Rahasia

Aku sampai di kota ini dengan bau tanah sehabis hujan. Wangi menyejukkan meski ada hal yang ku tak suka pada kota ini angkot yg senantiasa membuat macet.

Pada kota ini tempat yang kudatangi tanpa beban karena tak ada kenangan buruk yang terilustrasi disini. Ketenangan dan kesejukkan yang berlomba di pikiranku. Kota yang menyederhanakan pikiran karena tujuanku hanya Rumah, tempat bapakku menghabiskan waktu.

Begitu enteng aku melangkah di kota ini, tidak ada rutinitas yang menghimpit, tidak ada kenangan buruk yang menguras perasaan. Disini hanya tertinggal kenangan lucu saat remaja, ringan dan selalu dapat ditertawakan. Ini rahasiaku, kota ini, tempat aku menyembunyikan diri. Tempat dimana aku tidak tersentuh oleh bualan laki-laki yang seringkali memabukkan aku.

Lucu bila mengingat, laki-laki yang pernah dekatku tak tahu tempat ini. Tak pernah bertemu bapakku, meski sekedar memberikan senyum hormat. Kota ini benar-benar rahasia indahku.

Dengan ringan kakiku melangkah, memberhentikan angkot menuju rumahku yang sekarang terasa sangat jauh dari pusat kota. Tanpa berharap ada yang akan mengantarku pulang, tanpa berharap akan bertemu seseorang yang menggetarkan hati baik karena senang ataupun karena perih. Disini aku aman.

Selalu dengan wajah senyum aku datang ke kota ini. Senyum yang aku peruntukkan untuk ayahku, satu-satu orang tua yang masih dapat kuberikan senyum di dunia ini.

Matahari mulai beranjak dari langit kota ini, menyisakan samar-samar sinar yang mulai diambil alih oleh bulan dan bintang.

Pada kota ini tidak ada cinta yang terukir untuk kekasih hatiku, yang tertinggal hanya cinta monyet masa remaja. Cinta yang hanya menyisakan tawa bila kuingat, bahkan sebagian telah terdorong jauh ke belakang dalam memori otakku.

Adakah pada tempat rahasiaku ini Tuhan menyimpan cinta pelabuhan akhirku?

Kupanjatkan doa untuk hal itu. Seperti hal nya ini rahasia persembunyianku, cinta itu pun bersembunyi secara rahasia dari hadapanku.

“Assalamuaikum” kutekan bel rumah.
“Eh kau nang!”
Ku ulurkan tangan untuk menyalaminya dan mencium tangannya.
“Sehat-sehat Beh?”

*Bogor, Dec 11 2010*

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

4 thoughts on “Rahasia”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s