Cinta Dalam Diam

Dengan mata yang penuh nerawang ia memandang langit-langit kamarnya. Ia sedang memimpikan bidadari hatinya. Bibirnya tersinggung sebuah senyum. Pelan-pelan ia mulai menarik bibir tipisnya, semakin lebar, semakin merekah lalu tiba-tiba sebuah tawa menyerbak seisi ruangan. Apa yang sedang ia tertawa?

 

Ia putarkan kepalanya kearahku, sepertinya ia mulai menyadari kehadiranku disini. Atau ia tidak suka aku memperhatikan ia saat ia sedang memimpikan bidadari hatinya. Dengan kening yang berkerut, ia tajamkan pandangan kearahku, itu menandakan bahwa ia sangat tidak suka untuk disimak sedemikian rupa. Aku mencoba mengalihkan pandanganku, berpura-pura tidak sedang memperhatikan segala gerak-geriknya, lalu pelan-pelan aku menutup mata.

 

Aku tahu siapa yang sedang ia mimpikan, yang dapat membuatnya tertawa dengan begitu renyah, yaitu seorang wanita yang selalu datang setiap hari kamis untuk menyapanya. Genggaman tangannya selalu menghangatkan sanubari. Tangan wanita itu begitu lembut menyapu setiap lekuk wajahnya. Tangan itu membuat aku merasa begitu iri. Aku pun ingin menyentuh lekuk wajahnya.

 

Pria itu sungguh tampan, hidung yang mancung, bibir yang tipis, arrgghh ingin aku merasakan sentuhan bibir itu, meresapi rasa yang ada dibalik bibir itu. Tubuhnya yang cukup bidang dan proposional sebagai pria yang terbilang tidak pernah berolah raga. Tidak pernah sekalipun aku melihatnya berolah raga, meskipun sekedar sit up, seperti biasanya para pria lakukan untuk menjaga kebugaran. Memang perutnya terlihat agak sedikit membumbung ke depan, akan tetapi hal itu tidak menghilangkan kemenarikkan dirinya.

 

Hari ini adalah hari kamis, jam dinding pada kamar menunjukkan tepat pukul 5 sore hari. Samar-samar aku mendengar sebuah langkah stiletto berdentang perlahan tapi pasti. Semakin mendekat dan jelas suara langkah itu. Wanita telah datang untuk menyapa dan berbincang-bincang. Kali ini wanita itu mengenakan sebuah setelanan yang sangat elegan dimataku. Blazer hitam dengan rok sedikit diatas lutut. Dari bagian atas pakaian yang dikenakan tersisip sebuah kemeja berwarna merah menyala. Sungguh anggun, terlebih dengan boots stilettonya.

 

Aku ingin sekali mengetahui apa yang akan mereka perbincangkan. Seperti biasanya setelah wanita itu pulang, pria itu akan selalu mengukirkan sebuah senyum manis di wajah tampannya. Aku mulai pertajam pendengaranku agar dapat mendengar apa yang sedang mereka percakapan.

 

“Malam Mas.” Saat kuintip, pria itu membalas dengan senyum. Aku tahu itu adalah senyum kebahagiaan.

“Mas, kamu tidak boleh malas makan, ntar sakit. “

“Aku mau cerita sesuatu sama kamu mas. Sudah lama yah kita tidak cerita-cerita seperti dulu. Aku kangen banget. Kangen dengan tawa renyahmu, dengan coletahanmu, dengan ambekanmu, semuanya mas, semua yang ada pada kamu selalu membuat aku kangen.”

 

Aku terus berusaha untuk mendengarkan mereka. Tiba-tiba sayup-sayup aku mendengar wanita itu menceritakan seseorang kepada pria itu. Aduh suaranya kecil sekali. Samar-samar aku mendengarkan sebuah isakan. Aku terus mencoba mempertajam pendengaran, hah pria itu meneteskan airmata. Aku membuka mataku untuk melihat apa yang sedang terjadi. Kali ini aku tidak peduli apabila pria itu akan memandang tidak senang padaku. Aku harus tahu apa yang membuat pria itu meneteskan airmatanya. Wanita itu sedang menceritakan apa pada pria itu. Cerita sedihkah? Hingga memilukan hati dan mengalirkan air dari matanya.

 

“Aku akan menikah Mas, maafkan aku. Aku sudah tidak mampu menunggu kamu lagi.”

“Padahal hatiku selalu menuntut diriku untuk menunggu kamu, menunggu kamu kembali ke rumah hatiku.”

“Tapi aku hanya seorang manusia biasa yang akan kalah dengan deraan lingkungan sekitarku.”

“Mereka, keluargaku, tidak pernah percaya kamu akan kembali. Memulihkan keceriaan hidupku. Mereka pikir tidak ada gunanya lagi aku menunggu kamu. Mereka sibuk membicarakan usiaku yang terus bertambah, sedangkan tidak ada kepastian kamu akan kembali, Mas.”

“Bahkan ibumu tidak dapat menjamin kamu akan kembali padaku. Menyakitkan mendengar itu.”

“Kalau kamu tanya perasaanku, aku sangat sedih. Aku sudah berhari-hari menangis. Bahkan mereka melarang aku untuk bertemu denganmu. Untuk sekedar membelai rambutmu yang masih lembut seperti dulu, atau untuk sekedar mengecup keningmu agar kamu merasakan sebuah ketenangan di sanubarimu.”

“Mas, aku sayang kamu. Tapi aku kalah oleh lingkungan sekitarmu.

 

Jahat! Ingin aku memaki wanita itu. Tangis pria itu semakin pecah, hingga memecahkan kesunyian seluruh ruangan. Semakin mengencang, hingga ia mulai berteriak. Berteriak seperti biasa saat hatinya sedang kacau. Saat ia kecewa atas orang-orang yang hadir dalam hidupnya.

 

“Hey, wanita! Apabila engkau tahu, engkau akan pergi meninggalkan dia, mengapa engkau selalu datang mengunjunginya. Engkau hanya memberi sebuah harapan semu. Dimana perasaanmu?” Teriakku dengan penuh kemarahan.

“Untuk apa engkau datang, toh, cukup aku disini yang menemaninya dalam sepi.”

“Tahu kah engkau hatinya hanya akan semakin terluka, lebih dalam dan dalam lagi hingga membuatnya berdarah.”

 

Sungguh marah hatiku. Tapi jelas tidak mungkin wanita itu dapat mendengar teriakkanku. Jangankan teriakanku, pria itu pun tidak mampu menjawab apapun dari setiap perkataannya. Tapi aku tahu dia mengerti setiap ucapan wanita itu, sorot matanya menjawab itu. Sorot mata yang selalu memberi arti bahwa ia paham akan semua perkataan. Oleh karena itupun ia dapat menangis hingga berteriak. Sebuah reaksi dari seorang pria yang memiliki ketidakstabilan jiwa. Seorang pria yang tidak bisa mencerna isi hati dan kepala untuk dituangkan dalam untaian kata. Pria yang hanya hidup dalam dunianya sendiri. Dunia dimana hanya ada dia dan Tuhan sebagai sahabatnya serta malaikata para penghiburnya.

 

Aku memang hanya sebuah dinding yang menemani pria itu dalam ruang yang sempit berukuran 3×3 m yang tertutup rapat, hanya sebuah ventilasi kecil di dekat langit-langit kamar yang dapat memberikan seberkas cahaya pagi. Memandang setiap pola tingkah seorang pria yang tangannya terbungkus kain sehingga ia tidak bisa mengerakkannya secara bebas. Orang-orang takut apabila tangannya dibiarkan bebas ia akan menyakiti dirinya. Aku pernah melihat ia menyiletkan pergelangan tangannya saat minggu pertama ia hadir di ruangan ini. Sejak saat itu tangannya selalu terbungkus rapat oleh kain. Karena pria itu hanya seorang pasien rumah sakit jiwa yang masih mampu merindukan cintanya tanpa mampu mengatakan I LOVE YOU.

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

1 thought on “Cinta Dalam Diam”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s