OH Nona

Hari ini tiba-tiba sakit itu menyerang kembali. Sudah lama sakit itu tidak hadir memporak porandakan tubuhku. Dia datang di saat aku memutuskan untuk bersantai menikmati hari sabtu yang santai. Mulai merapikan kamar mungilku dengan barang-barang yang terbilang sedikit, mencuci baju baru yang kemarin aku beli, jalan-jalan dan yang terpenting mengukir senyum saat menonton IDOLA CILIK grand final. Don’t tell me a crap, while I watch this music show. It’s a wonderful show, make us laugh, put a tears down and amazed with their angel voice.

Saat aku mulai malas-malasan di atas ranjang dengan buku dalam genggaman. Ouch, perut ini tiba-tiba sakit, keram lalu melilit. Keringat dingin mulai bermunculan dari sekujur tubuhku. Aku semakin tidak mampu menggerakkan tubuhku, sungguh sakit yang luar biasa hingga aku hanya mampu untuk meringkuk di atas ranjang sambil menggenggam perutku. Kucoba untuk memejamkan mata dan menidurkan tubuhku untuk kembali beristirahat. Sungguh rasa itu tidak hilang dan sangat menyiksa. Aku hanya mampu merintih. Kuraih telepon genggamku.

“Cello, lo lagi tidur yah?”

“Iya ka. Napa lo?”

“Gua sakit lagi, ini hari pertama gua haid. Sakit, gua gak tahan.”

“Kok bisa! Kan kemarin-kemarin lo haid normal-normal aja.” Cello terperanjat.

“Gak tahu. Sakit banget!” airmataku mulai mengalir karena aku sudah tidak tahan dengan rasa sakit itu.

“Yah udah, ntar gua ke tempat lo. Lo minum pain killer dulu deh!”

“Iya.” Suaraku semakin melemah. Tanganku memencet tombol merah untuk menghentikan percakapan.

Sungguh luar biasa sakit itu menyerang. Dengan biadabnya dia porak porandakan perutku. Semakin lemas tubuh ini, hingga tak kuasa menahan sakit lagi. Ku bacakan doa, apapun yang mampu kuucapkan untuk mengurangi rasa sakit itu. Ada apa dengan kewanitaanku? Memang beberapa bulan yang lalu sakit seperti ini pernah menyerang. Tapi kata dokter tidak ada apa-apa. Sejak meminum obat dari dokter sakit itu berangsur hilang. Jangka waktunya terlalu lama untuk sakit lagi. Kuyakinkan diriku untuk kembali menemui dokter. Sebenarnya aku takut, takut ada sesuatu yang tidak kuinginkan terjadi pada tubuh ini. Tapi aku harus berani karena aku harus hidup, aku harus bahagia tidak ada sakit yang harus aku tanggung terus menerus. Tak mampu pikiranku membayangkan setiap bulan untuk sakit kala haidku datang.

***

Kuputuskan untuk pergi ke dokter, karena setelah hari ketiga sakit itu tidak jua hilang. Kucari dokter kandungan wanita. Aku sudah tidak peduli orang akan memandang aku hamil atau apapun dengan mendatangi rumah sakit BUNDA dan ANAK.

“Bu saya mau daftar.”

“Ibu pasien baru? Bawa buku dari rumah sakit lama?”

“Iya pasien baru. Gak ada buku.”

“Dengan dokter siapa bu?”

“Dokter Priska.”

“Diisi dulu pendaftarannya.”

“……….”

“Udah bu.”

“Oh ini diisi nomor telepon dan itu nama suaminya juga ditulis.”

Apa nama suami??? Mau marah sekali rasanya. Suami dari mana wahai Ibu Pendaftar yang gendut.

Dengan lemas aku menjawab,

“Belum menikah. Disini bisa konsultasi nyeri haid kan?”

Puas Ibu Gendut! Aku, 28th belum menikah datang ke dokter kandung. Ibu pasti pikir aku habis main gila dengan berbagai macam pria di Ibukota ini, sehingga aku harus datang ke dokter kandungan. Atau ibu pikir aku habis melakukan pengguguran kandung dengan biadab terhadap nyawa yang tak berdosa hingga aku mempunyai masalah dengan rahim?

“Oh, nona.”

“Naik aja ke lantai dua yah. Kasih ini ke suster di atas.” Dengan tertatih-tatih aku menaiki tangga setahap demi setahap, perut ini terasa sakit. Aku melihat ada meja dengan seorang suster.

“Sus, saya mau ke dokter Priska.”

“Ibu hamil?”

Again, holly God. Aneh yah perempuan single, sendirian datang ke rumah sakit yang penuh dengan ibu-ibu yang perutnya melendung. Atau aku terlalu gendut hingga dikira hamil.

Aku diam saja menatap suster itu dengan tampang kesel.

“Oh nona.” God! Lalu datang suster yang lain menghampiri.

Suster yang pertama memberikan berkasku ke suster yang berikut. Suster itu tiba-tiba bertanya,

“Udah ditimbang?” tanya dia ke suster yang pertama.

“Dia nona.”

“Oh nona!” Again! Tiga kali hari ini aku mendengar OH NONA!

“Tunggu aja dulu, nanti dipanggil.” Aku duduk menunggu, rasanya benar-benar menakutkan.

Seakan mata-mata itu memandangku, padahal tidak. Bahkan mereka tidak peduli dengan kehadiranku. Tapi insiden oh nona itu membuat aku parno. Begitu namaku dipanggil, rasanya sungguh deg-degan. Aku mencoba tersenyum kepada dokter itu.

“Apa keluhannya?”

“Nyeri saat haid dok. Keram, melilit gak karu-karuan.”

“Oke langsung diperiksa aja.” Perutku di USG, tidak ada yang aneh didalamnya. Lalu dokter itu mengatakan,

“Wah gak kelihatan apa-apa. Kita lihat dari bawah aja yah. Buka celananya!” Apa dari bawah? Maksud nih dokter dari mana? Buka celana? bagian tubuhku yang mana yang akan diobok-obok?

“Sus lewat mana?” Tanyaku pada suster.

“Lewat dubur. Gak apa-apa kok, tenang aja.”

GAK APA-APA, DUBURKU AKAN DISODOMI DENGAN ALAT ITU. SUSTER MASIH BILANG GAK APA-APA.

Tapi aku menurut saja. Aku duduk di kursi pesakitan itu dengan kedua kaki di buka selebar-lebarnya seperti mau melahirkan. Tanpa basa-basi dokter itu memasukkan alat sediameter botol langsing. Sumpah sungguh sakit. Tanpa basa-basi aku teriak dengan biadab. Dan tanpa kompromi dokter itu terus mengobok-obok duburku. Oh dubur maafkan aku karena sakit ini engkau disodomi oleh alat jahanam itu.

“Wah ada kista.” Apa kista? Dokter baru aja uwel-uwel duburku sekarang bilang ada kista. Rasa sakit itu tiba-tiba hilang yang ada cuman lemas.

“Kecil sih baru satu senti.”

“Eh, tunggu!” sambil dia mengobok-obok lagi duburku.

“Udah 3,5 cm.”

“Oke, udah!”

Ada kista di tubuhku. Apa yang harus aku lakukan? Semua terasa gelap saat itu. Tidak ada kah hal indah yang akan terjadi dalam hidupku. Baru kemarin saya menyembuhkan semua trauma dari sebuah prilaku seorang lelaki padaku. Sekarang aku harus menghadapi kenyataan ada kista dalam tubuh saya.

“Dok, bagaimana pengobatannya?”

“Saya tidak menyarankan di operasi, nanti tumbuh lagi. Ada rencana menikah?”

Ini pertanyaan apa?Dokter sedang hendak menghina?

“Belum ada rencana sama sekali.” Jawabku dengan lunglai, karena memang itu kenyataan yang ada.

“Nah apalagi belum akan menikah, jangan dioperasi.”

“Terus dok, bagaimana saya menghilangkan rasa sakitnya?”

“Disuntik aja, 3 kali.”

“Disuntiknya kapan dok? Saat saya haid berikut?”

“Gak sepuluh hari setelah haid. Tapi suntik ini harganya mahal, 1,4 juta.” Kata dokter itu dengan tenang seakan-akan 1,4 juta itu harga yang biasa.

“Tidak ada obat atau yang lainnya dok, selain disuntik.” Dokter itu tidak menjawab, dia hanya menuliskan sebuah resep.

“Ini saya kasih obat penghilang rasa sakit yah. Dimasukkan lewat bawah seperti dulcolax. Sehari sekali aja, kalau sakit banget gak apa-apa dua kali.”

“Dok gak ada obat lain?” Kembali dokter cuek ini diam.

Tidak adakah penjelasan yang baik kepada aku tentang semua yang harus aku hadapin? Dia dulu dokter lulusan mana? Kok tidak ada rasa kepedulian sesama perempuan. Kesel sekali rasanya. Dengan lunglai aku keluar dari ruangan.

***

Dalam perjalanan pulang tak terasa airmataku jatuh. Kista itu apa? Apa yang akan aku hadapi di depan sana. Aku sering mendengar kista dari banyak perempuan. Tapi saya tidak tahu seberapa payah kista itu bila mengendap dalam tubuh. Yang saya tahu kebanyakan orang mengatakan kehamilan adalah salah satu jalan hilangnya kista. Tidak tahu bagaimana kista dapat hilang dengan sebuah kehamilan. Rasa yang ada saat ini adalah sedih dan gak tahu harus bagaimana. Lemas mendengar itu semua. Belum lagi bayangan rasa sakit haid yang terus akan menyerang setiap bulannya.

“I’m happy, 28th, single, no sign that will be married soon and have kista as large as 3.5 cm in my body. What a wonderful life I have. Now I need my ice cream.”

Send to Cello

Kring..kring…

“Cel, temanin gua donc. Saat ini gua butuh ice cream.”

“SMS lo tuh serius? Nothing that I can say.”

“Iya. Gua perlu ice cream sekarang.”

“Ntar gua temenin oke. Ntar lagi gua balik kok.”

Bahkan ice cream yang biasa meringankan hati sudah tidak mampu berfungsi lagi. Ice cream kesayanganku saja tidak mampu mengobati lagi. Rasanya menjadi hambar. Bingung itu yang aku rasakan. Kupandangi foto hasil USG dimana ada gambar kista di dalamnya. Belum tahu pengobatan apa yang harus kulakukan. Memang kista sudah terdengar sangat jamak pada kaum perempuan, akan tetapi tetap sakit ketika jaringan itu menempel pada tubuhku. Tetap panik yang aku rasakan untuk menghadapi kenyataan aku memiliki kista. Sebenarnya ini yang aku takuti apabila aku datang ke dokter untuk memeriksakan diri.

***

Tidak disangka teman-temanku ada disampingku. Mereka semua membantu aku untuk mencari dokter yang terbaik. Mencari keterang tentang endometrosis. Tapi tetap rasanya itu tidak cukup untuk menguatkanku dan meyakinkanku bahwa aku akan sembuh. Aku sudah bertemu dengan dokter yang pernah menyembuhkan kista yang lebih besar dari aku, 8 cm, tapi aku makin syok.

Dokter mengatakan bahwa kedua indung telurku ditempeli oleh kista, kanan sebesar 4,1 cm dan kiri 2,8 cm. Dia menjelaskan bagaimana endometrosis itu menjadi kista. Ternyata endometrosisku itu keluar pada dinding rahim yang apabila tidak dibuahi akan keluar menjadi menstruasi. Dia berada pada luar rahim, di indung telur. Ketika waktunya untuk matang dan keluar menjadi haid dia pun ikut berdarah sehingga sakit sekali ketika haid.

“Dok, kenapa saya bisa mengalami ini? Apa yang salah.”

“Tidak ada yang salah ini namanya nasib.”

“Maksud dokter?”

“Yah dari bayi memang sudah ada kelainan pada hormon kamu, sehingga keberadaan endometriosis tidak pada tempatnya.”

“Apa faktor keturunan?”

“Faktor genetika sebenarnya bukan karena ada riwayat keluarga yang mengalami, tapi maksudnya bawaan lahir.”

“Pengobatannya bagaimana?”

“Ada dua cara, satu dengan operasi tapi ini masih kontroversi karena kista terus menempel dengan indung telur kalau saja tidak hati-hati indung telur akan kena. Nah satu lagi dengan pengobatan selama 150 hari tanpa putus. Ini obat pengatur hormon. Nanti jangan kaget kalau tidak haid. “

“Jadi saya kembali lagi setelah 150 hari?”

“Iya, tapi kalau ada apa-apa hubungi saja saya.”

Semakin bingung aku harus menghadapi semua ini. Apa yang salah dari tubuh ini? Kenapa harus saya yang mengalaminya? Apa yang mungkin terjadi pada tubuh saya?

Dengan sebuah keyakinan yang setengah hati aku memulai pengobatan. Pengobatan yang memporak porandakan sel-sel tubuhku. Seakan semua menjerit kesakitan karena ruang nyamannya telah di ubah oleh obat tersebut. Setiap hari ada perubahan yang berbeda pada tubuhku. Semua mulai menjadi tidak seperti biasanya aku. Aku mulai cepat cape, hilang tenaga, perut kembung, punggung dan pinggang mulai sakit, sendi-sendiku mulai ngilu. Banyak kebiasaanku yang terpaksa aku tinggalkan. Ku telah tinggalkan teman favoritku DUNHIL MENTOL LIGHT. Biasanya temanku hanya sebatang rokok sekarang baru saya sadar teman saya banyak.

Teman-teman dimana saya selalu hadir dalam kesulitan mereka, sekarang dunia seakan terbalik karena mereka yang hadir dalam kesulitanku. Silih berganti mereka menemani saya, merintih kesakitan hingga rasa sakit itu mulai hilang. Keluargaku yang tak pernah tahu susahku kali ini kubiarkan mereka membantu, karena ketidaksanggupanku lagi menahan sakit ini. Seperti kata temanku mungkin kali ini aku harus belajar menerima kebaikkan orang lain bukan hanya memberi kebaikkan,

“ No need to thank. U deserve it since u did the same thing to everybody. It’s pay back time.”

Sender Cello

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

13 thoughts on “OH Nona”

  1. Dokter kebanyakan adalah pebisnis. Let me ask my brother. He’s a farmachologist. He helped 1 of my friends today 2 save her money from d’doctor….. hehehe…

    1. Ahhh…tak usah dipikirkan ini cerpen ato bukan
      Yang pasti penjelasan dan tindakkan Dokter yang terjadi itu nyata…
      untuk pembelajaran buat siapa aja yang mungkin memiliki penyakit kista…

  2. “ No need to thank. U deserve it since u did the same thing to everybody. It’s pay back time.”

    Sender Cello

    lha…diposting di sini juga bu…. hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s