Kita Pernah Tertawa Sahabat….

Telah kutemani dia beberapa waktu lalu melewati pahit hidup. Telah kutemani dia beberapa waktu lalu memuntahkan kegelisahan hatinya. Telah kutemani dia beberapa waktu lalu membangkitkan kembali semangatnya.

Bersama kami pernah terlibat begitu banyak tawa. Bersama kami pernah terlibat begitu banyak canda. Bersama kami saling berkeluh kesah. Bersama kami telah saling menyemangati.

Tersadar pun oleh diriku. Dunia tak berhenti pada suatu titik kebersamaan. Ada kalanya tali itu mengendur hingga saling terjauhkan. Ada kalanya tali itu saling mengerat hingga tak terpisahkan.

Saat aku jauh, tidak pernah kusebut dia bukan temanku lagi. Saat aku bersama kehidupanku yang lain tetap kunyatakan dia temanku. Teman yang memang begitu adanya. Tak kucela dia karena memang dia telah begitu. Tak kuhina dia karena memang dia begitu. Terkadang perkataannya menyakiti tapi kubiarkan karena kusebut dia teman. Terkadang polah tingkahnya mengganggu dan mengusik, tapi kubiarkan karena aku tak ingin mengubah dia. Kubiarkan dia terbang kesana kemari dalam kehidupan pertemananku. Kubiarkan dia menjadi dirinya dihadapanku. Tak ada sedikitpun niat untuk menggantikan sosok dia dengan teman yang lain. Tak ada sedikitpun niat untuk menggubah dia dengan sifat yang baru.

Tapi segala sesuatu itu ada masanya. Segalanya ada waktu sendiri. Segalanya ada jenuh.

Namanya Cello.

Hari ini, aku duduk di sebuah café yang biasa aku dan Cello datangi, sekedar untuk bertukar cerita. Sekadar untuk membagi keunekan di pikiran. Tapi hari ini aku duduk sendiri. Aku tidak protes saat dia tidak ada lagi waktu untuk bersamaku. Aku sadar segala kesibukan dan rutinitas baru telah mengubah banyak hal. Mengubah waktu untuk bersama. Mengubah rasa yang pernah ada. Tapi tidak pernah aku tidak menyebutnya temanku.

Terkenang aku akan obrolan yang lalu. Beberapa bulan yang lalu saat dia bercerita tentang pria-pria yang mendekatinya. Dalam pandanganku, sungguh beruntung temanku ini masih dikasih begitu banyak pilihan. Tuhan Maha Baik padanya. Setelah ia melewati sebuah kekecewaan yang mengguncang pikirannya tentang cinta, Tuhan masih memberikan pilihan. Diantara orang-orang yang mendekatinya tidak ada yang tidak sayang dan baik padanya. Tapi komentarnya membuat saya terperanjak.

“ Pilihan lo bilang? Pilihan apa itu? Yang seperti itu lo bilang pilihan?”
“ Emang lo mau cari yang seperti apa?”
“ Yang terbaik. Gua berhak untuk mendapatkan yang terbaik.”
“ Oke, lo lihat Dudi kurang baik dan sabar apa dia sama lo. Lo cuekin, lo gak ajak ngobrol dia tetap baik dan tulus sama lo. Tetap setia menjemput lo kapan pun dan selalu mengantarkan lo ke kantor, padaaahhhaallll lo tau kan dia baru tidur jam 3. Masih kurang baik? “
Cello mulai mau angkat bicara dengan segala teori dia dan kekerasan hati dia.
“ Eits, lo mo bilang dia lebih muda dari lo, lo ga ada feeling? Lo pantas orang yang lebih baik dari itu?“
“ Iya. Gua udah berusaha tapi feeling itu tetap gak ada. “
“ Lo gila apa?? Hati lo ditaruh dimana? Atau lo buta? “
“ Ini mata gua. Tapi kan hati tidak bisa dipaksakan. “
“ Oke, terus napa lo tetap nyari dia, kenapa lo mau aja dipeluk ama dia, dan napa lo mau aja ciuman ama dia. “
“ Yah gua pengen ciuman aja. “
“ Sinting! Itu hati manusia Cel. “
“ Terus gua harus gimana ?”
“ Au ah terserah lo. Suka-suka lo hidup-hidup lo. “

Aku hanya mampu menghelakan nafas. Bertanya mengapa teman yang ada dihadapanku ini begitu keras hati. Dia terlalu bangga dengan kekerasan hati dia. Padahal dia tahu dunia tidak akan mengalah untuk dia. Menurut pendapatku, dia telah salah meletakkan prinsip.

Aku mulai merasa capai mengurusi permasalahan dia. Seringkali aku harus mengalah atas kekerasan sifatnya. Aku mulai jenuh. Sudah sering aku mencoba menggelitik dia agar mengubah sifatnya. Lebih meletakkan empati dalam hati. Lebih memandang orang lain tidak hanya dirinya mulu. Jangan skeptis dan porno terhadap orang lain. Tapi semua dibantahkan secara teori. Oke, dia telah memiliki pemahaman itu semua tapi hanya secara teori, secara pendapat, secara tulisan dia mampu berbicara tentang hidup. Tapi dalam prakteknya sendiri dia tidak menjalankan teori-teori itu.

Aku ini hanya seorang manusia biasa yang adakalanya lelah, dengan kehidupanku sendiri. Saat seperti itu, rasanya ingin memiliki sahabat yang mau mengerti, bahwa cerita dia telah mengusik pikiranku. Perkataan dia telah menyinggung hatiku.

Aku hanya ingin memberi ruang untuk diriku sendiri. Dan tentu untuk dia. Agar dia bisa melihat kehidupan lain selain bersamaku. Aku ingin dia berteman dengan orang lain yang mungkin tidak memiliki tingkat toleransi sepertiku. Agar dia lebih belajar bahwa hidup itu tidak hanya dia. Kesusahan dan kepahitan bukan hanya milik dia. Mengubah prinsip, melunakkan hati sendiri dapat membantunya memenangkan dunia.

Aku sedih melihatnya. Tapi aku tahu aku sudah tidak mampu lagi membantu. Karena kemampuanku terbatas.

Ingin aku sampaikan pesanku untuk teman, sahabatku Cello…

“ Sampai kapanpun kamu masih akan selalu teman, tak akan pernah kusebut kamu bekas teman selayaknya bekas pacar. Aku tidak akan pergi dan meninggalkan kamu. Kapanpun, dimanapun kamu datang pintu itu akan selalu terbuka. Aku hanya sedang membiarkan kamu menikmati teman yang lain. Aku hanya sedang menikmati ruangku sendiri. Tapi pintu ini selalu terbuka untuk seorang teman yang ingin menggapaiku.
Maafkan aku sudah tidak mampu menemani kesedihan dan kegelisahan kamu yang tak pernah usia. Bukan karena aku sudah tahu bahagia bagiku apa sehingga tak mau mendengar kesusahan. Karena ternyata seberapa keras aku membantu, hanya dirimu sendiri yang mampu nolong. “

Temanku….
Semua ada waktunya
Sedihmu sudah seharusnya kau akhiri
Gelisahmu sudah seharusnya kau tuntasi

Jangan kau bertopang merenungi
Tapi bangkitlah dan ubah semua

Ubah benci itu menjadi cinta
Ubah kesal itu menjadi suka

Raih impianmu
Jadilah perempuan terbaik bagi pangeranmu
Pangeran yang sudah menunggu untuk kau panggil

Uraikan senyummu dari hati
Geraikan tawamu dengan makna
Bahwa kau telah sungguh bahagia.

Temanku….
Ingatlah selalu aku disini
Aku yang tak pernah pergi
Aku yang selalu hadir

Duduk
Menunggu
Pintu ini terketuk olehmu.

Jangan sedih karena ku menjauh
Ini hanya sementara waktu
Suatu hari lagi kita kan tertawa bersama
Mengingat bahwa kita hampir berkhianat.

* I dedicate to my dearest friend, hope you will understand*

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

3 thoughts on “Kita Pernah Tertawa Sahabat….”

  1. Mbak… U are a good friend indeed.
    Coz a responsible friend will help her friends to stand up by her own feet,
    Gak cuma ngandelin diri kita.
    Bravo ! untuk keberaniannya melepas teman itu sendiri.

    thank u udh mampir blog.ku ya..

    Tapi sayangnya temen yang bersangkutan merasa gua ninggalin dia dan dia merasa gua telah menyakit perasaan dia… Tapi itu resiko bertemen toh jeng!!! Ntar waktu juga yang akan mengembalikan kembali ke keadaan seperti dulu.

    Yuuukkkk tukeran….gua add lo di blogroll gua yah. Thanks yah dah mampir…gua baru nih main di wordpress…diajariin temen gua ‘itu’.

    Btw aku berharap bisa tukeran link😉

  2. ehhh… ini lagi ngomongi gua ya??? *garuk-garuk kepala* tinggal ngomong aja susah amat ? pake nulis2 segala begini segala…hahahaha…piss..piss..nice letter anyway..:)

  3. Link.nya udh di masukin…
    Kayaknya gue bisa nebak siapa sang teman itu….🙂

    Keep on posting, perasaannya dalem !

    ooh ketahuan deh gua…. *kabur* emang ada di link lo juga yah ‘sang temen itu’ menurut lo…
    btw postingan gua lebih banyak di Multiply…dah ada linknya yg Miranda….
    Makasih dah mampir2 jeng!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s