Peluk

Semua terasa berbeda saat dia ada dihadapanku. Semua terasa sangat lain saat tangan itu menggengam tanganku. Entah aku kerasukkan setan atau malaikat, terasa ada yang sedang bertengger di atas kepalaku. Tak sadar semua luka terhapuskan. Tak sadar semua kebahagiaan yang selama ini tersembunyi dibalik kabut kelam bermunculan, bagai letupan kembang api meriuhkan malam. 

 

Kaki-kaki kecil ini telah kembali melangkah, tak tahu hendak kemana kaki itu akan melangkahkan hidup. Aku sudah tidak memikirkan itu lagi. Karena semua seakan kembali kepada sebuah titik awal. Awal dari arungan hidup. Awal dari sebuah perjumpaan baru. Awal dari perpisahan masa lalu.

 

Saat ini aku berdiri pada sebuah titik start.

 

Perjumpaan dengan dia sungguh aneh untuk kuterjemahkan dalam akal logikaku. Perjalanan bersamanya lebih tidak lazim lagi. Perjalanan aku dengan dia tidak sedikit pun menggantungkan sebuah harapan untuk terus bersama. Kami tidak berada pada sebuah rel yang sama. Dia berjalan ke selatan, aku ke utara. Kapan kami dapat bertemu. Kami bertemu pada sebuah titik, dimana titik itu terakrobat oleh magnet. Tahu kah kamu magnet akan bertemu dengan kutub yang berlainan dengan kutubnya. Disitulah kami bertemu.

 

Memuaskan hasrat, memuaskan rindu, memuasakan cinta yang bergelora meski kami tahu kami tidak akan pernah puas. Hasrat itu tidak akan habis, rindu itu akan selalu ada, cinta itu tidak akan hilang. Kami tidak tahu siapa yang akan menjaga cinta itu, kami sendirikah yang akan menjaga itu atau tangan-tangan halus yang tidak dapat terlihat oleh kasat mata hanya getarnya dapat selalu terasa.

 

Aku sudah tidak peduli orang akan bilang aku gila, orang akan bilang aku nekat, orang bilang aku akan tersakiti, orang bilang aku perempuan tidak tahu diri, orang bilang aku perebut suami orang. Aku tidak peduli. Karena mereka tidak tahu. Karena mereka tidak mengerti artinya menunggu cinta sekian lama. Cinta yang saling berbalas, cinta yang sama kuatnya, cinta yang tanpa harapan, cinta yang tulus. Mereka tidak tahu rasanya bila takdir membatasi cinta itu. Apa yang mereka tahu? Jalan yang benar? Jalur yang semestinya? Norma yang berlaku? Agama? Tanpa mereka pernah menelaah itu semua, mereka hanya berbicara yang semestinya, pada umumnya. Tapi mereka tidak pernah cari tahu apakah yang semestinya, apa yang pada umumnya itu telah benar adanya. Jadi persetan dengan omongan orang. Karena aku ingin bahagia. Bukan bahagia karena orang lain, bukan bahagia karena aku berlaku sesuai pada umumnya. Bukan itu. Aku hanya ingin bahagia karena kejujuran  luapan hati yang  mengatakan aku memang bahagia. Karena yang manis itu belum tentu gula, yang pahit itu belum tentu kopi.

 

Sebentar lagi takdir waktuku akan tiba. Takdir yang kami ciptakan sendiri. Detik demi detik kebersamaan aku dengan dia sangat aku nikmati. Ingin aku mengambil seluruh hembusan nafasnya untuk aku kumpulan dalam relung jantungku. Agar esok aku masih terus…terus memiliki cadangan nafasnya, bahkan kalau aku bisa aku mau mencadangkan hingga 10 tahun, 20 tahun atau sampai akhir hayatku. Setiap getar yang tersampaikan ingin aku bungkus, simpan dan abadikan dalam hati.

 

Tak ingin aku melepas pelukkannya. Dalam pelukkannya aku bisa merasakan getar yang tersampaikan. Getar yang seakan selalu menyampai I Love You. Dalam pelukkannya aku dapat mendengar debaran jantungnya seakan detak demi detak tersebut adalah panggilan namaku. Hanya pelukkan itu yang ingin aku kenang. Pelukkan yang aku yakin tak terganti. Tidak ada yang bisa menggantikan dia.

 

Pelukkan itu yang akan menjadi kenanganku untuk melangkah lagi. Memulai perjalanan baru menembus takdirku sendiri. Adakah aku akan bertemu kembali? Yang kutahu hanya sebuah entah!

 

Esok saat jalan kami telah menjadi jalan yang tak saling terpaut, saat kami harus kembali mengarungi rel hidup kami masing-masing. Aku tahu rasa itu tidak akan hilang. Getaran-getaran kami akan tetap menyatu di udara. Hati kami akan tetap saling berbicara. Tak bertemu bagi aku tidak  masalah, karena aku tahu saat kupanggil namanya, seketika itu dia akan hadir dengan caranya sendiri.

 

Waktu telah membuktikan 10 tahun bukanlah sebuah arti yang mampu menghilangkan rasa itu. Waktu telah kalah oleh perasaan dia kepadaku. Karena rasa itu ternyata tidak tereduksi. Rasa itu hanya tersimpan di sudut ruang kecil dalam hati. Ruang yang terlihat kecil tapi begitu luas di dalamnya. Ruang yang aku sendiri tidak sadar itu ada di dalam hatiku.

 

Boleh aku menitipkan kata-kata untuknya:

 

Terima kasih telah mengizinkan aku untuk memelukmu

Terima kasih telah mengizinkan aku untuk mengecupmu

Terima kasih telah mengizinkan aku untuk mencuri waktumu

 

Bersamamu kuhabiskan waktu

Senang bisa mengenal dirimu

Rasanya semua begitu sempurna

Sayang untuk mengakhirnya

 

Tapi aku tahu

Kamu hanya sinar yang melintas  sekedip

Bagai kunang-kunang kecil

Dan aku

sayap-sayap yang meranggas seusia

Sekepak aku mengudara yang membawa hatimu semua

 

Hingga ku ingin akhiri dengan

Lepaskanku segenap jiwamu

Tanpa aku harus berdusta

Karena kaulah satu yang kusayang

Tanpa layak kau didera

* Peluklah aku untuk terakhir kalinya sayang. Aku ingin rasakan seluruh debaran jantungmu yang selalu berdetak dengan kencang. Tak akan sakit aku dalam pelukan perpisahanmu.*

Author: Isma Miranda

Saya Tak ada yang istimewa. Seorang bankir yang senang menulis. Mencoba bertarung di arena kehidupan di Jakarta. Tak indah Tak juga sedih Tapi Jakarta mengajarkan saya untuk bertarung. Saya Hanyalah seorang perempuan yang terus belajar tentang cinta. Cinta kepada Tuhan yang saya wujudkan dengan cinta kepada apa yang saya jalani dan alami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s