Mimpi

Hanya mimpi yang membuatku bertahan.
Bertahan untuk tak menitikan airmata
Bertahan untuk tak bunuh diri

Hanya mimpi yang membuatku tetap tersenyum
Menegukkan rasa pahit hingga terasa manis

****

Kuteguk cangkir kopi dihadapanku. Aku sudah lupa ini hari apa. Telah lama kutepis makna sebuah hari. Bagiku, bagi duniaku tak ada ubahnya senin, selasa atau sabtu. Setelah hampir 1 jam aku berkutat dengan keasyikanku sendiri, kuangkat sedikit kepalaku untuk melihat apa yang terjadi disekitarku. Ternyata coffee shop ini telah ramai. Seingatku, tadi hanya dua meja yang terisi dan menjadi tiga dengan aku yang duduk di salah sudut coffee shop ini. Meja-meja telah penuh dengan pasang muda mudi. Mata-mata penuh cinta bertaburan mengalahkan taburan bintang di langit. Aku iri? Ada sebersit rasa itu, karena aku duduk sendiri, di sudut yang tersembunyi hanya bersama secangkir kopi dan sepotong donat.

Aku pandangi gadget-gadget yang mungkin dapat membuat orang yang melihat menjadi iri. Karena semua model gadget berada di tanganku. Tertawa aku bila tanpa sengaja aku bertatapan dengan mata yang memandang iri. Dalam hati aku berkata, “untuk apa kalian iri, aku hanya bersama benda mati sedangkan kalian sedang bersama mahluk hidup dan yang lebih beruntung kalian sedang bersama yang terkasih.” Benda mati tak akan dapat disetarakan dengan mahluk hidup manapun. Apalagi disetarakan dengan orang yang dicintai. Tak ada kebanggaan bagiku dengan segala benda mati ini, ini semua hanyalah penggusir sepiku.

****

Aku dan kamu.

Begini rasanya berpisah darimu. Jiwaku seakan membeku. Tak akan aku sebut mati. Karena selalu ada cinta dan kasih pada sudut terpojok hatiku. Dia hanya membeku, terpagarkan, tersembunyi atau mungkin berkarat. Setiap hari yang aku bunuh adalah waktu. Waktu-waktu dimana aku menunggu kamu pada sebuah halte lalu beranjak menyusuri trotoar sekedar mencari jajanan kaki lima untuk mengisi perut.

Tanpa sadar aku dan kamu telah mengisi banyak sudut waktu bersama hingga lupa menghitung waktu yang hilang untuk orang lain. Fokusmu adalah waktuku. Fokusku adalah waktumu.

Seringkali aku mempertanyakan telah kubuang kah waktu-waktuku untuk kuhabiskan bersamamu? Hanya sebuah entah yang mampu aku jawab. Entah mengapa aku begitu rela memberi waktuku. Entah mengapa aku begitu menikmati ketika kita saling menyatukan waktu.

Dari awal, saat cinta itu bersemi dihatiku yang kutahu hanya waktu yang aku miliki darimu. Waktu yang mungkin hanya sehari, sebulan atau setahun. Waktu yang pada kenyataannya telah menjadi tiga tahun lebih mungkin. Aku tak pernah dapat memiliki kamu, memiliki masa depanmu, memiliki hidupmu. Sehingga tanpa kita sadari, kita hanya berpegang pada waktu untuk menyatukan bulir-bulir kasih yang mengalir tanpa mampu kita cegah. Berharap waktu yang akan memutuskan jalinan kasih itu. Berharap bila waktu itu tiba tak akan ada pedih menghampiri. Aku dan kamu.

Pada suatu sudut hidup kita berdua, tanpa kita sadari ada tali tipis yang menghubungkan sudut-sudut yang berjarak. Tali tipis inilah yang mempertemukan kita kembali. Menghadiri sebuah senyum dan tawa pada hari kita. Menitikkan air mata pada ketidakkuasaan aku dan kamu melawan kenyataan. Sering kumempertanyakan mengapa harus terhubung dengan kamu.

Mengapa ada sebuah tali tipis yang menghubungkan sudut-sudut bumi yang memperjarak aku dan kamu tanpa sebuah kabar, tanpa sebuah kata mengenal. Atau mengapa tali itu baru saja memperpendekkan jarak antara sudut hidupmu dan sudut hidupku. Mengapa tidak dulu, saat aku masih sangat ranum, saat kamu masih sungguh gagah.

Mengapa wajah kita baru bertemu saat kenyataan lain telah berada disisimu. Seribu…seribu tanya bahkan lebih dalam otakku yang mampu menggilakanku, mencabut akal warasku. Aku dan kamu. Tak ada jejak yang dapat kita pandangi, setelah waktu berhasil pelan-pelan memotong tali-tali itu, memperjarakkan aku dan kamu kembali, mengembalikan aku dan kamu pada sudut-sudut bumi yang tersembunyi satu dengan yang lain. Sudut yang melemahkan kemampuan penglihatan.

Jahatkah waktu?
Mungkin bagiku jahat. Bagiku waktu terlalu mengejek hidupku. Mencemoohkan perasaanku. Tapi mungkin bagi Sang Pemilik Alam, waktu adalah keadilan hidup.

Kejujuran dan jawaban bagi semua pertanyaan hidup. Aku menyerah. Hanya ada kata maaf dariku, karena aku tak akan mampu melawan waktu. Itu sama saja aku melawan badai nestapa hanya dengan bermodal perisai.

****
Aku dan Aku pada sudut hidup.

Wahai hatiku yang sepi. Apa kabar kamu? Semoga kamu masih sanggup untuk bertahan. Bertahan menikmati rasa sepi. Bertahan untuk mendingin tanpa suatu sentuhan kehangatan. Aku tidak bisa menjanjikan kapan penghangat itu hadir kembali. Bisa jadi esok ada sebuah tangan yang menyentuh kamu lagi, tapi mungkin 1 atau bahkan 3 tahun yang akan datang.

Wahai hatiku yang sepi. Maafkan aku. Maafkan aku yang seringkali salah mencintai orang. Salah memilih tangan yang menghangatkanmu. Salah memilih cinta untuk hadir menceriakanmu.

Hanya maaf yang dapat aku utarakan padamu. Karena aku tidak tahu lagi apa yang mampu aku lakukan untuk membuatmu tidak sepi lagi. Membuatmu hangat penuh cinta dan kasih.

Wahai hatiku yang sepi. Aku hanya dapat memberikanmu mimpi. Mimpi yang dapat membuat kita berdua masih memiliki senyum. Mimpi yang mampu membuat kita menikmati rasa pedih, perih dan sepi. Mimpi yang memberikan kita pengharapan baru setiap hari, meski di malam hari kita menemukan mimpi itu tak akan menjadi kenyataan pada hari ini, tapi dengan mimpi kita akan berharap untuk esok hari.

Wahai hatiku yang sepi. Mari kita saling menggenggamkan tangan agar bertahan. Mungkin waktu menunggu kita akan lebih lama dari sebelumnya. Mungkin kita tidak akan lagi bertemu dengan orang seperti dia yang benar-benar menghancurkan dingin dan sepinya kita berdua. Orang yang menyiramkan cinta dan kasih secara penuh meski dibatasi oleh waktu.

Wahai hatiku yang sepi. Aku mengajakmu untuk berdoa agar Sang Pemilik Alam mempercepat waktunya untuk kita bertemu dengan tangan yang menghangatkan itu.

****

Dari earplugku, terdengar lagunya Adele, Someone Like You. Kukemaskan semua gadgetku. Pulang adalah pilihan yang terbaik sebelum airmata ini menetes.

Never mind I find someone like you I wish nothing but the best for you “Don’t forget me,” I begged
“I’ll remember,” you said
“Sometimes it last in love but sometimes it hurts instead”

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

3 thoughts on “Mimpi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s