MORNING BEIB

Semalam hujan lebat lagi, beberapa hari ini Jakarta selalu dikuyur hujan tanpa ampun. Tidak kenal waktu dia terus menerus menguyur, membasahi setiap jenggal tanah di Jakarta. Air kali yang melewati Jakarta mulai meluap, saya yakin salah satu sudut kota Jakarta sudah mengalami banjir. Beruntung saya tinggal di daerah yang bebas banjir, yah paling hanya becek-becek sedikit.

Dengan malesnya saya buka jendela kamar, agar udara pagi yang masih bau tanah akibat hujan merasuki ruang kamar saya. Saya kembali menarik selimut untuk meringkuk dibaliknya. Jam diatas televisi yang saya letakkan masih menunjukkan pukul 6.30, artinya waktu yang sebenarnya pukul 6.15. Saya tersenyum, artinya saya masih punya banyak waktu untuk bermalas-malasan di atas ranjang yang sederhana ini. Sederhana tapi selalu menggoda untuk saya memejamkan mata.

Lima belas menit kemudian, saya beranjak dari ranjang, karena kebelet untuk ke toilet, apabila tidak ada panggilan alam tersebut saya pasti masih dengan males meringkuk diatas ranjang. Saya jerang air untuk membuat secangkir kopi. Ingat kopi, saya teringat ada seseorang yang sangat suka dengan kopi. Orang tersebut bisa minum 2-3 gelas kopi dalam sehari. Tidak merasakan laper, melupakan jam makan siang dan perut hanya diisi dengan cangkir-cangkir kopi. Gara-gara saya tahu dia penyuka kopi saya jadi menyediakan kopi di kamar saya, bila sewaktu-waktu dia datang berkunjung saya bisa menyediakan kopi untuk dia. Hhhmmmm….

Saya hirup kopi pagi hari saya. Angan saya berkelana mengingat dia seringkali salah memesan kopi bila kami berdua sedang mampir ke coffee shop. Dia selalu bilang, dia tidak peduli dengan rasa kopi yang dia pilih itu salah atau tidak, bagi dia, dia hanya ingin menikmati kopi apapun bersama saya. Tiba-tiba dada saya berdebar. Ini bukan karena kopi yang saya minum. Saya baru menghirupnya 2-3 hirup, jadi belum mampu memacu jantung saya. Debaran yang membawa saya pada sebuah kata KANGEN.

Saya kangen dengannya. Rasa yang datang begitu saja. Meracuni seluk-seluk batin saya. Rindu. Selalu merindunya, sekalipun baru beberapa jam berpisah. Dahsyat sekali rasa itu bersemayam dihati saya. Saat merindu seperti ini, saya lebih senang diam menikmati tiap debar tersebut, rasa hangat dari rindu itu dan membayangkan senyumnya yang berkembang di bibirnya. Mmmmmhhhhh….

Saat saya akan beranjak untuk mandi, tiba-tiba handphone saya berbunyi, ada sebuah sms masuk,

Morning beib.
Sender
Bintang

He just arise my miss meter. Hangat, damai, nyaman. As I reply in silence, Morning too beib.

Semangat saya bersiap diri untuk berangkat kerja. Karena saya tahu hari ini hati saya kembali terisi hanya oleh sebuah sentuhan kecil dari Bintang.

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

11 thoughts on “MORNING BEIB”

  1. Kirain tadinya keinget aku yg suka kopi, gak taunya….
    Hmm…”sentuhan kecil” itu memang bisa membuat melayang kan kalo itu datang dari orang yg kita cintai dan kita rindukan?

    Jd pengen ngerasain kayak gitu lagi, kapan ya…*menerawang jauh*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s