Badanku terasa kaku demikian juga dengan hati dan pikiranku. Kunamakan kekakuan ini dengan jenuh. Aku mulai jenuh dengan kehidupanku. Aku semakin tidak nyaman dengan keadaanku.

Teringat dengan kata-kata para pemuka agama bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali sendiri karena ketika mati manusia akan sendiri. Tidak ada kawan, tidak ada keluarga, apalagi kekasih. Mereka semua akan tetap hidup dan bernafas.

Bagiku tak perlu menunggu kematian, Tuhan sudah mulai mengajarkanku bahwa hidup itu sendiri. Meski Dia menyabdakan bahwa Dia telah menciptakan pasangan bagi umatnya, toh saat ini Dia telah mengingatkan sekaligus mengajarkan tentang kesendirian.

Seakan Tuhan sedang berbicara padaaku,
“Kau lihat, saat kau sakit, saat kau terjatuh tak ada tangan lain yang membantu. Jangan dulu kita bicara tentang bantuan, genggaman tangan yang kau sebut sahabatpun tidak ada.”
Rasanya ingin aku melempar Tuhan dengan benda apapun didekatku. Ingin kumaki. Ingin kehardik. Tapi apa daya semua itu benar.

Saat ku terpuruk, memikul rasa sakit di tubuh, rasa perih di hati, dan rasa mual di pikiran aku sendiri. Aku melangkah gontai menjauh dari segala keramaian untuk menyembuhkan diri. Hatiku berkata “kemana teman-temanmu yang datang saat mereka butuh pertolongan. Mereka yang mendatangi kamu saat mereka susah. Saat mereka membutuhkan teman. Kemana mereka sekarang saat kamu membutuhkan teman.”

Tak dapat kupungkiri, semua teman itu tidak ada.

Kali ini aku merasa lelucon Tuhan sungguh menyebalkan. Tuhan tidak tahu bahwa aku bosan dengan segala pelajaran hidup yang diberikan. Bisa jadi saat ini Tuhan sedang asyik tertawa dengan para rasulNya. Menertawakan nasibkua. Menertawakan kesendirianku.

“Tuhan, kenapa Engkau tidak sekalian saja matikan aku, tidak capekah Engkau mengajariku? Menjadikan hidupku lelocon?”

Aaarrrggghh, Tuhan itu tidak pernah lelah, tidak pernah cape. Tapi aku kan manusia pun bila akj tak disangaka robot.

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

4 thoughts on “”

    1. Betul yang disampaikan Mbak Titik, ndak semua beruntung, kita semua bertahan hidup, tidak hanya sekadar melawan lapar dan dahaga, tapi batin yang juga remuk redam kadang kala.🙂.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s