Alkisah Pangeran Kodok dan Puteri”pope”Paus

frog0406

Pada suatu masa di sebuah belantara sudut bumi hiduplah seekor kodok di sungai Mempesona. Di sungai ini ia konon hidup bahagia. Tidak ada yang kurang dari hidupnya. Ia menyukai saat-saat berenang di sungai, menggoyangkan otot-otot tubuhnya, melompat-melompat ke sana kemari sepanjang  daratan. Memandang setiap keindahan yang terpancar oleh alam. Ia emang seorang pangeran di sungai Mempesona, ia penguasa daerah itu. Tutur perkataannya selalu didengar dan diikuti.

Hingga suatu hari, ia melompat jauh dari biasanya dan terdampar di sebuah pantai.

Saat ia terdampar pada pantai itu, ia melihat seekor paus. Seekor binatang yang besar tapi terlihat lemah, sedih dan tak berdaya. Ia beranikan diri untuk menghampiri dan bertanya.

“paus kamu kenapa?”

Paus itu menengok, mencari sumber suara itu berasal. Ia melihat seekor kodok. Berani sekali kodok menyapanya, pikirnya begitu. Tapi keteduhan dan ketulusan pandangan kodok membuatnya menjawab.

“aku terluka, manusia itu telah melukai siripku.”
“paus izinkan aku mengobati lukamu, agar kau berenang lagi ke laut lepas”

Ketulusan kodok telah mengugah hati paus. Ini awal berkenalan Kodok dan Paus. Mereka akhirnya saling tahu bahwa mereka adalah seorang pangeran dan seorang putri. Putri paus memiliki panggilan kesayangan “Pope”.

Suatu hari, puteri pope mencium pangeran kodok, seketik menjadi seekor cumi-cumi. Sekarang pangeran kodok sudah dapat berenang di lautan bersamanya. Luka pada siripnya berangsur pulih. Kebahagiaan mulai merasuki relung hatinya.

Mereka berdua menjadi begitu bahagia. Menikmati keindahan lautan. Putri paus senang memiliki teman untuk berbagi. Sedangkan Pangeran Kodok seakan menemukan cahaya baru dari diri Putri Paus. Pangeran Kodok menemukan kebahagian yg utuh di lautan bersama pope. Ini kebahagiaan yg sesungguhnya ia cari, bukan yg di sungai Mempesona. Bersama Pope ia tidak perlu menjaga wibawa, ia dapat menjadi dirinya apa-apa tanpa harus memikirkan orang lain. Kebahagiaan yang ia miliki yang ia yang dapat rasakan tidak orang untuk orang lain. Bahkan pope pun tidak tahu kebahagiaan dia seperti apa. Tidak ada bentuk nyata seperti halnya di Kerajaan Mempesona.

Tak ingin lagi ia ubah dirinya menjadi kodok, ia tetap ingin menjadi cumi-cumi. Akan tetapi kerajaan Mempesona mulai kehilangan sang pangeran. Tidak ada lagi titah2 yang mengatur.

Pope pun tak ingin melepaskan pangeran kodok  kembali ke daratan. Kembali memerintah sungai. Ia ingin merenggut kebahagian ini secara utuh. Pangeran mengatakan akan sanggup hidup di darat dan di laut. Akan menjadi cumi-cumi untuk pope dan akan tetap jadi pangeran kodok bagi sungai Mempesona.

Luka pada puteri pope mulai sirna. Ia mulai dapat mengepakkan sirip. Pangeran Kodok telah mengajarkan dia untuk mampu melepaskan diri dari jeratan manusia. Agar Pope tidak lagi terjaring dan akhirnya terluka. Pope sadar, ia adalah mahluk yg besar, seharusnya ia bisa menjadi mahluk yg kuat. Tapi ia hanya buah ciptaan Yang Maha Kuasa, pasti memiliki kelemahan. Kenaifannya telah sering membuatnya celaka, hingga tertipu dalam jeratan manusia yang ingin membunuhnya.

Tak ia sangka, yang menolongnya dan membantunya hanya seekor kodok. Mahluk yang lebih kecil darinya. Ia sadar tak selamanya besar akan selalu kuat menghadang cobaan dan rintangan. Terkadang setiap mahluk memerlukan bantuan mahluk lainnya dalam mengarungi hidup. Tak selamanya ia menjadi hebat.
Ia bahagia dalam kesederhanaan yang ditawarkan Pangeran Kodok.
Bermain-main diantara trumbu karang yang sudah dinodai manusia bisa menjadi begitu membahagiakan. Dulu ia selalu mengumpat ulah manusia yang telah mengubah laut yang indah menjadi rusak.
Argh,Pope semakin ingin mengecap kebahagiaan itu.

Meski pangeran sering meninggalkan kerajaan,  semua tetap berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada yang menyadari bahwa saat itu pangeran sedang berasyik masyuk mengarungi lautan sebagai cumi-cumi. Justru mereka merasakan perubahan yang lebih baik. Pangeran menjadi lebih tenang dalam memerintah, ia semakin menyadari kebesaran Tuhan, ia semakin bijaksana. Ia mulai mengumpulkan kekuatan untuk mewujudkan impian dan mimpi-mimpinya
Pangeran kembali bersemangat menatap hidupnya. Mungkin ini terpengaruh dari kata-katanya sendiri saat menyemangati Puteri Paus. Ia sadar Puteri Paus berada di lain kehidupan dengannya. Tapi tidak ingin ia melepaskan Pope sendiri mengarungi samudera lautan. Ia ingin mendampingi pope.

Setiap hari Pangeran memikirkan cara yang terbaik bagi dirinya, pope dan kerajaannya. Tapi hingga detik ini ia belum jua menemukan. Yang ia sanggup lakukan hanya melakukan kehidupan di dua tempat, kerajaannya yang notabene adalah kewajiban dan laut bersama pope yg merupakan kebahagiaannya.

-bersambung-sihir-kodok

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

17 thoughts on “Alkisah Pangeran Kodok dan Puteri”pope”Paus”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s