ANDAI

 

Aku mulai berandai-andai pada hidupku. Hidupku yang aku rasa tidak kalah beruntung dibandingkan dengan orang lain. Tapi terlalu sibuk orang memperhatikan hidupku ini. Mereka suka sekali mengomentari cara aku menjalani hidup. Tidak mereka ketahui bagaimana aku menjalankan semua. Menapak mimpi-mimpi untuk digapai.

 

Aaaahhhhhhh

 

Andai, andai kami bertemu 5 tahun yang lalu, bukan hari ini bukan juga esok. Andai, kami dapat merangkum cinta ini dalam sebuah lembaga. Lembaga yang semua orang agungkan sebagai suatu puncak kehidupan. Sebagai suatu titik keberhasilan dalam hidup. Lembaga cinta yang disandang sebagai suatu prestasi. Bagi mereka yang tidak memiliki lembaga itu, digolongkan sebagai orang yang gagal dalam hidup. Argh, aku tidak mengerti dengan rangkaian teori orang-orang disekitarku. Lebih baik aku berkhayal, melamunkan andai-andai yang menghangatkan jiwa.

 

Andai kami saat ini telah terpaut satu dengan yang lain. Aku tidak perlu lagi cinta siapapun. Lima tahun perjalanan hidupku itu penuh dengan liku. Penuh dengan kesalahan memilih. Ya, aku bukan seorang manusia yang sempurna, selalu kesalahan demi kesalahan terbit dari perbuatanku.

 

Andai kami bertemu saat aku baru saja memekarkan kuncup bungaku. Saat ku telah mengerti cinta akan tetapi belum berulah untuk cinta. Saat aku masih sangat polos memandang kata cinta, dengan murni merasakan getaran-getaran gejolak cinta. Pasti semua cerita akan lain.

 

Andai kami dipertemukan kembali 5 tahun yang lalu, bukan sekarang, bukan esok. Aku tidak perlu bertemu bajingan itu yang telah meluluhlantahkan kepercayaan diriku. Tidak perlu bertaruh mempertahankan kehormatanku. Tidak perlu aku sibuk mencari tulusnya cinta. Tidak akan merasakan patah hati.

 

Aku teringat pada bajingan itu, bajingan yang sangat aku benci, ingin kuhapus dari memori otakku. Entah apa yang telah diperbuat kepadaku, aku sudah melupakannya. Melupakan dalam arti sebenarnya tidak ada lagi secuil ingatan lagi tentang masa-masa kebersamaan. Kenangan indah pun lenyap begitu saja. Bajingan itu yang merenggut masa depanku, kehormatanku, ia paksa aku atas nama cinta. Hingga aku benci pada diriku. Benci pada nafsu yang ada. Benci pada cinta yang ia miliki. Tidak nikmat teriakku dalam batin setiap kali ia paksakan kenafsuannya pada tubuhku. Berulang kali aku meronta, tersudut di pojok kamar. Ya, aku ingat aku menangis kala itu, kupeluk lututku untuk mengumpulkan tenaga lari darinya. Dia sungguh membenci tangisanku, katanya palsu. Hanya tangisan ini yang mampu meloloskan aku dari cengkraman nafsunya. Kali ini kubiarkan ia terlelap, perlahan-lahan aku mengendap keluar lari menjauh dari tempatnya. Kejadian ini berulang kali terjadi, berulang kali ku maafkan hingga jiwaku habis, hingga otakku tumpul.

 

Andai, andai kami bertemu 5 tahun yang lalu, aku tidak perlu mengalami trauma. Aku tidak perlu kehilangan kepercayaan diri. Tidak perlu membuang mimpi-mimpiku yang tidak sejalan dengan bajingan itu. Benci aku…sungguh membenci bajingan itu.

 

Andai kami bertemu 5 tahun yang lalu, hanya kisah bahagia yang terrangkum dalam hidupku. Saat ini aku pasti telah menyandang gelar Nyonya. Aku tidak perlu takut rahimku akan kering karena usia, aku pasti telah memiliki buah hati. Sudah sibuk berceloteh dengan gadis kecilku atau pangeran kecilku.

 

Arrrggghhhh

 

Andai kami bertemu 5 tahun yang lalu, tak perlu aku bersusah hati seperti sekarang. Aku pasti sudah melangkah dengan anggun dalam lembaga wujud keberhasilan hidup itu. Tak ada pertanyaan orang-orang yang ingin tahu. Tak ada cemooh seakan aku gagal dalam sebuah ujian.

 

Andai kami bertemu 5 tahun yang lalu, berdiri diatas pelaminan bukanlah sebuah angan bagiku. Karena itu nyata, terlihat dari foto-foto yang terpasang di setiap sudut rumah kecilku.

 

Oh ya, andai kami bertemu 5 tahun yang lalu, pasti rumah kecil itu sudah menjadi tempatku berpulang, bukan kamar kecil nan sumpek dengan berbagi kamar mandi. Rumah kecil yang aku buat secantik mungkin, sehangat mungkin agar ia tidak berpaling meninggalkanku mencari cinta lain.

 

Andai

Beribu andai

 

Aaaarrrggghhh

 

“Hai sudah lama menunggu?“ dia yang ada didalam andaiku, sudah datang menepuk bahuku.

“Hai, belum terlalu lama.” Sahutku

“Gimana? Ada bisnis apa nih, tiba-tiba ngajak bertemu.”

Bisnis hati yang merindukanmu, karena pertemuan tidak sengaja kita kemarin.” Sahutku dalam hati, tentu hanya dalam hati.

“Oh, gua mo ngajakin lo jadi panitia reunian SMA kita. Teman-teman yang lain juga akan datang nanti, tapi masih dijalan semua.”

“Ooohhh, boleh juga yah kita buat reuni akbar.”

“Hehehe, bagaimana kabar anak dan isteri?”

“Wah mereka baik-baik aja, anak gua tahun ini masuk sekolah masih TK sih.”

 

Puiiihhhhh,

 

Andai, andai bukan hari ini kami baru dipertemukan lagi pasti cerita itu akan lain. Tidak akan ada sapaan lo, gua melainkan beib.

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

9 thoughts on “ANDAI”

  1. Saya mengucapkan SELAMAT menjalankan PUASA RAMADHAN.. sekaligus Mohon Maaf Lahir dan Bathin jika ada kata kata maupun omongan dan pendapat yang telah menyinggung atau melukai perasaan para sahabat dan saudaraku yang kucinta dan kusayangi.. semoga bulan puasa ini menjadi momentum yang baik dalam melangkah dan menghampiriNYA.. dan menjadikan kita manusia seutuhnya meliputi lahir dan bathin.. meraih kesadaran diri manusia utuh.. meraih Fitrah Diri dalam Jiwa Jiwa yang Tenang

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

  2. Yakin…andai-andai (yg indah itu) yg terjadi 5 taon yg lalu kalo ia tdk meninggalkanmu?
    Bagaimana kalo sebaliknya (KDRT, perselingkuhan bhkn perceraian mungkin)…? Jadi, tidak perlu ada sesal berkepanjangan kan, krn kita tidak tahu rahasia Tuhan memisahkan kalian?
    Yakinlah Sobat, Tuhan sudah mempersiapkan rencana laen yg lebih indah…pada waktu dan dengan cara yg indah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s