P.U.T.U.S


broken-heart1

“ Aku mau putus!”
“ Kenapa? “
“ Hubungan kita tidak mengalami kemajuan.”
“ Aku tidak merasa demikian.”
“ Aku merasa seperti jalan ditempat.”
“ Tidak mengerti aku dengan pernyataan kamu!”
“ Aaaaarrrggghhhh! “
“ Setiap bersama kita selalu penuh canda dan tawa, penuh dengan cerita satu dengan yang lain. Sampai teman-teman iri dengan hubungan kita yang begitu serasi dan indah. Dimana letak kesalahan itu sampai kamu minta putus?”
“ Kebiasaan dan keakraban kita tidak seiring sejalan dengan aliran pada hati ini. “ katanya menunjuk dadanya.
“ Kok bisa begitu sayang? Aku masih tidak paham. “
“ Aku bercerita padamu karena aku terbiasa berbagi cerita denganmu, aku bercanda dan tertawa karena itu kebiasaan kita. Terlebih itu karena kamu itu sungguh humoris. “
“ Tapi kamu selama ini nyaman kan dengan aku? “
“ Hhhhmmmm nyaman…… tapi perasaanku datar. “
“ Bukannya yang manusia lain mencari pasangan yang dapat membuatnya nyaman dan menjadi diri sendiri? “
“ Iya, tapi bagiku yang terpenting hati. Awalnya aku sangat suka padamu. Dada ini tidak berhenti berdetak setiap kali kamu menyentuh tanganku. Tapi lama kelamaan semua itu menjadi surut.”
“ Tidak selamanya perasaan yang mengebu-gebu itu akan hadir terus di dalam hati. Perasaan itu seperti keimanan ada pasang surutnya. Tapi bagaimana kamu menyikapi saat pasang surut itu. Jangan takut sayang hal ini normal dialami setiap pasagan, jangan kamu serta merta menginginkan putus. Kita bisa mencari solusinya. “
“ …. “
“ Aku sayang sama kamu. Aku ingin bersama kamu. Karena bersamamu selalu menyenangkan hatiku. “
“ Yah aku tahu kamu sayang sama aku, pun demikian aku juga sayang. Tapi perasaan ini tidak bisa lebih dari sayang. Tidak bisa meningkat menjadi cinta. “ Cinta itu teori belaka, rasa sayang itu yang lebih abadi. “
“ Tidak bisa. Aku tidak bisa mencintai kamu. “
“ Apa salahku? “
“ Karena rasa cinta mengalir begitu apa adanya tanpa mampu diatur oleh empunya hati. Dia akan tumbuh ataupun surut dengan sendirinya. Dan kamu bahkan aku tidak bisa memaksakan hati ini untuk terus mencinta. Bila ia meminta berhenti maka aku tak berdaya. “
“ … “
“ Jadi maafkan aku. Semoga kamu menemukan kebahagiaanmu yang lain. “

Salah satu dari pasangan itu beranjak dari bangku panjang itu. Ia langkahkan kakinya menjauh. Pedih hatinya ketika tahu bahwa memang benar ia tidak punya kuasa atas perasaan manusia, sekalipun terhadap orang yang sangat ia inginkan, sangat ingin ia miliki. Persetan dengan teori-teori orang mengatakan cinta dapat diatur. Ia hanya dapat diatur oleh sang pemiliknya yaitu Yang Maha Kuasa.

Ia hanya memandang punggung pasangan berlalu dan tak menengok ke belakang. Pasangannya telah serius memenuhi permintaannya untuk putus. Ada rasa sepi menghinggapi hati, tapi ia tahu ini akan menjadi yang terbaik. Karena ia tak mampu lagi memautkan hati. Bukan karena ia bukan yang terbaik tapi karena ia sendiri tak tahu mengapa. Ia hanya tahu bahwa ia tidak mampu memautkan hati.
Maaf