang kalau ga bayar besok, kita harus pergi.”
“Ga dapat uang lagi, ibu sudah tidak laku, kalah sama yang muda.”
“Ayo nak, kemaskan barangmu. Jangan lupa tas sekolahmu itu hartamu!”
“Kita pergi sebelum Bang Jupri bangun.”

*Diikutsertakan dalam lomba flash fiction Blogfam & Multiply*

Hhhhmmmmm


Malam itu bintang begitu terang menerangi gelapnya malam. Beranda ini tempatnya untuk bercengkraman, berbagi cerita dengan sang kekasih hati. Tapi kali ini ia duduk sendiri memandang langit yang cerah. Taburan bintang tidak pun mampu menghapus kemuraman hatinya.

Tak sadar air matanya menetes. Menguraikan gejolak kesedihan hatinya. Rasanya baru kemarin ia duduk bersama sang kekasih. Mereka tertawa, mereka menyusun keping-keping masa depan yang akan diraih. Tapi malam ini ia terduduk sendiri berusaha untuk menyusun kembali kepingan masa depannya.

Malam itu adalah malam tragedi baginya. Malam menjelang hari pengantinnya. Keesokkan hari ia dan sang kekasih akan menjadi sepasang suami isteri yang berencana untuk memiliki dua orang anak yang lucu. Dengan biadab sang kekasih meninggalkan alter pernikahan. Malam yang penuh kegelisahan benar-benar mengelisahkan karena sang kekasih telah meninggalkannya. Raganya telah pergi pun demikian dengan rohnya. Hingga yang tertinggal hanyalah kenangan. Tak akan lagi ia bertemu, tak akan lagi ia bercengkraman. Semua sirna, semua hilang oleh sebuah takdir.