Gelas Bening

gelas luka

Dia memandang gelas yang ada dihadapannya. Biasa aja. Itu hanyalah sebuah gelas bening yang dapat tembus pandang, dapat memandang isi di dalam gelas. Tak ada yang menarik. Tapi matanya terus memandang gelas itu. Aku seakan dihiraukan olehnya. Apa yang menarik dari gelas itu hingga matanya berpaling dari mata beningku. Ingin rasanya aku pecahkan gelas itu, hingga matanya kembali memandangku.

Mungkinkah ia menghindari beradu pandang denganku?

Apa yang salah dari perkataanku?

“Sayang!” aku coba memanggilnya lembut, agar matanya berpaling ke diriku.

“Ya.” iya benar menjawab tapi tak juga ia tolehkan pandangannya kearahku.

“Kamu kenapa?”

“Aku tidak kenapa-kenapa.”

“Lalu? Mengapa gelas itu yang sedari tadi kamu pandangi? Ada yang menarik dari gelas itu?” aku mencoba bertanya untuk mencari tahu apa yang sedang berkecamuk dalam pikirannya.

“Kamu liat yank, gelas ini, bening hingga dapat menembus isi yang ada didalamnya, kejernihan warna yang terdapat didalamnya benar-benar kasat mata. Tak ada keraguan dan berdebatan mengenai warna isi gelas ini. Semua jelas.”

“Itukah yang membuatmu begitu tertarik, hingga begitu lekat kamu memandang gelas itu.”

“Hehehehe…..”

“Ketawa! Ayo ceritakan apa yang menarik dari gelas bening tak berwarna itu?”

“Aku memandang hidupku seperti aku memandang isi yang ada didalam gelas ini. Semua jernih terlihat. Semua warna hidup jelas terpampang.”

“Hhhmmmm.”

“Ya, aku dapat melihat saat hitam ada dihadapanku, aku dapat melihat saat jingga terwarnakan.”

“Bagus dong. Artinya kamu selalu siap menghadapi apa saja.”

“Iya. Tidak ada lagi rasa penasaran untuk mengulik dan mencari tahu lebih. Aku sudah mampu melihat dengan kasat mata.”

“Great.”

“What’s a great about that?”

“Bening…tembus pandang. Hanya menghilangkan gejolak hasrat keingintahuanku. Semua sudah ketemu jawabannya. Semua sudah aku tahu jawabannya. Tak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Apa itu great?”

“Bisa aja.”

“Aku kehilangan gairahku, hasratku, emosiku. Seperti kosong tapi tidak. Seperti air putih yang ada didalam gelas ini. Ia terisi tapi tanpa warna, dari kejauhan orang tidak melihat isi didalamnya.”

“Sungguh aku kehilangan gairah.”

“Makanya terimalah ajakanku. Aku sungguh-sungguh. Kita jalani semua bersama dengan tawa, dengan canda tentu dengan semangat.”

“Ajakan apa?”

“Mari kita ke KUA.”

“Hwahahahahahhaha.” tawanya membahana seluruh ruangan.

“Kok ketawa, apa yang lucu? aku tidak sedang becanda!”

“Itu dia, gairah untuk itu yang telah hilang.”

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

13 thoughts on “Gelas Bening”

  1. Hmmm saya kalo disuruh ngeliat gelas bening, yg saya lihat pertama tentu gelasnya itu bersih ato gak. Baru hbs itu liat airnya, jernih ato tidak. Klo bersih dan jernih, baru saya minum😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s