Aku melihatnya Terperkosa

Akhirnya ia tertidur juga. Memang berdoa dapat menenangkan jiwa. Ketika ia gundah, saya pun turut merasakan kegundahan hatinya. Ketika ia merasa tercabik saya pun ikut merasakan cabikkan itu. Saya telah menjadi saksi setiap potongan hati itu teriris.

Terbayang kembali dalam benak saya, saat ia memberontak dari semua hal yang menyakitkan itu. Tanda tanya menghampiri benak saya. Apakah seperti itu cinta, penuh dengan air mata, penuh dengan perasaan cinta. Tapi saya mampu berdiam tanpa berkata apapun, tanpa mampu berbuat apapun. Hanya mampu melihat dan menjadi penonton. Paling enak memang menjadi penonton, memberikan komentar sesuka hati, melantangkan suara untuk mengatakan benar atau salah, tanpa tahu apa sebenarnya yang orang rasa. Benar saya hanya bagian dari penonton, yang mengasihinya, yang larut dalam tangisnya. Tetap saya tidak tahu apa yang sebenarnya yang ia rasakan.

Setiap laki-laki itu datang yang saya ketahui namanya adalah Gen. Ia selalu menyebutnya dengan Bang Gen. Seringkali saya perhatikan tidak berbunga hatinya menyambut Gen yang disebut sang kekasih itu. Awal kedatangany Gen selalu penuh dengan tawa. Tak dapat kupungkiri Gen secara kasat mata sungguh mempesona. Badan tegap dan bidang, kulit putih dan wajah ganteng. Gen selalu berhasil mencairkan kerutan di keningnya yang menunjukkan keengganan untuk berbicara. Awalnya selalu mereka dengan santai berdiskusi, membahas apa saja yang mereka tonton dari televisi. Entah itu musik, acara lawak, gossip ataupun sinetron. Memang jarang mereka nonton sinteron hanya sesekali bila mereka iseng.

Tangan Gen selalu menyentuh lembut helai-helai rambutnya. Perlahan kepalanya menyandar pada pundak Gen. Benar-benar penuh dengan kasih sayang Gen menyentuhnya. Sesekali ia mengecup bagian dari wajahnya. Dengan balasan senyum kebahagiaan ia rangkul Gen. Saya tahu ia menyayangi Gen, itu terbukti dari pancaran matanya yang selalu tulus. Setiap Gen datang, ia benar-benar menjadi seorang perempuan yang baik, dengan menyiapkan minuman, kadang bila Gen ingin makan ia masakan makan. Segala hal yang mampu ia siapkan maka ia lakukan.

Gen, yang saya ketahui adalah pacar pertamanya yang ia jalani dengan serius dan sepenuh hati. Ia belajar menipikan egonya, bertoleransi dan perhatiannya berbeda pada pria-pria sebelumnya. Mungkin ini yang disebut cinta, dimana ego dapat ditipiskan, dimana kekurang dapat ditoleransi. Sekalipun sifat buruk Gen yang telah menyakit bahkan melukai dirinya tetap ia mampu menerima dan bertoleransi. Bagiku sungguh luar biasa cinta itu.

Malam telah tiba, saya mulai hapal dengan ritme yang Gen selalu lakukan. Saat itu sebentar lagi akan tiba. Saya sungguh deg-degan akankah ia tersakiti kembali. Ataukah dia sudah mampu menghadapi. Atau mampukah ia menolak seperti keinginan hatinya.

Gen melancarkan gerakannya dengan mengecup setiap inci wajahnya. Saya masih dapat melihat senyum diwajahnya. Ia memang sangat suka dikecup dan dicium. Bibir mereka telah saling berpagut, menyatu satu dengan yang lain. Gairah itu mulai timbul. Saya dapat melihat keperkasaan Gen mulai menonjol. Aura gairah dari tubuh Gen terpancar, tapi saya melihat seperti sebuah aura yang diselimuti oleh iblis. Tangan Gen mulai meraba tubuhnya. Seperti biasa ia berusaha menepis tangan itu, saya tahu ia hanya ingin menikmati ciuman. Segairah apapun ia karena ciuman yang membabi buta dari Gen selalu ada penolakan untuk berbuat lebih. Wajah Gen mulai menampakkan ketidaksukaan terhadap penolakkan itu, tangannya tidak berhenti berusaha meraba. Seakan ingin menguasai tiap lekuk tubuhnya. Akhirnya tangan Gen berhasil menyentuh bagian terintimnya, dengan halus ia menepisnya. Berulang kali hal itu terjadi. Sampai Gen mulai merengkuhnya dengan kasar, berteriak menyatakan bahwa ini adalah bukti cinta, bila ia kembali menolak ia tidak mencintai Gen. Gen selalu punya cara untuk meluluhkan dia, membuatnya tak berdaya.

Saya mulai melihat ada air di sudut matanya. Kembali Gen meneriakkannya, mengucapkan kata kasar agar ia tidak menangis, agar ia menikmati setiap sentuhan itu yang ia sebut cinta. Pun ia selalu menolak tapi tubuh Gen lebih kuat, ia tidak mampu melawan. Tubuhnya telah ditindih oleh Gen. Ia mulai merasakan kenyerian pada bagian intimnya. Tapi Gen tak peduli. Ia terus memaksa, tak peduli apa lagi yang ia rasa yang penting nafsu birahi tersalurkan. Ia berusaha berontak dengan merontah dan membolak balik badannya agar bagian intimnya tak tersentuh.

Sampai akhirnya malam ini ia berhasil menendang Gen dari atas tubuhnya. Gen terpelanting, jatuh dari atas ranjang. Entah kekuatan dari mana ia dapat, tapi malam ini ia berhasil menyelamatkan vaginanya. Bagian yang ia selalu jaga tapi terenggut secara biadab oleh Gen.

Saya dapat melihat air muka Gen yang penuh kemarahan. Hampir saja tangannya melayangkan tamparan tapi ia batalkan. Sambil ia kenakkan celana dan bajunya Gen berkata, ternyata hanya seperti itu sayangnya pada Gen. Tidak mampu memberi keseluruhan diri. Lalu Gen beranjak pergi dari tempatnya, pulang.

Saya saksi yang melihat ia terperkosa atas nama cinta. Aku sebut ia terperkosa karena ia sebenarnya menolak. Ia tak ingin melakukannya, tapi selalu ada rasa sayang pada Gen yang membuatnya selalu menerima Gen kembali. Cukup satu tahun saya rasa ia menjadi perempuan tak berdaya karena cinta. Selalu menyalahkan dirinya sendiri, menyesali semua. Tapi saya tak mau berkata bahwa ia perempuan bodoh karena dia tidak bodoh. Dia hanya sedang menghadapi laki-laki psiko seorang diri, berjuang mencari jalan untuk melepaskan diri dan menjauh.

Ya Tuhan, saya ingin bantu mendoakannya agar ia terjauhkan dari Gen.

Tak ada lain yang mampu aku lakukan karena aku hanya saksi mati, dinding.

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

5 thoughts on “Aku melihatnya Terperkosa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s