Kepada Yth. Sang Mantan

Hai mantan, kamu hari ini tiba-tiba muncul dalam ruang sosial media. Kemunculan kamu sebenarnya biasa karena kita merupakan dua orang yang berteman. Tapu kali ini kamu muncul sebagai mantan dan menyeretku pada masa lalu.

Kamu bercerita mengenai rasa bersalah kamu, tentang kesialan kamu yang belum juga mendapatkan jodoh. Sama saya juga belum mendapatkan jodoh. Tapi saya tidak mau menyeret kamu ke sebuah masa lalu dimana pada ruang itu kita saling bercerita, saling tertawa, saling berbagi. Meski keberadaan “Kita” pada ruang itu cukup singkat, akan tetapi ada unsur daya tarik menarik hingga saat ini. Hingga pada fase kita adalah teman.

Hai mantan, bukan kesalahan kamu kalau saat ini saya belum menikah. Bukan juga tanggung jawab kamu untuk menjadikan hidup saya lebih baik.

Hai mantan, kalau kamu melihat saya hari ini begitu kusut, begitu berantakan hidupnya. Sekali lagi bukan salah kamu. Kamu dengan kesalahan pada masa lalu adalah pelajaran bagi saya dan juga bagi diri kamu sendiri. Menebus hal itu pada masa sekarang tak akan mengubah yang sudah terjadi. Kenangan yang tak menyenang itu akan terus melekat pada sisi diri kita masing-masing.

Hai mantanku yang baik, tak perlu saya berada dalam komunitasmu untuk kita tetap akan berteman. Tanpa keberadan saya di sekitarmu saya tetap temanmu. Hari ini dan yang akan datang.

Hai mantan, meski begitu telat kamu meminta maaf atas kejadian masa lalu. Meski begitu telat kamu menjelaskan mengapa kamu meninggalkanku ketika itu. Tapi terima kasih telah menjelaskan semua itu pada saya hari ini.

Hai mantan, kesialanmu bukan karena saya atau mantan-mantanmu yang lain. Itu bukan kesialan tapi ujian untuk mendapatkan jodohmu yang sudah lama menunggu. Menunggu kamu untuk berada pada titik yang saya dengan dirinya.

Bersabar yah. Yakinlah kita akan bertemu lagi untuk saling bertukar surat undangan.

Be tough.
Be strong.
And always cheer the world with your kindness.

With love
Me

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s