Please Shut Up

“Eh, kasihan yah si Ghina dia baru aja cerai dari suaminya.”
“Iya! Kasihan anak-anak. Sekarang anak-anaknya tinggal ama siapa?”
“Katanya sih ama orang tua nya Ghina, di Semarang.”
“Diungsiin gitu? Emang cerainya kenapa sih?”
“Katanya suaminya selingkuh dan kasar. Amit-amit yah, alhamduilah suami saya ga kayak gitu.”

Obrolan dua orang wanita yang sedang berdandan. Toilet wanita memang sering dijadikan tempat untuk me-rumpi. Sumber berita terhangat seringkali datang dari bilik-bilik tersebut. Dua wanita itu bekerja pada satu kantor.

Wanita yang berambut panjang dengan ikal di ujung-ujung rambutnya bernama Sisil. Sisil memang seorang wanita yang ceriwis, senang sekali ia bercerita bergosip. Dari mulai gosip artis mancanegara, artis dalam negeri sampai teman sekantor. Bukan bukan suka menjelekkan orang lain, hanya menceritakan orang lain dengan sedikit menambahkan opini pribadi atau kesimpulan pribadi.
Wanita yang satu lagi putih, langsing dengan rambut se-punggung. Tutur bahasanya lembut, termasuk orang yang ramah di kantornya. Dia pendiam, terbilang orang yang serius dalam bekerja, bernama Dona. Sesekali ia senang berada di toilet saat ramai, saat para wanita berkumpul dan ngerumpi. Suatu hiburan baginya mendengarkan rumpian.

Sambil terus merapikah dandan mereka, membubuhkan compact ke wajah, lipstik ke bibir dan sedikit menyemprot parfum ke tubuh, celoteh mereka terus bergulir.
“Bisa yah suaminya selingkuh gitu yah?” tanya Dona.
“Yah bisa aja toh Don, namanya laki-laki ga bisa liat ikan asin nganggur.”
“Tapi kan Ghina, oke banget sebagai isteri, cantik, karier nya bagus, orangnya menyenangkan pula.”
“Yah kita kan ga tau permasalahan di dalam rumah tangga dia. Kita melihatnya dia menyenangkan siapa tahu menurut suaminya membosankan.”
“iya juga yah.”
“Mungkin kali, suaminya dapat perempuan yang lebih ok goyangannya. Hehehehe.”
“Hu-us. Gak baik ah ngomong gitu.”
“Abis laki-laki apalagi coba alasannya kalau selingkuh.”
“Yah ga tau juga Mba, wong belum pengalaman.”
“Nah Dona, ntar kalau cari laki harus hati-hati. Jangan pilih yang mata keranjang. Eh tapi ga menjamin juga, suaminya Ghina itu pendiam tahu!”
“Oh Mba pernah ketemu?”
“Pernah waktu gathering kantor 3 tahun lalu. Eh sekarang udah menjanda aja si Ghina.”
“Emang dah berapa tahun nikah?”
“Kurang lebih 4 tahun deh, anaknya aja sekarang baru 3 tahunan.” kata Sisil seraya keluar dari toilet.

Mereka tidak sadar, toilet yang terdiri dari 3 bilik itu 2 diantaranya terisi. Sangkin serunya rumpian tersebut, mereka tidak memperhatikan ada 1 bilik yang orangnya tidak keluar-keluar sedari mereka ngobrol. Mereka pikir bilik tersebut berisi orang kantor sebelah.

DI DALAM BILIK TOILET

Sungguh pahit mendengarkan pembicaraan itu, aku tahu itu Sisil dan Dona. Mengetahui itu Sisil yang berbicara aku sudah tidak ambil pusing, aku tahu Sisil itu ratu rumpi, tapi Dona?? Aku sungguh tidak menyangka Dona pun akan ikut-ikutan berkomentar dan membicarakan aib orang lain.

Siapa pula yang mau bercerai? Memang ada orang yang menikah untuk akhirnya bercerai. Semua ingin cinta itu utuh hingga akhir hayat. Tapi hubungan aku dan Mas Yusdi hanya mampu bertahan sampai disini. Semua sudah berubah. Semua sudah menjadi berbeda.

Sakitnya aku mendengar mereka mengatakan aku bercerai karena Mas Yusdi berselingkuh. Memang Mas Yusdi berselingkuh, tepatnya dia jatuh cinta lagi pada orang lain selain aku. Tapi permasalahan kami sudah ada jauh sebelum Mas Yusdi jatuh cinta.

Siapa bilang kami tidak berusaha untuk menyelesaikan semua. Mencari jalan tengah dari permasalahan kami. Tapi Mas Yusdi tidak bisa membela aku di depan ibu. Aku selalu salah dimata ibu yang kemudian menjadi salah dimata Mas Yusdi. Inilah akar permasalahan kami, bila kalian ingin tahu. Tapi tidak akan aku bagi untuk para pengunjing. Nanti semua menjadi bluurrr. Biar saja semua orang berpikir kami bercerai karena Mas Yusdi berselingkuh.

Padahal perselingkuhan itu jalan keluar kami untuk bercerai. Itu satu-satu nya kebaikan Mas Yusdi selama kami menikah memberi jalan untuk bercerai. Mas Yusdi mengatakan kepada kedua orang tuanya bahwa dia sudah berpaling hati, padahal semua karena aku sudah tidak tahan dengan sikap ibu, dan Mas Yusdi tidak mau keluar dari rumah ibunya.

Ghina keluar dari bilik tersebut, setelah ia tidak mendengar suara 2 orang rekan kerjanya menghilang. Ia basuh wajahnya yang telah teraliri air mata. Dia menguatkan dirinya untuk kembali masuk ke kantor dan bekerja. Melupakan apa yang telah ia dengar di toilet.

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

18 thoughts on “Please Shut Up”

      1. yg pasti intinya adalah ibu2 yg suka ngegosip bukan?memang ibu2 dimana2 begitu, ibu2 ketemu ibu2..maka hanya 1 kondisi dan percakapan yg terjadi, gosip…..

      2. biasanya bapak2 kalo ketemu bukan ngogosip ada beberapa pakta yg terjadi. pertama, pasti ngomongin kerjaan, kedua keluarga, trus ngomongin tentang perempuan..artinya pasangan mksudnya.. hanya 3 kondisi itu yg terjadi.
        eh miranda, kita memang blm tukeran link ya…silahkan deh dilink blog saia….saya sudah link blog dikauu..🙂 btw anchor textnya mau apa ya? “miranda modjo” atau “coffee’life’maker”? pilih sendiri yah?ntr bls via koment..siip

  1. yak toilet…tepatnya toilet perempuan memang tempat berjuta cerita…sumber segala cerita. kalo gue dari dulu, toilet tempat gue ngumpet tidur siang kalo udah nggak nahan, ato tempat buat minta dipijitin sama OB cewe kalo pas lagi cape banget. ehehehehe….tapi itu dulu, sekarang sih, toilet kantor cuma satu, toilet unisex pula…hehehehe

  2. anchortextnya terserah aja miranda, bole julianusginting blog atau personal,news and geological blog…mau yg mana bole2 aja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s