Jingga

Aku sekarang berada pada ruang hidup yang lain. Ruang ini akan kuhiasi dengan warna yang baru. Tapi aku masih mempertimbangkan warna apa yang pantas. Kuwarnai biru kah? hijau kah? merah? atau hitam. Aku suka hitam. Dia hitam tapi memekatkan pandangan. Haruskah hitam lagi yang kugoreskan pada dinding hidupku kali ini? Sungguh menjenuhkan. Aku harus memulai mengganti warna hitam ini. Dari mulai aku kurangi kepekatannya hingga menjadi abu sampai akhirnya ku jinggakan seluruh dinding ini.

Aku takut, hatiku berontak pikiranku berkecamuk. Kupaksakan untuk berani menggoreskan jingga pada dinding ini. Aku pantas untuk memiliki warna yang ceria. Sebagaimana aku layak untuk bahagia. Bukan kebahagiaan semu bukan pula kebahagiaan yang setengah-setengah melainkan rasa bahagia yang utuh.

Ruang ini bukanlah ruang yang sempurna. Penuh coret, penuh codet. Pada ketidaksempurnaan ini aku bernaung kelak. Menjadikan tempat untuk berteduh. Menjadikan tempat untuk pulang.

Perlahan-lahan warna jingga mulai hadir, meski baru beberapa gores tapi mulai memudarkan kepekatan warna hitam.

                           ***

Hari ini cukup cerah untuk berjalan memanjakan kaki dengan butiran pasir halus. Dia menggandeng tanganku, begitu erat seakan takut aku lari. Senja mulai turun, pudar tetapi hangat masih terpancar.
“Bih!” panggilannya membuyarkan lamunanku.
“Ya”
“Kenapa kamu suka sekali ke pantai? apa sih yang kamu cari?”
“Hmmm. Mencari ujung air laut yang sampai detik ini belum ketemu.”
“Yaelahh, ga akan ketemu kali. Laut itu terhubung satu dengan yang laut lain ampe kapanpun ga ketemu”
“Nah itu yang aku cari, sesuatu yang tidak akan ketemu. Berbeda dengan gunung yang pasti ada puncaknya.”
“Terus, apa yang buat kamu selalu rindu pantai, air laut?”
“Karena tidak akan pernah bertemu ujung air laut. Jadi tak pernah menjenuhkan aku.”
“Hehehe..kalau aku menjenuhkan tidak?” tanya dia seketika yang membuat aku bingung untuk menjawabnya.
“Tergantung kamu mo jadi gunung atau laut?”
“Jadi dua-duanya deh.”
“Ga bisa.”
“Yah udah aku jadi laut.”
“Good choice.”
“Karena aku ga mau kamu ketemu ujung diriku hingga kamu jenuh. Aku akan terus ingin dicari olehmu, dirindukan olehmu karena setiap waktu ada hal baru yang aku berikan untuk kamu.”

Senang hatiku mendengarnya, kutarik ia untuk semakin merapat denganku, kugenggam lebih erat tangan untuk sekedar tanda aku senang dengan.jawabannya.

“Bih.”
“Hhhmm”
“Will you marry me?”

                            ***

Aku, kamu pada ruang jingga ini. Aku, kamu bersama-sama mewarnai dinding dengan warna masing-masing hingga terspektrum warna jingga.

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

2 thoughts on “Jingga”

  1. Gue anggap ini true story. Makanya gue mau bilang: “Selamat ya, Mba… Good Choice🙂 ”

    Btw, we share the same blog skin… what a coincidence..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s