BISU

Kota sedang diguyur hujan tanpa henti. Udara dingin memasuki ruangan. Aku duduk di sofa menonton televisi yang tak kutonton. Aku sibuk dengan gadgetku. Aku asyik line dengan teman-temanku. Sekedar kutanyakan kabarnya, apakah mereka sudah pulang dari kantor atau akan hang out sebelum pulang ke rumah. 

Mendadak aku rindu dengan rutinitas bodoh itu. Bangun pagi-pagi padahal mata masih ingin terpejam. Mandi, sarapan sambil terus mata melirik ke jam dinding. Setengah berlari mengejar tukang ojek yang sedang mangkal di pos ojek. Dan tak terlewati menembus padatnya lalu lintas di Jakarta. Mau dibilang macet, toh setiap hari, setiap saat jalanan di Jakarta seperti ini, dari segala arah penjuru pun sama. 

Dulu aku sangat merasa jenuh dan suntuk akan segala aktifitas. Aku selalu sibuk merencanakan cuti untuk jalan-jalan menjauh dari Jakarta. Tapi sekarang aku rindu dengan itu semua. Dengan kemacetan serta kebisingan Jakarta, belum lagi polusi yang memasang aku harus menggunakan masker seperti orang penyakitan.

 

Aku masih sibuk dengan gadgetku. Tetap duduk di sofa dengan televisi menyala tanpa pandanganku ke arahnya. Sofa ini yang menjadi sahabat baruku. Setiap hari di sofa ini aku menghabiskan waktu. Entah membaca, main games atau chatting dengan teman-temanku. Inilah aktifitas baruku.

 

Dia.

Dia yang memunggungiku. Dia asyik dengan komputernya. Terkadang dia browsing tapi lebih sering dia main games. Aku sendiri tidak mengerti games apa itu, yang aku tahu saat dia main games tidak boleh diganggu. Sesekali ia membalikkan badan sekedar melihat apa yang sedang aku kerjakan. Apabila mata kami bertemu, ia hanya tersenyum lalu kembali membalikkan badan dan bermain games. 

Sedikit kata yang keluar. Sedikit tawa yang hadir.

Dia.

Dia yang bisa membuat aku meninggalkan rutinitas bodoh tapi menyenangkan itu. Dia yang membuat aku bertekuk lutut dan menurut. Dia yang aku serahkan jiwa ragaku untuk dibimbing. Dia yang menjadi kepala keluargaku sekarang.

 

“Yank, udah jam 1, kita makan yuk. Aku dah masak beef teriyaki.”

Sapaan pertamaku sejak tadi pagi.

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

2 thoughts on “BISU”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s