Khayal

imagesKamu…..

Aku selalu memimpikan untuk hidup bersamamu. Mimpi yang tidak terlalu muluk. Saat ku jelang waktu tidurku ku sempatkan untuk mengkhayal saat hidup bersamamu. Bagiku ini adalah khayal sederhana yang dapat dijadikan nyata. Tak kuperdulikan orang meremehkan alam pikiranku.

Kamu…

Mimpiku yang selalu jadi indah. Nyata yang selalu kutunggu. Entah kapan akan terwujud. Saat aku dapat terus dan terus menghabiskan waktuku bersamamu.

Kamu….

Maukah kamu tahu apa yang ku khayalkan??

Akan ku uraikan disini. Dalam rasa yang nyata. Senyata dirimu kelak.

Kubayangkan saat aku dan kamu menjadi sah. Bersentuhan dengan halal. Dalam sebuah mesjid atau rumah tempat bapakku menghabiskan waktu. Sederhana hanya kamu, aku, keluarga dan kerabat dekat. Tentu saja ada penghulu yang mengesahkan itu semua. Dengan lancar kau ucapkan nama lengkapku serta mahar, begitu lugas membuktikan kamu benar-benar menginginkan aku menjadi bagian dari hidupmu.

Selanjutnya kita akan jalan-jalan menyusuri pantai dengan telanjang kaki. Menyelam memandang ke dalaman laut. Pada sebuah pulau yang kamu tahu itu impianku. Lombok. Pada pantai sengigi atau giri terawang menjadi saksi sentuhan halalmu.

Selalu kubayangkan sentuhan kamu yang begitu lembut. Dengan sabar kamu membelai aku yang sedikit kaku, mungkin bukan kaku tapi dingin, karena rentang waktu yang begitu lama aku sendiri. Kamu mengusap kepala dengan penuh sayang, membelainya hingga ujung rambut sampai aku terbuai oleh kelembutan itu. Tak ada paksaan darimu untuk memadu kasih. Kamu akan dengan sabar menunggu aku hingga nyaman, hingga terbiasa dengan tanganmu menyentuh lekuk tubuhku. Dengan penuh cinta kau kecup dahiku, mataku, pipiku, hidungku hingga ke bibirku. Tanpa hasrat yang bergelora kamu melumat bibirku. Sekali kecup kamu pandang wajahku. Seakan aku ini boneka baru, kamu tatap aku terus hingga memerah wajahku.

Sentuhanmu yang lembut.

Dalam setiap keadaan dimanapun, aku tahu tanganmu akan selalu menggengam tanganku. Menuntun perjalanan kita.

Aku tahu

Kamu akan selalu sabar menungguku. Menungguku selesai bekerja. Menungguku bersiap diri bila akan pergi. Menungguku untuk membuatkan hidangan sederhana untukmu.

Kamu tahu

Aku bukan seorang perempuan yang pandai memasak. Bukan pula seorang perempuan yang pintar berdandan. Juga bukan perempuan yang rajin. Aku ini pemalas, mengerjakan sesuatu hanya bila aku ingin, bila aku mau. Kamu sabar menunggu kapan rasa inginku datang.

Dalam rumah yang akan kita huni akan selalu ada canda dan tawa. Rumah mungil dengan halaman yang kecil. Biarlah halaman itu kecil yang penting bisa menjadi tempat untuk bermain anak kita kelak. Anak, yang bila Tuhan izinkan untuk kita rawat. Rumah mungil yang hanya terdiri dari 2 kamar, ruang tamu yang disatukan dengan ruang keluarga, dapur kecil yang berhimpitan dengan ruang makan. Tempat kita untuk merajut hidup. Hanya kita. Tempat dimana kita belajar untuk menapaki jejak-jejak kehidupan hingga akhir hayat. Yah aku berharap dan selalu berdoa akan terus bersamamu hingga akhir hayat.

Sudah tentu tak selalu indah yang terjadi dalam hidup kita nantinya. Pasti akan selalu ada pertentangan.

Tapi kamu akan selalu sabar dalam diam menunggu emosiku teredam. Aku akan selalu mengusap punggungmu bila emosimu memuncak. Kita akan pergi ke dunia kita masing-masing bila pertengkaran yang terjadi cukup sengit. Tapi bukan berlari dari nyata yang ada, melainkan mengistirahatkan pikiran sejenak untuk pada akhirnya kembali saling tertawa.

Aku selalu membayangkan kita akan sering pergi bersama menghabiskan waktu berdua. Entah itu mencoba makanan baru, nonton ke bioskop, karoke berdua, berlomba-lomba mendapatkan nilai saat bernyanyi atau sekedar jalan-jalan memandang alam.

Aku…

Aku akan selalu memberi ruang dan waktu untuk dirimu. Untuk kamu melakukan hobimu. Untuk kamu membagi waktu dengan teman-temanmu.

Kamu…

Kamu akan selalu memberi ruang istimewa dalam rumah kita, untuk aku dapat diam, berkhayal dan menyendiri. Tenggelam bersama buku-bukuku. Tenggelam bersama film-film komedi romantisku.

Kita …

Akan selalu berbagi cerita.

Tak bisa aku lepaskan khayalan itu dari benakku. Khayalan yang indah bagiku. Tapi aku tahu semua itu hanya khayal yang tak akan terwujud. Semua hanyalah kesemuan. Cinta itu selalu ada di hatiku. Yang tak kumiliki hanyalah dirimu.

Itu semua akan selalu menjadi khayal.

Karena kamu memang tidak pernah ada.

Karena kamu hanya sebuah khayal yang ku selalu doakan agar Tuhan mengirimkan wujud nyatamu.

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

13 thoughts on “Khayal”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s