Mimpi


Hanya mimpi yang membuatku bertahan.
Bertahan untuk tak menitikan airmata
Bertahan untuk tak bunuh diri

Hanya mimpi yang membuatku tetap tersenyum
Menegukkan rasa pahit hingga terasa manis

****

Kuteguk cangkir kopi dihadapanku. Aku sudah lupa ini hari apa. Telah lama kutepis makna sebuah hari. Bagiku, bagi duniaku tak ada ubahnya senin, selasa atau sabtu. Setelah hampir 1 jam aku berkutat dengan keasyikanku sendiri, kuangkat sedikit kepalaku untuk melihat apa yang terjadi disekitarku. Ternyata coffee shop ini telah ramai. Seingatku, tadi hanya dua meja yang terisi dan menjadi tiga dengan aku yang duduk di salah sudut coffee shop ini. Meja-meja telah penuh dengan pasang muda mudi. Mata-mata penuh cinta bertaburan mengalahkan taburan bintang di langit. Aku iri? Ada sebersit rasa itu, karena aku duduk sendiri, di sudut yang tersembunyi hanya bersama secangkir kopi dan sepotong donat.

Aku pandangi gadget-gadget yang mungkin dapat membuat orang yang melihat menjadi iri. Karena semua model gadget berada di tanganku. Tertawa aku bila tanpa sengaja aku bertatapan dengan mata yang memandang iri. Dalam hati aku berkata, “untuk apa kalian iri, aku hanya bersama benda mati sedangkan kalian sedang bersama mahluk hidup dan yang lebih beruntung kalian sedang bersama yang terkasih.” Benda mati tak akan dapat disetarakan dengan mahluk hidup manapun. Apalagi disetarakan dengan orang yang dicintai. Tak ada kebanggaan bagiku dengan segala benda mati ini, ini semua hanyalah penggusir sepiku.

****

Aku dan kamu.

Begini rasanya berpisah darimu. Jiwaku seakan membeku. Tak akan aku sebut mati. Karena selalu ada cinta dan kasih pada sudut terpojok hatiku. Dia hanya membeku, terpagarkan, tersembunyi atau mungkin berkarat. Setiap hari yang aku bunuh adalah waktu. Waktu-waktu dimana aku menunggu kamu pada sebuah halte lalu beranjak menyusuri trotoar sekedar mencari jajanan kaki lima untuk mengisi perut.

Tanpa sadar aku dan kamu telah mengisi banyak sudut waktu bersama hingga lupa menghitung waktu yang hilang untuk orang lain. Fokusmu adalah waktuku. Fokusku adalah waktumu.

Seringkali aku mempertanyakan telah kubuang kah waktu-waktuku untuk kuhabiskan bersamamu? Hanya sebuah entah yang mampu aku jawab. Entah mengapa aku begitu rela memberi waktuku. Entah mengapa aku begitu menikmati ketika kita saling menyatukan waktu.

Dari awal, saat cinta itu bersemi dihatiku yang kutahu hanya waktu yang aku miliki darimu. Waktu yang mungkin hanya sehari, sebulan atau setahun. Waktu yang pada kenyataannya telah menjadi tiga tahun lebih mungkin. Aku tak pernah dapat memiliki kamu, memiliki masa depanmu, memiliki hidupmu. Sehingga tanpa kita sadari, kita hanya berpegang pada waktu untuk menyatukan bulir-bulir kasih yang mengalir tanpa mampu kita cegah. Berharap waktu yang akan memutuskan jalinan kasih itu. Berharap bila waktu itu tiba tak akan ada pedih menghampiri. Aku dan kamu.

Pada suatu sudut hidup kita berdua, tanpa kita sadari ada tali tipis yang menghubungkan sudut-sudut yang berjarak. Tali tipis inilah yang mempertemukan kita kembali. Menghadiri sebuah senyum dan tawa pada hari kita. Menitikkan air mata pada ketidakkuasaan aku dan kamu melawan kenyataan. Sering kumempertanyakan mengapa harus terhubung dengan kamu.

Mengapa ada sebuah tali tipis yang menghubungkan sudut-sudut bumi yang memperjarak aku dan kamu tanpa sebuah kabar, tanpa sebuah kata mengenal. Atau mengapa tali itu baru saja memperpendekkan jarak antara sudut hidupmu dan sudut hidupku. Mengapa tidak dulu, saat aku masih sangat ranum, saat kamu masih sungguh gagah.

Mengapa wajah kita baru bertemu saat kenyataan lain telah berada disisimu. Seribu…seribu tanya bahkan lebih dalam otakku yang mampu menggilakanku, mencabut akal warasku. Aku dan kamu. Tak ada jejak yang dapat kita pandangi, setelah waktu berhasil pelan-pelan memotong tali-tali itu, memperjarakkan aku dan kamu kembali, mengembalikan aku dan kamu pada sudut-sudut bumi yang tersembunyi satu dengan yang lain. Sudut yang melemahkan kemampuan penglihatan.

Jahatkah waktu?
Mungkin bagiku jahat. Bagiku waktu terlalu mengejek hidupku. Mencemoohkan perasaanku. Tapi mungkin bagi Sang Pemilik Alam, waktu adalah keadilan hidup.

Kejujuran dan jawaban bagi semua pertanyaan hidup. Aku menyerah. Hanya ada kata maaf dariku, karena aku tak akan mampu melawan waktu. Itu sama saja aku melawan badai nestapa hanya dengan bermodal perisai.

****
Aku dan Aku pada sudut hidup.

Wahai hatiku yang sepi. Apa kabar kamu? Semoga kamu masih sanggup untuk bertahan. Bertahan menikmati rasa sepi. Bertahan untuk mendingin tanpa suatu sentuhan kehangatan. Aku tidak bisa menjanjikan kapan penghangat itu hadir kembali. Bisa jadi esok ada sebuah tangan yang menyentuh kamu lagi, tapi mungkin 1 atau bahkan 3 tahun yang akan datang.

Wahai hatiku yang sepi. Maafkan aku. Maafkan aku yang seringkali salah mencintai orang. Salah memilih tangan yang menghangatkanmu. Salah memilih cinta untuk hadir menceriakanmu.

Hanya maaf yang dapat aku utarakan padamu. Karena aku tidak tahu lagi apa yang mampu aku lakukan untuk membuatmu tidak sepi lagi. Membuatmu hangat penuh cinta dan kasih.

Wahai hatiku yang sepi. Aku hanya dapat memberikanmu mimpi. Mimpi yang dapat membuat kita berdua masih memiliki senyum. Mimpi yang mampu membuat kita menikmati rasa pedih, perih dan sepi. Mimpi yang memberikan kita pengharapan baru setiap hari, meski di malam hari kita menemukan mimpi itu tak akan menjadi kenyataan pada hari ini, tapi dengan mimpi kita akan berharap untuk esok hari.

Wahai hatiku yang sepi. Mari kita saling menggenggamkan tangan agar bertahan. Mungkin waktu menunggu kita akan lebih lama dari sebelumnya. Mungkin kita tidak akan lagi bertemu dengan orang seperti dia yang benar-benar menghancurkan dingin dan sepinya kita berdua. Orang yang menyiramkan cinta dan kasih secara penuh meski dibatasi oleh waktu.

Wahai hatiku yang sepi. Aku mengajakmu untuk berdoa agar Sang Pemilik Alam mempercepat waktunya untuk kita bertemu dengan tangan yang menghangatkan itu.

****

Dari earplugku, terdengar lagunya Adele, Someone Like You. Kukemaskan semua gadgetku. Pulang adalah pilihan yang terbaik sebelum airmata ini menetes.

Never mind I find someone like you I wish nothing but the best for you “Don’t forget me,” I begged
“I’ll remember,” you said
“Sometimes it last in love but sometimes it hurts instead”

Gedung Itu


Matanya terus memandang ke arah gedung itu, bukan sebuah gedung bertingkat apabila lagi mewah. Bangunan itu hanya berlantai satu dengan ruang yang banyak. Laki-laki tanggung itu mendengus, seakan-akan hidup sudah sungguh sial baginya.

Ia sedang berbicara dengan pikirannya sendiri nampaknya. Dahinya mulai berkerut sepertinya pikirannya telah berkelana.

Aku itu iri sama mereka. Mentang-mentang tampangku bringas dan jorok, bukan berarti aku tidak ingin merasakan itu semua. Duduk didalam dengan tenang. Tertawa-tawa penuh keceriaan tanpa harus memikirkan penatnya kota. Berlari-lari mengitari gedung itu atau memanjat pohon mangga yang ada di halamannya. Mimpi di siang hari bolong kusebut itu semua.

Aku menyadari apa yang orang katakan kepadaku, masayarakat sampah. Tampang memang sudah selayak sampah apalagi bau tubuhku, menyengat bau busuk, ditambah daki-daki yang kian menempel erat dengan kulit legamku. Tapi bukan berarti aku tidak ingin seperti mereka. Bukan berarti aku puas dengan kebodohan otakku. Sungguh aku membencinya.

Ia merogoh sesuatu dari kantong celananya. Sebuah rokok ia sematkan diujung bibirnya. Entah siapa yang mengajarinya, mungkin awalnya ia hanya meniru orang dewasa, lalu coba-coba dan akhirnya terbiasa. Rokok racikannya sendiri, yang ia linting dari tembakau-tembakau sisa yang dibuang oleh orang-orang. Rasanya sudah tentu tidak karuan tapi itu cukup baginya. Sambil ia isap rokok lintingan matanya tetap terpukau pada gedung itu. Gedung yang bagi menyimpan harapan untuk bisa bermain.

Kampret emang orang-orang kaya. Aku cuman minta kemewahan yang ada di gedung itu. Buat mereka mungkin gedung itu mungkin membosankan, mungkin jauh dari kemewahan tapi bagiku sungguh mahal harganya.

Lamunannya terus bergulir dengan memaki terhadap hidupnya yang baru sejumput. Matanya mulai memancarkan amarah yang tak terarah. Memuakkan segala nasib yang tidak ia pilih. Baginya hidup menjadi tidak adil.

“Monyet!! Napa loe injek kaki?? Anjing!” Makinya terhadap seorang bocah yang melintas tanpa ia sadari.
“Loe yang anjing, setan! Siapa suruh loe taro kaki loe di jalan. Ngalangi orang mau lewat. Loe yang MONYET!” Bocah itu balas memaki.
“Tai!! Pergi loe sana! Loe beruntung gua lagi ga minat ngegebuk orang.”
“Loe yang tai, ngelamun aja gaya orang bego.” Balas bocah itu sambil berlalu.

Hidup baginya cukup keras. Di usianya yang masih tanggung, ia telah melihat banyak hal. Ia tidak sudah lupa untuk tertawa apalagi bermain. Ia hanya kenal tonjokan, hajaran dan makian. Semua orang berperan untuk memakinya, ada atau tiada kesalahan yang sudah ia lakukan.

Ia kembali menghisap rokok yang entah apa rasanya.


Mereka bilang aku belum pantas untuk merokok. Pernah suatu ketika ada seorang wanita yang memarahiku karena rokok ini. Padahal dia kenal aku pun tidak. Bahkan orang yang tak kukenalpun sibuk memakiku. Sial hidupku ini. Tapi rokok ini paling nikmat untuk temanku melamun, terutama saat aku memandang gedung itu. Peduli setan dengan makian orang yang mengatakan aku terlalu kecil untuk merokok, toh mereka bantu aku apa? Kasih aku makan? Kasih aku baju? Kasih aku uang Rp 1000 aja berat bagi mereka. Seringnya aku hanya mendapatkan lambaian tangan dan malamnya aku dapat lagi lambaian yang mendarat di pipiku dari bos dan bapakku, ditambah makian dari ibuku.

Ibuku memang bangsat. Dia cuman tahu buat anak. Anak sudah 5 saja, hampir setiap malam aku dengar desahan napsu. Sial memang ibu itu. Bahkan dia tidak tahu cara memberi aku makan. Aku disuruh cari makan sendiri dengan cara terserah. Tapi lebih setan bapakku, dia cuman tahu berjudi. Mana dia tahu cara buat aku untuk bisa baca, berhitung apalagi menyekolahkanku. Kerjanya seharian cuman minta uang setoran dari aku. Syukur kalau dia lagi rajin, dia akan pura-pura jadi orang cacat dan mengemis di lampu merah.

Padahal impianku sederhana, bisa masuk ke gedung itu dan duduk didalamnya. Aku tidak keberatan meskipun hanya satu tahun aku bisa ngerasakannya, tidak perlu sampai 6 tahun.

Tapi apa yang bapakku katanya. Kalau aku masuk di gedung itu nanti aku bpintar lalu aku akan jadi koruptor. Persetan jadi koruptor toh tidak akan masuk penjara tetapi masih hidup penuh kemewahan. Bapakku itu memang tolol, mana ada koruptor yang dipenjara lama-lama. Justru yang diuber-uber kamtib itu pengemis. Boro-boro dapat sel mewah, yang ada digebukin.

Rokok di tangannya telah habis, ia masih sibuk dengan lamunan matanya masih belum lepas dari gedung itu.

“Eh anak monyet!! Loe jangan ngelamun mulu, kerja lo! Awas kalau setoran lo kurang!” Teriak seseorang padanya. Orang yang ia sebut bos.

Dengan enggan ia berdiri dari balok yang sedari tadi ia duduki. Ia harus mencari uang kalau ia tidak mau digebuk si bos atau bapaknya.

Secarik Kertas


Hai kamu, boleh saja sudah lama kita saling menyapa, saling berpapasan, saling berbicara, tapi pembicaraan kita kali ini rasanya sungguh berbeda

Sederhana saja yang ada dibenakku, yaitu aku mulai memperhatikanmu. Kapan itu dimulai? Aku tidak tahu. Sedetik yang lalu? Aku rasa itu sangat berlebihan. Dapat aku pastikan aku memperhatikanmu bukan nanti atau esok tapi mungkin kemarin lalu dan sudah pasti hari ini. Aku sendiri bingung dengan keinginan untuk memperhatikanmu, ingin menemuimu. Sehari saja tidak berbincang denganmu meski sejenak rasanya hariku menjadi tidak lengkap.
Bolehkah aku menyatakan aku suka padamu?

Ginsha menemukan secarik kertas di mejanya, dengan wajah kebingungan ia membaca baris-barisnya tulisan yang membuatnya tersipu malu. Wajah lugu tersipu malu terpancar hingga membuat orang yang melihatnya langsung memandang heran.

“Napa muka lo tiba-tiba merah gitu Sha?” tanya Nisa sembari lewar di depan kubikel Ginsha.
“Kagak ade ape-ape, biasa aja.” tegas Ginsha yang langsung berusaha menutupi raut wajah tersipunya.

Setelah ia merasa tidak ada lagi orang yang memperhatikan, ia kembali membaca secarik kertas. Ia sedang membayangkan siapa gerangan yang meletakkan kertas ini di mejanya. Berkali-kali ia membaca, tulisan pada kertas itu jelas bukan puisi, bukan pula sengaja, bukan pula sekedar tulisan iseng tak bermakna. Atau mungkin kertas ini bukan ditujukan untuknya. Mungkinkah sebuah ketidaksengajaan kertas ini tergeletak begitu saja di atas meja. Akhirnya setelah isi kertas itu bermain-main di benaknya ia memutuskan bahwa kertas ini bukan untuknya.

Ia kembalikan konsentrasinya pada tumpukkan kertas dihadapannya. Ia berusaha keras mengabaikan pikirannya dari secarik kertas tersebut. Pikirannya pun melayang,
“Andai kertas itu ditujukan kepadaku, pastinya orang tersebut romantis.”
“Tidak tahukah ia bahwa belum ada orang yang menyatakan perasaannya sesederhana dan segamblang ini”
“Andai pertanyaan itu untukku, aku bersedia untuk disukai.”

****

Tinto tak bisa berkonsentrasi kerja, pikirannya ,melayang ke kubikel yang berada di ujung kantor ini. Rasanya sungguh jauh kubikel itu. Dia sibuk menduga-duga apakah gadis berkerundung yang imut itu sudah membacanya? Dari tadi ia salah menjawab pertanyaan atasannya, semua jawabannya tidak nyambung, masih syukur kerjaannya tidak berantak.

Gadis berkerudung yang belakangan ini menjadi pusat perhatian pikirannya. Awalnya tidak pernah ia terpikir tentang gadis itu, baginya gadis itu hanyalah sebatas rekan kerja. Tapi yang ia heran kenapa orang-orang sekantor menjodoh-jodohkan dia dengan gadis itu. Mungkinkah gadis itu menyukainya.

Beberapa kali ia mencoba untuk menghampiri, sekedar mencari tahu apakah gadis itu memiliki ketertarikkan padanya, akan tetapi ia tidak menemukan tanda-tanda tersebut. Mungkin ia saja yang merasa terlampau GeRe. Rasa penasarannya yang mendorongnya hingga ia sampai saat ini kerap menghampiri. Sekedar pura-pura menanyakan pekerjaan, sekedar pura-pura lewat lalu menyapa, bilamana ia beruntung ia bisa mengobrol sedikit lebih lama 5 atau 10 menit cukup lama untuk dilakukan disela-sela pekerjaan.

Tetapi buah penasaran itu berkembang lebih dari yang ia harapkan, ada rasa yang kuat untuk menghampirinya. Ada semangat baru untuk menjelang pekerjaan yang membosankan. Ada yang kurang bila gadis itu tidak masuk kerja.

Akhirnya semalam Tinto memutuskan untuk menuliskan sedikit perasaannya pada gadis itu, hanya untuk mengetahui reaksinya. Sudah terlewat kuno di zaman yang serba teknologi ini menyatakan perasaan melalui surat, bila secarik kertas itu dapat dikatakan surat. Tetapi ia bingung hendak memulai dari mana, gadis itu terlalu cuek dan sibuk dengan dirinya sendiri.

Tinton beranjak dari kursinya, ia menghampir gadis itu, Ginsha. Ia harus mencari tahu reaksi Ginsha setelah membaca secarik kertas yang tadi pagi ia tinggalkan diatas meja. Beruntung tadi saat hendak meletakkan tidak ada siapa-siapa di sekitar kubikel Ginsha, jadi ia bebas meletakkan kertas tersebut.

“Hey Mba, serius amat kerjanya?” tanya Tinto mengejutkan Ginsha.
“Ah kagak, bukannya gua biasa kerja serius.”
“Bener-bener pegawai yang baik.”
“Hihihihi.” tawa renyah Ginsha membuncah dibenak Tinto.

Matanya mengawasi meja kerja Ginsha, mencari-cari secarik kertas yang ia letakkan. Ia tidak menemukan, mungkinkah Ginsha sudah membacanya. Tinto bingung bagaimana menanyakan kertas tersebut.

“Mba, lo liat ada kertas ga disini tadi?” Tinto memberanikan diri bertanya.
“Kertas apaan To?”
“Kertas kecil gitu deh, tapi ga sengaja ketinggalan waktu gua minjem pulpen dari meja lo.”
“Emang isinya apa?” Ginsha mulai deg-degan, apakah secarik kertas itu yang dicari Tinto. Apakah Tinto pemilik kertas tersebut.
“Puisi-puisi norak gitu deh.”
“Jeileb” mendadak hati Ginsha cenat cenut. Tiba-tiba lagu Sma*sh bernyanyi-nyanyi di otaknya.

Ginsha sibuk berpikir apakah perlu ia berikan kertas itu dan mengatakan bahwa ia membaca. Kalau kertas itu bukan untuknya sungguh malu ia tadi sudah merasa berbunga-bunga saat membacanya. Kalau kertas itu dituju untuknya sungguh Tinto bukan orang yang ia harapkan untuk menuliskan kata-kata sederhana itu.

“Yee si Mba malah bengong, lihat ga?” kata Tinto membuyarkan lamunannya.

Akhirnya ia memutuskan untuk mengembalikan kertas itu.

“Ga nyangka yah lo puitis juga?”
“Masa sih segitu puitis? Lo dah baca dong?”
“Maaf yah gua baca tadi habisnya gua ga tahu itu kertas punya siapa.” kata Ginsha sembari mengambil kertas tersebut dari tasnya.

“Ginsha meletakkan kertas itu kedalam tas, berarti dia suka dengan tulisan pada secarik kertas tersebut.”

“Nih, kertas lo.”
“Makasih yah, mau gua kasih ke orangnya. Tapi bagus ga tulisannya.”
“Bagus kok.”

Dengan mantap dan penuh keyakinan serta keberanian yang berlipat ganda, Tinto menyodorkan kertas itu kembali ke Ginsha.

“Ini buat lo aja Sha.” Ia lupakan embel-embel “Mba” yang biasa ia gunakan untuk menyapa Ginsha yang memang lebih tua sedikit darinya.
“Loh kok dikasih lagi ke gua?” Ginsha jadi bingung. Padahal ia telah berusaha keras menutupi kekecewaannya karena kertas tersebut diambil oleh pemiliknya dan bukan dituju untuknya.
“Emang buat lo kok, gua cuman mau memastikan aja lo dah nerima dan baca.”

Ginsha diam seribu bahasa, entah apa yang akan ia utarakan. Tiba-tiba wajahnya memanas dan ada getaran aneh yang menghampiri hatinya.

“Udah jangan bengong aja, gua tunggu balasannya.” Kata Tinto sembari berlalu meninggalkan Ginsha yang hanya terbengong-bengong.

*********************************************************************************

#Tulisan ini saya bersembahkan untuk teman saya yang baru memadu cinta. Semoga kamu bisa merasakan indahnya cinta, manisnya rindu, cerianya tawa bersamanya, sampai akhirnya kalian bisa bertahan dalam senang, kesel, cinta, sayang, dongkol, sebel hingga pelaminan bahkan hingga tua. Seperti yang saya bilang ke teman saya, saya tidak akan memberikan selamat seperti orang lain, tapi saya berikan tulisan ini. Karena kamu teman, mengelitik pikiran liarku untuk bercerita#

Cinta itu Selalu Ada


Masih terbayang kisah yang dituliskan oleh Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi yang ia baca semalam. Ingatan Alexandria mendadak tertancap di sebuah pulau di Sumatera, pulau Belitung. Masa kecil yang ia habiskan disana, bersekolah di sekolah PN Timah. Alexandria termasuk golongan anak yang beruntung karena dia anak staff. Terukir senyum dihatinya mengingat cerita Andrea yang termasuk golongan anak kampung memandang ia sebagai salah satu anak staff PN yang disebut anak gedong. Begitu syahdu gambaran tentang anak PN yang selalu hidup dalam protokoler dan kemewahan. Apakah demikian?

Pagi itu saat kesadarannya sedang ia kumpulankan matanya menemukan sebuah wajah yang hanya beberapa senti dari wajahnya. Mata yang polos tengah memandangnya, membuat ia segera terjaga untuk memandang wajah tersebut, wajah Bilbila, yang biasa dipanggil Bila. Bila adalah permata hatinya. Kesadaran yang selalu membangunkan dia di pagi hari yang kurang memberi semangat. Saat itu Bila membangunkannya dengan sebuah sapaan ringan menyejukkan.

“Ma, bangun aku sudah mau berangkat sekolah.”
“Sudah siap Bil? Coba mama lihat dulu tasnya buku-buku kamu sudah masuk semua?” dengan mata yang masih terasa berat dia tetap semangat untuk memeriksa tas Bila agar tidak ada yang tertinggal. Bilbila adalah anak satu-satunya Alexandria.
“Bekalnya sudah dibawa?”
“Sudah ma, berangkat dulu yah.” Kata Bila seraya mencium tangan Alexandria.
Ada getaran yang hangat yang mengalir di hati, yang memberi semangat untuk bersiap diri berangkat kerja. Mengumpulkan rezeki supaya dapat memenuhi seluruh kebutuhan anaknya yang terkasih.

Sebagai seorang karyawati yang seringkali memaksanya keluar kota, Alexandria tidak dapat selalu mendamping setiap langkah buah hatinya, mengajari setiap kesulitan soal-soal yang diberikan gurunya. Bibila adalah anak yang cerdas, mandiri dan peka terhadap keadaan. Besar pengertiannya melihat ibunya terlalu sibuk dengan pekerjaaan untuk sekedar membantu perekonomian keluarga. Bila, tidak pernah keluar dari ranking 5 besar. Sebagai seorang ibu, Alexandria sangat bangga dengan prestasi Bila. Tanpa disuruh pun Bila sudah belajar dengan sendirinya.

Perlahan Alexandria mengangkat tubuhnya dari ranjang untuk bersiap-siap kerja. Ada momen yang selalu tidak ingin ia lewatkan yaitu mengantarkan Bila berangkat ke sekolah meskipun hanya sampai pagar, karena setiap hari Bila menggunakan antar-jemput. Memandang wajah polos yang mengukir sebuah senyum di bibir itu membuat hati sang ibu semangat dan melupakan kerewetan keadaan kantor yang seringkali menahan langkah kakinya untuk beriap bekerja.

Alexandria bukanlah orang tua tunggal, tetapi telah disepakati dari awal ia bersama sang suami saling bahu membahu mencukupi kebutuhan keluarga. Suami yang ia nikah bukan karena cinta. Kalau bukan karena cinta, ia menikah karena apa? Menikah karena pikiran logis bukan karena cinta yang mengebu-gebu. Alexandria sudah tidak yakin masihkah ada ruang hatinya yang tersisa untuk kata cinta. Setelah 15 tahun menikah cinta itu tidak pernah ada. Cinta selayaknya bunga yang merindukan kumbang. Cinta yang bergelora. Dari dulu tidak pernah ada. Yang tersisa di relung hatinya hanya mencintai secara logika.
Menapaki langkah-langkah kakinya dalam kenyataan.

Cinta Alexandria telah ia berikan kepada orang yang jauh lebih berhak. Cinta pertama dan terakhir baginya, dan itu bukan suami saat ini. Pilihan Alexandria jatuh untuk menikah karena ia tahu pria ini yang akan menerima dia apa adanya, yang akan menyayanginya meskipun ia tahu di dalam ruang hati Alexandria tidak ada lagi tempat untuk kata cinta itu sendiri.

Dalam lompatan waktu menuju masa lalu, Alexandria tidak pernah menyangka akan memiliki sebuah keluarga. Meskipun hanya sebuah keluarga kecil dengan hanya memiliki satu anak. Akan tetapi Tuhan telah mentakdirkan dirinya di luar akal yang mampu ia terjemahkan.

Setelah kepergian Roland, cinta pertama sekaligus terakhir, Alexandria tidak yakin ia dapat mencintai orang lain. Telah dia berikan keseluruhan cinta dan kasihnya untuk Roland. Semua terasa beku dan dingin bersama kepergian sang kekasih hati. Matanya hanya mampu menghamparkan logika dan realita kehidupan. Layaknya mayat yang memiliki raga, Alexandria mengisi kesehariannya, hidupnya tanpa jiwa, tanpa rasa. Seakan terhempas dalam hamparan lumpur saat menggenggam tangan Roland untuk terakhir kalinya. Perlahan terasa hangat tubuh Roland menguap ke angkasa. Hanya doa yang dapat terucapkan saat itu dan bersama itu pun Tuhan meniupkan keikhlasan dalam hati. Roland telah membawa cintanya pergi tapi ia harus tetap melanjutkan hidup di muka bumi ini. Pikiran itu yang terlintas dengan jelas bersamaan dengan kepergian rasa hangat tubuh Roland.

Alexandria merasa tidak mampu lagi untuk bernafas dalam menyambung hidup yang Tuhan belum akhiri untuknya. Semua hidup itu telah ia curahkan tanpa sisa. Bahkan rahasia terbesar hidupnya telah ia kupas dan bongkar dihadapan Roland. Roland yang telah membangun dirinya, jiwanya, batinnya serta kepercayaan dirinya. Membangkitkan ia dari sebuah kisah masa kecil yang terjadi di Pulau Belitung. Indahkah masa kecilnya sebagai anak gedong, bersekolah di sebuah sekolah percontohan dengan guru-guru yang terbaik serta mendapatkan makanan-makanan terbaik yang didatangkan dari Jakarta?

Benar adanya Alexandria tinggal di sebuah rumah di atas bukit yang bak sebuah istana. Rumah yang begitu luas dengan menara diatasnya, setiap ruang memiliki fungsi sendiri, bahkan kamar untuk pembantu rumah tangga terpisah dari rumah induk. Rumahnya pun memiliki sebuah guest house untuk tempat sanak saudara apabila mereka berkunjung. Begitu luasnya rumah itu hingga ibunya tidak selalu dapat mengawasi setiap gerak gerik langkahnya. Membuat Alexandria harus memiliki masa kecilnya yang suram untuk selalu ia tutupi dihadapan para keluarga. Oleh seorang sepupu yang sangat disayang oleh ayah. Seorang anak lelaki yang dirawat oleh ayah agar ia memiliki keturunan lelaki yang berdasarkan adat sangat diagungkan. Alexandria mengalami pelecehan sexual saat berusia 6 tahun. Ketika itu dia tidak mengerti apa yang sepupunya lakukan terhadapnya, ia pikir ini hanya sebuah permainan belaka. Saat mulai akan beranjak akhil baliq ia paham bahwa keperawanannya telah terenggut. Mereka pikir Alexandria begitu bangga dapat berjalan dalam iring-iringan pawai anak sekolah PN yang disaksikan oleh seluruh masyarakat yang ada di Pulau Belitung. Sepertinya tidak, kepalanya tertunduk tajam ke lapisan bumi, bagai rumput putri malu yang ketika disentuh akan menutupi diri. Dia tidak sebangga yang anak-anak kampung itu pikirkan.

Apa arti seorang perempuan yang hilang keperawannya, terniang gema suara ibu Alexandria dalam kepalanya.

”Apa arti aku?Karena aku sudah tidak perawan sejak aku sendiri belum mengenal kata perawan. Belum mengenal selaput darah. Apalah artinya aku?”

Roland yang serta merta membangun kepercayaan diri itu kembali, mengangkat dia menjadi manusia yang dapat mencintai orang lain, belajar untuk menjadi seorang perempuan yang hangat. Bukan perempuan yang kelaki-lakian, yang selalu memasang wajah waspada menghadapi apapun. Bagai seorang pemahat, Roland memahat Alexandria menjadi dirinya yang sekarang.

Salah satu keajaiban hidup itu adalah kehadiran Bilbila. Untuk menghadirkan Bila di muka bumi ini bukanlah tugas yang gampang. Sebelum Bila hadir, keguguran demi keguguran harus ia alami. Hingga tidak ada lagi harapnya untuk memiliki keturunan. Sekali lagi Tuhan berkata lain. Bila hadir dalam hidupnya. Bila hadir setelah Tuhan mengemblengnya dengan berbagai cobaan untuk mengajarkan kembali arti cinta dalam hidup. Mengajarkannya jauh dari sebuah keputusasaan. Membuatnya semakin kuat untuk merawat sang buah hati.

Tak terasa 10 tahun telah terlewati dengan kehadiran Bila disisinya. Menemani hari-harinya mulai dari dia belum dapat membuka matanya hanya mampu menangis, mulai belajar bicara mengeluakan kebawelanya hingga sekarang saat ia sudah semakin dewasa, dan tumbuh menjadi anak yang penuh pengertian. Hari demi hari cinta itu terus bertambah meyakinkan dirinya bahwa dalam hidupnya ada dua cinta yang ia simpan baik-baik. Cinta yang merupakan hadiah Tuhan. Karena tidak semua orang memiliki seseorang yang akan membawa cinta dia terhadap diri kita hingga mati, tanpa diduakan, tanpa perlu berjuang untuk mempertahankannya, tanpa ada perdebatan yang panjang dalam cinta itu sendiri.

Ayah Bila, bukanlah suami pertamanya. Roland orang yang sangat dia cintai yang pertama kali menikahinya. Membawanya ke pelaminan, sebagai orang pertama yang mengantarkannya kedalam kehidupan yang nyata. Hanya dalam kurun waktu satu bulan keindahan itu dapat diukir. Saat ia masih terbuai oleh keindahan cinta yang seutuhnya semua terenggut oleh takdir Tuhan yang memanggil Roland ke peraduanNya. Cintanya telah dibawa hingga akhir hayat tanpa dibagi, tanpa diduakan, tanpa disangkal.

Bila adalah malaikat cintanya setelah ia kehilangan Roland, yang akan memberi senyum di hari tua. Cinta kedua yang juga tak akan terbagi, terkhianati dan terenyahkan.

Kriinnggg….
“ Ma, nanti pulang kantor jam berapa? “
“ Sebentar lagi kok Bila. “ seraya Alexandria mengarahkan pandangan matanya ke jam yang terpajang di mejanya yang waktu menunjukkan pukul 17.30, waktunya untuk pulang kantor.
“ Bila sudah makan? Di rumah makan apa? “
“ Belum, mau nunggu mama aja. Aku ada PR nih, nanti bantuin yah. “
“ Iya, ntar lagi mama pulang kok. “

Telepon pun ditutup, menyegerakan Alexandria untuk merapikan semua dokumen lalu mengangkat tas untuk beranjak pulang. Dirumah ada sang buah hati yang memerlukan bantuan. Ternyata cinta itu selalu akan ada tidak akan hilang hanya tergantikan.

“Dulu Roland yang telah membawa cintaku hingga terkubur bumi, akan aku pastikan yang harus membawa cinta Bila dalam kuburan lapisan tanah adalah aku, jangan sampai aku pun kehilangan cinta itu lagi. Karena ku tak tahu ku akan mampu.”

*Teruntuk seseorang yang banyak mengajarkan tentang kehidupan ini. Ketabahan dan kekuatan diri.*

Khayal


imagesKamu…..

Aku selalu memimpikan untuk hidup bersamamu. Mimpi yang tidak terlalu muluk. Saat ku jelang waktu tidurku ku sempatkan untuk mengkhayal saat hidup bersamamu. Bagiku ini adalah khayal sederhana yang dapat dijadikan nyata. Tak kuperdulikan orang meremehkan alam pikiranku.

Kamu…

Mimpiku yang selalu jadi indah. Nyata yang selalu kutunggu. Entah kapan akan terwujud. Saat aku dapat terus dan terus menghabiskan waktuku bersamamu.

Kamu….

Maukah kamu tahu apa yang ku khayalkan??

Akan ku uraikan disini. Dalam rasa yang nyata. Senyata dirimu kelak.

Kubayangkan saat aku dan kamu menjadi sah. Bersentuhan dengan halal. Dalam sebuah mesjid atau rumah tempat bapakku menghabiskan waktu. Sederhana hanya kamu, aku, keluarga dan kerabat dekat. Tentu saja ada penghulu yang mengesahkan itu semua. Dengan lancar kau ucapkan nama lengkapku serta mahar, begitu lugas membuktikan kamu benar-benar menginginkan aku menjadi bagian dari hidupmu.

Selanjutnya kita akan jalan-jalan menyusuri pantai dengan telanjang kaki. Menyelam memandang ke dalaman laut. Pada sebuah pulau yang kamu tahu itu impianku. Lombok. Pada pantai sengigi atau giri terawang menjadi saksi sentuhan halalmu.

Selalu kubayangkan sentuhan kamu yang begitu lembut. Dengan sabar kamu membelai aku yang sedikit kaku, mungkin bukan kaku tapi dingin, karena rentang waktu yang begitu lama aku sendiri. Kamu mengusap kepala dengan penuh sayang, membelainya hingga ujung rambut sampai aku terbuai oleh kelembutan itu. Tak ada paksaan darimu untuk memadu kasih. Kamu akan dengan sabar menunggu aku hingga nyaman, hingga terbiasa dengan tanganmu menyentuh lekuk tubuhku. Dengan penuh cinta kau kecup dahiku, mataku, pipiku, hidungku hingga ke bibirku. Tanpa hasrat yang bergelora kamu melumat bibirku. Sekali kecup kamu pandang wajahku. Seakan aku ini boneka baru, kamu tatap aku terus hingga memerah wajahku.

Sentuhanmu yang lembut.

Dalam setiap keadaan dimanapun, aku tahu tanganmu akan selalu menggengam tanganku. Menuntun perjalanan kita.

Aku tahu

Kamu akan selalu sabar menungguku. Menungguku selesai bekerja. Menungguku bersiap diri bila akan pergi. Menungguku untuk membuatkan hidangan sederhana untukmu.

Kamu tahu

Aku bukan seorang perempuan yang pandai memasak. Bukan pula seorang perempuan yang pintar berdandan. Juga bukan perempuan yang rajin. Aku ini pemalas, mengerjakan sesuatu hanya bila aku ingin, bila aku mau. Kamu sabar menunggu kapan rasa inginku datang.

Dalam rumah yang akan kita huni akan selalu ada canda dan tawa. Rumah mungil dengan halaman yang kecil. Biarlah halaman itu kecil yang penting bisa menjadi tempat untuk bermain anak kita kelak. Anak, yang bila Tuhan izinkan untuk kita rawat. Rumah mungil yang hanya terdiri dari 2 kamar, ruang tamu yang disatukan dengan ruang keluarga, dapur kecil yang berhimpitan dengan ruang makan. Tempat kita untuk merajut hidup. Hanya kita. Tempat dimana kita belajar untuk menapaki jejak-jejak kehidupan hingga akhir hayat. Yah aku berharap dan selalu berdoa akan terus bersamamu hingga akhir hayat.

Sudah tentu tak selalu indah yang terjadi dalam hidup kita nantinya. Pasti akan selalu ada pertentangan.

Tapi kamu akan selalu sabar dalam diam menunggu emosiku teredam. Aku akan selalu mengusap punggungmu bila emosimu memuncak. Kita akan pergi ke dunia kita masing-masing bila pertengkaran yang terjadi cukup sengit. Tapi bukan berlari dari nyata yang ada, melainkan mengistirahatkan pikiran sejenak untuk pada akhirnya kembali saling tertawa.

Aku selalu membayangkan kita akan sering pergi bersama menghabiskan waktu berdua. Entah itu mencoba makanan baru, nonton ke bioskop, karoke berdua, berlomba-lomba mendapatkan nilai saat bernyanyi atau sekedar jalan-jalan memandang alam.

Aku…

Aku akan selalu memberi ruang dan waktu untuk dirimu. Untuk kamu melakukan hobimu. Untuk kamu membagi waktu dengan teman-temanmu.

Kamu…

Kamu akan selalu memberi ruang istimewa dalam rumah kita, untuk aku dapat diam, berkhayal dan menyendiri. Tenggelam bersama buku-bukuku. Tenggelam bersama film-film komedi romantisku.

Kita …

Akan selalu berbagi cerita.

Tak bisa aku lepaskan khayalan itu dari benakku. Khayalan yang indah bagiku. Tapi aku tahu semua itu hanya khayal yang tak akan terwujud. Semua hanyalah kesemuan. Cinta itu selalu ada di hatiku. Yang tak kumiliki hanyalah dirimu.

Itu semua akan selalu menjadi khayal.

Karena kamu memang tidak pernah ada.

Karena kamu hanya sebuah khayal yang ku selalu doakan agar Tuhan mengirimkan wujud nyatamu.