Feel My World is Stop

Sore kali ini masih terasa udara panas menyengat kulitku, ingin rasanya kembali ke ruang ber-ac tersebut untuk menyejukkan diri. Tetap aku paksakan langkah kaki untuk terus berjalan menjauh dari gedung bertingkat yang aku datangi setiap harinya. Gedung yang telah memberikan sebuah ruang kecil untuk aku menuangkan segala buah pikiran setiap harinya. Gedung yang selalu aku datangi seketika kesadaranku pulih dari tidur yang normal selama 8 jam di malam hari. Gedung ber-ac yang memberi kenyaman kepada tubuhku hingga tidak perlu mencucurkan keringat meskipun aku sangat tegang ataupun grogi menghadapi bos yang begitu teliti dan jeli. Tak terbayangkan aku mulai pergi makin menjauh dari gedung tersebut. Tempat yang telah menghidupkanku selama satu tahun ini. Tempat dimana aku dapat mencari puing-puing rezeki yang dapat aku bagikan untuk keluargaku.

Di depan pintu gerbang gedung, aku hentikan sejenak langkah, aku putar kembali kepalaku untuk melihat kembali kearah gedung itu. Nafas panjang kuhirup dalam-dalam agar memenuhi seluruh rongga paru-paruku, lalu kubuang nafas itu seakan ingin membuang segala masalah yang telah menghimpit pikiranku.

Setelah mataku puas memandang gedung itu untuk terakhir kalinya, dengan pasti aku langkahkan kaki untuk maju. Kakiku telah melangkah keluar gedung itu menuju jalan besar, aku lambaikan tangan untuk memanggil taksi yang sedang berbaris menunggu penumpang. Tanganku penuh dengan tas-tas yang berisi berbagai macam barang-barang yang biasanya kuletakkan di sebuah ruang dalam gedung itu. Barang-barang ini yang selalu membuatku merasa nyaman untuk duduk didalam ruang itu bersama beberapa orang teman, bukan beberapa orang tetapi kami berempat dalam ruangan itu.

Di dalam taksi, masih sempat kulontarkan pandanganku kearah gedung itu, seakan aku akan sangat merindukan gedung itu. Senin pagi nanti, tidak lagi aku langkahkan kaki ke gedung itu untuk langsung menghempaskan pantatku di atas bangku dalam ruangan itu.

“Mba, kita kearah mana?” Tanya supir taksi menyadarkanku bahwa dari tadi aku belum menyebutkan tujuanku.

“Ke Setiabudi pak.”

Aku masih belum ingin pulang ke kosanku sendiri. Ada rasa malu karena aku gagal mempertahankan pekerjaanku.  Aku tidak berani menatap mata orang-orang, karena aku telah dipecat. DIPECAT. Sungguh memalukan dan menyakitkan. Aku yang orang bilang workacholic bisa juga dianggap tidak mampu bekerja. Ngilu rasanya mengingat hal tersebut.

***

“Minum bu, selonjoran kaki aja dulu. Tarik nafas yang dalam terus buang tapi

jangan loe kentut di kamar gua.”

“Batman!”[1]

“Huahahahaha, ayolah kita keprok-keprok jeng.”

Ayo kita keprok-keprok

Semuanya keprok-keprok

Walau hati susah karena semua MUAHAL

Ayo kita keprok-keprok[2].

“Bagus nyanyi aja loe ampe modar, bibir jontor-jontor.”

“Idihh sewot kan gua hadir untuk menghibur hatimu yang lara kawan.”

“Najis!”

Shela adalah sahabat baikku. Teman dari masa kuliah, tapi kita baru benar-benar akrab saat sama-sama mengadu nasib di Ibukota tercinta. She always encourage me well when I’m down.

Nasib apa yang sedang menghampiri hidupku, dipecat dengan alasan perusahaan tidak lagi memerlukan tenagaku lagi. Padahal perusahaan ini belum juga akan bangkrut. Aku bekerja pada sebuah perusahaan multifinance sebagai seorang account executive, sebuah istilah keren dari marketing yang mencari dan me-maintain customer. Target yang harus aku capai telah aku penuhi bahkan tahun lalu aku melebihi target, terus salahku dimana. Aku sudah memberikan yang terbaik untuk perusahaan tetapi tetap saja kurang. Kejadian ini mungkin dimulai dari sebuah perdebatan dengan General Manager Marketing. Sang GM memaksaku untuk menyetujui peminjaman dari perusahaan aku sebut saja PT JKL, padahal jaminan yang diberikan oleh PT JKL tidak mencukupi dengan batas peminjamannya.

Setelah usut punya usut ternyata PT JKL adalah kolega dari sang GM (red. General Manger) dan sang GM sudah mendapatkan kesepakatan akan pembagian komisi. Karena aku menolaknya secara mentah-mentah walhasil nasibku dalam pekerjaan yang dipertaruhkan. Aku sih tidak mau nanti kalau menjadi kasus karena PT JKL tidak mampu membayar dan jaminan yang dapat ditarik tidak mencukupi lalu aku juga yang disalahkan. Betapa sulitnya menjadi manusia benar dimuka bumi negeri ini. Bahkah bekerja pada perusahaan swasta pun korupsi, kolusi tetap ada. Menjadi salahkah aku bilamana menjadi salah satu orang yang idealis?

“Jengki, udah atuh jangan melamun.” Shela membuyarkan lamunanku.

“Apa lo panggil gua? Jengki??!!!!! Maksud lo? Heran yah bukan ngehibur gua segala jengkol lo tawar-tawarin ke gua.”

“Hehehehehe. Kan kalau lo makan jengkol sekilo, pan banyak tuh. Terus lo datangin deh GM lo, kentutin pasti dia langsung pingsan terus lo coret-coret aja mukanya. Balas dendam jeng.”

“Gak ada ide yang lebih baik bu?”

“Emang lo mau lapor komnas ham? Atau Depnaker? Ribet bu, makan waktu dan tempat.”

“Yang makan tempat itu loe, oncom!”

“Eh diwarung nasi sebelah jualan semur jengkol loh!”

“Aaaaarrrgggghhhhh loe tuh menghibur banget!” Emosiku semakin membara dengan percakapan tidak penting ini.

Aku rasa percakapan ini semakin diluar jalur. Kadang aku tidak mengerti apa sih isi kepala Shela, ada aja coletehan asal yang keluar dari mulutnya. Kenapa juga kita harus membicarakan tentang jengkol, terus oncom. Orang lagi patah hati gini bukannya disemangatin malah diajak ngomong ngaco. Bagiku pekerjaan itu seperti pacar. Once company determinate you like a f***king s**t means like your boyfriend/girlfriend betray you. Of course you will feel like having a broken heart. Ingin sekali aku memaki-maki keseluruh dunia, tapi apa daya tak ada kuasa yang aku miliki untuk melakukan itu. Aku hanya seorang pegawai Senior Account Executive. Pemecatan secara tidak adil seorang pegawai biasa sepertiku tidak akan membuat dunia melihatku dan berempati kepadaku, paling mereka akan bilang “Dunia ini memang keras kawan!”.

“Ayo kita keprok-keprok lagi Dith. “ halah temanku yang satu ini bukannya memberi saran aku harus ngapain malah ngajak keprok-keprok, layaknya tontonan yang tidak penting di salah satu stasiun TV tapi tetap suka aku tonton.

“Ahhhh lo keprok-keprok mulu. Loe bukannya kasih saran apa kek yang harus gua lakukan, bulan depan gua dah gak dapat gaji, oncom!”

“Alah, bukannya hal seperti ini biasa dalam dunia kerja. Anything could be happen to you, no matter you have worked perfectly, once you make one mistake company can determinate you anytime.”

“Iya gua tahu. Tapi gua harus ngapain?”

“Gampang loe tinggal ngelamar pekerjaan lagi kan? Marketing itu jenis pekerjaan no.1 paling mudah untuk di dapatkan, apalagi dengan pengalaman loe yang sudah 2 tahun. Senior bo’!”

“Gua nyari kemana?”

“Pasar Jatinegara jeng!” mulaikan Shela geblek asal lagi ngejawab pertanyaan serius yang aku lontarkan.

“Ah cape gua ngomong ama lo.”

Aku rebahkan tubuh diatas kasur yang tidak terlalu empuk, aku luruskan kaki dan memejamkan mata sejenak. Aku males untuk kembali ke kosanku sendiri. Tiba-tiba dalam pejaman mata untuk menghilangkan rasa penatku, ada sebuah bayangan yang melintas. Bayangan seorang pria putih, manis tepatnya cute, tidak terlalu tinggi tapi juga tidak terlalu pendek, bertubuh sedang melintas. Wira Putranto. Aduh aku jadi melintir kangen. He’s so gorgeous but he’s too good to be true.

Setelah sekian lama aku tidak merasakan getar-getar gelombang yang mengalir dianatara aliran darah dalam tubuh, aku merasakan juga sekarang. Jatuh cinta. Tapi yang memalukan aku tidak berani untuk lebih karena kami adalah teman. Memang, Judith Parasati perempuan memalukan tidak berani mencinta hanya berani memandang. Dia hanyalah sebuah mimpi. Menjadi temannya saja sudah cukup bagiku.

Sudahlah aku mau tidur saja memimpikan Wira. Dalam keadaan aku sedang nelangsa tanpa pekerjaan dia memelukku, mengusap ari-ari rambutku dengan lembut. Mmhhh so sweet what I have in my mind. Dalam kurun waktu melamunku tiba-tiba hp-ku berbunyi sebuah sms masuk,

Dith, serius lo dah keluar dari kerja.

Lo gak apa-apa kan?

Sender Wira ‘gorgeous’

Sms ini memberikan aku semangat lagi. Ternyata Wira cukup perhatian juga. Dunia tidak akan berhenti begitu saja hanya karena saya kehilangan pekerjaan. Perlahan-lahan kata-kata Shela terputar kembali dalam otak saya. Betul sekali aku hanya perlu mencari pekerjaan lagi. Pasti dalam waktu satu sampai tiga bulan pekerjaan itu akan datang. Aku yakin. Dalam masa pencarian itu sebaiknya aku nikmati sebagai waktu istirahat dari kerutinitasan. Kadang si geblek Shela bisa mengeluarkan saran yang baik dari kata-kata ngaco dia.

Semangat!!!!!!

***


[1] Batman refer to Kampret. Biar tidak terlalu kasar, mengingat mungkin banyak anak dibawah umur membaca buku ini.

[2] Theme song yang aku temukan kala senggang menonton SUPER SOULMATE.

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

4 thoughts on “Feel My World is Stop”

  1. nice post🙂 cerpen ya? penulisannya udah bagus, cara ngedeskripsiinnya, cara memaparkan sudut pandang pemeran utama dll…
    penulis ya?

    makasih ya udah mampir di blog saya. ayo, bikin lagi cerpennya😀

  2. Memang aneh ye?
    Ternyata masalah yg terasa bgt berat ternyata luluh ama hal yg sgt sederhana juga. Bukankah hal2 yang besar juga pasti dapat kita raih bila kita dapat dengan hal yang sama bila di landasi sedikit perhatian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s