Refleksi Hidup

Ada seorang teman saya berkata : “ hebat lo bisa lewatin semua dengan optimis, kalo gw kayanya ga bisa. Skg aja gua tergantung bgt sama suami gw baik materi maupun psikologi. Salut gw lo bisa jalan dgn kaki lo sendiri.”

Membaca pesan dari sahabat saya kontan saya mengelakkan tawa, meski dalam hati, (lagi baca pesan FB di angkot). Wah segitu kah diri saya? Apa benar emang saya ini kuat, selalu optimis? Saya coba meneropong diri saya sendiri.

Well…..

Saya mencoba flash back dengan apa yang pernah terjadi pada hari-hari saya. Yah, ada beratnya sih, tapi terlalu berlebihan bila saya bilang berat sekali. Baru saja saya melepaskan beban rasa trauma yang ditimbulkan oleh mantan pacar saya yang psiko itu. Gara-gara dia hidup saya mendadak layaknya sebuah sinetron kejar tayang. Ada adegan berantem yang dahsyat, ada adegan melarikan diri dari sosok dia, ada adegan kabur dan mengganti nama panggilan di lingkungan baru yang saya tempatin. Lebay yah? Ketika hal itu terjadi pada hidup saya, tidak terasa lebay, karena emang begitu adanya. Mantan saya menyiksa batin saya, dan kemanapun saya pergi ia akan mengikuti langkah kaki saya. Saya tidak bisa putus dari dia, padahal kami berdua tahu bahwa hubungan kami tidak akan bisa berlanjut terus. Saya bersyukur akhirnya saya dapat lepas dari dia.

Saya trauma??

Yah bisa dikatakan begitu. Tapi saya mencoba untuk tetap keluar dari ruang gelap saya. Saya tetap mau berkenalan dan berdekatan dengan orang lain (baca. pria). Berhasilkah saya mendapatkan tambatan hati yang baru? Tidak smua pergi setelah mengenal saya hingga bulan ketiga. Pada umumnya saya dianggap bukan perempuan yang pantas, saya ini labil, saya ini sedikit gila, saya ini sok nelangsa. Banyak cemoohan yang saya terima dari mereka (baca. cowok yang PDKT). Sakit hati? Sangat dan amat menyayatkan. Sampai saya berpikir saya memang kotor, menjijikan sebagai perempuan dan kelam karena saya pernah berpacaran dengan seorang psiko yang diujung hari saya tahu dengan lelakipun dia mau (muntah). Cukup sinetron kah cerita singkat ini?? Tapi bukan itu yang ingin saya bagi.

Bukan sebuah cerita pahit yang sudah tidak penting. Tapi cara saya bangkit dari semuanya.

Saya bersyukur Tuhan memberikan akal sehat yang kuat pada saya. Hari-hari saya lalu seperti robot. Saya tetap datang ke kantor, saya tetap dan selalu meng-iya-kan ajakan teman untuk nongkrong. Tapi jujur jiwa saya tidak disitu. Semakin hari saya tidak bisa mengontrol perkataan saya, tidak bisa mengontrol keliaran pikiran saya. Perkataan dan pikiran yang selalu membuahkan kegalauan pada akhirnya. Saya jadi seseorang yang “eror” karena asal menyahut saja. Dari luar saya tampak selayak manusia normal, ceria dan happy. But deep inside…jangan ditanya, hatiku hancur berkeping-keping *bersenandung*.

Belum usai saya mengumpulkan kepingan hati yang berantakkan, saya dinyatakan mengidap sebuah penyakit tidak terlalu bahaya tetapi cukup serius karena menyangkut kelangsungan reproduksi.

Hancur saya?

Iya saya hancur. Tapi akal saya terus mempertahankan diri saya untuk tetap tegak berdiri, berjalan dengan angkuh agar tidak seorangpun tahu saya hancur. Adakah orang (baca. pria) yang mau menggenggam tangan saya, merengkuh pundak saya sekedar memberi kekuatan dan keberanian untuk melangkah? Tidak ada. Semua menjauh. Tentu, terkecuali para sahabat saya.

Sampai pada suatu titik, saya berhenti mengeluh, berhenti meratapi nasib saya. Berhenti mencari seornag pangeran penyelamat. Saya berhenti bermimpi. Pelan-pelan saya pijakkan kaki saya di bumi ini. Mencoba untuk membuka mata, melihat apa yang bisa saya lihat dengan kasat mata yang sederhana. Ternyata saya melihat banyak. Saya melihat begitu banyak keberunutungan yang saya miliki. Saya memiliki Ayah yang hebat dan selalu mengerti pemikiran saya yang cukup nyeleneh, Tiba-tiba ibu saya menjadi lebih sabar menghadapi saya, lebih perhatian dan lebih sayang. Tiba-tiba sahabat-sahabat saya datang menolong saya, bertanya tentang kabar saya, menyediakan telinga mereka untuk mendengar kisah tubuh saya yang merasakan nyeri karena pengobatan yang saya lakukan. Biasanya telinga ini yang saya sediakan untuk mereka. Bahkan makan pizza menjadi istimewa karena saya sudah mengurangi makan berlemak, junk food dan yang berkolestrol. Setiap hari saya mendadak menjadi istimewa.

Dimana titik awal saya mampu melihat semua menjadi istimewa?

 Saya belajar menerima apa yang terjadi dalam hidup saya. Apa yang mengendap dalam tubuh saya. Saya mulai menyayangi tubuh saya. Mengistirahatkan bila capek, menjaga pikiran agar hati tidak galau. Saya mulai menarik diri dari kata ‘hang out’. Saya mulai menarik diri kata ‘ ngerumpi aka ngobrol tidak jelas’. Saya mulai menarik diri dari hal-hal yang negative. Saya belajar berdiam. Menata hati dengan bermunajat. Dengan ikhlas dan pasrah. Saya lupakan masa lalu saya. Saya maafkan orang-orang (baca.pria) yang telah mencemoohkan, merendahkan dan meninggalkan saya dengan seenaknya. Saya tegur mereka kembali dengan baik-baik dengan niat tulus ingin bersilaturahmi bukan merebut hati. Dan pada akhirnya saya tahu cinta itu ada, saya masih mampu mencintai seseorang dengan tulus. Saya masih mampu percaya cinta itu akan datang dengan sendirinya. Entah benar keadaanya, entah tepat orangnya saya tak peduli lagi. Karena Cinta akan tetap Cinta, menghangatkan hati.

Saya memilih untuk berjalan sendiri, tanpa banyak bercerita, tanpa banyak berbagi. Semakin hari saya semakin bersabar dengan hidup. Tidak saya pungkiri terkandang ada rasa sedih, kecewa, bimbang tapi saya tidak putus asa dengan semua. Ada rasa ingin segera mendapatkan pemdamping sekedar berbagi rasa.

Bagaimana saya menjadi demikian kuat dimata orang-orang (baca. sahabat)?

Saya hanya menerima kenyataan.

Tidak lagi saya berteori tentang hidup, menebak-nebak tujuan Tuhan memberi cobaan.

Tidak lagi saya menjadi seorang enstien yang memikiran hidup ini.

Saya ubah pola pikir saya. Tidak satupun saya pikirkan tentang hidup, akan tetapi saya nikmati hari-hari saya karena saya tahu belum tentu besok hari tersebut akan sama. Saya biarkan semua mengalir apa adanya.

Tidak saya tentang pendapat orang yang mengatakan saya seperti orang putus asa, saya seperti orang yang tidak memiliki semangat. Tidak pun saya jawab kepada mereka saya hanya berpasrah, melainkan saya hanya diam. Semua akan baik-baik saja.

Siapapun akan kuat untuk menghadapi masalah apapun.

Selama masih……

Senyum itu masih terukir untuk mewarnai hari. Bukan untuk orang lain, bukan untuk menutupi galau hati. Bukan untuk berbohong seakan mengatakan “aku baik-baik saja”.

Tawa itu masih tercipta menceriakan suasana hati. Bukan untuk diterima orang lain, bukan untuk dianggap easy going, bukan untuk menutupi suasana hati.

Tuhan memiliki waktunya sendiri.

Mungkin bagi kita yang menjalani lama, tapi bagi Tuhan itu sungguh singkat. Berpasrah, bersabar cuman itu yang saya miliki sekarang. Bukan kepintaran saya, bukan kebaikan saya, bukan kesedihan saya, bukan akan dan juga bukan hati saya.

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

4 thoughts on “Refleksi Hidup”

  1. Hari-hari saya lalu seperti robot. Saya tetap datang ke kantor, saya tetap dan selalu meng-iya-kan ajakan teman untuk nongkrong. Tapi jujur jiwa saya tidak disitu.

    ———
    Been there done that. Bergulat dengan kepaitan dan kemarahan diri. Mencoba mebalikkan keadaan namun tak mampu malah jadi error sendiri. Dan persis seperti yang lu alamin Is…

    ketika pasrah itu ada, pola pikir ini berubah. Tidak ada orang yg bisa menolong kita, penyelamat perasaan ini bukan pacar, bukan teman, bukan siapa2. Tapi kesadaran akan esensi hidup itu sendiri.

    Setelah itu, yang lainnya akan berputar mengikuti sumbu dan poros yang kita ciptakan.

    Tetap tegar Is🙂
    Love, EKA

  2. hanya sedikit berbagi kok bu…
    Pasti di luar sana banyak yang mengalami keruntuhan..keputusa-asa-an. Sapa tahu tulisan gua bisa menyemangati…

    Bahwa dunia tidak akan berhenti sesakit apapun…jadi jgn pernah merasa mati akan segala cobaan …. karena mati rasa itu tidak ada!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s