Si Abang Berkumis

Pandangannya tak lepas dari sosok yang berada di seberangnya. Sambil menyenderkan kepalanya, ia memperhatikan pria yang gagah tersebut. Baginya pria seperti itulah yang sangat ia idamkan, yang mampu menggetarkan hati dan gairahnya. Pria tersebut menggenakan kaos yang cukup ketat –yang oleh orang kota atau mba-mba SPG disebut kaos model body fit- berwarna hitam dengan paduan celana kargo warna tentara ditambah aksesoris berupa kalung rantai dan kaca mata hitam. Matanya benar-benar tidak bisa lepas karena terpesona adalah kumisnya yang lebat. Ia sangat suka dengan pria berkumis, seperti Adam suami Inul Darasita. Inul adalah idolanya.

Sebagai seorang penyanyi dangdut keliling, Inul mkan untuk merupakan patokan untuk aksi panggungnya, cara bernyanyi maupun bergoyang menghibur para penonton. Ia memiliki impian untuk dapat menjadi seperti Inul. Bernyanyi dari panggung ke panggung sampai pada akhirnya bisa dikenal dan memiliki album sendiri. Berbagai kontes dangdut ia lakoni. Dari mulai KDI 2 sampai lomba nyanyi tingkat keluruhan dengan harapan suatu hari nanti keberuntungan akan menghampirinya. Ia telah mencoba KDI 2 sampai sekarang, dan Mendadak Dangdut mania. TPI adalah stasiun televisi favoritnya. Saat sedang tidak manggung ia menonton acara apapun di TPI. Mulai dari gosip para artis dangdut, pentas dangdut, kuis dangdut terutama sekali semua ajang kontes dangdut. Setiap penyanyi dangdut yang muncul selalu dengan letak ia perhatikan. Cara berrnyanyi, cekok dangdutnya sampai goyangan-goyangan yang termutakhir. Ia merasa tidak kalah dengan goyangan Dewi Persik, yang cuman mampu menggergaji panggung, ia bisa goyang ngebor, patah-patah atau pun gergaji. Ia sendiri memiliki goyangan khas yang selalu ditunggu para penonton setianya di sepanjang Cilebut sampai Citayam.

Sore itu, ia berangkat dari rumahnya di Depok menuju Bojong Gede. Hari itu kelompok orkes dangdutnya ”Geboy” akan manggung untuk acara kawinan. Ia sebenarnya agak males untuk pergi. Bosen manggung dengan penonton hanya orang-orang kampung, ia ingin ditonton oleh seluruh masyarakat Indonesia. Tetapi dengan bertemu pria berkumis itu semangatnya timbul kembali.

Matanya masih lekat menatap pria itu. Ia perhatikan setiap gerak geriknya. Pria itu tidaklah sendiri, ia bersama temannya yang menurutnya tidak kalah gagah. Tetapi pria berkaca mata hitam baginya lebih menarik. Entah daya tarik apa yang membuatnya melekatkan pandangan. Ia sangat berharap bisa berkenalan dengan pria itu. Makanya dia terus menatapnya agar ada detik-detik matanya bertemu dan saat itu ia akan layangkan senyum termanisnya. Tapi sudah sampai stasiun Citayam matanya belum juga bertemu. Kok pria itu tidak merasa diperhatikan dengan begitu seksama. Ia hanya asyik mengobrol dengan temannya. Sepertinya pembicaraan mereka benar-benar serius hingga tidak mempedulikan orang lain. Bahkan perempuan se-seksi dia pun tidak menjadi perhatian baginya.

 Akhirnya kereta akan tiba di stasiun Bojong Gede, ia harus turun. Saat ia beranjak dari bangku menuju pintu kereta agar tidak tertinggal karena kereta tidak akan berhent lama, ia melihat pria itu pun bangkit dari duduk. Melonjak hatinya mengetahui akan turun di pemberhentian yang sama. Artinya masih ada kesempatan untuk berkenalan.

Saat sudah turun dari kereta yang penuh sesak hingga perlu energi lebih untuk mendesak orang memberi jalan keluar, ia berjalan menuju pintu gerbang. Ia sengaja memperlambat jalannya agar pria berkumis itu berjalan di depannya. Saat pria tersebut sudah jalan di depannya, ia mengikuti dari belakang. Ia berusaha mengumpulkan segenap kekuatan untuk mengajak berkenalan. Ia berpikir mungkin tadi karena sesaknya penumpang pria itu tidak menyadari tatapnya. 

Ketika ia mencoba menghampir pria itu, ia mendengar percakapan diantara mereka,

” Kita kemana lagi dari sini?”

” Kita kerumah si Tojo aja. Ingatkan kamu teman aku?”

” Masih ingat. Tapi apa tidak apa-apa aku ikut dengan kamu?”

” Emang kenapa?”

” Sepertinya Tojo tidak suka padaku. Ia sepertinya menyadari ada sesuatu yang lain diantara kita.”

Lalu pria berkumis itu mengusap pundak temannya dengan cara yang sangat tidak lazim dilakukan dengan sesama pria.

” Tenang aja.”

Ia bingung melihat pemandangan itu. Ia merasa ada yang aneh dari usapan punggung antara dua pria itu. Pemandangan itu menahan langkahnya untuk maju berkenalan. Ia tidak ingin mempermalukan diri dengan berkenalan padahal pria itu sama sekali tidak tertarik padanya. Percuma ia lontarkan senyum termanis kalau pria disampingnya lebih menarik.

Dengan gontai ia berjalan menuju pintu gerbang. Memberikan tiket pada petugas dan segera memanggil tukang ojek untuk mengantarkannya menuju lokasi tempat ia bernyanyi. Hilang sudah semangatnya untuk bernyanyi.

  

*Waspada para perempuan….Pria yang tampak gagah bahkan bak seorang preman atau centeng belum tentu akan tertarik pada kita…makin susah deh kita nyari cowo yang patut dijadikan suami…nasib….nasib…persaingan makin ketat*

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s