Senja

Pada senja ini aku menanti.
Sebuah jawaban untuk hati.
Saat mataku menatap senja kutahu waktu hampir usai.
Takutkah aku bertemu dengan malam? Ragukah aku berhadapan dengan pagi..karena yang kutahu hanya senja.
Warna langit yang memerah, bercampur kelabu yang akan terganti dengan gelap.

Aku sadar tak seharusnya senja yang aku nanti, tapi aku kadung mencintai.
Semua orang menyuruhku beranjak untuk menanti pagi.
Pagi akan selalu penuh harap.

Akhirnya aku putuskan beranjak dari senjaku.
Bukan karena aku tidak lagi ingin dikatakan gila.
Bukan pula karena waktu yang mengejar.
Semua karena ingin meletakan pada harapan baru, pada pagi.

Meski ragu terus menghadang, tapi kucoba untuk beranjak.

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

33 thoughts on “Senja”

  1. Tapi pada akhirnya beranjak juga, tho?πŸ˜‰

    Tidak ada yg tau apa yg akan terjadi di masa depan. Kalo buatku sih yg penting tindakan, dan sebagai permulaan, ‘beranjak’ aja dulu…

    Nice poemπŸ™‚

  2. bila gila menjadi wangi dalam senja
    dan merah langit menjadi pertanda malam
    dan bila saja malam meninggalkan senja
    maka lelap kan menidurkan langit
    dan hal gila menjadi segalanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s