Dibalik Tembok

Sungguh aku penasaran apa yang kamu lakukan di balik tembok itu. Tembok yang bersisian dengan rel kereta. Biasanya kamu bersembunyi dibalik tembok, sewaktu-waktu kamu munculkan kepalamu dari lubang yang ada pada beberapa bagian sejalur tembok. Selalu dengan pakaian seksi yang begitu menurutmu, hotpants atau rok span yang sulit untuk kamu ajak berlari serta kaos berwarna mencolok yang super ketat. Terkadang kamu mengenakan tanktop atau “u can see”.

Ada rasa penasaran dengan kemunculanmu dari balik tembok pada malam yang cukup remang karena penerangan jalan yang seadanya. Terbesit pada pikiranku, lampu remang pada sisi jalan tempatmu berdiri memang sengaja dibuat agar yang tampak hanya seluwetmu.
Tidakkah kamu lelah semalaman berdiri di trotoar? Menantikan sebuah ketidakpastian. Menawarkan keindahan yang dipaksakan. Kamu bersama teman-teman tetap sabar berdiri, sesekali kamu bersembunyi ke balik tembok. Aku tidak dapat melihat apa yang kerjakan di balik tembok itu. Sekedar duduk beralaskan koran untuk meluruskan kakimu yang sudah pegal? Atau menerawangkan pikiranmu dengan sebatang rokok yang mungkin dulu tidak kamu suka.

Apakah yang aku tunggu?
Cinta?
Kemesraan?
Atau sekedar lembar rupiah agar kamu tetap hidup esok?
Atau sebuah kewajiban terpaksa yang telah mengikatmu jauh sebelum kamu mengerti tentang apa yang kamu kerjakan hari ini?

Malam ini kebetulan aku melalui sejalur tembok dimana kamu biasa berdiri di sisi trotoar. Tak henti mataku memandang kearahmu hingga kamu menghilang dari pandanganku karena berlalunya kendaraanku. Kamu berdiri dengan celana pendek ketat yang hanya menutup selangkangan dan pantatmu serta kaos ketat berwarna orange mencolok yang membentuk pinggang dan buah dadamu. Kamu tidak pernah sendiri selalu beramai-ramai. Kamu yang berbadan sintal, kamu yang bertubuh kecil tapi berisi, kamu yang bertubuh semampai, kamu yang berdada besar, dan kamu yang belum tumbuh payudaranya. Selalu pada sisimu berhenti seorang pria dengan motor. Aku mencoba menebak, mungkin terkadang pria-pria itu mangkal disisi jalan tempatmu berdiri.

Siapakah pria-pria itu?
Temanmu kah?
Baru kamu kenalkah?
Yang menerima tawaran kemesraan sesaatmu kah?
Atau pengantarmu kepada pria yang mencari kemesraan sesaatmu?

Dimana kemesraan itu terjadi?
Di balik tembok itukah kemesraan dimulai? Sekedar berbincang-bincang dengan sebotol air mineral atau teh ditemani gorengan serta sebungkus rokok yang telah mual kamu hisap? Lalu berlanjut pada sebuah kamar yang pengap yang telah disediakan oleh orang-orangmu? Pada sebuah motel?
Tapi jangan sebut dibalik tembok itu dengan hanya beralaskan koran. Atau langsung menuju ranjang tanpa sebuah perkenalan.

Sungguh aku penasaran apa yang kamu lakukan di balik tembok itu. Tembok yang bersisian dengan rel kereta. Biasanya kamu bersembunyi dibalik tembok, sewaktu-waktu kamu munculkan kepalamu dari lubang yang ada pada beberapa bagian sejalur tembok. Selalu dengan pakaian seksi yang begitu menurutmu, hotpants atau rok span yang sulit untuk kamu ajak berlari serta kaos berwarna mencolok yang super ketat. Terkadang kamu mengenakan tanktop atau “u can see”.

Kamu, pada malam yang remang entah sampai jam berapa terus mencari kemesraan sesaat, mencari puing-puing rupiah untuk hidupmu. Tanpa lelah, membuang rasa risih, rasa malu, rasa takut, rasa perih.

Aku hanyalah seorang penonton, yang menyaksikan kamu berdiri pada malam itu, menyaksikan kamu berbincang dengan pria bermotor yang entah diakah yang membutuhkan kemesraan atau dia membantu orang lain untuk mencarimu karena orang itu yang membutuhkan kemesraanmu. Tak dapat aku bayangkan perih hatimu, sakitnya tubuhmu. Masihkah kamu dapat tersenyum di hari pagimu?

Kamu tahu?
Tak perlu kamu pikirkan orang-orang yang menghinamu, karena mereka tidak tahu apa yang kamu jalani. Bagaimana kamu bisa sampai pada trotoar sisi tembok itu. Mereka tak tahu pahitnya harimu. Tetaplah tegar hatimu dan tersenyum meski palsu. Yakinlah dunia pada saatnya akan berputar, dan roda hidup akan berada diatas. Yakinlah Tuhan itu ada, meski kamu telah melupakanNya. Meski bagimu sungguh takdir itu tak adil. Tetaplah tersenyum. Karena Tuhan itu tetap ada.
Sabarlah kamu karena duniamu suatu hari akan berubah. Karena harimu suatu hari akan berganti. Perihmu akan terhapuskan. Sakitmu akan terobati meski jawbannya adalah kematian. Tunggulah kemesraan sejati akan menghampirimu. Aku tahu kamu sudah tidak percaya. Aku tahu kamu bahkan telah muak. Jangan pernah berhenti berharap. Kudoakan kehidupan sejati tanpa kamuflase akan kamu peroleh.

*Untuk para perempuan yang setiap malam berdiri di trotoar sisi rel*

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

2 thoughts on “Dibalik Tembok”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s