Gedung Itu

Matanya terus memandang ke arah gedung itu, bukan sebuah gedung bertingkat apabila lagi mewah. Bangunan itu hanya berlantai satu dengan ruang yang banyak. Laki-laki tanggung itu mendengus, seakan-akan hidup sudah sungguh sial baginya.

Ia sedang berbicara dengan pikirannya sendiri nampaknya. Dahinya mulai berkerut sepertinya pikirannya telah berkelana.

Aku itu iri sama mereka. Mentang-mentang tampangku bringas dan jorok, bukan berarti aku tidak ingin merasakan itu semua. Duduk didalam dengan tenang. Tertawa-tawa penuh keceriaan tanpa harus memikirkan penatnya kota. Berlari-lari mengitari gedung itu atau memanjat pohon mangga yang ada di halamannya. Mimpi di siang hari bolong kusebut itu semua.

Aku menyadari apa yang orang katakan kepadaku, masayarakat sampah. Tampang memang sudah selayak sampah apalagi bau tubuhku, menyengat bau busuk, ditambah daki-daki yang kian menempel erat dengan kulit legamku. Tapi bukan berarti aku tidak ingin seperti mereka. Bukan berarti aku puas dengan kebodohan otakku. Sungguh aku membencinya.

Ia merogoh sesuatu dari kantong celananya. Sebuah rokok ia sematkan diujung bibirnya. Entah siapa yang mengajarinya, mungkin awalnya ia hanya meniru orang dewasa, lalu coba-coba dan akhirnya terbiasa. Rokok racikannya sendiri, yang ia linting dari tembakau-tembakau sisa yang dibuang oleh orang-orang. Rasanya sudah tentu tidak karuan tapi itu cukup baginya. Sambil ia isap rokok lintingan matanya tetap terpukau pada gedung itu. Gedung yang bagi menyimpan harapan untuk bisa bermain.

Kampret emang orang-orang kaya. Aku cuman minta kemewahan yang ada di gedung itu. Buat mereka mungkin gedung itu mungkin membosankan, mungkin jauh dari kemewahan tapi bagiku sungguh mahal harganya.

Lamunannya terus bergulir dengan memaki terhadap hidupnya yang baru sejumput. Matanya mulai memancarkan amarah yang tak terarah. Memuakkan segala nasib yang tidak ia pilih. Baginya hidup menjadi tidak adil.

“Monyet!! Napa loe injek kaki?? Anjing!” Makinya terhadap seorang bocah yang melintas tanpa ia sadari.
“Loe yang anjing, setan! Siapa suruh loe taro kaki loe di jalan. Ngalangi orang mau lewat. Loe yang MONYET!” Bocah itu balas memaki.
“Tai!! Pergi loe sana! Loe beruntung gua lagi ga minat ngegebuk orang.”
“Loe yang tai, ngelamun aja gaya orang bego.” Balas bocah itu sambil berlalu.

Hidup baginya cukup keras. Di usianya yang masih tanggung, ia telah melihat banyak hal. Ia tidak sudah lupa untuk tertawa apalagi bermain. Ia hanya kenal tonjokan, hajaran dan makian. Semua orang berperan untuk memakinya, ada atau tiada kesalahan yang sudah ia lakukan.

Ia kembali menghisap rokok yang entah apa rasanya.


Mereka bilang aku belum pantas untuk merokok. Pernah suatu ketika ada seorang wanita yang memarahiku karena rokok ini. Padahal dia kenal aku pun tidak. Bahkan orang yang tak kukenalpun sibuk memakiku. Sial hidupku ini. Tapi rokok ini paling nikmat untuk temanku melamun, terutama saat aku memandang gedung itu. Peduli setan dengan makian orang yang mengatakan aku terlalu kecil untuk merokok, toh mereka bantu aku apa? Kasih aku makan? Kasih aku baju? Kasih aku uang Rp 1000 aja berat bagi mereka. Seringnya aku hanya mendapatkan lambaian tangan dan malamnya aku dapat lagi lambaian yang mendarat di pipiku dari bos dan bapakku, ditambah makian dari ibuku.

Ibuku memang bangsat. Dia cuman tahu buat anak. Anak sudah 5 saja, hampir setiap malam aku dengar desahan napsu. Sial memang ibu itu. Bahkan dia tidak tahu cara memberi aku makan. Aku disuruh cari makan sendiri dengan cara terserah. Tapi lebih setan bapakku, dia cuman tahu berjudi. Mana dia tahu cara buat aku untuk bisa baca, berhitung apalagi menyekolahkanku. Kerjanya seharian cuman minta uang setoran dari aku. Syukur kalau dia lagi rajin, dia akan pura-pura jadi orang cacat dan mengemis di lampu merah.

Padahal impianku sederhana, bisa masuk ke gedung itu dan duduk didalamnya. Aku tidak keberatan meskipun hanya satu tahun aku bisa ngerasakannya, tidak perlu sampai 6 tahun.

Tapi apa yang bapakku katanya. Kalau aku masuk di gedung itu nanti aku bpintar lalu aku akan jadi koruptor. Persetan jadi koruptor toh tidak akan masuk penjara tetapi masih hidup penuh kemewahan. Bapakku itu memang tolol, mana ada koruptor yang dipenjara lama-lama. Justru yang diuber-uber kamtib itu pengemis. Boro-boro dapat sel mewah, yang ada digebukin.

Rokok di tangannya telah habis, ia masih sibuk dengan lamunan matanya masih belum lepas dari gedung itu.

“Eh anak monyet!! Loe jangan ngelamun mulu, kerja lo! Awas kalau setoran lo kurang!” Teriak seseorang padanya. Orang yang ia sebut bos.

Dengan enggan ia berdiri dari balok yang sedari tadi ia duduki. Ia harus mencari uang kalau ia tidak mau digebuk si bos atau bapaknya.

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

8 thoughts on “Gedung Itu”

  1. Luar biasa…
    Udah lama nggak main kesini, gaya bahasa dan penuturan ceritamu jadi makin berkelas. Layaknya penulis hebat… Luar biasa, Mbak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s