Negeri Ngaco

Di suatu negeri yang bernamakan NEGERI NGACO hiduplah seorang putri yang bernama Dinda. Putri ini tidaklah seorang putri yang cantik jelita sungguh mempesona, akan tetapi dia juga bukanlah seorang putri yang buruk rupa enggan dilihat. Sosoknya sungguh biasa-biasa aja. Tubuhnya tidak kurus tidak juga gemuk, tinggi badannya pun tidak menonjol diatas rata-rata. Sungguh dia hanya seorang putri yang biasa, bahkan bila dia berada ditengah kerumunan masyarakat entah di pasar, di taman atau di mall, tidak aka ada yang tahu bahwa ada seorang Putri diantara mereka.

Dinda hidup dengan penuh kengacoan. Ia memiliki ibu dan ayah yang mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang tidak lazim. Setiap pagi Ayahnya selalu membuka hari dengan bersiul. Ia perlu bersiul selama lima menit, menatap menteri yang malu-malu muncul di balik kabut pagi. Setiap Ayah bersiul, burung-burung akan malu dan menghentikan kicauannya. Para burung malu karena siulan Ayah begitu sumbang tak enak didengar. Siulan yang membuat para binatang kembali bersemubunyi dari pagi. Ayah tidak peduli apakah siulannya mengganggu atau tidak, untuk apa ia peduli ia seorang Raja di Negeri Ngaco. Raja Sitopang Menapang, yang kerap dipanggil Raja Sito atau Tuan Sito.

Lain lagi kebiasaan Ibu, ibu selalu berbicara begitu ia bangun tidur. Ia akan berbicara tepatnya bercerita dengan panjang lebar yang akan memakan waktu paling sebentar 1 jam kepada orang yang pertama kali menyapanya. Semua orang yang berada di istana sudah tahu kebiasaan dari Ibu, yang kerap dipanggil Ratu Sitopang Nampang atau Ratu Sito atau Nyonya Sito. Oleh karena itu, seluruh pekerja istana enggan untuk menegurnya di kala pagi, tapi mereka tidak bisa menghindar bila sudah berhadap-hadapan dengan Sang Ratu mau tidak mau para penghuni harus menegur Ratu. Terpaksa mereka siapa pun itu menyimak segala ocehan yang tidak penting. Dari mulai cerita mimpi bertemu lumba-lumba sampai tebak-tebak.

Dinda selalu enggan bangun pagi, dia pusing mendengar siulan ayahnya yang sumbang dan sakit kepala mendengar ocehan ibunya. Pernah sekali waktu ia sial, ia menjadi orang pertama yang bertemu muka dengan ibu, mulailah ibunya bercerita hingga ia terlambat sampai ke sekolah.

Hanya Dinda yang tidak memiliki kebiasaan ngaco. Ia gadis biasa-biasa aja, terlalu biasa bahkan. Ia seperti gadis yang tinggal di negeri lain. Rasa bosen itu mulai menyerangnya. Dinda mulai kesel dengan segala ke-ngaco-an yang terjadi di negerinya. Ia ingin pergi ke negeri lain. Ia ingin ke Paris dimana segala keteraturan ada, ingin ke Singapore dimana aturan itu sangat jelas dan benar-benar diberlakukan. Ia merasa bukan bagian dari negeri ngaco.

(bersambung)

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

2 thoughts on “Negeri Ngaco”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s