MADU

Jangan tanya mengapa aku menerima perempuan itu hadir.

Bukan karena aku sudah tidak mencintai suamiku

Bukan karena aku tak peduli lagi

Jangan pikir aku tidak sakit

Terbakar cemburu dan sesak hati

Saat suamiku berkata : “ Aku ingin menikah lagi. ”

 

Rasanya berat untuk mampu berbagi, mengikhlaskan pilihan suami. Bimbang dan penuh kegalauan aku mendengar permintaan suami.

Bukan karena aku tidak mampu memberikannya keturunan

Bukan karena aku luput melayaninya

Tidak ada masalah dalam perkawinan kami. Semua berjalan semulus lapangan terbang. Tak ada rintangan yang terlalu berarti.

 

Aku terima suamiku apa adanya. Tanpa aku tuntut untuk menjadi lebih. Aku terima apapun yang ia berikan tanpa keluh. Aku rawat kala ia sakit. Aku cumbu kala ia rindu. Pun tak membuatnya tidak berkata “ingin menikah lagi”

 

Apa salah ku?

Apa yang salah dari perkawinan ku?

 

Aaarrrrgggghhhh

 

Aku biarkan dia menikah lagi, meminang gadis yang ia cintai. Membiarkan ia membagi kasih untuk aku dan dia. Dia yang tidak lebih cantik dariku, dia yang sungguh sangat biasa. Tapi dia yang membuat suamiku bahagia. Bukan aku, bukan anak-anakku tapi cinta dia terhadap gadis itu yang membahagiakannya. Kebahagiaan yang selanjutnya ia berikan kepada aku dan anak-anak. Membuat aku tetap bahagia.

 

Jangan tanya mengapa aku membiarkan!

 

Aku hanya ingat niat ku menikah sebelum ijab kabul berlangsung. Aku menikah karena Allah. Bukan karena suamiku, bukan karena untuk mendapat anak-anak, bukan karena orang tuaku. Saat aku memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk diberikan jodoh, tak pernah aku tahu akan menjadi seperti ini. Saat pada akhirnya jodoh itu Allah berikan aku ikhlas menerima apa adanya. Tetap berjanji akan menjaga amanah pernikahan yang Allah titipkan. Sungguh berat aku ambil keputusan ini.

 

Tapi aku memutuskan bukan lagi karena cintaku kepada suamiku, bukan lagi karena aku takut dengan predikat “janda”, bukan lagi karena aku takut kekurangan dana.

 

Aku memutuskan karena aku menganggap ini jalan hidupku. Aku tidak akan mundur tidak akan gentar hanya karena cibiran orang. Karena aku menikah karena Allah. Aku ikhlas menerima cobaan ini.

 

“dari penulis yang masih lajang”

 Just looking for another perspective of Poligami

 

 

Seiring dengan waktu penulis belajar tentang hidup. Mencoba menangkap bulir-bulir hidup di sekitarnya. Mempertanyakan kenapa dan mengapa. Dalam berjalanan waktu itu penulis norehkan setiap buah pikirnya. Terlepas benar atau salah. Terlepas disukai atau tidak.

 

Ini hanya semua pemikiran yang akhirnya membuat saya paham akan pilihan para wanita untuk membiarkan diri dipoligami.

 

Tidak menentangnya

Tidak menhujatnya

Tapi mereka menjalaninya hanya untuk satu alasan

Karena Allah

 

NB : mohon maaf karena pernah berpikir sinis terhadap wanita yang mau dipoligami. Mencibir jawaban mereka saat mereka bilangan alasannya ibadah. Sekarang penulis paham

 

Don’t be afraid with your destiny

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

29 thoughts on “MADU”

    1. Ini cuman sebuah sudut pandang yang berbeda….

      Gua tunggu koment orang yang bener2 ngejalanin….*harap2 cemas*
      Moga2 ada yang mo berbagi yah nek…

      Biar kita makin kaya akan perspective

  1. sebenarnya kl kita ikhlas, pahalanya banyak loh.
    tp mana tahan kl mikir suami tidur dengan wanita lain alias madu kita.
    btw, email dikau mana say?
    theme aku sih tinggal upload saja. cuma berhubung yg lalu aku pakai WP 2.3, aku harus upgrade ke at least WP 2.7 krn menyesuaikan scriptnya

  2. numpang mampir neng isma he4x

    dimadu itu enak, apalagi minum teh dimaduin, atau makan pancake dimaduin (apa seeeeh?) wekekekeke

    poligami n jadi janda itu pilihan, yg penting orangnya siap mental n spiritual…

    lagi blank buat komen, sekadar mampir2 aja he4x

  3. mungkin semua orang belim memiliki imu ikhlas seperti yg pernah ditayangkan dalam sebuah fim layar lebar.
    “kiamat sudah dekat*
    walaupun ga nyambung dengan post yg disampaikan, tetapi ada sedikit kesamaannya.

    memang sangat sulit untuk bertindak ikhlas,klo hanya berkata ikhlas sangat mudah, tetapu yg sulit adalah bertindak…

    salam kenal😀

  4. saya merasakan hal tersulit bg seorang istri dlm poligami adalah membayangkan si suami meniduri prmpuan lain. Mungkin itu yg trbrat. Tp yg hrs difahami adalh poligami “dihalalkan” oleh agama (dg brbagai catatan, lho). Dlm ilmu fiqh, kt tdk bolh mngharamkan apa yg dihalalkan oleh agama…..

      1. Itu jg kata ibu aku. Dulu ia istri muda bapak sebelum (alm) bpk ninggalin istri-istri terdahulunya… My mom is 1 of d’reason for my dad to be a mu’allaf…

  5. saya berbagi pandangan yang berbeda
    krn pologami tidak hanya menyakiti sang ostri, tp jg sang anak…
    mgkn sang istri akan bertabah hati, karena menyadari komitmennya kapada Tuhan.

    Tapi sebagai seorang anak, saya ndak akan mengerti dan menerima jika seandainya bapak saya berpoligami…

    tp saya menghargai pendapat Mbak Isma, dan memuji penilaian Mbak Isma. Sungguh hebat jika bisa menerima dan mengerti sudut pandang org lain yang berbeda dgn kita.

  6. hmh….selalu ada dua sisi dari mata uang, selalu ada konsekuensi dari sebuah pilihan untuk menjadi madu atau dimadu. tidak selalu pilihan untukdimadu karena ikhlas, dan tidak selalu menjadi madu karena alasan materi, terlalu banyak variabel. ah, poligami, sorry aja, ga sanggup, cin….

  7. Niat diatas segalanya..niat karena Allah ? ya cuma Allah yang bisa menilai.. bukan lagi konsumsi manusia untuk menilainya.. yang buruk belum tentu baik, demikian juga sebaliknya..semuanya rahasia Illahi..

  8. Gw pnya tmn yg ortunya poligami. Krn tdk mau bernasib sprti ibunya atau krn ‘benci’ dgn laki2, dia antipati menikah. Sampai skrg tidak mau menikah, pdhl usianya sdh sgt cukup. Hmm..gk nyangka sampai segitu luka batinnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s