LAKI-LAKI

Aku duduk di taman ini, berhadapan langsung dan bercakap-cakap denganmu. Ada yang aku ingin ceritakan tentang wajah para lelaki, sahabatku.

Pasti kamu akan berkata padaku bahwa telah banyak kamu dengar cerita tentang lelaki dari bibir banyak wanita. Tapi janganlah kamu bosan, ini akan menjadi sebuah cerita yang lain. Jangan kotori pikiranmu bahwa aku akan bercerita tentang akal bulus tipuan lelaki atau tentang sebuah pengkhinatan ataupun tentang kebajingan lelaki. Sungguh ini sebuah cerita lain.

Pada suatu hari, aku bertemu dengan sahabatku, dia bilang ingin bercerita banyak, sharing. Wah sungguh kusambut dengan gembira ajakan pertemuannya. Aku pun sudah kangen dengannya. Selalu ada pencerahan baru kala kami bertemu, dari cerita-cerita yang terurai selama pertemuan. Dari sinilah aku akan bercerita padamu. Persiapkan telingamu lekat-lekat agar kamu benar-benar memahaminya, agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Dia hanya seorang lelaki biasa, berpostur tubuh tinggi dengan badan yang cukup atletis. Kulitnya sedikit berwarna coklat. Bernama Angga
“Gua sudah punya pacar sekarang ka.”katanya pada Alika.
“Siapa pacar lo? Siapa wanita yang mendapat musibah mo sama lo?”
“Rese lo yah!!” tawa mereka berdua menggema menambah kericuh café itu.
“Mo lihat fotonya?” katanya seraya membuka dompet dan menunjukkan foto tersebut ke Alika.
“Wah gua disusul dong ama lo!” dengan wajah cemberut Alika berkomentar.

Wanita dalam foto tersebut hanyalah wanita berwajah biasa. Dengan sebuah mata sendu menyelubungi bola mata. Sendu itu terpancar jelas pada foto itu.

“Dia janda.” Sebuah kalimat yang cukup mengejutkan Alika. Temannya seorang perjaka, meskipun bukan perjaka ting-ting. Di era millennium ini sungguh sulit mencari perjaka ting-ting. Seorang laki-laki yang baru akil baliq dan tidak beberapa waktu langsung menikah mungkin hanya laki-laki itu yang bisa disebut perjaka ting ting.
Wajah Alika masih dengan tatapan terpana, Seperti hendak mengatakan are you sure?

“Kaget yah lo?”
“Sedikit Ngga.” Alika tidak hendak berbohong dengan tanggapanya atas pernyataan Angga.
“Boleh tahu kenapa dia bercerai?”
“Panjang ceritanya. Singkatnya dia mungkin tidak pernah beruntung mendapatkan seorang lelaki. Selalu laki-laki yang suka menyakitinya. Perceraian yang terakhir karena berantem terus dan suaminya kasar sama dia.”
“Perceraian terakhir? Ber..berr…arti ada perceraian sebelumnya?”
“Ini yang kedua. Makin kaget kan lo?”
“Yap! Punya anak?”
“Ada 3. Semua tinggal sama orang tuanya di Palembang. Dia orang Palembang. Pindah ke Jakarta untuk kerja sekalian menjauh dari mantan suaminya.”
“Hm-mh.”
“Gua pun awal dengar cerita dia kaget. Gua berpikir keras untuk tetap bertahan. Pengennya sih kabur aja. Gua mikir kan gua masih bisa dapat yang lebih baik dari dia. Dia terlalu banyak membawa masalah masa lalu dia. Itu yang sempet membuat gua untuk berpikir mundur.”
“Terus sekarang lo mo mundur atau terus maju.”
“Gua saying banget ama dia. Entah apa yang gua rasa, yang pasti gua ga bisa ninggalin dia, apalagi dalam keadaan ini. Gua laki-laki yang pasti jauh lebih kuat dari dia, apalagi saat ini dia sedang dalam keadaan labil.”
“Lo kan laki-laki tangguh Ngga. Pasti lo bisa bertahan disamping dia.” Alika bingung hendak menanggapin cerita Angga.
“Mungkin emang garis hidup gua untuk bertemu dengan perempuan-perempuan yang bermasalah, untuk ada disamping mereka menguatkan, membantu mereka berdiri kembali. Masih ingat kan ama mantan gua?”
“Yang mana? Yang waktu lo kerja di Serang tea? Yang mantannya psikopat ga pengen lepas dari cewek itu?”
“Yap. Dia juga kan pas ketemu gua lagi galau-galaunya, labil, rapuh. Sampai akhirnya dia kuat dan ninggalin gua.”
“Inget gua.”
“Tapi ka, kali ini gua ga akan mundur gua akan ajak anak-anak dia ke Jakarta, gua dah terlanjur jatuh cinta dengan anak-anaknya.”
“Wow jadi lo akan segera nikah?”
“Nah itu yang masih ada masalah, putusan cerainya belum ada, masih dalam proses pengadilan. Gua lagi bantu dia untuk mempertahankan anak-anaknya dalam asuhan dia.”
“Kerja keras yah bro. Gua cuman bisa bantu doa aja. Sama yah paling kasih telinga gua untuk dengerin cerita lo kalau lo lagi merasa lelah.”
“Makasih sist.”

Pertemuan itu enam bulan yang lalu. Telah enam bulan pula mereka tidak saling bertemu, Seperti kehilangan jejak suara-suara kehadiran satu dengan yang lain. Tapi sekedar selintingan kabar tetap sampai ke telinga Alika. Kabar bahwa Angga telah menikah. Ada rasa tidak percaya, ada rasa kecewa karena kabar itu datang dari orang lain.

Telepon Alika berbunyi. Sebuah sms masuk dari Angga.
“Sist, apa kabar? Long time not see. Btw gua lagi mo buka usaha rental computer di dekat rumah gua, lo mo invest ga?”
Angga

“Waduhhhh invest??lagi tidak ada dana nganggur bro. Btw emang tinggal dimana? Bisnis ama cewek lo? Emang lo dah ngga kerja? Mo bisnis segala?”
Alika

“Di daerah Lebak Bulus, gua ngontrak disana. Anak-anak dah ikut gua, dah sekolah disini, Iya bisnis bareng Ka.”
Angga

“Lo tinggal bareng? Jangan-jangan lo dah nikah tapi ga ngundang-undang gua!”
Alika

“Udah tapi belum resmi, baru nikah siri. Panjang deh Ka ceritanya. Maaf belum sempat cerita, tapi gua selalu inget ama lo untuk cerita, waktunya aja belum ada.”
Angga

“Pokoknya begitu lo punya waktu kita harus ketemu dan lo harus cerita,”
Alika.

Lama Alika termenung menatap handphonenya. Sungguh luar biasa sahabatnya, berani mengambil resiko hidup. Alika coba membayangkan jalan pikirannya. Menyatukan puzzle-puzzle cerita Angga. Angga pernah bercerita padanya bahwa keluarga pacarnya tidak mempercayainya lagi untuk menikah karena selalu gagal. Bahkan putusan ceraipun belum diperoleh. Tapi Angga berani mengambil resiko untuk menikahinya, mendampinginya dan berusaha untuk memberi kehidupan yang layak bagi anak-anak yang bukan dari benihnya sendiri.

Dalam diam Alika berdoa agar Allah membukakan pintu rezeki, senantiasa memberi kekuatan serta kesabaran untuk sahabatnya, Angga.

Bagaimana? Lainkan ceritaku? Pengalamanku sendiri tidak pernah menemukan laki-laki yang begitu berani mengambil resiko untuk membantu memecahkan permasalahanku, menerima segala masa laluku. Padahal seberapa janggal masa laluku, masa laluku hanya seperti masa lalu kebanyakkan orang, terlalu umum. Belum pernah aku bertemu laki-laki yang mau menggenggam tanganku dan mengajakku untuk membangun hidup bersama. Dengan gagah berani melamar dan menerima segala resiko hujatan.

Semoga kamu tersenyum mendengar cerita tentang laki-laki, sahabatku. Tersenyum karena masih ada laki-laki yang bertanggung jawab dan berani mengambil sebuah resiko hidup yang abstrak ini.

Jakarta, 21 April 2010
Teruntuk sahabat tercintaku, cerita ini terinspirasi karena kehebatanmu. Doaku selalu.

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

12 thoughts on “LAKI-LAKI”

  1. jadi inget lagu..”keep smiling..keep shining..knowing that u always count on me..for sure..that’s what friends are for..” *karaoke mode on*🙂

  2. jalan-jalan ni mbak🙂
    semoga Angga dilapangkan jalan dan rejekinya *soktau*

    Semoga juga saya diperbolehkan belajar di sini, belajar menulis apa saja ^^V

    Salam hangat-hangat kuku!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s