Gak Pake Judul Cuman Rasa

Kucatat hari ini dalam kapasitas memori otak. Rasa yang tiba-tiba muncul kembali dalam gejolak hati yang sudah lama tidak bersenandung. Bagaikan sebuah air yang menyejukkan kala berada di gurun pasir. Sejuk, menyemangatkan jiwa. Dia telah memberikan rasa lain dalam kalbuku. Menghantamkan ketenangan hidup yang telah mengalir begitu syahdu. Terus terang dia sangat mempesona dengan tawaran yang berbeda dari kebanyakan perempuan. Di mataku dia sungguh cantik.

 

Dihadapanku, dia duduk memandang lurus kepada mataku. Pandangan yang benar-benar menyusuk jantungku. Tak ada kata yang terlontar dari bibirnya, tapi terang sebuah kecerdasan begitu terpancar. Aku benar-benar terpesona. Garis wajahnya yang menyiratkan ketegasan yang jelas, memberikan sebuah penjelasan bahwa telah banyak yang telah dilewati oleh perempuan dihadapanku ini. Kemandiriannya terekam dari setiap gerak-geriknya, tapi tak bisa ia tutupi sisi feminitas yang keluar sebagai sebuah aura yang menenangkan. Hatiku makin bergejolak, ingin segera kuperintahkan otakku untuk sekedar mengecup bibir tipisnya. Pelan-pelan tangannya meraih sebatang rokok dari kotak berwarna hijau. Ia selipkan batang nikotin tersebut diantara bibir tipisnya. Seksi, aarrrgghhh, hatiku sungguh ingin menciumnya.

 

Dia adalah sosok yang datang dari masa lalu. Sosok yang telah hadir saat belum lama aku aklil baliq. Dulu wajahnya begitu polos, selalu memandang lurus pada apa yang ia tuju. Pada sebuah bangku coklat ia hadir dikala sore itu,  dimana ia selalu duduk menunggu. Dengan keluguannya aku telah jatuh cinta padanya. Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk berkenalan. Alika namanya.

 

 Alika, dia selalu berhasil menciutkan nyaliku untuk dapat lebih mendekat dan kenal dia. Entah apa yang ia miliki hingga membuatku segan untuk mendekatnya. Padalah hatiku selalu memaksa untuk mendekatinya, mencoba mencuri hatinya dan menggengamnya dalam dekapanku. Ingin aku merasakan detak jantungnya, hembusan nafasnya hingga dapat merasakan setiap rasa dalam dirinya. Aku tahu dia seorang perempuan yang memiliki begitu banyak rasa untuk dibagikan kepada siapa pun.

 

 Sungguh ku sesali baru kali ini aku memiliki keberanian. Memiliki keberanian kah atau karena ia telah membuka dirinya lebih dibandingkan dulu kala ia masih remaja. Dulu ia adalah sosok yang benar-benar tertutup dan jutek. Yah kejudesannya masih kental terasa dalam setiap ucapannya. Ketus. Tapi aku suka, sangat suka.

Alika bila kutanyakan padanya maukah ia menikah denganku?

 ***

  Dalam sebuah kamar tempat ia menidurkan raganya.

 “Kamu benar-benar datang?”

“Kenapa kamu gak percaya, kirain aku bohong yah?”

“Gila juga yah. Kamu baru mendarat, gak jetlag? Langsung kesini, apa gak capek?”

“Gak. Mungkin aku ini orang yang terlalu bersemangat. Emang aneh yah?”

“Aku sampai terharu. Ini semua oleh-oleh buatku?” dengan senyum-senyum jailnya

“Iya.”

Hening. Aku mencoba mencuri pandang kearahnya. Sebenarnya dia mengenakkan pakaian rumah yang sangat sederhana tapi entah kenapa aku ingin menyimpan wajahnya saat ini lekat-lekat dalam benak. Kupotret dirinya. Indah, dalam biasa saja dia sudah begitu indah. Ingin sekali kuraih tangannya untuk duduk berdekatan denganku, hingga kudapat membaui tubuhnya. Kutahan hasratku. Aku cukup tahu diri. Aku takut saat kulakukan itu tangannya akan refleks bergerak menampar wajahku.

“Kamu mau tidak menikah denganku?”

“Hah?”

“Iya nikah, married!”

“Gelo maneh mah, teu baleq!” katanya sewot.

“ Loh apanya yang salah? Nikahkan jelas.”

“Terus isteri kamu mo dikemanain?”

“Yah, mau apa tidak?”

“Gila apa? Sesuatu yang diawali dengan tidak baik tidak akan menghasilkan hal yang baik.”

“Kamu tidak tahu kan? Sejak ketemu kamu lagi, macan dalam diriku muncul lagi. Hal-hal yang sudah lama aku redam tiba-tiba kembali menyerang.”

“Ah basi. Udah telat.”

“Telat gimana?”

“Au ah!”

“Aku serius. Aku gak mau bohongi diriku lagi. Aku mau jujur.”

“Terus dengan kamu nikah dengan aku, kamu udah jujur sama isteri kamu?”

“She will know it.”

“Terus gua jadi isteri kedua?”

“Mau kamu?”

“Ini gila.”

“Susah amat bilang iya atau tidak!”

“TIDAK.”

Aku sungguh tidak yakin dengan jawaban dia. Aku merasakan dia pun memiliki perasaan yang sama denganku, meski tidak sebesar apa yang aku rasakan. Aku berani bertaruh suatu hari nanti aku akan memenangkan hatinya. Dia akan jatuh kepelukkanku. Dia pasti sangat butuh dicintai dan disayangi. Permainan ini akan dimulai dan aku berharap akhir dari permainan ini adalah kebahagiaan.

****

 

Bagai sebuah petir mendadak ada seseorang yang sudah terlupakan dari ingatanku hadir kembali. Begitu cepat pertemuan ini terjadi. Awalnya aku begitu senang bertemu dengan kawan lama. Bisa cerita-cerita dengan masa lalu, menertawakan ke-culun-an masa sekolah. Dimana kita hanya berani saling pandang dan berkirim salam. Yah namanya juga remaja, grogi dulu sebelum maju perang. Ini hanya lelucon masa lalu yang membangkitkan semangatku yang sudah lama melupakan masa sekolah dulu. Tak kusangka semua menjadi lebih. Lebih dari apa yang aku perkirakan.

 

Dia menjadi begitu perhatian. Setiap hari sms-sms nya dilayangkan ke ponselku. Dengan gatelnya pun aku membalasnya. Entah alasan apa aku rajin membalasnya. Setiap sms aku jawab dengan tekun. Dia bilang, dia dari dulu sampai sekarang suka padaku. Dia bilang, sudah berusaha mencari aku kemana-mana tapi tidak pernah ketemu. Dan baru sekarang bertemu, dia sangat tidak ingin kehilangan moment itu lagi.

 

Ah, dia hanya sebuah kisah lucu masa sekolah. Tak pernah aku membayangkan akan menghadapi dia lagi di masa sekarang dengan jutaan kata suka. Sudah muak dan kenyang aku dengan kata-kata seperti itu dari lelaki.

 “Aku sudah lama mencari kamu.”

“Kamu kemana aja?”

“Aku dari dulu suka sama kamu.”

“Aku tuh belum pernah melupakan kamu. Aku hanya meredam hasratku.”

 

 

Semua basi, karena dia pada kenyataan telah memilih dan meminang perempuan lain untuk bersanding bersama. Telah memiliki anak yang dicintai. Wajar saja aku mual.

 

Dia tidak tahu, dia bukan lelaki pertama yang mengatakan begitu padaku setelah menikah dengan perempuan lain. Coba dapat dibayangkan kekesalan yang aku rasakan. Para lelaki itu pikir aku ini apa, perempuan tanpa hati, yang bisa terima aja diperlakukan seperti itu.

 

Tapi dihadapnya aku tidak marah sama sekali. Aku biarkan dia meluapkan semua perasaan dan euphoria dia sejak bertemu denganku lagi. Meluapkan hasrat terpendamnya. Meluapkan rasa penasarannya. Meluapkan ego-nya. Pasti dia pikir, dia sudah cukup matang untuk meraihku lalu memilikiku. Aku ini bagai seorang penari striptease pada sebuah club, yang dapat dilihat, dapat dikagumi, dapat berdekatan tapi tidak dapat disentuh apalagi dimiliki.

 

Aku bagaikan sebuah  manikin dalam estelase. Hanya orang-orang yang tangguh yang dapat membawa aku pulang. Hanya orang-orang special yang dapat menyentuhku. Merasakan hangat tubuhku dan merasakan getar hatiku. Aku tidak akan tertipu lagi oleh gombal lelaki. Karena akupun perempuan peng-gombal.

 Heran aku belum ingin menghindar darinya. Aku masih terus menanggapinya. Aku ingin sekali tahu hendak ia bawa kemana aku.

 “NIKAH?”

“Iya.”

“Jadi isteri kedua?”

“Mau kamu gimana?”

“Jangan gila yah!”

 

Wow, ini permainan yang seru. Pertama ia menyatakan sedang pendekatan denganku, lalu mengajak berselingkuh dan sekarang menikah. Dia kira mudah melakukan pernikahan. Dia pikir kenapa aku sampai saat ini belum menikah. Karena aku tidak akan sembarangan memilih orang untuk mendapatkan jiwa dan ragaku. Only selected people.

 

 Dia mengajak aku masuk kedalam permainannya. Bukan aku sombong tapi aku tidak akan larut dalam permainan itu, karena aku tahu ujungnya. Dia ingin kebahagiaannya, pasti akan ia dapatkan. Kebahagiaan yang lebih dari apa yang dia rasakan saat ini bersama isterinya. Aku akan buat dia kembali pada isterinya dan mengingatkan bahwa  sayangnya padaku hanya untuk diteruskan kepada isterinya hingga menjadi lebih bahagia.

 

 Aku bukanlah seorang perempuan culas yang akan merebut kebahagiaan perempuan lain. Aku adalah orang yang selalu memberi kebahagian bagi perempuan lain. Dia tidak sadar betapa aku menyayangi perempuan, karena aku perempuan, karena aku dapat merasakan apa yang mereka rasakan.

 

 Dia hanyalah penasaran dengan semua rasa itu. Karena ketika dia kembali kerumahnya aku sudah tidak ada disitu. Begitu berat untuk menjaga sebuah kesetiaan, apalagi bila itu bersinggungan dengan keindahan masa lalu yang belum sempat tersentuh.

 

 Ingin aku katakan padanya, aku hanya hadir tepatnya Tuhan buat aku hadir kembali dalam hidup tenangnya, karena Tuhan sayang padanya. Untuk mengingatkan bahwa dia telah memiliki kehidupan yang indah. Bukan perempuan lain yang hadir untuk diajak berselingkuh, tapi aku. Itu karena Tuhan tahu aku tidak akan mencelakai hatinya. Aku tidak akan menjerumuskan dia dalam sebuah jurang dosa.

 

Perasaannya padaku tidaklah salah. Hati itu milik Tuhan, manusia hanya mampu mengontrol semua rasa yang ada didalamnya. Aku tidak pernah menyatakan rasa itu sebuah dosa. Tapi semua menjadi salah apabila semua ini dilanjutkan. Biarlah aku akan tetap berdiri disini tegak tak tergoyahkan hingga dia lelah dan letih lalu pergi pulang kerumahnya.

Damn shit, terbuat dari apa bongkahan hati dan otakku ini!

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

3 thoughts on “Gak Pake Judul Cuman Rasa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s