Sepercik Cahaya Bintang

Gelap langit tak muramkan hatiku. Pada malam ini ada sepercik cahaya bintang yang mampir di hati ini. Senyumnya tak hilang dalam ingatanku. Senyum ceria yang tak bertepi. Senyum yang tak berpemilik. Rasanya ingin kujarah senyum itu dan kupenjarakan dalam ruang hidupku. Indah warna malamku hari ini.

Mendadak aku seperti remaja tanggung yang baru belajar mencinta. Dengan detak jantung yang terus mengebat ngebit aliran darah. Terlupa olehku malam yang sudah bertemu dengan sunyi.

Kutuk diriku yang harus berpamit padanya. Kaki ingin tetap berpijak pada ruang rumahnya. Tempat dimana kutemukan cahaya bintang yang menyamankan hati. Cahaya yang menghalau kegusaran hati, kekecewaan dan kekesalan. Bersamanya aku kembali menemukan keceriaan. Tawa melekat dalam pada nadi. Andai aku tak perlu berpamitan. Andai yang semua serba andai.

“Pram, boleh aku minta sesuatu?” Tanyamu.
“Apa itu sayang? Kalau aku bisa aku akan penuhi.”
“Maukah kamu 1 jam lebih lama menemaniku?”
“Tentu Mir, 2 jam 3 jam pun aku tidak keberatan.”
“Kamu! Senangnya menggodaku.” Rajukmu penuh dengan kemanjaan. Kemanjaan yang selalu berhasil membuatku merindukanmu. Ingin kusegerakan terbitnya fajar agar sesegera itu aku dapat datang bertemu denganmu.

Tahukah kamu, sehari saja aku tidak melihat senyummu yang penuh kejailan mampu membuatku gila karena merindukanmu.

Kupeluk erat dirimu, agar kamu dapat mendengar detak jantungku berpacu. Agar kamu dapat merasakan kenyaman. Kitapun berbagi kehangatan. Tak pedulikan udara dingin berhembus dari luar hangat berkat percikan cahayamu yang bagaika bintang menghalau dingin itu.

Tak kuasa aku untuk mengucapkan pamit padamu. Tapi akalku berkata ada keluarga kecil yang juga menantikan kehadiranku. Tahu kah kamu hal yang kubenci adalah meninggalkanmu sendiri. Ingin rasanya padamu aku pulang, merebahkan diri untuk bertemu pagi esok.

Takdir telah tertoreh. Apa yang dapat aku sebut. Pada siapa aku dapat luapkan marah ini. Aku hanya dapat meng-entah-kan semua.

“Mir, aku pulang dulu yah.” Kukecup kedua pipinya dan kening.

Dengan langkah gontai aku menjauh dari pintu rumahmu. Sekali lagi ku tengokkan kepalaku untuk memastikan kamu telah menutup pintu dan aman berada dalam rumahmu. Diriku harus kembali berjalan pulang pada kenyataan yaitu keluarga kecilkum

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

9 thoughts on “Sepercik Cahaya Bintang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s