Terperkosa

Dia tidur dengan nafasnya yang tersengal-sengal. Dadanya terasa sakit seakan terhujam oleh tusukan yang tajam. Telah dua jam ia berusaha memejamkan matanya, tidur hingga ia dapat melupakan rasa sakit itu. Telah banyak usaha yang ia lakukan untuk agar matanya terpejam. Badannya telah merasakan keletihan, pikirannya telah muak untuk terus diajak berpikir, tapi mengapa matanya tak kunjung terpejam.

Entah sudah berapa kali ia membolak-balikkan badannya. Dari telentang, tengkurap, duduk, berdiri, jalan-jalan memutari kamar tetap tak membuatnya terpejam. Ia tahu seharusnya ia pergi ke kamar mandi mengambil air wudhu lalu menuaikan sholat Isya. Hal itu tak ia kerjakan, ia sudah merasa jijik pada dirinya sendiri, ia merasa begitu kotor. Ia saja merasa kotor untuk menghadapkan wajah kepada Tuhan, apalagi Tuhan, pasti merasa muak untuk mendengarkan keluh kesahnya. Benak trus mengalirkan buah pikiran antara kebencian, kekecewaan, kesedihan, ketakutan dan keputusasan.

Setelah lelah ia mencoba memejamkan matanya, ia bangkit dari ranjang, duduk di sudut ranjang, meraih sebatang rokok. Sehisap demi sehisap ia mulai merasakan sedikit ketenangan. Apa yang terkandung dalam rokok itu sehingga perokok merasakan ketenangan. Itu bukan heroin yang mampu memberi stimulasi lain pada pikiran. Itu hanya nikotin, tembakau perusak paru-paru.

Setelah ia merasakan ketenangan, ia putuskan untuk membersihkan diri. Ia ambil air wudhu, lalu bersujud kepada Yang Maha Kuasa. Terserah Tuhan hendak mendengarkan keluh kesahnya, mengabulkan permohonan dia tidak lagilah penting. Baginya ketenangan hatinya jauh lebih penting. Ia butuh tidur karena esok harus beraktifitas seperti biasa, kerja.

“ Ya Allah, aku ini hanya seorang pendosa. Entah keberanian apa yang membuatku mampu menghadapkan wajah kotor ini dihadapanMu. Aku tidak tahu hendak mengadu ke siapa. Orang itu telah meluluh lantahkan pertahankan. Mencabik-cabik kehormatanku atas sebuah kata sayang, atas sebuah kata cinta.
Ya Allah, bila memang cinta itu seperti ini aku memilih untuk tidak punya cinta. Untuk apa cinta bila cinta itu menghancurkan aku. Membuat tubuh ini merasa jijik sendiri. Untuk apa??? Mengapa cinta yang demikian yang engkau turunkan kepadaku.
Ya Allah, aku sudah tidak memiliki arti lagi, orang itu telah merusakku. Merusak vaginaku atas nama cinta. Merobek-robek tubuhku dengan ciuman mesranya. Membiadabkan kulitku dengan remasan yang orang itu sebut kemesraan.
Ya Allah, bolehkah aku sebut ia memperkosaku.
Memperkosa pikiranku agar mau melakukan perbuatan itu karena takut kehilangan dia, dia yang kusebut cinta.
Ya Allah, telah hancur hatiku menjadi berkeping-keping. Tak sanggup lagi kuruntutkan kepingan itu.
Ya Allah, bantu aku, kuatkan aku, lindungi aku.
Semoga Engkau masih mau mendengarkan suara pendosa ini.”

Matanya terus berlinangan air mata. Ia mulai bertashbih hingga terlelap dalam balutan mukena. Dalam tidurnya ia masih berharap semua ini berakhir. Ia berharap besok ia memiliki kekuatan untuk menolak. Karena bukan cinta seperti ini yang ia inginkan. Bukan kemesraan seperti ini yang ada dibenaknya.

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

8 thoughts on “Terperkosa”

  1. percumbuan terintim adalah percumbuan dengan sang-Pencipta. Ia-lah dzat yang Maha Pencemburu. Bagaimana tidak, percintaan kita dengan orang lain selalu mmbuat kita melupakan-Nya. Begitu kita dikianati, selalu saja kita menangis. Kembali meminta belas kasih-Nya. Setelah hati kuat kita sering kembali meninggalkan-Nya, untuk kembali kepada yang lain… seseorang yang cintanya tak pernah abadi….. Satu hal yang pasti, cinta yang dimilikinya….. ABADI…
    “Gemercik hujan membasahi tanah. Senandung dewata dalam siulan malam. Teramat indah, selayaknya hadir mu dalam takdirku. Tolonglah aku enggan mimpi ini berahir…”
    Bikin tulisan yang gegap gempita donk, Isma… hehehe…. Keep writing senorita! Hasta la victoria siempre……

  2. Wahhhh……Onie kasih koment panjang…moga2 berguna buat yg mampir.

    Btw tulisa yang gegap gempita apa??Tulisan tentang tujuhbelasan??hehehehehe

    Thanks buat semangatnya

  3. Akhirnya tau namanya si pembuat kopi : ISMA…

    yeeeaa.. yeaaa….🙂

    anw tulisan di atas merupakan letupan rasa bersalah.
    Gak bisa nyalahin si laki juga, kan dia juga mau nek.
    Mo pake alesan kehilang tu cowok lagi… duuuch masih byk kaleee ikan di dunia ini🙂

    ” yah kurang lebih gitu deh…orang yg sedang melawan dirinya sendiri untuk urusan itu….mgk bisa jadi ini adalah pengalamannya yg pertama…

    Yah ketauan deh nama gua…… *kkkkaaaabbbuuuurrrr* “

    1. Bingung yah??ini harus dilanjutkan dengan membaca posting selanjutnya!!!

      Sebenarnya dia tidak terperkosa secara harfiah…tetapi secara batin dia terperkosa karena terpaksa ‘melakukan’ atas desakan pacar..

      maaf ya klo membingungkan..

      Makasih dah mampir n mo baca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s