Kita Pernah Tertawa Sahabat….


Telah kutemani dia beberapa waktu lalu melewati pahit hidup. Telah kutemani dia beberapa waktu lalu memuntahkan kegelisahan hatinya. Telah kutemani dia beberapa waktu lalu membangkitkan kembali semangatnya.

Bersama kami pernah terlibat begitu banyak tawa. Bersama kami pernah terlibat begitu banyak canda. Bersama kami saling berkeluh kesah. Bersama kami telah saling menyemangati.

Tersadar pun oleh diriku. Dunia tak berhenti pada suatu titik kebersamaan. Ada kalanya tali itu mengendur hingga saling terjauhkan. Ada kalanya tali itu saling mengerat hingga tak terpisahkan.

Saat aku jauh, tidak pernah kusebut dia bukan temanku lagi. Saat aku bersama kehidupanku yang lain tetap kunyatakan dia temanku. Teman yang memang begitu adanya. Tak kucela dia karena memang dia telah begitu. Tak kuhina dia karena memang dia begitu. Terkadang perkataannya menyakiti tapi kubiarkan karena kusebut dia teman. Terkadang polah tingkahnya mengganggu dan mengusik, tapi kubiarkan karena aku tak ingin mengubah dia. Kubiarkan dia terbang kesana kemari dalam kehidupan pertemananku. Kubiarkan dia menjadi dirinya dihadapanku. Tak ada sedikitpun niat untuk menggantikan sosok dia dengan teman yang lain. Tak ada sedikitpun niat untuk menggubah dia dengan sifat yang baru.

Tapi segala sesuatu itu ada masanya. Segalanya ada waktu sendiri. Segalanya ada jenuh.

Namanya Cello.

Hari ini, aku duduk di sebuah café yang biasa aku dan Cello datangi, sekedar untuk bertukar cerita. Sekadar untuk membagi keunekan di pikiran. Tapi hari ini aku duduk sendiri. Aku tidak protes saat dia tidak ada lagi waktu untuk bersamaku. Aku sadar segala kesibukan dan rutinitas baru telah mengubah banyak hal. Mengubah waktu untuk bersama. Mengubah rasa yang pernah ada. Tapi tidak pernah aku tidak menyebutnya temanku.

Terkenang aku akan obrolan yang lalu. Beberapa bulan yang lalu saat dia bercerita tentang pria-pria yang mendekatinya. Dalam pandanganku, sungguh beruntung temanku ini masih dikasih begitu banyak pilihan. Tuhan Maha Baik padanya. Setelah ia melewati sebuah kekecewaan yang mengguncang pikirannya tentang cinta, Tuhan masih memberikan pilihan. Diantara orang-orang yang mendekatinya tidak ada yang tidak sayang dan baik padanya. Tapi komentarnya membuat saya terperanjak.

“ Pilihan lo bilang? Pilihan apa itu? Yang seperti itu lo bilang pilihan?”
“ Emang lo mau cari yang seperti apa?”
“ Yang terbaik. Gua berhak untuk mendapatkan yang terbaik.”
“ Oke, lo lihat Dudi kurang baik dan sabar apa dia sama lo. Lo cuekin, lo gak ajak ngobrol dia tetap baik dan tulus sama lo. Tetap setia menjemput lo kapan pun dan selalu mengantarkan lo ke kantor, padaaahhhaallll lo tau kan dia baru tidur jam 3. Masih kurang baik? “
Cello mulai mau angkat bicara dengan segala teori dia dan kekerasan hati dia.
“ Eits, lo mo bilang dia lebih muda dari lo, lo ga ada feeling? Lo pantas orang yang lebih baik dari itu?“
“ Iya. Gua udah berusaha tapi feeling itu tetap gak ada. “
“ Lo gila apa?? Hati lo ditaruh dimana? Atau lo buta? “
“ Ini mata gua. Tapi kan hati tidak bisa dipaksakan. “
“ Oke, terus napa lo tetap nyari dia, kenapa lo mau aja dipeluk ama dia, dan napa lo mau aja ciuman ama dia. “
“ Yah gua pengen ciuman aja. “
“ Sinting! Itu hati manusia Cel. “
“ Terus gua harus gimana ?”
“ Au ah terserah lo. Suka-suka lo hidup-hidup lo. “

Aku hanya mampu menghelakan nafas. Bertanya mengapa teman yang ada dihadapanku ini begitu keras hati. Dia terlalu bangga dengan kekerasan hati dia. Padahal dia tahu dunia tidak akan mengalah untuk dia. Menurut pendapatku, dia telah salah meletakkan prinsip.

Aku mulai merasa capai mengurusi permasalahan dia. Seringkali aku harus mengalah atas kekerasan sifatnya. Aku mulai jenuh. Sudah sering aku mencoba menggelitik dia agar mengubah sifatnya. Lebih meletakkan empati dalam hati. Lebih memandang orang lain tidak hanya dirinya mulu. Jangan skeptis dan porno terhadap orang lain. Tapi semua dibantahkan secara teori. Oke, dia telah memiliki pemahaman itu semua tapi hanya secara teori, secara pendapat, secara tulisan dia mampu berbicara tentang hidup. Tapi dalam prakteknya sendiri dia tidak menjalankan teori-teori itu.

Aku ini hanya seorang manusia biasa yang adakalanya lelah, dengan kehidupanku sendiri. Saat seperti itu, rasanya ingin memiliki sahabat yang mau mengerti, bahwa cerita dia telah mengusik pikiranku. Perkataan dia telah menyinggung hatiku.

Aku hanya ingin memberi ruang untuk diriku sendiri. Dan tentu untuk dia. Agar dia bisa melihat kehidupan lain selain bersamaku. Aku ingin dia berteman dengan orang lain yang mungkin tidak memiliki tingkat toleransi sepertiku. Agar dia lebih belajar bahwa hidup itu tidak hanya dia. Kesusahan dan kepahitan bukan hanya milik dia. Mengubah prinsip, melunakkan hati sendiri dapat membantunya memenangkan dunia.

Aku sedih melihatnya. Tapi aku tahu aku sudah tidak mampu lagi membantu. Karena kemampuanku terbatas.

Ingin aku sampaikan pesanku untuk teman, sahabatku Cello…

“ Sampai kapanpun kamu masih akan selalu teman, tak akan pernah kusebut kamu bekas teman selayaknya bekas pacar. Aku tidak akan pergi dan meninggalkan kamu. Kapanpun, dimanapun kamu datang pintu itu akan selalu terbuka. Aku hanya sedang membiarkan kamu menikmati teman yang lain. Aku hanya sedang menikmati ruangku sendiri. Tapi pintu ini selalu terbuka untuk seorang teman yang ingin menggapaiku.
Maafkan aku sudah tidak mampu menemani kesedihan dan kegelisahan kamu yang tak pernah usia. Bukan karena aku sudah tahu bahagia bagiku apa sehingga tak mau mendengar kesusahan. Karena ternyata seberapa keras aku membantu, hanya dirimu sendiri yang mampu nolong. “

Temanku….
Semua ada waktunya
Sedihmu sudah seharusnya kau akhiri
Gelisahmu sudah seharusnya kau tuntasi

Jangan kau bertopang merenungi
Tapi bangkitlah dan ubah semua

Ubah benci itu menjadi cinta
Ubah kesal itu menjadi suka

Raih impianmu
Jadilah perempuan terbaik bagi pangeranmu
Pangeran yang sudah menunggu untuk kau panggil

Uraikan senyummu dari hati
Geraikan tawamu dengan makna
Bahwa kau telah sungguh bahagia.

Temanku….
Ingatlah selalu aku disini
Aku yang tak pernah pergi
Aku yang selalu hadir

Duduk
Menunggu
Pintu ini terketuk olehmu.

Jangan sedih karena ku menjauh
Ini hanya sementara waktu
Suatu hari lagi kita kan tertawa bersama
Mengingat bahwa kita hampir berkhianat.

* I dedicate to my dearest friend, hope you will understand*

Advertisements

Gadis Kecil


Gambar ini sedetik telah membuatku menahan nafas. Gambar seorang gadis kecil yang memanggilnya AYAH. Diam-diam kuintip gambar itu, agar sang pemilik gambar tak sadar aku telah mengintip.

Iri sungguh aku merasa iri.

Iri pada yang disebut ayah dan bunda oleh sang gadis kecil.

Iri pada yang disebut papa dan mama oleh sang gadis kecil.

Iri pada yang disebut papi dan mami oleh sang gadis kecil.

 Iri pada yang disebut bapak dan ibu oleh sang gadis kecil.

Iri pada pemilik gadis kecil itu.

Aku palingkan wajahku agar mataku yang telah berkaca tidak meneteskan air mata. Aku tak ingin pemilik gambar dari sang gadis kecil itu tahu bahwa aku iri. Ingin kurebut gambar itu dan aku dekap erat. Tidak hanya gambar yang ingin aku dekap. Tapi gadis kecil itu yang seketika berlari penuh keceriaan sambil berteriak….

 ” Ayah, lihat aku bisa berlari-lari sambil melompat. ” Sang ayah hanya tersenyum melihat gadis kecilnya berputar-putar bagai gasing kemudian melompat-lompat bagai bola bekel.

Kenapa Ayah itu bukan milikku? Kenapa gadis kecil itu bukan dari rahimku. Lara

 Perih

 Sesak

Gadis yang terus dalam angan dalam enam tahun ini, hingga kemarin harapan kemunculan gadis itu mulai hadir akan tetapi lenyap seketika.

Kenapa bukan aku Tuhan?

Aku si penyayang anak..

Aku si pencinta anak…

Napa mereka yang kurang peduli Engkau berikan gadis kecil? Apa salahku? Atau Engkau siapkan bidadari tercantik dari rahimku yang kuberi tanda tanya apakah mampu atau tidak.

Rayuan Dahsyat


Ada beberapa rayuan yg bisa membuat pasangan gelpek2.
Gak tau juga ada angin apa tiba2 terbesit dalam benak saya untuk memikirkan rayuan romantis yg dahsyat, fenomenal, spektakuler dan bombastis. 
Ini rayuan saya jamin dapat memincut GBTan-GBTan anda semua. Jangan ragu-ragu setelah membaca postingan rayuan terdahsyat abad ini langsung praktekkan pada kehidupan nyata anda sekalian…

Tunggu jangan pikir saya sedang menjebak anda…jujur saya pun telah memprakteknya secara langsung…memang bukan kepada GBTan….melainkan tukang-tukang ojek langganan saya. Mereka mengagumi rayuan2 pantun saya yang begitu seger…mereka langsung meminta izin kepada saya agar diperbolehkan untuk menggunakan untuk merayu ijah, sukiyem, mba dar, atau jeng asih si tukang warung seksi nan bohai…

Ada beberapa situasi yang harus diperhatikan sebelum rayuan maut ini anda keluarkan…

1. Situasi : anda sedang dalam keramaian yang sangat tidak romantis. padahal anda ingin menciptakan suasana romantis, tapi apa daya klakson2 bis yg lewat di depan warung makan anda, menciptakan kebisingan yang mengganggu…..jangan ragu-ragu keluarkan jurus maut rayuan 

” Bersamamu sayang selalu indah dan memukau layaknya teh botol, apapun makanannya minumannya teh botol sosro, bersamamu dimana pun tempatnya selalu yahud”

2. Situasi : anda sedang bersitegang dengan pasangan anda. Dia mendiamkan anda dengan tutup mulut seribu bahasa. Anda udah mati gaya padahal tidak ada warung yang menjual perdana provider gsm 3. Jangan bingung jangan panik…keluarkan rayuan maut ini :

” oooohhhh sayang…bersamamu ibarat meminum kopi -caramel machiato-….meski pahit tapi terasa manis meski hari ini wajahmu tertekuk begitu pahit tetap terlihat manis”

3. Situasi : anda sedang berjalan-jalan di sebuah taman bersama GBTan ato pasangan anda. Begitu melihat bunga mawar yang mekar langsung terbesit dibenak anda untuk mengeluarkan rayuan tahun 80 yang sudah ga sesuai dengan zaman facebook. Tenang … tenang saya sudah meng-update rayuan tersebut.

” sayang…kalau kau jadi bunga aku pasti jadi tangkainya cinta kita tidak akan terpisahkan bagaikan ponari dengan batunya begitu lekat. ”

4. Situasi : pasangan anda mendadak memiliki jerawat yang banyak. dulu waktu awal anda naksir wajahnya mulus-mulus aja. Si dia mulai tidak PeDe. Anda sebagai pasangan yang baik harus membangkitkan semangat dia kembali…keluarkan rayuan ini..

” oooohhhh sayang, meski wajahmu jerawatan tetap bagiku terlihat mulus seperti boxerku yang polkadot baru diseterika.”

5. Situasi : pasangan anda dalam beberapa bulan mendadak menjadi begitu tambun. Jangan kecewakan dia dengan sebutan gendut…brot…bun…atau babon…

” Memelukmu sayang sensasinya seperti memanjat pohon pinang di 17an…lincin … susah…tapi bombastis.”

Demikian teman-teman beberapa rayuan pulau kelapa yang dapat disajikan kepada pasangan anda. Jangan mual…jangan muntah…tapi praktekkan saya jamin anda dan pasangan anda akan semakin lengket.

Tenang setiap saya mendapat updatean baru untuk rayuan pasti deh saya posting…ini demi kemajuan teman-teman yang belum memiliki pasangan…

SELAMAT MENCOBA ….

Percakapan Hati dan Akal


Saya bingung sehingga membuat saya termenung terduduk pada sebuah bangku dalam waktu yang cukup lama, hanya diam..diam…diam hingga saya tertidur. kebingungan ini menyerang benak akal saya.

Saya mulai perjalanan pikiran saya dari kata bahagia.

Hati : ” apakah kamu bahagia? ”

Akal : “ iya saya bahagia. “

Hati : “coba kamu gambarkan kebahagiaan kamu?”

Akal : “ yah karena saat ini ada orang yang saya cintai dan mencintai saya tanpa henti. Ia selalu berada disisi saya. Perempuan mana yang tidak bahagia. Hidupnya terasa lengkap.

Hati : “ Wah menyenangkan yah jadi kita ada yang mencintai tanpa henti. Pasti orang itu telah membuat kita merasa sangat nyaman dengan hidup ini. Akal, memang kamu tidak menginginkan kebahagiaan lain?”

Akal : “ Saya rasa cukup.”

Hati : “ Kalau dia sudah tidak mencintai kita lagi apakah kita akan tetap bahagia seperti saat ini?”

Terdiam. Kembali saya termenung. Saya menghentikan aliran percakapan pikiran saya. Akal saya memaksa untuk terdiam. Setelah ia terdiam beberapa saat, ia kembali mengelitik perjalanan pikiran saya.

Akal : “Sepertinya tidak.”

Hati : “ Jadi tanpa dia kita tidak akan bahagia dong. Sedangkan kita berdua tahu suatu hari orang yang kita cintai akan pergi.”

Akal : “Iya, dia bisa pergi kapan saja, entah karena panggilan Tuhan, entah karena panggilan perempuan lain, entah karena panggilan ego, entah karena panggilan pekerjaan, entah karena panggilan kebebasannya. “

Hati : “ Betul akal terus bagaimana nasib kita?”

Akal : “ Mungkin kita akan seperti mayat hidup, berjalan, bernafas tapi tanpa nyawa.”

Hati : “ Menyedihkan sekali. Memang kebahagiaan itu tidak bisa digantikan dengan kebahagiaan lain?”

Akal : “ Maksudmu dengan lelaki lain yang sama seperti dia mencintai kita dengan sungguh-sungguh?”

Hati : “ Entahlah.”

Saya telaah perjalaan pikiran dan hati saya. Jadi seperti apa kebahagiaan yang saya cari. Mungkin dengan cara memberi kebahagiaan kepada orang lain saya akan bahagia. Orang-orang yang telah saya bahagiakan akan mendoakan saya, lalu saya akan puas hati. Mungkin kah?

Akal : “ Hati, bukannya selama ini kita selalu memikirkan perasaan orang lain?”

Hati : “ Betul, kadang saya ingin berontak. Tapi kamu akal selalu memerintahkan untuk berbuat kebaikan dan kebajikan kepada orang lain. Sehingga kembali saya meredam ego dan gejolak emosi saya.

Akal : “ Sungguh pahit ya Hati? Tapi bagaimana saya harus mampu menerjemahkan nilai-nilai serta norma-norma yang berlaku hingga kita tidak dianggap lain. Hingga kita tidak dicemoohkan. Hingga orang tua kita bangga terhadap kita.

Hati : “ saya setuju. Tapi kasihan sama diri sendiri lama-lama. Bahkan kita tidak tahu kebahagiaan kita. Keinginan kita yang mendalam. Pengharapan yang mampu membuat kita senantiasa tersenyum.”

Saya terhenyak dengan pikiran saya sendiri. Selama ini saya memang tidak tahu kebahagiaan apa yang cari selama ini. Selalu saya gantungkan kebahagiaan saya atas orang lain. Atas orang tua saya, atas teman dan sahabat saya, atas pacar-pacar saya. Tapi……..saya tidak tahu kebahagiaan saya sendiri. Saya terdiam…diam…sampai saya tertidur dalam sesak memikirkan kebahagiaan saya.

Saat ini saya bahagia, kelengkapan kebahagiaan saya terutama dengan kehadiran dia. Haruskah saya melepas kebahagiaan itu demi kebahagiaan orang lain. Demi kebanggaan orang lain. Demi sebuah norma. Haruskah saya memaksa untuk menikah dengan siapa saja asal, orang tidak mencemoohkan saya yang belum menikah.

Kebahagiaan seperti apa yang harus saya cari??????

Peluk


Semua terasa berbeda saat dia ada dihadapanku. Semua terasa sangat lain saat tangan itu menggengam tanganku. Entah aku kerasukkan setan atau malaikat, terasa ada yang sedang bertengger di atas kepalaku. Tak sadar semua luka terhapuskan. Tak sadar semua kebahagiaan yang selama ini tersembunyi dibalik kabut kelam bermunculan, bagai letupan kembang api meriuhkan malam. 

 

Kaki-kaki kecil ini telah kembali melangkah, tak tahu hendak kemana kaki itu akan melangkahkan hidup. Aku sudah tidak memikirkan itu lagi. Karena semua seakan kembali kepada sebuah titik awal. Awal dari arungan hidup. Awal dari sebuah perjumpaan baru. Awal dari perpisahan masa lalu.

 

Saat ini aku berdiri pada sebuah titik start.

 

Perjumpaan dengan dia sungguh aneh untuk kuterjemahkan dalam akal logikaku. Perjalanan bersamanya lebih tidak lazim lagi. Perjalanan aku dengan dia tidak sedikit pun menggantungkan sebuah harapan untuk terus bersama. Kami tidak berada pada sebuah rel yang sama. Dia berjalan ke selatan, aku ke utara. Kapan kami dapat bertemu. Kami bertemu pada sebuah titik, dimana titik itu terakrobat oleh magnet. Tahu kah kamu magnet akan bertemu dengan kutub yang berlainan dengan kutubnya. Disitulah kami bertemu.

 

Memuaskan hasrat, memuaskan rindu, memuasakan cinta yang bergelora meski kami tahu kami tidak akan pernah puas. Hasrat itu tidak akan habis, rindu itu akan selalu ada, cinta itu tidak akan hilang. Kami tidak tahu siapa yang akan menjaga cinta itu, kami sendirikah yang akan menjaga itu atau tangan-tangan halus yang tidak dapat terlihat oleh kasat mata hanya getarnya dapat selalu terasa.

 

Aku sudah tidak peduli orang akan bilang aku gila, orang akan bilang aku nekat, orang bilang aku akan tersakiti, orang bilang aku perempuan tidak tahu diri, orang bilang aku perebut suami orang. Aku tidak peduli. Karena mereka tidak tahu. Karena mereka tidak mengerti artinya menunggu cinta sekian lama. Cinta yang saling berbalas, cinta yang sama kuatnya, cinta yang tanpa harapan, cinta yang tulus. Mereka tidak tahu rasanya bila takdir membatasi cinta itu. Apa yang mereka tahu? Jalan yang benar? Jalur yang semestinya? Norma yang berlaku? Agama? Tanpa mereka pernah menelaah itu semua, mereka hanya berbicara yang semestinya, pada umumnya. Tapi mereka tidak pernah cari tahu apakah yang semestinya, apa yang pada umumnya itu telah benar adanya. Jadi persetan dengan omongan orang. Karena aku ingin bahagia. Bukan bahagia karena orang lain, bukan bahagia karena aku berlaku sesuai pada umumnya. Bukan itu. Aku hanya ingin bahagia karena kejujuran  luapan hati yang  mengatakan aku memang bahagia. Karena yang manis itu belum tentu gula, yang pahit itu belum tentu kopi.

 

Sebentar lagi takdir waktuku akan tiba. Takdir yang kami ciptakan sendiri. Detik demi detik kebersamaan aku dengan dia sangat aku nikmati. Ingin aku mengambil seluruh hembusan nafasnya untuk aku kumpulan dalam relung jantungku. Agar esok aku masih terus…terus memiliki cadangan nafasnya, bahkan kalau aku bisa aku mau mencadangkan hingga 10 tahun, 20 tahun atau sampai akhir hayatku. Setiap getar yang tersampaikan ingin aku bungkus, simpan dan abadikan dalam hati.

 

Tak ingin aku melepas pelukkannya. Dalam pelukkannya aku bisa merasakan getar yang tersampaikan. Getar yang seakan selalu menyampai I Love You. Dalam pelukkannya aku dapat mendengar debaran jantungnya seakan detak demi detak tersebut adalah panggilan namaku. Hanya pelukkan itu yang ingin aku kenang. Pelukkan yang aku yakin tak terganti. Tidak ada yang bisa menggantikan dia.

 

Pelukkan itu yang akan menjadi kenanganku untuk melangkah lagi. Memulai perjalanan baru menembus takdirku sendiri. Adakah aku akan bertemu kembali? Yang kutahu hanya sebuah entah!

 

Esok saat jalan kami telah menjadi jalan yang tak saling terpaut, saat kami harus kembali mengarungi rel hidup kami masing-masing. Aku tahu rasa itu tidak akan hilang. Getaran-getaran kami akan tetap menyatu di udara. Hati kami akan tetap saling berbicara. Tak bertemu bagi aku tidak  masalah, karena aku tahu saat kupanggil namanya, seketika itu dia akan hadir dengan caranya sendiri.

 

Waktu telah membuktikan 10 tahun bukanlah sebuah arti yang mampu menghilangkan rasa itu. Waktu telah kalah oleh perasaan dia kepadaku. Karena rasa itu ternyata tidak tereduksi. Rasa itu hanya tersimpan di sudut ruang kecil dalam hati. Ruang yang terlihat kecil tapi begitu luas di dalamnya. Ruang yang aku sendiri tidak sadar itu ada di dalam hatiku.

 

Boleh aku menitipkan kata-kata untuknya:

 

Terima kasih telah mengizinkan aku untuk memelukmu

Terima kasih telah mengizinkan aku untuk mengecupmu

Terima kasih telah mengizinkan aku untuk mencuri waktumu

 

Bersamamu kuhabiskan waktu

Senang bisa mengenal dirimu

Rasanya semua begitu sempurna

Sayang untuk mengakhirnya

 

Tapi aku tahu

Kamu hanya sinar yang melintas  sekedip

Bagai kunang-kunang kecil

Dan aku

sayap-sayap yang meranggas seusia

Sekepak aku mengudara yang membawa hatimu semua

 

Hingga ku ingin akhiri dengan

Lepaskanku segenap jiwamu

Tanpa aku harus berdusta

Karena kaulah satu yang kusayang

Tanpa layak kau didera

* Peluklah aku untuk terakhir kalinya sayang. Aku ingin rasakan seluruh debaran jantungmu yang selalu berdetak dengan kencang. Tak akan sakit aku dalam pelukan perpisahanmu.*

Si Abang Berkumis


Pandangannya tak lepas dari sosok yang berada di seberangnya. Sambil menyenderkan kepalanya, ia memperhatikan pria yang gagah tersebut. Baginya pria seperti itulah yang sangat ia idamkan, yang mampu menggetarkan hati dan gairahnya. Pria tersebut menggenakan kaos yang cukup ketat –yang oleh orang kota atau mba-mba SPG disebut kaos model body fit- berwarna hitam dengan paduan celana kargo warna tentara ditambah aksesoris berupa kalung rantai dan kaca mata hitam. Matanya benar-benar tidak bisa lepas karena terpesona adalah kumisnya yang lebat. Ia sangat suka dengan pria berkumis, seperti Adam suami Inul Darasita. Inul adalah idolanya.

Sebagai seorang penyanyi dangdut keliling, Inul mkan untuk merupakan patokan untuk aksi panggungnya, cara bernyanyi maupun bergoyang menghibur para penonton. Ia memiliki impian untuk dapat menjadi seperti Inul. Bernyanyi dari panggung ke panggung sampai pada akhirnya bisa dikenal dan memiliki album sendiri. Berbagai kontes dangdut ia lakoni. Dari mulai KDI 2 sampai lomba nyanyi tingkat keluruhan dengan harapan suatu hari nanti keberuntungan akan menghampirinya. Ia telah mencoba KDI 2 sampai sekarang, dan Mendadak Dangdut mania. TPI adalah stasiun televisi favoritnya. Saat sedang tidak manggung ia menonton acara apapun di TPI. Mulai dari gosip para artis dangdut, pentas dangdut, kuis dangdut terutama sekali semua ajang kontes dangdut. Setiap penyanyi dangdut yang muncul selalu dengan letak ia perhatikan. Cara berrnyanyi, cekok dangdutnya sampai goyangan-goyangan yang termutakhir. Ia merasa tidak kalah dengan goyangan Dewi Persik, yang cuman mampu menggergaji panggung, ia bisa goyang ngebor, patah-patah atau pun gergaji. Ia sendiri memiliki goyangan khas yang selalu ditunggu para penonton setianya di sepanjang Cilebut sampai Citayam.

Sore itu, ia berangkat dari rumahnya di Depok menuju Bojong Gede. Hari itu kelompok orkes dangdutnya ”Geboy” akan manggung untuk acara kawinan. Ia sebenarnya agak males untuk pergi. Bosen manggung dengan penonton hanya orang-orang kampung, ia ingin ditonton oleh seluruh masyarakat Indonesia. Tetapi dengan bertemu pria berkumis itu semangatnya timbul kembali.

Matanya masih lekat menatap pria itu. Ia perhatikan setiap gerak geriknya. Pria itu tidaklah sendiri, ia bersama temannya yang menurutnya tidak kalah gagah. Tetapi pria berkaca mata hitam baginya lebih menarik. Entah daya tarik apa yang membuatnya melekatkan pandangan. Ia sangat berharap bisa berkenalan dengan pria itu. Makanya dia terus menatapnya agar ada detik-detik matanya bertemu dan saat itu ia akan layangkan senyum termanisnya. Tapi sudah sampai stasiun Citayam matanya belum juga bertemu. Kok pria itu tidak merasa diperhatikan dengan begitu seksama. Ia hanya asyik mengobrol dengan temannya. Sepertinya pembicaraan mereka benar-benar serius hingga tidak mempedulikan orang lain. Bahkan perempuan se-seksi dia pun tidak menjadi perhatian baginya.

 Akhirnya kereta akan tiba di stasiun Bojong Gede, ia harus turun. Saat ia beranjak dari bangku menuju pintu kereta agar tidak tertinggal karena kereta tidak akan berhent lama, ia melihat pria itu pun bangkit dari duduk. Melonjak hatinya mengetahui akan turun di pemberhentian yang sama. Artinya masih ada kesempatan untuk berkenalan.

Saat sudah turun dari kereta yang penuh sesak hingga perlu energi lebih untuk mendesak orang memberi jalan keluar, ia berjalan menuju pintu gerbang. Ia sengaja memperlambat jalannya agar pria berkumis itu berjalan di depannya. Saat pria tersebut sudah jalan di depannya, ia mengikuti dari belakang. Ia berusaha mengumpulkan segenap kekuatan untuk mengajak berkenalan. Ia berpikir mungkin tadi karena sesaknya penumpang pria itu tidak menyadari tatapnya. 

Ketika ia mencoba menghampir pria itu, ia mendengar percakapan diantara mereka,

” Kita kemana lagi dari sini?”

” Kita kerumah si Tojo aja. Ingatkan kamu teman aku?”

” Masih ingat. Tapi apa tidak apa-apa aku ikut dengan kamu?”

” Emang kenapa?”

” Sepertinya Tojo tidak suka padaku. Ia sepertinya menyadari ada sesuatu yang lain diantara kita.”

Lalu pria berkumis itu mengusap pundak temannya dengan cara yang sangat tidak lazim dilakukan dengan sesama pria.

” Tenang aja.”

Ia bingung melihat pemandangan itu. Ia merasa ada yang aneh dari usapan punggung antara dua pria itu. Pemandangan itu menahan langkahnya untuk maju berkenalan. Ia tidak ingin mempermalukan diri dengan berkenalan padahal pria itu sama sekali tidak tertarik padanya. Percuma ia lontarkan senyum termanis kalau pria disampingnya lebih menarik.

Dengan gontai ia berjalan menuju pintu gerbang. Memberikan tiket pada petugas dan segera memanggil tukang ojek untuk mengantarkannya menuju lokasi tempat ia bernyanyi. Hilang sudah semangatnya untuk bernyanyi.

  

*Waspada para perempuan….Pria yang tampak gagah bahkan bak seorang preman atau centeng belum tentu akan tertarik pada kita…makin susah deh kita nyari cowo yang patut dijadikan suami…nasib….nasib…persaingan makin ketat*

My Sorrow


Sesak itu mulai menjalar. Menghantam seluruh lapisan tubuh. Terlalu berlebihan memang. Tapi sakit itu tetap terasa. Telah kutampar wajahku sendiri agar aku tersadar bahwa semua telah usai. Hati ini masih ingin kembali, menapaki langkah bersama. Berjalan beriringan dengan canda, dengan tawa. Tapi kaki ini sungguh berat untuk mengikuti kata hati. Karena aku tahu suatu hari bila langkah ku dan dia semakin beriringan tidak akan ada lagi yang membendung hasrat ini. Hasrat untuk terus bersama. Hasrat untuk terus melangkah. Melupakan norma, melupakan kebiasaan, melupakan kata dan pikiran orang lain.

Aku tahu aku dibesarkan dengan cara yang berbeda sehingga pemikirankupun sering kali berbeda dengan orang lain. Sungguh sulit aku menemukan seseorang yang mau sekedar memahami isi kepalaku yang tidak pernah sedikitpun berhenti berpikir.

Rasanya ini kurobek takdir itu. Melihat apa yang sebenarnya dibalik takdir agar aku tidak tertipu oleh buaian alam. Agar aku lebih terjaga dari luka.

Cinta setetes demi setetes telah mengerogoti hatiku. Tanpa aku tahu kapan tetasan itu mulai datang. Tanpa aku tahu di ujung perjalanan cinta itu apa.

Hanya sesak hari ini yang aku rasa. Aku telah berlari sekencang mungkin tapi sesak itu masih terus mengikutiku. Hingga aku terduduk dalam pilu, dan tetesan air mengalir dari kelopak mataku. Adakah takdir indah jadi esokku. Atau aku masih harus menunggu lusa dan masih harus berjalan.

Oh Tuhan…….