MORNING BEIB


Semalam hujan lebat lagi, beberapa hari ini Jakarta selalu dikuyur hujan tanpa ampun. Tidak kenal waktu dia terus menerus menguyur, membasahi setiap jenggal tanah di Jakarta. Air kali yang melewati Jakarta mulai meluap, saya yakin salah satu sudut kota Jakarta sudah mengalami banjir. Beruntung saya tinggal di daerah yang bebas banjir, yah paling hanya becek-becek sedikit.

Dengan malesnya saya buka jendela kamar, agar udara pagi yang masih bau tanah akibat hujan merasuki ruang kamar saya. Saya kembali menarik selimut untuk meringkuk dibaliknya. Jam diatas televisi yang saya letakkan masih menunjukkan pukul 6.30, artinya waktu yang sebenarnya pukul 6.15. Saya tersenyum, artinya saya masih punya banyak waktu untuk bermalas-malasan di atas ranjang yang sederhana ini. Sederhana tapi selalu menggoda untuk saya memejamkan mata.

Lima belas menit kemudian, saya beranjak dari ranjang, karena kebelet untuk ke toilet, apabila tidak ada panggilan alam tersebut saya pasti masih dengan males meringkuk diatas ranjang. Saya jerang air untuk membuat secangkir kopi. Ingat kopi, saya teringat ada seseorang yang sangat suka dengan kopi. Orang tersebut bisa minum 2-3 gelas kopi dalam sehari. Tidak merasakan laper, melupakan jam makan siang dan perut hanya diisi dengan cangkir-cangkir kopi. Gara-gara saya tahu dia penyuka kopi saya jadi menyediakan kopi di kamar saya, bila sewaktu-waktu dia datang berkunjung saya bisa menyediakan kopi untuk dia. Hhhmmmm….

Saya hirup kopi pagi hari saya. Angan saya berkelana mengingat dia seringkali salah memesan kopi bila kami berdua sedang mampir ke coffee shop. Dia selalu bilang, dia tidak peduli dengan rasa kopi yang dia pilih itu salah atau tidak, bagi dia, dia hanya ingin menikmati kopi apapun bersama saya. Tiba-tiba dada saya berdebar. Ini bukan karena kopi yang saya minum. Saya baru menghirupnya 2-3 hirup, jadi belum mampu memacu jantung saya. Debaran yang membawa saya pada sebuah kata KANGEN.

Saya kangen dengannya. Rasa yang datang begitu saja. Meracuni seluk-seluk batin saya. Rindu. Selalu merindunya, sekalipun baru beberapa jam berpisah. Dahsyat sekali rasa itu bersemayam dihati saya. Saat merindu seperti ini, saya lebih senang diam menikmati tiap debar tersebut, rasa hangat dari rindu itu dan membayangkan senyumnya yang berkembang di bibirnya. Mmmmmhhhhh….

Saat saya akan beranjak untuk mandi, tiba-tiba handphone saya berbunyi, ada sebuah sms masuk,

Morning beib.
Sender
Bintang

He just arise my miss meter. Hangat, damai, nyaman. As I reply in silence, Morning too beib.

Semangat saya bersiap diri untuk berangkat kerja. Karena saya tahu hari ini hati saya kembali terisi hanya oleh sebuah sentuhan kecil dari Bintang.

LIHATLAH LEBIH DEKAT


 LIHATLAH LEBIH DEKAT

Hatiku sedih
Hatiku gundah
Tak ingin pergi berpisah

Hatiku bertanya
Hatiku curiga
Mungkinkah kutemui kebahagiaan seperti di sini

Sahabat yang selalu ada
Dalam suka dan duka
Sahabat yang selalu ada
Dalam suka dan duka

Tempat yang nyaman
Kala ku terjaga
Dalam tidurku yang lelap

Pergilah sedih
Pergilah resah
Jauhkanlah aku dari
Salah prasangka

Pergilah gundah
Jauhkan resah
Lihat segalanya lebih dekat
Dan ‘kubisa menilai lebih bijaksana

Mengapa bintang bersinar
Mengapa air mengalir
Mengapa dunia berputar
Lihat segalanya lebih dekat

Dan ‘kuakan mengerti

 termenung1am

                                            

Sore semakin mendekati senja, sebentar lagi suara adzan akan berkumandang. Ia bukannya beranjak masuk ke dalam rumah untuk mengambil air wudhu, ia tetap duduk di teras bersama secangkir teh. Teh yang telah ia seduh sejak pukul 3 sore tadi masih tersaji dihadapannya. Ia hanya duduk termenung di teras rumah, memandang lurus ke halaman, halaman yang ibunya buat untuk mempercantik rumah. Ibunya memang penggemar tanaman, dari hobi memasaknya ia beralih hobi bercocok tanam. Kerap kali saat akan pulang ke rumah ibu menitip majalah atau tabloid tanaman, dan kerap kali itu pula ia selalu lupa membawanya. Ia memang tidak memiliki ketertarikan terhadap tamanan, jenis apapun termasuk bunga. Tapi sore itu, sungguh betah ia memandangan pot-pot bunga yang telah disusun oleh ibunya. Menghitung jumlah tanaman yang sama, dan mencoba mengingat-ingat nama tanaman tersebut meski tak kunjung ingat.

 

Sesekali ia alihkan pandangannya dari halaman ke buku yang sedari tadi ia genggam. Buku yang tidak terlalu memikat daya tariknya untuk membaca, hanya untuk sekedar mengisi waktu luang. Sejak tadi pikirannya berkelana, entah hendak ia bawa kemana. Bagaikan seekor bajing melompat dari kurun waktu yang satu ke kurun waktu yang lain.

 

Dari balik jendela terdengar sebuah lagu yang telah lama. Bahkan penyanyi tersebut telah beranjak dewasa menjadi seorang gadis yang cantik. Lagu itu dinyanyikannya saat ia masih kanak-kanak. Suaranya yang indah membuat semua orang menyukainya.

 

Pergilah sedih
   Pergilah resah
   Jauhkanlah aku dari
   Salah prasangka

 

   Pergilah gundah
  Jauhkan resah
  Lihat segalanya lebih dekat
  Dan ‘kubisa menilai lebih bijaksana

 

Teresapi kedalam kalbunya lagu tersebut. Ia mulai berguman sendiri,

 

“Aku ingin rasa sedih dihati ini pergi. Rasanya jenuh selalu bersedih. “

“ Aku tak ingin merasakan kegundahan lagi. “

“ Ingin ku ukir senyum dari hati agar aku bahagia.”

 

Ia kembali terdiam, memandang kosong halaman rumahnya. Mencoba menghardik dirinya sendiri agar bangkit dari kesedihan, dari kegundahan. Perlahan-lahan lagu berjudul Lihatlah Lebih Dekat berputar-putar di kepalanya, seakan sebuah kaset tengah berputar.

 

Adzan telah berkumandang, ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan-lahan seraya berkata kepada dirinya sendiri,

 

“Aku masih sedih, resah itu tak terhalaukan menyadari ibuku telah tiada, tapi aku tahu semua sedih, resah akan terlewati, karena semua orang akan pergi. “

“Aku akan coba merapatkan diri pada kenyataan agar aku dapat memandang semua lebih jelas, membuang bayangan semu yang sering kali berkecamuk.”

“Selamat jalan ibu.“

Gak Pake Judul Cuman Rasa


Kucatat hari ini dalam kapasitas memori otak. Rasa yang tiba-tiba muncul kembali dalam gejolak hati yang sudah lama tidak bersenandung. Bagaikan sebuah air yang menyejukkan kala berada di gurun pasir. Sejuk, menyemangatkan jiwa. Dia telah memberikan rasa lain dalam kalbuku. Menghantamkan ketenangan hidup yang telah mengalir begitu syahdu. Terus terang dia sangat mempesona dengan tawaran yang berbeda dari kebanyakan perempuan. Di mataku dia sungguh cantik.

 

Dihadapanku, dia duduk memandang lurus kepada mataku. Pandangan yang benar-benar menyusuk jantungku. Tak ada kata yang terlontar dari bibirnya, tapi terang sebuah kecerdasan begitu terpancar. Aku benar-benar terpesona. Garis wajahnya yang menyiratkan ketegasan yang jelas, memberikan sebuah penjelasan bahwa telah banyak yang telah dilewati oleh perempuan dihadapanku ini. Kemandiriannya terekam dari setiap gerak-geriknya, tapi tak bisa ia tutupi sisi feminitas yang keluar sebagai sebuah aura yang menenangkan. Hatiku makin bergejolak, ingin segera kuperintahkan otakku untuk sekedar mengecup bibir tipisnya. Pelan-pelan tangannya meraih sebatang rokok dari kotak berwarna hijau. Ia selipkan batang nikotin tersebut diantara bibir tipisnya. Seksi, aarrrgghhh, hatiku sungguh ingin menciumnya.

 

Dia adalah sosok yang datang dari masa lalu. Sosok yang telah hadir saat belum lama aku aklil baliq. Dulu wajahnya begitu polos, selalu memandang lurus pada apa yang ia tuju. Pada sebuah bangku coklat ia hadir dikala sore itu,  dimana ia selalu duduk menunggu. Dengan keluguannya aku telah jatuh cinta padanya. Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk berkenalan. Alika namanya.

 

 Alika, dia selalu berhasil menciutkan nyaliku untuk dapat lebih mendekat dan kenal dia. Entah apa yang ia miliki hingga membuatku segan untuk mendekatnya. Padalah hatiku selalu memaksa untuk mendekatinya, mencoba mencuri hatinya dan menggengamnya dalam dekapanku. Ingin aku merasakan detak jantungnya, hembusan nafasnya hingga dapat merasakan setiap rasa dalam dirinya. Aku tahu dia seorang perempuan yang memiliki begitu banyak rasa untuk dibagikan kepada siapa pun.

 

 Sungguh ku sesali baru kali ini aku memiliki keberanian. Memiliki keberanian kah atau karena ia telah membuka dirinya lebih dibandingkan dulu kala ia masih remaja. Dulu ia adalah sosok yang benar-benar tertutup dan jutek. Yah kejudesannya masih kental terasa dalam setiap ucapannya. Ketus. Tapi aku suka, sangat suka.

Alika bila kutanyakan padanya maukah ia menikah denganku?

 ***

  Dalam sebuah kamar tempat ia menidurkan raganya.

 “Kamu benar-benar datang?”

“Kenapa kamu gak percaya, kirain aku bohong yah?”

“Gila juga yah. Kamu baru mendarat, gak jetlag? Langsung kesini, apa gak capek?”

“Gak. Mungkin aku ini orang yang terlalu bersemangat. Emang aneh yah?”

“Aku sampai terharu. Ini semua oleh-oleh buatku?” dengan senyum-senyum jailnya

“Iya.”

Hening. Aku mencoba mencuri pandang kearahnya. Sebenarnya dia mengenakkan pakaian rumah yang sangat sederhana tapi entah kenapa aku ingin menyimpan wajahnya saat ini lekat-lekat dalam benak. Kupotret dirinya. Indah, dalam biasa saja dia sudah begitu indah. Ingin sekali kuraih tangannya untuk duduk berdekatan denganku, hingga kudapat membaui tubuhnya. Kutahan hasratku. Aku cukup tahu diri. Aku takut saat kulakukan itu tangannya akan refleks bergerak menampar wajahku.

“Kamu mau tidak menikah denganku?”

“Hah?”

“Iya nikah, married!”

“Gelo maneh mah, teu baleq!” katanya sewot.

“ Loh apanya yang salah? Nikahkan jelas.”

“Terus isteri kamu mo dikemanain?”

“Yah, mau apa tidak?”

“Gila apa? Sesuatu yang diawali dengan tidak baik tidak akan menghasilkan hal yang baik.”

“Kamu tidak tahu kan? Sejak ketemu kamu lagi, macan dalam diriku muncul lagi. Hal-hal yang sudah lama aku redam tiba-tiba kembali menyerang.”

“Ah basi. Udah telat.”

“Telat gimana?”

“Au ah!”

“Aku serius. Aku gak mau bohongi diriku lagi. Aku mau jujur.”

“Terus dengan kamu nikah dengan aku, kamu udah jujur sama isteri kamu?”

“She will know it.”

“Terus gua jadi isteri kedua?”

“Mau kamu?”

“Ini gila.”

“Susah amat bilang iya atau tidak!”

“TIDAK.”

Aku sungguh tidak yakin dengan jawaban dia. Aku merasakan dia pun memiliki perasaan yang sama denganku, meski tidak sebesar apa yang aku rasakan. Aku berani bertaruh suatu hari nanti aku akan memenangkan hatinya. Dia akan jatuh kepelukkanku. Dia pasti sangat butuh dicintai dan disayangi. Permainan ini akan dimulai dan aku berharap akhir dari permainan ini adalah kebahagiaan.

****

 

Bagai sebuah petir mendadak ada seseorang yang sudah terlupakan dari ingatanku hadir kembali. Begitu cepat pertemuan ini terjadi. Awalnya aku begitu senang bertemu dengan kawan lama. Bisa cerita-cerita dengan masa lalu, menertawakan ke-culun-an masa sekolah. Dimana kita hanya berani saling pandang dan berkirim salam. Yah namanya juga remaja, grogi dulu sebelum maju perang. Ini hanya lelucon masa lalu yang membangkitkan semangatku yang sudah lama melupakan masa sekolah dulu. Tak kusangka semua menjadi lebih. Lebih dari apa yang aku perkirakan.

 

Dia menjadi begitu perhatian. Setiap hari sms-sms nya dilayangkan ke ponselku. Dengan gatelnya pun aku membalasnya. Entah alasan apa aku rajin membalasnya. Setiap sms aku jawab dengan tekun. Dia bilang, dia dari dulu sampai sekarang suka padaku. Dia bilang, sudah berusaha mencari aku kemana-mana tapi tidak pernah ketemu. Dan baru sekarang bertemu, dia sangat tidak ingin kehilangan moment itu lagi.

 

Ah, dia hanya sebuah kisah lucu masa sekolah. Tak pernah aku membayangkan akan menghadapi dia lagi di masa sekarang dengan jutaan kata suka. Sudah muak dan kenyang aku dengan kata-kata seperti itu dari lelaki.

 “Aku sudah lama mencari kamu.”

“Kamu kemana aja?”

“Aku dari dulu suka sama kamu.”

“Aku tuh belum pernah melupakan kamu. Aku hanya meredam hasratku.”

 

 

Semua basi, karena dia pada kenyataan telah memilih dan meminang perempuan lain untuk bersanding bersama. Telah memiliki anak yang dicintai. Wajar saja aku mual.

 

Dia tidak tahu, dia bukan lelaki pertama yang mengatakan begitu padaku setelah menikah dengan perempuan lain. Coba dapat dibayangkan kekesalan yang aku rasakan. Para lelaki itu pikir aku ini apa, perempuan tanpa hati, yang bisa terima aja diperlakukan seperti itu.

 

Tapi dihadapnya aku tidak marah sama sekali. Aku biarkan dia meluapkan semua perasaan dan euphoria dia sejak bertemu denganku lagi. Meluapkan hasrat terpendamnya. Meluapkan rasa penasarannya. Meluapkan ego-nya. Pasti dia pikir, dia sudah cukup matang untuk meraihku lalu memilikiku. Aku ini bagai seorang penari striptease pada sebuah club, yang dapat dilihat, dapat dikagumi, dapat berdekatan tapi tidak dapat disentuh apalagi dimiliki.

 

Aku bagaikan sebuah  manikin dalam estelase. Hanya orang-orang yang tangguh yang dapat membawa aku pulang. Hanya orang-orang special yang dapat menyentuhku. Merasakan hangat tubuhku dan merasakan getar hatiku. Aku tidak akan tertipu lagi oleh gombal lelaki. Karena akupun perempuan peng-gombal.

 Heran aku belum ingin menghindar darinya. Aku masih terus menanggapinya. Aku ingin sekali tahu hendak ia bawa kemana aku.

 “NIKAH?”

“Iya.”

“Jadi isteri kedua?”

“Mau kamu gimana?”

“Jangan gila yah!”

 

Wow, ini permainan yang seru. Pertama ia menyatakan sedang pendekatan denganku, lalu mengajak berselingkuh dan sekarang menikah. Dia kira mudah melakukan pernikahan. Dia pikir kenapa aku sampai saat ini belum menikah. Karena aku tidak akan sembarangan memilih orang untuk mendapatkan jiwa dan ragaku. Only selected people.

 

 Dia mengajak aku masuk kedalam permainannya. Bukan aku sombong tapi aku tidak akan larut dalam permainan itu, karena aku tahu ujungnya. Dia ingin kebahagiaannya, pasti akan ia dapatkan. Kebahagiaan yang lebih dari apa yang dia rasakan saat ini bersama isterinya. Aku akan buat dia kembali pada isterinya dan mengingatkan bahwa  sayangnya padaku hanya untuk diteruskan kepada isterinya hingga menjadi lebih bahagia.

 

 Aku bukanlah seorang perempuan culas yang akan merebut kebahagiaan perempuan lain. Aku adalah orang yang selalu memberi kebahagian bagi perempuan lain. Dia tidak sadar betapa aku menyayangi perempuan, karena aku perempuan, karena aku dapat merasakan apa yang mereka rasakan.

 

 Dia hanyalah penasaran dengan semua rasa itu. Karena ketika dia kembali kerumahnya aku sudah tidak ada disitu. Begitu berat untuk menjaga sebuah kesetiaan, apalagi bila itu bersinggungan dengan keindahan masa lalu yang belum sempat tersentuh.

 

 Ingin aku katakan padanya, aku hanya hadir tepatnya Tuhan buat aku hadir kembali dalam hidup tenangnya, karena Tuhan sayang padanya. Untuk mengingatkan bahwa dia telah memiliki kehidupan yang indah. Bukan perempuan lain yang hadir untuk diajak berselingkuh, tapi aku. Itu karena Tuhan tahu aku tidak akan mencelakai hatinya. Aku tidak akan menjerumuskan dia dalam sebuah jurang dosa.

 

Perasaannya padaku tidaklah salah. Hati itu milik Tuhan, manusia hanya mampu mengontrol semua rasa yang ada didalamnya. Aku tidak pernah menyatakan rasa itu sebuah dosa. Tapi semua menjadi salah apabila semua ini dilanjutkan. Biarlah aku akan tetap berdiri disini tegak tak tergoyahkan hingga dia lelah dan letih lalu pergi pulang kerumahnya.

Damn shit, terbuat dari apa bongkahan hati dan otakku ini!

OH Nona


Hari ini tiba-tiba sakit itu menyerang kembali. Sudah lama sakit itu tidak hadir memporak porandakan tubuhku. Dia datang di saat aku memutuskan untuk bersantai menikmati hari sabtu yang santai. Mulai merapikan kamar mungilku dengan barang-barang yang terbilang sedikit, mencuci baju baru yang kemarin aku beli, jalan-jalan dan yang terpenting mengukir senyum saat menonton IDOLA CILIK grand final. Don’t tell me a crap, while I watch this music show. It’s a wonderful show, make us laugh, put a tears down and amazed with their angel voice.

Saat aku mulai malas-malasan di atas ranjang dengan buku dalam genggaman. Ouch, perut ini tiba-tiba sakit, keram lalu melilit. Keringat dingin mulai bermunculan dari sekujur tubuhku. Aku semakin tidak mampu menggerakkan tubuhku, sungguh sakit yang luar biasa hingga aku hanya mampu untuk meringkuk di atas ranjang sambil menggenggam perutku. Kucoba untuk memejamkan mata dan menidurkan tubuhku untuk kembali beristirahat. Sungguh rasa itu tidak hilang dan sangat menyiksa. Aku hanya mampu merintih. Kuraih telepon genggamku.

“Cello, lo lagi tidur yah?”

“Iya ka. Napa lo?”

“Gua sakit lagi, ini hari pertama gua haid. Sakit, gua gak tahan.”

“Kok bisa! Kan kemarin-kemarin lo haid normal-normal aja.” Cello terperanjat.

“Gak tahu. Sakit banget!” airmataku mulai mengalir karena aku sudah tidak tahan dengan rasa sakit itu.

“Yah udah, ntar gua ke tempat lo. Lo minum pain killer dulu deh!”

“Iya.” Suaraku semakin melemah. Tanganku memencet tombol merah untuk menghentikan percakapan.

Sungguh luar biasa sakit itu menyerang. Dengan biadabnya dia porak porandakan perutku. Semakin lemas tubuh ini, hingga tak kuasa menahan sakit lagi. Ku bacakan doa, apapun yang mampu kuucapkan untuk mengurangi rasa sakit itu. Ada apa dengan kewanitaanku? Memang beberapa bulan yang lalu sakit seperti ini pernah menyerang. Tapi kata dokter tidak ada apa-apa. Sejak meminum obat dari dokter sakit itu berangsur hilang. Jangka waktunya terlalu lama untuk sakit lagi. Kuyakinkan diriku untuk kembali menemui dokter. Sebenarnya aku takut, takut ada sesuatu yang tidak kuinginkan terjadi pada tubuh ini. Tapi aku harus berani karena aku harus hidup, aku harus bahagia tidak ada sakit yang harus aku tanggung terus menerus. Tak mampu pikiranku membayangkan setiap bulan untuk sakit kala haidku datang.

***

Kuputuskan untuk pergi ke dokter, karena setelah hari ketiga sakit itu tidak jua hilang. Kucari dokter kandungan wanita. Aku sudah tidak peduli orang akan memandang aku hamil atau apapun dengan mendatangi rumah sakit BUNDA dan ANAK.

“Bu saya mau daftar.”

“Ibu pasien baru? Bawa buku dari rumah sakit lama?”

“Iya pasien baru. Gak ada buku.”

“Dengan dokter siapa bu?”

“Dokter Priska.”

“Diisi dulu pendaftarannya.”

“……….”

“Udah bu.”

“Oh ini diisi nomor telepon dan itu nama suaminya juga ditulis.”

Apa nama suami??? Mau marah sekali rasanya. Suami dari mana wahai Ibu Pendaftar yang gendut.

Dengan lemas aku menjawab,

“Belum menikah. Disini bisa konsultasi nyeri haid kan?”

Puas Ibu Gendut! Aku, 28th belum menikah datang ke dokter kandung. Ibu pasti pikir aku habis main gila dengan berbagai macam pria di Ibukota ini, sehingga aku harus datang ke dokter kandungan. Atau ibu pikir aku habis melakukan pengguguran kandung dengan biadab terhadap nyawa yang tak berdosa hingga aku mempunyai masalah dengan rahim?

“Oh, nona.”

“Naik aja ke lantai dua yah. Kasih ini ke suster di atas.” Dengan tertatih-tatih aku menaiki tangga setahap demi setahap, perut ini terasa sakit. Aku melihat ada meja dengan seorang suster.

“Sus, saya mau ke dokter Priska.”

“Ibu hamil?”

Again, holly God. Aneh yah perempuan single, sendirian datang ke rumah sakit yang penuh dengan ibu-ibu yang perutnya melendung. Atau aku terlalu gendut hingga dikira hamil.

Aku diam saja menatap suster itu dengan tampang kesel.

“Oh nona.” God! Lalu datang suster yang lain menghampiri.

Suster yang pertama memberikan berkasku ke suster yang berikut. Suster itu tiba-tiba bertanya,

“Udah ditimbang?” tanya dia ke suster yang pertama.

“Dia nona.”

“Oh nona!” Again! Tiga kali hari ini aku mendengar OH NONA!

“Tunggu aja dulu, nanti dipanggil.” Aku duduk menunggu, rasanya benar-benar menakutkan.

Seakan mata-mata itu memandangku, padahal tidak. Bahkan mereka tidak peduli dengan kehadiranku. Tapi insiden oh nona itu membuat aku parno. Begitu namaku dipanggil, rasanya sungguh deg-degan. Aku mencoba tersenyum kepada dokter itu.

“Apa keluhannya?”

“Nyeri saat haid dok. Keram, melilit gak karu-karuan.”

“Oke langsung diperiksa aja.” Perutku di USG, tidak ada yang aneh didalamnya. Lalu dokter itu mengatakan,

“Wah gak kelihatan apa-apa. Kita lihat dari bawah aja yah. Buka celananya!” Apa dari bawah? Maksud nih dokter dari mana? Buka celana? bagian tubuhku yang mana yang akan diobok-obok?

“Sus lewat mana?” Tanyaku pada suster.

“Lewat dubur. Gak apa-apa kok, tenang aja.”

GAK APA-APA, DUBURKU AKAN DISODOMI DENGAN ALAT ITU. SUSTER MASIH BILANG GAK APA-APA.

Tapi aku menurut saja. Aku duduk di kursi pesakitan itu dengan kedua kaki di buka selebar-lebarnya seperti mau melahirkan. Tanpa basa-basi dokter itu memasukkan alat sediameter botol langsing. Sumpah sungguh sakit. Tanpa basa-basi aku teriak dengan biadab. Dan tanpa kompromi dokter itu terus mengobok-obok duburku. Oh dubur maafkan aku karena sakit ini engkau disodomi oleh alat jahanam itu.

“Wah ada kista.” Apa kista? Dokter baru aja uwel-uwel duburku sekarang bilang ada kista. Rasa sakit itu tiba-tiba hilang yang ada cuman lemas.

“Kecil sih baru satu senti.”

“Eh, tunggu!” sambil dia mengobok-obok lagi duburku.

“Udah 3,5 cm.”

“Oke, udah!”

Ada kista di tubuhku. Apa yang harus aku lakukan? Semua terasa gelap saat itu. Tidak ada kah hal indah yang akan terjadi dalam hidupku. Baru kemarin saya menyembuhkan semua trauma dari sebuah prilaku seorang lelaki padaku. Sekarang aku harus menghadapi kenyataan ada kista dalam tubuh saya.

“Dok, bagaimana pengobatannya?”

“Saya tidak menyarankan di operasi, nanti tumbuh lagi. Ada rencana menikah?”

Ini pertanyaan apa?Dokter sedang hendak menghina?

“Belum ada rencana sama sekali.” Jawabku dengan lunglai, karena memang itu kenyataan yang ada.

“Nah apalagi belum akan menikah, jangan dioperasi.”

“Terus dok, bagaimana saya menghilangkan rasa sakitnya?”

“Disuntik aja, 3 kali.”

“Disuntiknya kapan dok? Saat saya haid berikut?”

“Gak sepuluh hari setelah haid. Tapi suntik ini harganya mahal, 1,4 juta.” Kata dokter itu dengan tenang seakan-akan 1,4 juta itu harga yang biasa.

“Tidak ada obat atau yang lainnya dok, selain disuntik.” Dokter itu tidak menjawab, dia hanya menuliskan sebuah resep.

“Ini saya kasih obat penghilang rasa sakit yah. Dimasukkan lewat bawah seperti dulcolax. Sehari sekali aja, kalau sakit banget gak apa-apa dua kali.”

“Dok gak ada obat lain?” Kembali dokter cuek ini diam.

Tidak adakah penjelasan yang baik kepada aku tentang semua yang harus aku hadapin? Dia dulu dokter lulusan mana? Kok tidak ada rasa kepedulian sesama perempuan. Kesel sekali rasanya. Dengan lunglai aku keluar dari ruangan.

***

Dalam perjalanan pulang tak terasa airmataku jatuh. Kista itu apa? Apa yang akan aku hadapi di depan sana. Aku sering mendengar kista dari banyak perempuan. Tapi saya tidak tahu seberapa payah kista itu bila mengendap dalam tubuh. Yang saya tahu kebanyakan orang mengatakan kehamilan adalah salah satu jalan hilangnya kista. Tidak tahu bagaimana kista dapat hilang dengan sebuah kehamilan. Rasa yang ada saat ini adalah sedih dan gak tahu harus bagaimana. Lemas mendengar itu semua. Belum lagi bayangan rasa sakit haid yang terus akan menyerang setiap bulannya.

“I’m happy, 28th, single, no sign that will be married soon and have kista as large as 3.5 cm in my body. What a wonderful life I have. Now I need my ice cream.”

Send to Cello

Kring..kring…

“Cel, temanin gua donc. Saat ini gua butuh ice cream.”

“SMS lo tuh serius? Nothing that I can say.”

“Iya. Gua perlu ice cream sekarang.”

“Ntar gua temenin oke. Ntar lagi gua balik kok.”

Bahkan ice cream yang biasa meringankan hati sudah tidak mampu berfungsi lagi. Ice cream kesayanganku saja tidak mampu mengobati lagi. Rasanya menjadi hambar. Bingung itu yang aku rasakan. Kupandangi foto hasil USG dimana ada gambar kista di dalamnya. Belum tahu pengobatan apa yang harus kulakukan. Memang kista sudah terdengar sangat jamak pada kaum perempuan, akan tetapi tetap sakit ketika jaringan itu menempel pada tubuhku. Tetap panik yang aku rasakan untuk menghadapi kenyataan aku memiliki kista. Sebenarnya ini yang aku takuti apabila aku datang ke dokter untuk memeriksakan diri.

***

Tidak disangka teman-temanku ada disampingku. Mereka semua membantu aku untuk mencari dokter yang terbaik. Mencari keterang tentang endometrosis. Tapi tetap rasanya itu tidak cukup untuk menguatkanku dan meyakinkanku bahwa aku akan sembuh. Aku sudah bertemu dengan dokter yang pernah menyembuhkan kista yang lebih besar dari aku, 8 cm, tapi aku makin syok.

Dokter mengatakan bahwa kedua indung telurku ditempeli oleh kista, kanan sebesar 4,1 cm dan kiri 2,8 cm. Dia menjelaskan bagaimana endometrosis itu menjadi kista. Ternyata endometrosisku itu keluar pada dinding rahim yang apabila tidak dibuahi akan keluar menjadi menstruasi. Dia berada pada luar rahim, di indung telur. Ketika waktunya untuk matang dan keluar menjadi haid dia pun ikut berdarah sehingga sakit sekali ketika haid.

“Dok, kenapa saya bisa mengalami ini? Apa yang salah.”

“Tidak ada yang salah ini namanya nasib.”

“Maksud dokter?”

“Yah dari bayi memang sudah ada kelainan pada hormon kamu, sehingga keberadaan endometriosis tidak pada tempatnya.”

“Apa faktor keturunan?”

“Faktor genetika sebenarnya bukan karena ada riwayat keluarga yang mengalami, tapi maksudnya bawaan lahir.”

“Pengobatannya bagaimana?”

“Ada dua cara, satu dengan operasi tapi ini masih kontroversi karena kista terus menempel dengan indung telur kalau saja tidak hati-hati indung telur akan kena. Nah satu lagi dengan pengobatan selama 150 hari tanpa putus. Ini obat pengatur hormon. Nanti jangan kaget kalau tidak haid. “

“Jadi saya kembali lagi setelah 150 hari?”

“Iya, tapi kalau ada apa-apa hubungi saja saya.”

Semakin bingung aku harus menghadapi semua ini. Apa yang salah dari tubuh ini? Kenapa harus saya yang mengalaminya? Apa yang mungkin terjadi pada tubuh saya?

Dengan sebuah keyakinan yang setengah hati aku memulai pengobatan. Pengobatan yang memporak porandakan sel-sel tubuhku. Seakan semua menjerit kesakitan karena ruang nyamannya telah di ubah oleh obat tersebut. Setiap hari ada perubahan yang berbeda pada tubuhku. Semua mulai menjadi tidak seperti biasanya aku. Aku mulai cepat cape, hilang tenaga, perut kembung, punggung dan pinggang mulai sakit, sendi-sendiku mulai ngilu. Banyak kebiasaanku yang terpaksa aku tinggalkan. Ku telah tinggalkan teman favoritku DUNHIL MENTOL LIGHT. Biasanya temanku hanya sebatang rokok sekarang baru saya sadar teman saya banyak.

Teman-teman dimana saya selalu hadir dalam kesulitan mereka, sekarang dunia seakan terbalik karena mereka yang hadir dalam kesulitanku. Silih berganti mereka menemani saya, merintih kesakitan hingga rasa sakit itu mulai hilang. Keluargaku yang tak pernah tahu susahku kali ini kubiarkan mereka membantu, karena ketidaksanggupanku lagi menahan sakit ini. Seperti kata temanku mungkin kali ini aku harus belajar menerima kebaikkan orang lain bukan hanya memberi kebaikkan,

“ No need to thank. U deserve it since u did the same thing to everybody. It’s pay back time.”

Sender Cello

Feel My World is Stop


Sore kali ini masih terasa udara panas menyengat kulitku, ingin rasanya kembali ke ruang ber-ac tersebut untuk menyejukkan diri. Tetap aku paksakan langkah kaki untuk terus berjalan menjauh dari gedung bertingkat yang aku datangi setiap harinya. Gedung yang telah memberikan sebuah ruang kecil untuk aku menuangkan segala buah pikiran setiap harinya. Gedung yang selalu aku datangi seketika kesadaranku pulih dari tidur yang normal selama 8 jam di malam hari. Gedung ber-ac yang memberi kenyaman kepada tubuhku hingga tidak perlu mencucurkan keringat meskipun aku sangat tegang ataupun grogi menghadapi bos yang begitu teliti dan jeli. Tak terbayangkan aku mulai pergi makin menjauh dari gedung tersebut. Tempat yang telah menghidupkanku selama satu tahun ini. Tempat dimana aku dapat mencari puing-puing rezeki yang dapat aku bagikan untuk keluargaku.

Di depan pintu gerbang gedung, aku hentikan sejenak langkah, aku putar kembali kepalaku untuk melihat kembali kearah gedung itu. Nafas panjang kuhirup dalam-dalam agar memenuhi seluruh rongga paru-paruku, lalu kubuang nafas itu seakan ingin membuang segala masalah yang telah menghimpit pikiranku.

Setelah mataku puas memandang gedung itu untuk terakhir kalinya, dengan pasti aku langkahkan kaki untuk maju. Kakiku telah melangkah keluar gedung itu menuju jalan besar, aku lambaikan tangan untuk memanggil taksi yang sedang berbaris menunggu penumpang. Tanganku penuh dengan tas-tas yang berisi berbagai macam barang-barang yang biasanya kuletakkan di sebuah ruang dalam gedung itu. Barang-barang ini yang selalu membuatku merasa nyaman untuk duduk didalam ruang itu bersama beberapa orang teman, bukan beberapa orang tetapi kami berempat dalam ruangan itu.

Di dalam taksi, masih sempat kulontarkan pandanganku kearah gedung itu, seakan aku akan sangat merindukan gedung itu. Senin pagi nanti, tidak lagi aku langkahkan kaki ke gedung itu untuk langsung menghempaskan pantatku di atas bangku dalam ruangan itu.

“Mba, kita kearah mana?” Tanya supir taksi menyadarkanku bahwa dari tadi aku belum menyebutkan tujuanku.

“Ke Setiabudi pak.”

Aku masih belum ingin pulang ke kosanku sendiri. Ada rasa malu karena aku gagal mempertahankan pekerjaanku.  Aku tidak berani menatap mata orang-orang, karena aku telah dipecat. DIPECAT. Sungguh memalukan dan menyakitkan. Aku yang orang bilang workacholic bisa juga dianggap tidak mampu bekerja. Ngilu rasanya mengingat hal tersebut.

***

“Minum bu, selonjoran kaki aja dulu. Tarik nafas yang dalam terus buang tapi

jangan loe kentut di kamar gua.”

“Batman!”[1]

“Huahahahaha, ayolah kita keprok-keprok jeng.”

Ayo kita keprok-keprok

Semuanya keprok-keprok

Walau hati susah karena semua MUAHAL

Ayo kita keprok-keprok[2].

“Bagus nyanyi aja loe ampe modar, bibir jontor-jontor.”

“Idihh sewot kan gua hadir untuk menghibur hatimu yang lara kawan.”

“Najis!”

Shela adalah sahabat baikku. Teman dari masa kuliah, tapi kita baru benar-benar akrab saat sama-sama mengadu nasib di Ibukota tercinta. She always encourage me well when I’m down.

Nasib apa yang sedang menghampiri hidupku, dipecat dengan alasan perusahaan tidak lagi memerlukan tenagaku lagi. Padahal perusahaan ini belum juga akan bangkrut. Aku bekerja pada sebuah perusahaan multifinance sebagai seorang account executive, sebuah istilah keren dari marketing yang mencari dan me-maintain customer. Target yang harus aku capai telah aku penuhi bahkan tahun lalu aku melebihi target, terus salahku dimana. Aku sudah memberikan yang terbaik untuk perusahaan tetapi tetap saja kurang. Kejadian ini mungkin dimulai dari sebuah perdebatan dengan General Manager Marketing. Sang GM memaksaku untuk menyetujui peminjaman dari perusahaan aku sebut saja PT JKL, padahal jaminan yang diberikan oleh PT JKL tidak mencukupi dengan batas peminjamannya.

Setelah usut punya usut ternyata PT JKL adalah kolega dari sang GM (red. General Manger) dan sang GM sudah mendapatkan kesepakatan akan pembagian komisi. Karena aku menolaknya secara mentah-mentah walhasil nasibku dalam pekerjaan yang dipertaruhkan. Aku sih tidak mau nanti kalau menjadi kasus karena PT JKL tidak mampu membayar dan jaminan yang dapat ditarik tidak mencukupi lalu aku juga yang disalahkan. Betapa sulitnya menjadi manusia benar dimuka bumi negeri ini. Bahkah bekerja pada perusahaan swasta pun korupsi, kolusi tetap ada. Menjadi salahkah aku bilamana menjadi salah satu orang yang idealis?

“Jengki, udah atuh jangan melamun.” Shela membuyarkan lamunanku.

“Apa lo panggil gua? Jengki??!!!!! Maksud lo? Heran yah bukan ngehibur gua segala jengkol lo tawar-tawarin ke gua.”

“Hehehehehe. Kan kalau lo makan jengkol sekilo, pan banyak tuh. Terus lo datangin deh GM lo, kentutin pasti dia langsung pingsan terus lo coret-coret aja mukanya. Balas dendam jeng.”

“Gak ada ide yang lebih baik bu?”

“Emang lo mau lapor komnas ham? Atau Depnaker? Ribet bu, makan waktu dan tempat.”

“Yang makan tempat itu loe, oncom!”

“Eh diwarung nasi sebelah jualan semur jengkol loh!”

“Aaaaarrrgggghhhhh loe tuh menghibur banget!” Emosiku semakin membara dengan percakapan tidak penting ini.

Aku rasa percakapan ini semakin diluar jalur. Kadang aku tidak mengerti apa sih isi kepala Shela, ada aja coletehan asal yang keluar dari mulutnya. Kenapa juga kita harus membicarakan tentang jengkol, terus oncom. Orang lagi patah hati gini bukannya disemangatin malah diajak ngomong ngaco. Bagiku pekerjaan itu seperti pacar. Once company determinate you like a f***king s**t means like your boyfriend/girlfriend betray you. Of course you will feel like having a broken heart. Ingin sekali aku memaki-maki keseluruh dunia, tapi apa daya tak ada kuasa yang aku miliki untuk melakukan itu. Aku hanya seorang pegawai Senior Account Executive. Pemecatan secara tidak adil seorang pegawai biasa sepertiku tidak akan membuat dunia melihatku dan berempati kepadaku, paling mereka akan bilang “Dunia ini memang keras kawan!”.

“Ayo kita keprok-keprok lagi Dith. “ halah temanku yang satu ini bukannya memberi saran aku harus ngapain malah ngajak keprok-keprok, layaknya tontonan yang tidak penting di salah satu stasiun TV tapi tetap suka aku tonton.

“Ahhhh lo keprok-keprok mulu. Loe bukannya kasih saran apa kek yang harus gua lakukan, bulan depan gua dah gak dapat gaji, oncom!”

“Alah, bukannya hal seperti ini biasa dalam dunia kerja. Anything could be happen to you, no matter you have worked perfectly, once you make one mistake company can determinate you anytime.”

“Iya gua tahu. Tapi gua harus ngapain?”

“Gampang loe tinggal ngelamar pekerjaan lagi kan? Marketing itu jenis pekerjaan no.1 paling mudah untuk di dapatkan, apalagi dengan pengalaman loe yang sudah 2 tahun. Senior bo’!”

“Gua nyari kemana?”

“Pasar Jatinegara jeng!” mulaikan Shela geblek asal lagi ngejawab pertanyaan serius yang aku lontarkan.

“Ah cape gua ngomong ama lo.”

Aku rebahkan tubuh diatas kasur yang tidak terlalu empuk, aku luruskan kaki dan memejamkan mata sejenak. Aku males untuk kembali ke kosanku sendiri. Tiba-tiba dalam pejaman mata untuk menghilangkan rasa penatku, ada sebuah bayangan yang melintas. Bayangan seorang pria putih, manis tepatnya cute, tidak terlalu tinggi tapi juga tidak terlalu pendek, bertubuh sedang melintas. Wira Putranto. Aduh aku jadi melintir kangen. He’s so gorgeous but he’s too good to be true.

Setelah sekian lama aku tidak merasakan getar-getar gelombang yang mengalir dianatara aliran darah dalam tubuh, aku merasakan juga sekarang. Jatuh cinta. Tapi yang memalukan aku tidak berani untuk lebih karena kami adalah teman. Memang, Judith Parasati perempuan memalukan tidak berani mencinta hanya berani memandang. Dia hanyalah sebuah mimpi. Menjadi temannya saja sudah cukup bagiku.

Sudahlah aku mau tidur saja memimpikan Wira. Dalam keadaan aku sedang nelangsa tanpa pekerjaan dia memelukku, mengusap ari-ari rambutku dengan lembut. Mmhhh so sweet what I have in my mind. Dalam kurun waktu melamunku tiba-tiba hp-ku berbunyi sebuah sms masuk,

Dith, serius lo dah keluar dari kerja.

Lo gak apa-apa kan?

Sender Wira ‘gorgeous’

Sms ini memberikan aku semangat lagi. Ternyata Wira cukup perhatian juga. Dunia tidak akan berhenti begitu saja hanya karena saya kehilangan pekerjaan. Perlahan-lahan kata-kata Shela terputar kembali dalam otak saya. Betul sekali aku hanya perlu mencari pekerjaan lagi. Pasti dalam waktu satu sampai tiga bulan pekerjaan itu akan datang. Aku yakin. Dalam masa pencarian itu sebaiknya aku nikmati sebagai waktu istirahat dari kerutinitasan. Kadang si geblek Shela bisa mengeluarkan saran yang baik dari kata-kata ngaco dia.

Semangat!!!!!!

***


[1] Batman refer to Kampret. Biar tidak terlalu kasar, mengingat mungkin banyak anak dibawah umur membaca buku ini.

[2] Theme song yang aku temukan kala senggang menonton SUPER SOULMATE.

Cerita Mukidi

Tertawa Itu Hemat

Musim Semi

berharap hangat itu sampai ke hatimu begitu juga cintaku

Ine Punya Cerita

Just a simple talking between me, my life and myself. :)

Indie Hero

Brian Marggraf, Author of Dream Brother: A Novel, Independent publishing advocate, New York City dweller

De Ēntín

Just another WordPress.com weblog

Legal Banking

Learning about Indonesian Legal Banking

Just on My Point of View

celoteh .:tt:.

- menulis saja -

KUPU-KUPU AKSARA

Lemaskan jemari, bebaskan pikiran dan biarkan aksara menyusun sendiri petualangannya

Kamera Kata

..mengkristal waktu bersamamu

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Cerita Mukidi

Tertawa Itu Hemat

Musim Semi

berharap hangat itu sampai ke hatimu begitu juga cintaku

Ine Punya Cerita

Just a simple talking between me, my life and myself. :)

Indie Hero

Brian Marggraf, Author of Dream Brother: A Novel, Independent publishing advocate, New York City dweller

De Ēntín

Just another WordPress.com weblog

Legal Banking

Learning about Indonesian Legal Banking

Just on My Point of View

celoteh .:tt:.

- menulis saja -

KUPU-KUPU AKSARA

Lemaskan jemari, bebaskan pikiran dan biarkan aksara menyusun sendiri petualangannya

Kamera Kata

..mengkristal waktu bersamamu

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.