PALU dan TANGAN MUNGIL

Aku diam kamu diam. Sudah tidak ada kata diantara kita. Aku hampir lupa sudah berapa purnama diam menjadi rutinitas kita.
Aku pulang pukul 7 malam.
Kamu pulang pukul 8 malam.
Kita terlelap pukul 10 malam.

Tak ada cerita diantara kami, bahkan tak ada bahasa yang dapat memecahkan kesunyian. Aku frustrasi, kucubit anak kami karena geram padamu, kupelototi karena kesal padamu. Kurasa hanya palu hakim yang akan memecahkan sunyi bahasa diantara kami.

Senin pagi kali ini berbeda. Kami pergi seperti biasa, tanpa kata. Kami berjalan dengan tangan kecil yang menggenggam, tiba-tiba tangan kecil itu berubah ukuran. Aku menengok dan tanganmu tengah menggenggam tanganku, dan pemilik tangan kecil itu tersenyum penuh bahagia. Kami lupa ada tangan kecil yang membutuhkan kata.

“Maaf nak!” gumam kami secara bersamaan. Palupun diketuk tiga kali memecahkan sunyi selama ini.

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

8 thoughts on “PALU dan TANGAN MUNGIL”

  1. pengadilan ki??? ga ada cara lain??? ya sudahlah.. cerai.. semoga segera dpt pasangan baru untuk masing2 #PutriYangDibuang😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s